
"Hekm?" Smirk devil Edbert sungging kan ketika mendengar kalimat sarkas dari semua orang yang terhenyak melihat aksi Brandon dan Shasha di layar laptop miliknya.
"Nikmati penyesalan kalian! Jangan sungkan merengek padaku saat kalian berubah pikiran! Aku masih sangat mantap menikah kan Jelita dengan putra ganteng ku."
"Kalian boleh caci maki aku yang memang bajingan ini, tapi, jangan samakan putra ku dengan diri ku! Dia berbeda!"
Semua orang tertunduk malu mengetahui kebodohan yang mereka sandang berjamaah selama hampir tiga tahun lamanya pernikahan Jelita.
Selesai sudah maksud tujuan Edbert berkunjung ke rumah calon besannya, setelah dirasa cukup Edbert pulang tanpa berpamitan meninggalkan keluarga besar Jelita dalam keadaan murka pada Brandon Dwi Pangga.
Tiba di luar rumah klasik itu Edbert tergelak renyah seakan menertawakan sifat setia putranya "Aku heran, kenapa wajah Dylan mirip dengan ku, tapi wataknya mirip ibunya! Harusnya orang ganteng tidak perlu setia bukan!" Ujarnya enteng dan Reno ikut tertawa renyah mendengar ucapan sang Tuan.
"Anda bisa saja!"
...🖋️................🖋️...
Tak perlu waktu lama, Galang dan Tristan mengambil jaket mereka masing-masing kemudian melangkah keluar hendak menyatroni rumah milik Brandon dengan usungan rahang yang tegas.
Jelita langsung menyusul kedua abangnya setelah mengetahui apa yang sudah terjadi di rumah itu beberapa waktu lalu.
Jelita tak sempat melihat kedatangan Edbert, ia baru keluar setelah Galang dan Tristan melajukan mobilnya.
Mirea juga sempat berang menyalahkan putrinya, kenapa harus diam saja di perlakukan tidak adil selama dua tahun lebih pernikahannya bersama Brandon
Yah, ada banyak di luar sana wanita yang bahkan rela mati demi cinta, maka tak berat jika hanya rela di madu saja.
...🖋️................🖋️...
Satu jam kemungkinan, mobil Galang dan Tristan sampai di pekarangan rumah milik Brandon, keduanya serempak keluar dari mobil yang sama namun dari pintu yang berbeda.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, Brandon tengah asyik menatap bangunan mewah di seberang sana, yaitu bangunan milik Dylan.
Meskipun status nya sudah menduda Brandon masih tetap tinggal di rumah lamanya, hari-hari yang Brandon lalui adalah menatap rumah Dylan, berharap Jelita muncul juga di rumah itu.
Mungkin saja, Jelita sang mantan istri sudah serius menikahi Dylan dan tinggal bersama beralih menjadi tetangganya, sejujurnya Brandon masih ingin menikmati wajah cantik Jelita meski bukan lagi suaminya.
Rindu sekali rasanya ingin melihat senyum manja gadis yang dia nikahi sebelum lulus kuliah itu.
"E'den!" Teriak Galang, lelaki berusia dua puluh tujuh tahun ini memang memiliki sikap pemarah apa lagi jika sudah menyangkut istri, ibu dan adiknya.
Brandon menoleh ringan dengan binar mata yang lengar "Bang Galang." Sapa nya.
Bugh!
Satu jotosan mendarat begitu saja di wajah tampan Brandon Dwi Pangga "Bang, apa maksudnya ini?" Lelaki itu mundur dengan langkah bertampiaran tak tentu arah "Apa salah ku? Kenapa?" Tanyanya seperti tak berdosa.
Bugh!
"Masih berani tanya apa salah mu hah?" Pekik Tristan melotot. Dua singa milik Marseille begitu menyeramkan jika sudah keluar dari kurungan.
__ADS_1
Galang meraih satu kursi taman lalu melayangkannya ke udara "Mati saja kamu sekarang E'den!" Teriaknya.
Begitu membuncah rasa dogol dalam dada hingga tak memikirkan hubungan yang sudah lama terjalin di antara mereka.
"Jangan!" Suara wanita mencegah tindakan kejam itu "Jangan Bang! Jangan!" Jelita berdiri tepat di depan Brandon berusaha menghalangi kursi yang akan mendarat pada tubuh lelaki itu.
Seketika senyum manis Brandon mengembang kala melihat kepedulian mantan istrinya "Jeje, aku tahu kamu masih sangat menyayangi ku!" Gumamnya pelan.
"Sudah di sakiti bertahun-tahun, kamu masih saja membelanya?" Sambar Tristan melototi adiknya.
Jelita menampik kursi dari tangan Galang lalu menarik kedua abangnya menuju ke sebuah mobil yang terparkir di sudut tempat itu kemudian berdiri menatap keduanya penuh desakan.
"Dia sempat akan mengalami gegar otak gara-gara terbentur kaca mobil! Jeje cuma ga mau kalian mengotori tangan kalian, sedang dia enak-enakan lepas dari hukuman yang semestinya! Bukanya terbalaskan Justru kalian yang akan mendekam di balik jeruji besi setelah ini!" Ujar Jelita.
"Jeje sudah ikhlas, Jeje sudah mau move on dari semua belenggu masa lalu ini, tolong kasih Jeje kesempatan untuk menyongsong masa depan bersama pilihan Jeje sendiri, jangan terus menoleh ke belakang, kalo kalian mau membalas rasa sakit kalian, biarkan saja polisi yang bertindak." Lanjut Jelita lalu kedua abangnya berusaha menerima meskipun pandangan mereka mengedar ke mana mana.
"Sekarang lebih baik Bang Galang, ..." Jelita menghentikan kalimatnya saat tak sengaja melirik ke arah kanan dan melihat sosok pria bule berdiri dengan mengepalkan tangannya di atas balkon sana.
Dylan kemudian memasuki kamar miliknya tanpa membalas sapaan wanita itu.
"Dylan!" Tanpa ragu lagi Jelita berlari keluar dari halaman rumah mantan suaminya menuju ke halaman rumah pria masa depannya.
"Oh, tidak, Dylan pasti salah paham!" Gumamnya lirih di sela ngos-ngosan larinya.
Beberapa pria menunduk kan kepalanya sopan menyambut kedatangan calon Nyonya di rumah besar itu.
...🖋️................🖋️...
BRAK!
Di hempas kan nya kanvas-kanvas itu dari lantai atas ke lantai bawah hingga tercecer berserakan. Semua pelayan menunduk tak berani menatap wajah pria bengis itu.
"Buang semua lukisan ini, bila perlu bakar!" Titahnya.
Sungguh sakit melihat nya. Ternyata, sampai detik ini Jelita masih sangat perduli pada mantan suaminya.
Lalu untuk apa lagi Dylan pertahankan rasa ini? Cukup, mungkin cinta pertama tak bisa berpindah begitu saja.
Baik lah, Dylan memutuskan untuk stop mengagumi wanita dalam lukisan-lukisan itu, sebab sepertinya sangat sulit meraih hati dan cinta Jelita yang sudah stuck pada Brandon saja.
Pelampiasan, mungkin itu kata yang pantas menggambarkan perasaan Jelita padanya.
"Dylan!" Dari lantai bawah Jelita berlari menaiki anak tangga "Dylan, ..." Sebegitu takutnya Jelita akan kecemburuan pria itu hingga dengan cepatnya gadis itu berlari tanpa takut terjatuh.
Sekilas ia melirik kepada lukisan-lukisan yang Dylan buang, di mana salah satunya ada gambar saat dirinya masih memakai seragam SMA. Mungkin itu lukisan wajah cantik Jelita yang pertama kali Dylan garap.
...🖋️................🖋️...
Tiba di lantai atas Dylan sudah akan menutup pintu kamar miliknya namun Jelita tak kehilangan akal, ia berpura-pura terjepit pintu bercat putih itu "Aw aw Dylan, sakit! Hiks hiks!" Keluhnya berakting.
__ADS_1
"Hassial!" Dylan mengumpat dirinya sendiri, yang masih saja khawatir dalam keadaan tengah murka-murka nya.
Dylan buka kembali pintu yang belum sempat tertutup, ia kemudian meraih tangan mungil gadis itu, memastikan jemari-jemari lentik milik Jelita tak sampai terluka apa lagi berdarah.
Bibir Jelita mesam-mesem mendapati perlakuan manis Dylan "Aku ga papa sayang." Wanita itu berjinjit kemudian membisikkan kata-kata itu pelan.
"Ck!" Decak Dylan lalu menghempas tangan mungil Jelita kasar "Pergi dari sini!" Usir nya. Tatapannya begitu tajam di penuhi kecemburuan.
"Apa kamu yakin mengusir ku? Lalu, bagaimana dengan lamaran mu semalam? Apa mau kamu batalkan begitu saja?" Jelita mencebik kan bibirnya berusaha terlihat manis di hadapan pria itu.
"Apa kamu tidak dengar? Orang tua mu sudah menolak lamaran ku!" Ketus Dylan.
"Kalo begitu, biar aku saja yang melamar mu ke Om Edbert sekarang juga!" Jelita melengos pergi dan aksi itu berhasil membuat Dylan tersentuh.
Dylan tarik kembali jemari mungil Jelita agar wanita itu menghadap ke arah nya "Sebenarnya apa mau mu? Kadang membela mantan suami mu, kadang seperti ini pada ku!" Tohok nya.
"Aku bukan membela orang itu! Aku lagi menyelamatkan kedua Abang ku, aku ga mau mereka berurusan dengan polisi hanya karena mengotori tangannya, memukuli orang bejat seperti dia!" Sepertinya kali ini Jelita sudah tak sudi menyebut nama Brandon lagi.
"Aku mau kita menikah, bila perlu kawin lari, berdua, jangan hiraukan orang tua ku yang tak merestui kita, aku sangat menyayangi mu, aku mau hidup bersama mu, Dylan." Rengek janda muda itu.
"Gombal!" Dylan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Serius!" Jelita melangkah mendekat lalu menjingkat tumit kakinya berusaha memangkas jarak di antara mereka. Sebuah kecupan lembut mendarat pada bibir merona milik Dylan tanpa ragu dan malu.
Rupanya satu mata Dylan masih mampu menangkap sosok pria tampan yang kini berdiri di belakang tubuh Jelita.
Tanpa memperdulikan keberadaannya. Dylan justru menekan tengkuk jelita berusaha lebih menenggelamkan lagi bibir wanita itu ke dalam ruang berair senikmat es krim miliknya.
Pagutan demi pagutan Dylan berikan pada bibir lembut wanita mungil itu sambil menatap ke arah Brandon yang masih bergeming menatap aktivitas romansa cintanya bersama Jelita.
Brandon sempat berpikir Jelita membelanya karena masih perduli dan masih menyayangi dirinya, hingga dengan percaya dirinya ia menyusul mantan istrinya ke rumah tetangga sebelahnya, naasnya dia justru mendapati pemandangan yang sangat menyakitkan.
Bagai terkoyak hunjaman belati yang baru saja di bakar bara api. Begitu panas sampai ke relung hati.
Jelita benar, pembalasan yang sebenarnya bukan lah pukulan yang membekas di bagian tubuh yang terlihat tapi luka yang tak mampu di sembuh kan oleh obat manapun saja.
Sebuah pengalaman menyakitkan membuat Jelita lebih bijak mengatasi semua masalah, buktinya tanpa ia membongkar penghianatan yang Brandon tujukan padanya. Pada akhirnya terungkap lah semua tanpa perlu berlelah-lelah mengadu domba siapa-siapa.
"Tuan Brandon Dwi Pangga!"
Jelita tersentak kaget mendengar suara tegas yang tiba-tiba muncul di ruangan itu, ia melepaskan penyatuan bibirnya.
Kemudian menoleh ke belakang tubuhnya, rupanya beberapa satuan pengaman sengaja mendatangi rumah Dylan untuk meringkus mantan suami yang Jelita sendiri tak tahu entah sejak kapan Brandon berada di dalam sana.
"Tuan! Anda kami tangkap karena telah melindungi pelaku tindak kejahatan, yaitu kasus percobaan pembunuhan yang di lakukan oleh Nona Shasha Asmita." Ucap tegas satu polisi sambil menunjukkan satu lembar surat perintah penangkapan dan penahanan pada tersangka.
Brandon kelu, lelaki itu sudah tak mampu lagi beringsut dari posisinya, di tangkap dan di jadikan tersangka tak seberapa menakutkan jika di bandingkan dengan rasa sakit saat Jelita merengek cinta pria selain dirinya.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
__ADS_1