
Siang ini, Marseille sengaja datang ke tempat Anson untuk mencari tahu tentang keadaan dan keberadaan putrinya yang seolah menghilang di telan bumi, ponsel Jelita di matikan tak dapat di hubungi barang sekali.
Awalnya Emma dan Anson masih menutupi tapi semua terjawab ketika salah seorang kurir mengirimkan paket berisi surat resmi dari rumah sakit berisi hasil tes DNA yang beberapa waktu lalu di lakukan oleh Emma.
Bagai mendengar gelegar petir di siang bolong melompong Emma tercengang mendapati hasil lab tes DNA milik menantunya "Apa? 99 %, cocok? Jadi bayi yang Jeje kandung benar-benar cucu ku?" Kejutnya dan terjatuh lah lembar kertas itu lalu terduduk di sofa empuk ruang tamunya.
Marseille yang penasaran pada akhirnya pria itu juga ikut membaca surat tersebut dan kening mengerut saat tahu apa isi dari kertas keterangan itu.
"Apa maksudnya ini Emma! Jadi kamu meragukan putri ku? Kamu melakukan tes DNA pada bayinya? Jadi ini alasan putri ku menghilang? Dia bukan liburan tapi kabur dari rumah?" Marseille kemudian beralih pada Anson, tatapan matanya tajam sekarang.
"Jelaskan padaku sekarang Anson! Apa kau menutupi berita ini dariku? Apa maksudnya ini? Kenapa istri mu melakukan tes DNA? Kalian pikir putri ku selingkuh?" Sentak Marseille melotot.
Anson memejamkan matanya, sejatinya laki-laki itu pun tak tahu menahu tentang tes DNA itu, saat ini Anson juga tersentak kaget dengan ulah isterinya.
Akan tetapi, tak mungkin menghakimi isterinya di hadapan besannya, maka kali ini Anson lebih setia dengan geming hening nya meratapi kemurkaannya seorang diri.
"Jawab! Siapa yang akan menjawab pertanyaan ku? Sebenarnya apa yang sudah kalian lakukan sampai-sampai putriku kabur tak memberi kabar secuil pun hah!" Marseille lepas kendali hingga melotot iris bening miliknya menampakkan pendar kemurkaan.
"Aku akan usut ini ke pengadilan, kalian sudah membuat putri ku tekanan batin!" Tanpa mengucap apa pun lagi Marseille melangkah pergi, sungguh tak menyangka Anson tega membiarkan putrinya kesakitan dalam pikir Marseille seperti itu.
Di raihnya gawai tipis dari saku celananya lalu menghubungi putra pertamanya "Jeje kita bukan berlibur tapi kabur dari rumah, cepat lakukan pencarian! Suruh orang-orang mu bertindak!" Titahnya dan sepertinya putra sulungnya setuju meskipun berekspresi tersentak terlebih dahulu.
...🖋️................🖋️...
Sementara Anson sudah mulai mengantongi kekuatan untuk menghadapi sang isteri, di cekalnya lengan wanita itu kuat-kuat dengan mata yang melotot "Untuk apa kamu melakukan tes DNA! Sudah jelas Jeje hamil cucu ku! Jadi ini alasan yang sebenarnya dia pergi?!" Sentak nya.
Emma tak sedikitpun dapat mengindahkan laki-laki itu dirinya masih hanya diam dengan gaya patungnya. Penuh sesal, secara tak langsung dirinya lah yang menyebabkan kematian sang cucu, putra mahkota yang selama ini dia tunggu-tunggu.
"Lihat lah, Jeje bahkan tak mau mengadukan mu pada ku! Itu karena dia sangat menyayangi mu Emma!"
Kata-kata itu membuat Emma meloloskan air matanya, apa ini? Kenapa bisa begini? Hasilnya cocok? Lalu bagaimana dengan surat-surat dari Dylan? Hati Emma berkecamuk penuh pertanyaan.
Anson tahu isterinya juga tengah menikmati penyesalannya maka laki-laki itu segera beringsut dari wanita itu sekarang.
__ADS_1
Ia ambil ponsel dari saku celananya lalu melayangkan panggilan telepon pada putra semata Anson dan berteriak sekeras-kerasnya "Segera percepat pencarian nya! Atau Marseille terus murka padaku! Kau menang sekarang E'den! Marseille mungkin akan menyuruh putrinya menceraikan mu!"
...🖋️................🖋️...
Surabaya.
Sudah Minggu ke dua Brandon memutari kota itu, tapi masih belum juga menemukan sosok cantik yang dia cari.
Pekerjaan di Jakarta terbengkalai, kacau, Anson juga terus menuntut, belum lagi Galang dan Tristan yang terus menanyakan keberadaannya saat ini. Mungkin kedua abang Jelita sudah ingin berhadapan langsung dengan adik iparnya.
Brandon tersudut bukan karena keluarganya yang mulai meresahkan pikirannya akan tetapi rasa rindunya pada Jelita yang semakin lama semakin bertambah besar saja.
Laki-laki itu terduduk lemah di jok mobil mewah nya dengan pendar mata sayu penuh ironi. Lelah letih lesu di rasakan oleh nya setelah berkeliaran menyidak seluruh sudut kota.
Dreeetttt dreeetttt!
Gegas Brandon menyambar gawai persegi miliknya "Halo! Bagaimana Ga?" Tanyanya spontan.
"Apa?" Ada secercah harapan lagi yang menaungi hatinya saat ini "Kirim alamatnya sekarang!" Titahnya.
...🖋️................🖋️...
Di tempat lain. Jelita sudah semakin pulih, luka jahitan pun berangsur kering, tapi tetap belum sembuh total, Dylan masih memberikan perawatan khusus padanya.
Hari-hari Jelita lalui bersama sang kekasih, affair with neighbor, judul novel yang dia baca beberapa bulan lalu kini tengah dia alami sendiri.
Sejenak Jelita melupakan kesedihannya sepeninggal sang putra, meski tak sepenuhnya mampu karena sepertinya wanita itu masih dapat mengingat kembali wajah tampan almarhum putra mungilnya.
Air mata berderai saat malam tiba dan teringat Yakisikli Ogul nya lalu besoknya ia lupakan lagi ketika Dylan hadir di sisinya.
Setelah tahu asal-usul Dylan ada sedikit keyakinan yang tiba-tiba bersemayam di dalam hatinya, bayangan masa lalu menyakitkan seolah tak lagi menyeruak.
Di gantikan dengan kehadiran sosok Dylan Jackson putra tunggal kerajaan Jack group yang dia kenal lewat majalah bisnis.
__ADS_1
Jelita langsung percaya karena wajah Edbert dan Dylan sangat mirip, lagi pun di lihat dari sudut manapun sepertinya Dylan benar-benar jujur.
Sore ini, Dylan sengaja membawa wanitanya pergi ke sebuah butik, Dylan sudah berani mengekspos wajah cantik kekasihnya di setiap sudut CCTV yang mungkin bisa Brandon lacak.
Kali ini laki-laki bule itu sangat yakin dengan perasaan Jelita yang sudah begitu mantap berpindah haluan padanya, maka jalan tercepat untuk segera meminang wanita itu adalah dengan membiarkan Brandon menemukan Jelita.
Bukan kah perceraian harus dilakukan terlebih dahulu?
Kini Jelita tengah mencoba berbagai macam jenis gaun indah yang Dylan pilihkan untuknya.
Tak tanggung-tanggung Dylan juga menutup seluruh toko dengan menggunakan fasilitas dari kartu kredit eksklusif miliknya.
Semua orang mungkin tahu salah satu keuntungan dari blackcard adalah bisa menutup sebuah toko jika ingin berbelanja seorang diri tanpa gangguan dari pelanggan lain. Dylan risih jika harus mendengar hiruk pikuk pengunjung lain.
"Kamu sangat cantik Baby!" Dylan berdiri menatap wanita itu dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana jeans nya.
"Benarkah? Tapi aku tidak nyaman Dylan, ini terlalu terbuka, aku ganti lagi saja yah, kamu keluar gih!" Jelita mengusir laki-laki itu dengan mendorong dada bidangnya keluar dari kamar pas.
Dylan mendengus pasalnya gaun yang Jelita pakai sudah sangat dia sukai tapi Jelita justru tak nyaman memakainya.
Berat hati Dylan keluar dari juntaian gorden putih itu dan tinggallah Jelita seorang diri. Wanita itu pun membalikkan badannya kembali lalu mengambil satu gaun yang akan dia pakai setelah ini.
Gerakannya urung dilakukan saat mendengar derap langkah kaki memasuki ruangan itu kembali.
Jelita mendengus "Dylan, sudah kubilang keluar, aku mau mengganti gaun ku!" Protesnya seraya memutar badan menghadap ke arah pria itu.
Matanya membesar saat melihat sosok tampan yang sudah susah payah dia lupakan "E'den!"
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
__ADS_1