
Beberapa hari yang lalu, Emma sengaja berkonsultasi dengan dokter ahli genetika, seharusnya melakukan tes DNA di usia kehamilan yang sudah tua, tidak terlalu berbahaya jika di lakukan dengan cara yang tepat.
Akan tetapi karena beberapa hari sebelum proses pengambilan ketuban, Jelita sempat mengalami benturan keras yang menyebabkan nyaris gugurnya kandungan, itu menjadi alasan lemahnya janin itu sendiri, jadi kali ini mungkin beresiko tinggi.
Emma tak perduli dengan kata warning dari sang dokter, dia terus mendesak sebab sepertinya wanita itu sudah sangat yakin akan pemikirannya sendiri, pemikiran yang sudah terprovokasi oleh wanita lain di rumah tangga putranya.
...🖋️................🖋️...
Siang setelah tersadar dari pengaruh anastesi, Jelita mengedarkan pandangannya ke segala arah, ternyata sudah tidak ada satupun orang di dalam sana. Ia kemudian beranjak dari tempatnya menurunkan satu persatu kakinya lalu berjalan keluar dari ruangan.
Entah kenapa, perut buncitnya terasa sangat melilit dan mules seketika melanda hingga tiada lagi bisa kuat bertumpu pada kaki mungilnya.
"Tuhan, ada apa ini? perut ku!" Keringat dingin yang mengembun di dahinya wanita itu usap dengan punggung tangan lalu duduk di sofa ruang tunggu berharap kontraksi rahimnya bisa segera usai.
Bukanya merasa lebih baik, Jelita justru merasakan lilitan yang memilin pusatnya seakan mendorong ingin keluar "Oh, E'den, sakit!" Air mata pun tak bisa lagi di bendung, ia meluncur sesuka hati menyisir setiap lekuk wajah wanita hamil itu.
"Jelita!"
Wanita itu sempat mendengar juga melihat gurat panik yang menangkap tubuhnya sebelum kemudian ia tak sadarkan diri, semua gelap bahkan rasa yang menyiksanya pun sudah tak lagi terasa.
Seperti biasanya Dylan memang selalu mengawasi wanita cantik pujaan hatinya "Panggil dokter cepat!" Dia berteriak pada orang-orang yang sigap melayaninya.
Di ruangan USG Jelita di periksa, kontraksi terus terjadi bahkan dalam keadaan tidak sadarkan diri, maka kala itu dokter langsung memutuskan untuk segera melakukan sectio caesarian (SC). Siang itu, Dylan sendiri yang menandatangani pernyataan persetujuan operasi.
Namun ternyata neonatal (bayi berat lahir rendah) termasuk prematuritas, diikuti oleh asfiksia dan infeksi menyebabkan kematian bayi mungil itu.
...🖋️................🖋️...
Kini Jelita sudah di pindahkan ke ruangan presiden suite dan hanya geming hening senyap sepi sunyi yang wanita itu presentasi kan.
Tiada kata yang mampu terucap dari bibir kelu nya, entah kepada siapa dia memandang tapi matanya melolong kosong tanpa arah tujuan.
__ADS_1
Mungkin kita bisa menulis seribu kata perpisahan tapi yang kita rasakan hanya satu, yaitu kehilangan.
Bahkan sentuhan lembut suaminya pun tak lagi terasa hanya sendu pilu yang menguasainya "Maaf kan aku, Jeje." Isakan pecah dari laki-laki itu terdengar penuh sesal tapi tak sedikitpun di indahkan.
Saat kehilangan, air mata yang jatuh seolah memanggil kenangan tentang waktu. Jika kesabaran tak cukup menyadarkan mungkin kehilangan akan menyadarkan.
"Ini semua salahku, aku gagal melindungi mu, maaf, maaf kan aku." Di rengkuh nya wanita mungil itu dengan mata yang terpejam penuh sesal.
Air mata yang tergenang di balik pelupuk mata sudah tumpah ruah menyusuri wajah tampan nya.
Aku mengenal sakit dari sebuah kehilangan, dan aku belajar ikhlas dari sebuah kehilangan, yah mungkin itu yang kali ini Brandon pikirkan.
Dalam dekapan hangat suaminya, Jelita masih terdiam seribu bahasa.
...🖋️................🖋️...
Pukul 21:00 seorang pria paruh baya mengenakan mantel mahal berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong suite room, tempat di mana menantu cantik kesayangannya masih di rawat.
Beberapa saat yang lalu putra semata wayangnya memberi kabar duka tentang kepergian cucu yang belum sekalipun ia belai.
Wajahnya mengeras ketika melihat sosok tampan menyambut kedatangannya "Papi, ..." Sapa pria itu.
PLAK!
Pada akhirnya kekecewaan itu ia lampiaskan pada pipi jernih putranya "Menjaga cucu menantu ku saja tidak becus!!" Pekiknya hingga menggema di seluruh ruang panjang itu.
Brandon menunduk bukan karena takut tapi sesal yang membuatnya tertunduk sendu, bukankah kehilangan itu juga di rasakan olehnya, dia, dia ayah dari cucu yang Anson bicarakan.
"Kenapa bisa terjadi seperti ini! Kenapa ceroboh sekali! Cucu laki-laki calon penerus ku gugur?!" Sentak nya melotot.
"Maaf." Hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir laki-laki tampan itu.
__ADS_1
Bagi Anson Dwi Pangga kata itu justru terdengar menyebalkan hingga lagi-lagi tangan besarnya melayang di udara.
"Anson!" Satu orang pria paruh baya lagi mencekal tangannya, menghalangi.
Anson menoleh ke kanan, di lihatnya sahabat yang kini menjadi besannya menatap tajam ke arah nya "Apa-apaan kamu hah! Semua sudah terjadi, ikhlaskan, sekarang yang terpenting adalah, mengurus pemakaman cucuku, kasihan dia Anson! Bukan cuma kamu yang kehilangan! Kami semua juga kehilangan!" Bentaknya.
Anson menarik tangannya impulsif lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, matanya terpejam menikmati sesak yang masih menyeruak di dadanya.
"Sudah, Papah tau kamu sudah menjaga Jelita dengan baik tapi Tuhan sudah berkehendak lain. Ikhlaskan saja E'den, kalian masih bisa mencobanya lagi." Tuturan lembut Marseille tujukan kepada menantu tampannya.
"Yang kuat E'den." Galang dan Tristan juga mencoba menguatkan adik iparnya.
Satu persatu keluarga lainnya ikut berdatangan membesuk Jelita yang masih setia dengan keheningannya. Prosesi pemakaman di lakukan besok pagi maka malam ini Brandon masih menemani isterinya di rumah sakit, keduanya tidur di atas ranjang yang sama, semalaman suntuk Brandon tak pernah melepas dekapan hangat pada wanita kesayangannya, masih dalam keadaan penuh sesal.
...🖋️................🖋️...
Mentari pagi pun mulai menerjang masuk ke dalam ruangan VVIP milik Jelita, kehangatannya lumayan memeluk erat tubuh mungil yang sudah kehilangan perut buncitnya.
Wanita itu membuka mata yang masih terasa berat karena sembab, dan wajah tampan suaminya menyambut terbukanya sang netra.
Ia menggeser kepalanya ke belakang. Di tatapnya laki-laki itu dengan binar sendu penuh ironi "E'den, ...." Bisiknya dan sontak laki-laki itu menggeliat.
Keningnya mengerut sambil sesekali mengerjap kan matanya menatap wajah cantik isterinya "Jeje."
Brandon bahagia pada akhirnya isterinya mau mengeluarkan suara merdunya "Kamu dah bangun? Kamu lapar?" Tanyanya.
Jelita menggeleng pelan "Aku mencintai mu E'den." Lalu bulir bening meleleh mengiringi pernyataan cinta wanita itu.
Bibir Brandon melengkung begitu tersentuh dengan pengakuan istri cantiknya "Aku lebih mencintai mu Jeje!" Jawabnya tulus.
Jelita menarik pipi suaminya lalu mendaratkan bibirnya pada bibir laki-laki itu, gerilya benda tak bertulang mulai berlangsung cukup lama, keduanya saling membelit saling mencecap rasa asin dari derai air mata yang berjatuhan tanpa bisa mereka kompromi.
__ADS_1
"Meski hatimu terbelah dua, aku tau perasaan mu tulus padaku E'den, tapi, aku sudah tak sanggup hidup dengan cara seperti ini, maaf kan aku, aku menyerah! Di perlakukan bak menantu sampah bukanlah cita-cita ku, aku masih punya orang tua yang menyayangi ku tulus tanpa sebuah tuntutan, mungkin ini kali terakhir ku bersentuhan dengan mu...."
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...