
Wangi dari aromaterapi yang menusuk penciuman membangun kan tidur wanita cantik ini, ia menggeliat lalu keningnya mengerut, sesekali matanya mengerjap dan sebuket bunga mawar menyambut terbukanya sang netra.
"Hmm?" Jelita mengernyit saat mengedarkan pandangannya ke segala arah, dilihatnya kelopak bunga-bunga indah berwarna warni dengan jenis yang berbeda bertaburan di tempat tidur nya.
Pandangannya beralih ke arah meja rias minimalis di sudut tempat itu "Dylan?" Kata yang menyeletuk dari bibirnya saat melihat berbagai jenis perawatan kulit yang biasa dia pakai sudah tertata rapi di sana.
Bibirnya tersenyum "Ini pasti kerjaan Dylan, dia selalu tahu semua yang ku suka." Gumamnya pelan.
"Ekm ekm."
"Hah?" Jelita tersentak kaget mendengar dahaman dari seorang pria yang kini memasuki ruangan pribadinya. Apa lagi setelah ciuman pertama mereka yang masih terasa membekas di bibirnya sempat membuat Jelita canggung.
"D-dylan!"
Pria itu tersenyum "Sudah bangun hum?" Tanyanya, Dylan berjalan mendekat lalu duduk di sisi ranjang menghadap wanitanya.
"Kamu main masuk ajah! Ini kamar ku Dylan! Laki-laki di larang masuk!" Pekik Jelita.
"Kamu lupa? Kamar yang kau tempati ini apartemen milik ku?" Balas Dylan terkekeh.
"Hah? iya juga sih!" Batin Jelita.
Dylan ambil buket bunga mawar di sisi Jelita kemudian ia persembahkan padanya "Untuk mu, cantik ku!" Ucapnya sembari mencuatkan senyuman manis yang terus menerjang pertahanan wanita itu.
"OMG, romantis nya, tapi sayangnya dia bukan suami ku!" Batin Jelita lagi.
"Sekarang kamu mandi, pelayan akan membantumu, di lemari mu sudah ku siapkan gaun-gaun cantik untuk mu." Ucap Dylan sangat lembut.
Namun Jelita justru mengerutkan keningnya menatap dalam-dalam wajah tampan pria itu "Dylan, ..." Lirihnya seakan protes dengan perlakuan yang Dylan berikan padanya.
"Apa lagi? Kamu mau apa? Sebut saja, aku turuti sekarang juga!" Sambung Dylan pasti.
"Ini salah Dylan, aku ini masih istri E'den, aku belum bercerai, tolong jangan terus seperti ini, ku mohon." Bujuk Jelita.
__ADS_1
"Dari awal aku tak pernah menutupi perasaan ku padamu bukan? Tapi kau menyukainya Jelita, dari awal kau sudah nyaman dengan rasaku, seperti perasaan suami mu yang bisa kamu maklumi, begitulah juga perasaan mu yang datang tanpa kamu sadari. Selama ini kamu nyaman bersama ku, aku yakin kamu juga memiliki rasa yang tak jauh berbeda dengan ku." Ujar laki-laki itu.
"Dyl, ..."
"Sssutttt, ..." Dylan menutup bibir Jelita dengan jari telunjuk "Mandi lah, di kamar mandi mu sudah lengkap dengan perawatan mandi yang biasa kamu pakai." Ucapnya lalu tangannya mengelus lembut puncak kepala wanita itu.
Susah payah Jelita bangun lalu duduk berhadap-hadapan dengan Dylan.
"Sebenarnya kamu ini tahu dari mana semua tentang ku? Apa kau benar-benar peramal Dylan? Dari mana kamu tahu aku memakai perawatan merek itu?" Wanita itu menunjuk produk perawatan yang tertata rapi di meja riasnya.
Dylan melepas senyum kecil "Aku memasang CCTV di tempat mu." Jawabnya mengaku dengan entengnya.
"Apa? CCTV?" Pekik Jelita melotot "Bercanda kamu kan Dyl!" Lanjutnya berusaha menafikan.
Dylan menggeleng "No, aku serius, itu makanya aku bisa menolong mu saat kau pingsan waktu itu." Jelas nya.
Jelita terperangah mendengar penuturan rekognisi dari bibir pria tampan itu, jadi selama ini semua kegiatannya di awasi?
"Dylan! Kamu, ..."
"Tapi ternyata dugaan ku benar, jalaang suami mu akhirnya nekat mencelakai mu." Jelasnya lagi.
"Hah? Maksudnya?" Tanya Jelita penasaran.
"Kamu lihat ini." Dylan meraih gawai tipis miliknya dari celana jeans kasual nya dengan sedikit meluruskan kakinya kedepan. Kemudian mengutak-atik benda tersebut dan menunjukkan sesuatu pada Jelita.
"Ini rekaman, saat jalaang suamimu mau mencelakakan mu beberapa waktu yang lalu." Tuturnya.
Murka Jelita sudah akan pecah tapi rasa penasaran membuatnya sedikit membendung kemarahannya, ia kemudian mengambil ponsel milik Dylan dan menyaksikan langsung bagaimana Shasha mengawur minyak ke lantai marmer kamarnya.
"Ya Tuhan," Jelita melotot dengan sebelah tangan yang reflek menutup mulutnya, sungguh tak menyangka Shasha yang selama ini terlihat baik-baik saja, bahkan selalu berbicara dengan senyuman padanya tega melakukan hal itu.
"Bukti itu akan bisa sampai ke pengadilan saat kamu yang mengusungnya, kamu harus berbohong, bahwa itu di rekam dari perangkat yang kau miliki." Timpal Dylan sedang Jelita masih sibuk menonton adegan kejahatan Shasha di layar ponsel.
__ADS_1
"Atau kamu jujur saja, aku yang memasang CCTV nya supaya aku juga di tangkap polisi!" Dylan terkekeh seperti tak berdosa.
Mendengar itu Jelita teringat kembali akan kemurkaannya "Dylan!" Pekiknya.
Jelita menghujam kan beberapa pukulan pada pria itu "Jadi selama ini kamu mengintip ku hah? Semua tentang ku kamu sudah melihatnya? Hiks hiks. Kurang ajar kamu!" Racau nya.
Brugh!
Dylan mengambil alih posisi, pria itu lah yang merangkak di atas tubuh Jelita saat ini dengan sedikit memberi celah pada luka jahitan wanita itu. Kedua lutut Dylan merangkup paha mulus wanita itu.
Detak jantung mereka bertampiaran saling sahut menyahut kala tatapan keduanya bertemu intens "Kau lihat sendiri kan, bagaimana aku sangat menginginkan mu Jelita, aku akan melakukan apa saja demi membuat mu aman nyaman dan yang terpenting adalah bahagia." Ungkapnya, suaranya terdengar sangat mesra hingga menggetarkan jiwa wanita ini.
"Terima lah cinta ku Jelita, tinggal kan suami mu, menikah lah dengan ku, aku lah laki-laki yang akan memberi seluruh dunia pada mu!" Lanjut Dylan mengutarakan isi hatinya.
Setelah menatap dalam diam pada akhirnya Jelita mengeluarkan dengusan pelan "Dylan, sudah ku bilang ini salah!" Tampik nya.
"Di mana salah nya hmm?" Dylan menyela ucapan wanita itu "Sekarang kamu lari dari suami mu, lalu apa tujuan nya hmm? Bukan kah perpisahan yang kau ingin kan dari nya? Bukan kah setelah perpisahan mu dengan suami mu kita bisa menikah Jelita?" Tanyanya.
"Tapi Dyl, ..."
"Aku tidak mau mendengar apa pun lagi!" Potong Dylan "Sekarang kamu mandi, lalu setelah itu kita makan malam, aku tunggu kamu di luar, atau, aku sendiri yang akan memandikan mu!" Ancamnya.
Tanpa izin si pemilik Dylan mendarat kan kecupan singkat di kening Jelita lalu beranjak dari posisinya untuk segera berlalu dari sana.
Sementara Jelita masih melongo dengan geming hening nya sembari menatap berlalunya punggung laki-laki itu.
"Ya ampun, dia benar-benar mafia yang membombardir hati ku!" Ucapnya lirih.
Jelita kemudian beranjak dari posisinya lalu berjalan menuju lemari wardrobe yang terletak di sisi kanan kamar itu, bibirnya lagi-lagi tersenyum saat melihat gaun-gaun juga sepatu-sepatu heels cantik berderet di balik kaca sana.
"Dasar Om mafia! Sebenarnya siapa dia? Kenapa semua yang dia berikan sangat mahal? Dari mana uangnya?" Gumamnya.
__ADS_1
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
Jangan lupa dukungan like komen nya Kaka 😚