
“Papi Anson kesayangan ku, maaf kan anak mu yang nakal ini. Sampai saat ini, aku masih merasa aku lah yang anak mu dan E'den menantu mu.
_
Papi selalu menjaga, memanjakan dan menyayangi Jeje lebih dari putra mu sendiri, terimakasih atas semua yang sudah Papi berikan pada ku selama ini.
_
Jeje pergi yah Pi, Jeje menyerah dari mulai hari ini. Menjadi menantu mu sangat menyenangkan, tapi menjadi istri putra mu begitu menyakitkan.
_
No Pi, ini bukan salah E'den, ini salah Jeje, Jeje yang dari awal tak pernah jujur dengan perasaan Jeje sendiri. Papi juga tahu kan, Jeje sudah sangat menyayangi putra mu dari Jeje masih anak-anak.
_
Tapi ternyata, cinta Jeje tak terbalas Pi, dari awal pernikahan E'den sudah mencintai wanita lain, dan Jeje terlalu memaksakan cinta Jeje padanya.
_
Jeje yang salah Pi, Jeje yang selama ini terlalu egois terus berharap hal yang tak pasti, ternyata jargon cinta yang tak bisa di paksakan itu memang benar adanya, E'den tak bisa mencintai Jeje lebih dari seorang sahabat, terbukti dari bagaimana cara dia memperlakukan ku selama ini.
_
Jangan buang putra mu hanya karena Jeje yang pergi, dia laki-laki baik juga sangat menyayangi ku, hanya saja dia bukan jodoh Jeje mungkin, sesayang apa pun E'den pada ku, pada kenyataannya adalah kami tak pernah bisa sejalan karena adanya kaki lain yang mengiringi langkah besar E'den.
_
Nikah kan mereka Pi, nikah kan E'den dengan wanita yang selama ini E'den cintai, Jeje lelah terus mengemban tugas sebagai menantu mu, biar kan kali ini Jeje pamit, di gantikan dengan wanita yang sangat E'den cintai. Tidak ada yang salah dengan cinta yang E'den rasakan, Jeje tau itu terjadi tanpa paksaan.
_
Papi jaga kesehatan, aku ini putri mu, sampai kapan pun Jeje putri mu, cinta Jeje ke Papi tak kan pernah lekang oleh jarak dan waktu.”
Penggalan kalimat yang Anson baca lumayan membuat dirinya naik pitam, di remas nya kertas putih itu dengan menyandang rahang yang tegas.
PLAK!!
Ia berputar haluan lalu meninggalkan cap merah pada pipi jernih putranya, Brandon menunduk segan.
Emma membulatkan matanya terkejut "Pi! Jangan kasar-kasar kenapa sih?" Pekiknya membela sembari mengelus pipi putranya.
"Jadi selama ini kamu mencintai wanita lain selain istri mu E'den?!" Berang nya melotot.
__ADS_1
"Wanita lain?" Emma menyerobot lalu menatap wajah suaminya berang "Bukannya Jeje yang selingkuh? Sekarang dia memfitnah putra ku?!" Lanjutnya.
Anson tak menggubris isterinya, dia tahu Jelita tak mungkin berbohong padanya "Jawab E'den!" Bentak nya, tatapan matanya masih tajam pada putranya.
Brandon mengangguk perlahan dengan gurat merasa bersalah di wajah tampan nya "Maaf kan E'den Pi, E'den tahu, E'den sudah menyakiti Jeje, tapi bukan berarti E'den tidak menyukainya, bukan berarti E'den tidak mencintai nya, E'den sadar E'den sudah salah, tapi E'den juga sangat mencintainya, sangat menyayangi nya. Selama ini Jeje ga pernah bilang bahwa ternyata perasaannya lebih dari seorang sahabat." Elak Brandon.
"E'den, bukanya Jeje yang selingkuh hah? Kenapa kamu mengakuinya?" Emma masih tak bisa menerima kenyataan bahwa putranya lah yang mengkhianati Jelita.
"Jadi senyum Jeje selama ini palsu, hanya demi melindungi putra bajingan ku, begitu!" Sentak Anson.
"Selama ini E'den juga memperlakukannya dengan baik Pi, E'den, ...."
"Kejar jalaang mu lalu enyah dari rumah ku!" Potong Anson.
"Atau cari dan bujuk Jeje kembali! Jangan sampai Marseille tahu anaknya sudah di duakan putra ku!" Lanjutnya memberi titah.
"Aku tidak butuh penjelasan tak masuk akal dari mulut dusta mu!" Timpal nya lagi penuh kemurkaan.
"Pi, ... Jelita pergi bukan karena E'den yang selingkuh, tapi dia yang selingkuh!" Sela Emma.
"Diam kamu!" Anson menyela tudingan isterinya, tidak ada yang laki-laki itu percaya selain Jelita saja, baginya Jelita gadis jujur, tak akan mungkin Jelita tega melakukan hal yang mengecewakan dirinya.
Emma diam tersentak "Tunggu saja hasil tes DNA nya Pi, kamu pasti kaget, dengan kelakuan mantu kesayangan mu!" Batinnya.
Marseille dan Mirea sang mertua justru terkejut, padahal dirinya sudah akan ke rumah sakit membesuk putrinya kala itu.
Rupanya Jelita juga meninggalkan sepucuk surat kembali untuk kedua orang tuanya, di sana Jelita tak menjelaskan apa pun, selain dari pada ingin berlibur menghilangkan pikiran frustasi nya.
Kala itu Marseille dan Mirea cukup mengerti karena putrinya memang memiliki sifat yang mudah bepergian di saat kacau. Kehilangan putranya mungkin membuat Jelita frustasi
Untuk saat ini Jelita belum berani mengadukan suaminya pada kedua orang tua kandungnya, sudah pasti Galang dan Tristan akan turun tangan jika sampai mereka tahu ulah menyakitkan suaminya. Jelita masih memiliki hati pada laki-laki itu.
...🖋️................🖋️...
Kita beralih kepada wanita cantik yang kini meringkuk pada ranjang spring bed putih dalam kamar apartemen di kota Surabaya.
Tak ayal, Jelita Maharani kini berada di sana bersama laki-laki tampan berwajah bule yang selalu mengikuti kemana langkah kakinya berayun.
Awalnya, Jelita pergi seorang diri, dia berniat pergi dari kejaran suaminya, Jelita tahu jika dia kembali ke rumah orangtuanya, selamanya dia takkan bisa menjauh dari Brandon.
Namun rupanya Dylan terus mengikuti isteri cantik tetangganya kemana-mana, bahkan keduanya sempat beradu argumentasi.
Jelita terus menolak bantuan laki-laki itu tapi Dylan terus mencecar hingga Jelita menyerah di buatnya.
__ADS_1
Yah, Dylan memang memiliki sifat yang kekeh pada pendirian. Mengejar apa pun yang dia inginkan dan itu yang membuat dirinya sukses.
Sudah sekitar empat hari keduanya tinggal di apartemen yang sama, hanya saja berbeda unit. Pintu unit mereka saling berseberangan satu sama lain karena tak mungkin tinggal satu unit sedangkan mereka bukan pasangan suami istri.
"Sekarang, Nona makan yah, lalu segera minum obat." Ucap wanita berpakaian perawat itu pada Jelita.
Di sudut tempat itu Dylan berdiri bersedekap menatap wajah sendu pujaan hatinya yang kini menggigil kesakitan.
"Aku tidak mau makan sus! Bisa tidak tinggalkan aku sendiri di sini!" Jelita menampik sendok di tangan sang perawat. Faktor kesakitan yang Jelita rasa membuatnya lebih mudah berang.
"Tapi Nona."
"Sudah, kamu pergi saja dulu." Celetuk Dylan yang pada akhirnya berucap demikian.
"Baik Tuan." Wanita itu meletakkan pirang berisi makanan sehat di atas nakas lalu melangkah keluar dari kamar membiarkan kedua insan rupawan berbeda jenis itu berduaan.
Dylan melangkah mendekati istri tetangga nya lalu duduk di sisi ranjang yang Jelita tempati. Ia tatap wanita cantik itu sebegitu dalamnya "Mau sampai kapan kamu seperti ini?" Tanyanya lembut dan hanya wanita itu saja yang mampu membuat hati beku Dylan meleleh.
"Kamu juga pergi! Aku mau sendiri Dylan!" Jelita meringis bahkan berdesah terus meringkuk di balik selimut tebal itu.
Kedua tangan Jelita terus merengkuh dadanya, rupanya ketidak stabilan hormon memicu asi keluar lebih dini. Bibir Jelita membiru menahan rasa tak nyaman di payu dara nya.
Sungguh, asi yang tak di keluarkan terus menerus membengkak dan mengeras, berdenyut-denyut menyakitinya.
"Kamu perlu perawatan, biarkan Suster merawat mu, sebenarnya apa yang terjadi pada mu hmm?" Desak Dylan.
"Aku bilang pergi! Aku bisa mengurus diri ku sendiri!" Catuk Jelita.
Dylan mendengus pelan "Ok, aku pergi tapi setelah kamu mengatakan padaku apa yang sebenarnya kamu rasakan sekarang, biar Suster merawat mu! Atau aku terus duduk di sini menemani mu!" Kekeh nya.
Jelita menghela napas sedalam mungkin sambil terpejam, kenapa laki-laki ini terus menerus mendesak nya?
"Aku butuh memompa asi ku, asi ku terus keluar dan ini menyakiti ku, tolong kamu keluar dari kamar ku, biarkan aku mengatasi nya sendiri!"
"Hah?" Bukanya segera pergi Dylan justru terhenyak mendengar pengakuan wanita itu. Matanya langsung ia arahkan ke bagian dada Jelita yang sudah membasahi t-shirt putihnya.
Menyadari itu Jelita membulatkan matanya penuh "Apa yang kamu lihat hah! Sekarang pergilah!" Wanita itu menutupi tubuh mungilnya dengan menarik selimut setinggi mungkin hingga menutupi lehernya.
"Ok ok." Dylan beringsut dari pemandangan itu lalu beranjak dari duduknya berjalan keluar dengan tangan yang menggaruk tengkuknya "OMG, apa yang ku pikirkan?" Gumam nya pelan.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
__ADS_1
...Visual Dylan Jackson...