
Saat matahari mulai terbit, hiruk pikuk kicauan burung-burung terdengar saling saut menyaut. Brandon masih menatap wajah bening isterinya yang masih lelap dalam tidurnya.
Semalaman Brandon terus memikirkan ucapan isterinya, rupanya Jelita sudah mulai berani mengusik keberadaan Shasha.
Di usapnya pipi mulus wanita mungil itu penuh kelembutan "Kenapa setelah sekian lama, kamu baru mengatakan keberatan dengan keberadaan Shasha? Apa ini hanya alasan mu saja? Supaya kamu bisa terus menyimpan nama Dylan di hati mu?" Gumamnya lirih.
"Aku akan terus berusaha memperbaiki hubungan kita Jeje, buang jauh-jauh nama Dylan dari hatimu, kamu harus sadar kita ini di ciptakan untuk bersama."
Brandon mengecup lembut seluruh wajah isterinya yang agaknya tak merasakan sama sekali sentuhannya, kemudian keluar dari selimut tebal itu, berjalan menuju kamar mandi.
Hari ini hari pertama dia mulai kembali bekerja setelah satu Minggu izin merawat isterinya. Satu jam setengah pun berlalu, Brandon sudah rapi dengan kemeja putih celana hitam dan sepatu kilap nya.
Ia lantas mengambil satu dasi berwarna merah anggur lalu di pakainya sambil menatap lekat wajah cantik isterinya yang belum juga terbangun, setelah hamil Jelita memang terbiasa bangun siang.
"Kamu selalu cantik, dalam keadaan apa pun Jeje ku." Gumamnya sambil tersenyum.
Ia kembali mendekati isterinya lalu mendaratkan kecupan-kecupan lembut di setiap lekuk wajah wanita itu "Aku berangkat." Bisiknya kemudian berlalu dari sana membiarkan Jelita melanjutkan mimpinya.
Tiba di luar dua orang wanita sudah duduk di kursi meja makan, terlihat di sana Shasha memakai celemek seperti baru selesai memasak, juga ada Emma yang tampak berseri-seri bahagia di buatkan sarapan oleh Shasha.
"Mami, Shasha, kalian, ...." Brandon sedikit terkejut melihat keduanya sudah sangat akrab yang entah dari kapan. Sepertinya Emma tak keberatan jika sampai putranya memiliki hubungan dengan wanita lain karena menurutnya Jelita sudah tak layak menjadi menantunya.
"Mas, aku yang masak loh, kata Tante masakan ku enak, sini Mas kita sarapan bareng." Ajak Shasha tersenyum.
Bukanya senang Brandon justru berkerut kening tak biasanya Shasha memasak lalu tiba-tiba membuatkan sarapan.
"E'den, sini nak, makan." Ajak Emma tersenyum "Jeje mana?" Tanyanya kemudian.
"Jeje di kamar." Brandon menjawab dengan nada datar juga tatapan menerawang, bingung dengan situasi ini.
"Bik, panggil Jeje, suruh dia mencicipi masakan Shasha." Titah Emma kepada Mina.
"Jangan bik," Brandon mencegah wanita paruh baya itu "Biar Jeje istirahat, dia masih belum bangun. Jangan ganggu dia." Ucapnya.
Mina mengangguk "Baik Tuan."
Di tempatnya Emma terlihat menarik sudut bibirnya tersenyum sinis "Sudah siang begini istri mu belum bangun E'den?" Tanyanya dengan suara cempreng.
__ADS_1
"Ni E'den, kasih tau ke istri mu, jadi istri harus kayak Shasha, pagi-pagi bikin sarapan, bukanya malah ngorok di gedein!" Sarkas Emma dan Shasha tersenyum puas.
"Sudah lah, lagian semalam tidurnya kurang nyenyak, mungkin pengaruh hamil tua nya, Mami kenapa sih akhir-akhir ini marah-marah terus?" Sela Brandon sedikit ketus.
"Ya lagian apa pantes istri belum bangun, padahal suaminya sudah rapi mau ke kantor?" Cerocos Emma.
"Sudah Mi, lebih baik Mami lanjut saja sarapan, E'den langsung berangkat, sudah siang." Pria itu mencium punggung tangan ibunya dengan khidmat dan segera berlalu dari sana tanpa melirik sedikitpun pada Shasha.
Brandon tau Shasha sengaja mengambil hati ibunya, baginya tak masalah selama tidak membuat Jelita terlihat buruk di mata ibunya akan tetapi sepertinya Shasha terus menerus mendorong ibunya supaya melihat kesan buruk Jelita dan Brandon tak menyukai cara itu.
...🖋️................🖋️...
Setelah selesai melakukan ritual sarapan paginya Emma memasuki kamar utama rumah tersebut bermaksud membangunkan menantunya.
Di tatapnya wanita cantik itu dengan tangan yang melipat "Jeje!" Seru nya keras dan berhasil membuat Jelita terlonjak kaget dari tempatnya.
"Mami, ..." Jelita duduk dengan debaran jantung yang tak keruan.
"Enak banget kamu! Suami udah ngantor kamu masih ngorok!" Ketus Emma.
"Maaf Mi, semalam Jeje ga bisa nyenyak tidur, perut Jeje sudah sering keram." Sanggah Jelita.
"Alasan!" Cibir Emma "Sekarang mandi, Mami mau ajak kamu pergi!" Titahnya kemudian.
"Ga usah banyak tanya, lakukan saja yang Mami minta!"
Jelita mengangguk "Iya Mi." Lalu beranjak dari zona nyamannya, berjalan menuju kamar mandi untuk kemudian membersihkan diri.
Satu jam kemudian Jelita keluar sudah lengkap dengan busana longgar nya, lalu Emma mengajaknya naik mobil mewah dan berlalu dari kediamannya. Ditengah perjalanan Jelita terus bertanya 'mau kemana?' tapi Emma dan Shasha hanya diam saja bahkan terkesan cuek.
Hingga pada akhirnya mobil itu berhenti di sebuah rumah sakit elit, kening Jelita mengernyit heran "Mau apa kita ke sini Mami?" Tanyanya mulai curiga.
"Kita ketemu dokter, sudah, nurut saja!" Ketus Emma. Shasha hanya senyum-senyum tipis melihat kebingungan Jelita.
Ketiganya langsung menuju kelas suite room karena sepertinya Emma sudah memesan sebelumnya dan Jelita masih hanya diam saja mengikuti langkah mertuanya. Lagi pun, Emma selalu menjawabnya dengan ketus.
"Kamu baring di sini, dokter akan segera memeriksa mu!" Tiba di kamar pasien yang sudah lengkap dengan alat-alat medis Emma memberikan titah pada menantunya.
"Untuk apa Mi? Bukanya E'den sudah merawat ku sampai sembuh? Aku tidak perlu di rawat di sini." Tolak Jelita.
__ADS_1
"Sudah menurut saja! Jangan jadi mantu durhaka!" Sela Emma masih ketus lalu Jelita menurut meskipun sebenarnya masih tidak mengerti apa maksud dan tujuan dari mertuanya.
"Permisi Nyonya." Satu dokter wanita memasuki ruangan dengan beberapa tim medis lainnya.
Jelita semakin di buat kebingungan akan tetapi sudah tak berani bertanya apa pun lagi.
"Lakukan sekarang Dokter!" Titah Emma kemudian wanita itu mengangguk "Baik Nyonya silahkan tunggu di luar yah."
Jelita mengernyit menatap Emma dan Shasha keluar dari ruangan, meninggalkannya sendiri dengan dokter dan tim medis lainnya.
"Apa ini Dok? Mau di apakan saya?" Jelita bertanya kepada dokter wanita itu.
"Tenang saja Nyonya, kami hanya akan menyuntikkan vaksin saja." Kilah wanita itu.
"Tapi, aku sudah menerima vaksin, aku tidak perlu la, ...." Jelita hening saat jarum kecil itu menusuk kulitnya dan memberikan ketenangan dalam alam bawah sadarnya.
"Syukurlah, dengan begini pekerjaan kita akan lebih mudah!" Ucap dokter itu.
Dokter kemudian mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur amniosentesis.
"Kalian kumpul kan semua sampel, segera bawa ke laboratorium." Titah nya kepada tim medis lainnya.
"Baik Dok!"
Kemudian dokter wanita itu melangkah keluar dari ruangan menemui Emma yang masih berdiri berdampingan dengan Shasha.
"Gimana Dok? Apa sudah selesai?" Tanya Emma menyambar dengan raut gusar.
Setelah mengetahui hubungan Jelita dengan Dylan yang sering surat-suratan Emma menjadi lebih sering berang pada menantunya, tentu saja Shasha tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memberitahukan bukti pesan-pesan Dylan kepada Emma dan itu berhasil membuat Emma semakin yakin bahwa anak dalam kandungan Jelita bukanlah cucunya, maka hari ini dia bertekad mengambil air ketuban menantunya untuk di jadikan sampel DNA tanpa seizin putranya.
"Sudah Nyonya." Senyum dokter itu mengangguk.
"Kapan hasilnya keluar?" Tanya Emma.
"Dalam kondisi darurat satu hari saja sudah bisa keluar hasilnya, tapi karena Nyonya tidak memiliki surat keterangan darurat dari pihak lain, misalnya kepolisian, kami tetap akan mengeluarkan hasil lab nya tiga sampai empat Minggu ke depan sesuai prosedur yang berlaku." Jelas dokter itu.
Emma mengangguk "Ga papa dokter, saya sabar menunggu." Ucapnya.
"Tapi ingat ya nyonya tes DNA di saat kehamilan beresiko menggugurkan kandungan."
__ADS_1
"Ga papa Dok, saya yakin, itu bukan cucu saya, mau gugur kek, enggak kek, saya ga perduli!" Sambung Emma.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...