Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Konstelasi


__ADS_3

Debur ombak menerjang tepi pantai hingga menyentuh kaki-kaki mungil wanita cantik ini.


Bersamaan dengan itu, sebuah pintu kamar balkon terbuka lebar oleh dorongan angin pantai yang berhembus sangat kencang.


BRAK......


Hingga membangunkan tidur pria tampan itu, alih-alih mengernyit terlebih dahulu, Dylan justru bergegas membuka matanya begitu terkejut lalu setelah itu baru mengerjap kan matanya, kerap.


Ia tatap pintu balkon yang terbuka kemudian mengalihkan pandangan ke sisi tubuhnya, seharusnya ada istri cantik yang semalaman dia peluk tapi rupanya tempat itu sudah kosong.


"Baby...." Dylan beranjak dari selimut tebalnya lalu berjalan tak seimbang menuju pintu balkon.


Tak perlu waktu lama matanya segera menangkap sosok indah yang ia cari tengah berdiri menatap lautan luas.


Terlihat long cardig yang membalut tubuh mungil Jelita beterbangan dan giliran angin pantai yang memeluk erat wanita kesayangannya.


Dylan tersenyum tapi juga khawatir dengan kondisi tubuh rapuh wanita itu.


Dylan kemudian kembali memasuki kamar lalu mengambil selimut tebal dari atas ranjang pengantinnya.


Lelaki itu keluar dari kamar menuruni anak tangga, kondisi villa sudah ramai karena para pelayan tengah melakukan tugas masing-masing.


Ada yang memasak untuk sarapan pagi, ada yang sudah bersih-bersih, ada juga yang tengah melucuti dekorasi pelaminan.


Selain para pelayan sepertinya belum ada anggota keluarga yang terbangun. Mungkin masih lelah setelah seharian menemui para tamu undangan.


Dylan sedikit mempercepat langkahnya dan kaki polosnya sudah bisa menginjak pasir pantai sekarang.


Cap cap kaki besarnya sudah terlukis di sana lalu merentangkan kedua tangannya meraup tubuh mungil wanita yang kini sedikit berjingkrak terkejut mendapati pelukan darinya.


"Hubby.!" Toleh Jelita.


"Kamu di sini? Pagi-pagi begini hmm? Kamu bisa masuk angin nanti!" Bisik Dylan di telinga wanita itu penuh kekhawatiran.


Jelita mengalihkan pandangan ke arah lautan kembali "Aku suka udara segar ini, suara deburan ombak ini, juga hembusan angin ini." Katanya sambil tersenyum.


Perlahan tapi pasti Dylan menuntun tubuh isterinya duduk di kursi pantai, memposisikan isterinya dalam dekapan dan pangkuannya.


Selimut tebal membungkus kedua insan rupawan itu, dan leher milik Jelita lah sasaran empuk bibir Dylan pagi ini.


Dylan sedang berusaha membuang hawa dingin yang mencekik wajahnya.


"Geli Dylan." Jelita protes sambil terkikik dan menggeleng kegelian.


"Aku kedinginan!" Keluh Dylan sedikit menggertak kan giginya, menggigil.


"Tapi aku tidak, setelah kamu peluk." Sahut Jelita sedikit mengerling kepada lelaki itu "Aku menyukai hawa seperti ini. Gimana kalo kita bangun rumah di tepi pantai saja Dylan?" Usulnya.


"Aku takut tsunami." Dylan terkekeh sembari mempererat pelukannya saking dinginnya, bahkan ujung hidungnya sudah mulai membeku hingga sesekali ia gesekan ke pipi lembut isterinya.


"Dylan."


"Hmmm?"


"Kita langsung punya baby yah!" Ajak Jelita "Setelah aku tidak halangan, kamu langsung saja tancap gas buat aku hamil." Lanjutnya.

__ADS_1


"Belum boleh dong, kan jahitan lukanya belum sembuh secara sempurna, baru setahun Yaki meninggalkan mu bukan?" Sambung Dylan setengahnya menolak.


"Jadi kamu ingat tanggal lahir putra ku?" Tanya Jelita setelah itu.


"Tentu saja! Setelah SC kamu kabur bersama ku dua bulan, .... lalu bang Galang menjemput mu, .... setelah itu kita baru bertemu dua Minggu kemudian tapi kamu justru memutuskan hubungan kita. Tujuh bulan kita terpisah dan itu sangat menyiksa ku Baby." Nada Dylan berangsur lirih mengingat kembali kejadian menyebalkan dirinya.


"Maaf!" Ucap Jelita tulus.


"No problem, sekarang kamu istri ku! Selamanya, kamu tak kan pernah ku lepas!" Ucap Dylan mantap.


"Sebenarnya, bisa hamil lagi, tapi harus dalam pengawasan, juga perawatan yang baik, kamu kan kaya raya, pasti bisa sewa semua dokter rumah sakit untuk mengawasi ku. Aku mau secepatnya punya baby, Dylan." Rengek Jelita.


"Apa nantinya saja, kita konsultasi lebih dulu, baru setelah dokter menyatakan aman, kamu boleh hamil lagi." Sambung Dylan.


"Kamu khawatir pada ku Hubby?"


Dylan mengangguk "Sangat!" Tegasnya.


Jelita selalu tersentuh oleh kata-kata tulus yang menyeletuk dari bibir rona suaminya.


Entah siapa yang memulai saat ini kedua bibir yang saling berkonfrontasi itu sudah membelit satu sama lain, bahkan hanya berhenti sesekali untuk menghirup oksigen di tepi pantai yang menentramkan jiwa.


"Ekm ekm!" Suara dahaman terdengar dari arah kanan cukup berhasil melerai pautan bibir itu.


Masih dengan kondisi bibir yang basah, Dylan dan Jelita menoleh secara bersamaan kepada laki-laki tampan yang kini berdiri menatap keduanya.


Terlihat di sana, Brandon menyandang mantel tebal sambil menenteng paper bag kecil berwarna putih.


"E'den! Kamu sudah pulang dari Singapura?" Kejut Jelita lalu Brandon mengangguk.


Brandon duduk di kursi pantai yang terletak tepat di sebelah kursi Dylan sambil tersenyum dengan gurat ketidak relaan di wajahnya "Selamat menempuh hidup baru, sahabat ku." Ucapnya, ia menatap lekat wajah cantik alami Jelita.


Kemudian Brandon meletakkan paper bag di sisi kursinya "Ini untuk mu, hadiah pernikahan dari ku." Ucapnya lagi.


"Terimakasih, E'den. Jadi kamu langsung ke sini untuk ku?" Ujar Jelita dengan sunggingan senyum manis, berusaha tak membuat masalah dengan mantan suaminya.


"He-em, dari bandara aku langsung ke sini. Tapi, setelah ini aku harus segera pulang, Mami masih membutuhkan perawatan, dia juga masih membutuhkan pendamping. Jadi kalian nikmati lah lagi waktu honey moon kalian." Ujar Brandon.


"Tentu saja!" Dylan menyeletuk seolah sengaja menunjukkan keberuntungannya mendapatkan wanita cantik yang dia sia-sia kan.


Lihat lah, Jelita semakin cantik setelah hidup bersama ku__ada pesan itu yang tersirat di wajah tampan Dylan saat ini dan kenyataannya adalah Brandon mengakuinya, lelaki dua puluh lima tahun ini mengakui kebodohannya sudah melepas bongkahan berlian hanya karena seonggok sampah yang kini masih mendekam di penjara.


Shasha memang masih harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Beruntung Brandon putra Anson Dwi Pangga, maka Jelita masih mau memaafkan dirinya. Semua yang Jelita lakukan hanya untuk Anson saja.


"Aku titip Jeje, pada mu!" Ucap Brandon pada Dylan sebelum kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan perlahan menjauh dari tempat itu.


Dylan dan Jelita masih hanya menatap berlalunya punggung pemuda sendu itu.


"Apa kamu masih punya rasa padanya Baby?" Tanya Dylan.


"Ada, tapi sebatas sahabat, tidak lebih, mungkin benar, ucapan adalah doa, dan ini terjadi pada perasaan ku sekarang. E'den selalu berkata Jeje ku sahabat ku, mungkin takdir ku hanya menjadi sahabat nya saja, dan aku beruntung memiliki mu, Hubby." Jelita tersenyum tulus hingga menyentuh hati suaminya.


...🖋️................🖋️...


Dua hari setelah tinggal bersama orang tua Jelita Dylan pamit membawa isterinya pulang ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


Hari ini, hari yang Dylan pilih untuk memulai hidup baru bersama Jelita di istana ayahnya.


Awalnya Marseille menolak, tapi Jelita berhasil meyakinkan ayahnya bahwa dia akan baik-baik saja bersama Dylan dan mertua perempuannya.


Berat hati Marseille dan Mirea melepas kepergian putrinya tapi tetap menyertakan doa.


Di sini lah mobil mewah berwarna hitam milik Dylan sekarang, di pekarangan rumah bergaya klasik yang lebih mirip istana ini.


Dylan turun dari mobil lalu menuntun isterinya keluar dari sana "Hati-hati sayang." Ucapnya.


Di teras rumah besar itu sudah berjejer rapi seluruh penghuninya menyambut kedatangan calon presiden direktur beserta isterinya.


Di antaranya ada Edbert, Ranti, Mila istri sipil kedua Edbert dan Hendra anaknya, juga Bella istri termuda Edbert, awalnya Bella hanya istri siri lalu sekarang sudah di legalkan secara sipil.


Ada beberapa istri siri lainnya juga yang masih tinggal bersama Edbert di rumah besar itu.


Hendra tersenyum lalu melangkah maju lebih dulu menyapa adik tirinya "Selamat datang kembali Dylan, adikku." Ucapnya menyambut.


Dylan berwajah datar "Hmm." Sapa balik nya menghiraukan laki-laki berusia 32 tahun itu. Jelita juga ikut menyapanya dengan senyuman.


Ada tatapan lain dari mata bulat Hendra pada istri cantik adik iparnya. Menyadari itu Dylan segera beralih dari laki-laki itu.


Saat ini Edbert yang berdiri tegak tepat di depan putranya "Selamat datang putraku, Daddy merindukan mu!" Dylan membiarkan ayahnya memeluk rindu dirinya meski dengan wajah datar.


"Terimakasih, sudah mau kembali!" Edbert juga manusia yang tak mampu mengelak dari kaca-kaca di matanya sambil mengusap punggung putranya.


Ranti bahagia melihat Dylan dan suaminya berpelukan "Selamat datang sayang." Elus nya pada kepala putra semata wayangnya. Lalu beralih pada menantu cantiknya "Selamat datang mantu ku!" Ucapnya.


"Iya Mami." Jelita tersenyum lalu menghambur pelukan pada mertua perempuannya.


Di sudut tempat itu masih ada Bella yang sudah menatap tidak suka pada Jelita "Lihat saja kamu! Aku buat kamu tidak betah di sini!" Bohong jika wanita tidak memiliki rasa iri pada kekasih pria yang di cintai nya, apa lagi jika dari awal sifatnya sudah tamak.


"Dylan, selamat datang ya Nak, semoga betah di sini, mamah kangen banget sama kamu." Celetukan dari Mila dengan senyum yang menurut Dylan hanya ilusi.


Dylan beralih pada wanita itu "Yah, terimakasih Mah, semoga kalian juga masih betah berada di sini, setelah ada aku, putra pewaris tunggal!" Ujarnya, ada ancaman yang tersirat di sana.


Getaran hebat berdentum menyengat jantung Mila saat ini, sepertinya tatapan mata Dylan sudah tak sabar ingin membuangnya.


Edbert beralih pada Jelita "Selamat datang mantu ku, .." Sambut nya sambil merentangkan kedua tangan hendak memeluk wanita itu.


"Iya Daddy." Ucap balik Jelita.


Greek!


Sontak Dylan mencekal tangan ayahnya dengan tatapan menusuk "Jangan pernah menyentuh istri ku!" Lirih namun ada tekanan di setiap katanya.


Edbert mengernyit "Sayang, Jelita mantu ku, apa Daddy tidak boleh memeluk nya seperti pelukan ayah mertua?" Protesnya.


"Daddy, ....mertua yang di kecuali kan!" Tegas Dylan kemudian meraih tangan mulus isterinya.


Dia gandeng wanita cantik itu berjalan memasuki rumah besar ayahnya melewati semua orang yang menatap tidak suka padanya.


Bangunan yang mulai hari ini akan berada di bawah konstelasi nya.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...

__ADS_1


...Terimakasih like komen, Vote dan Hadian nya... Terimakasih yang sudah mampir di karya yang masih banyak kurangnya ini...❤️...


__ADS_2