Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Peramal?


__ADS_3

"Hah? Kamu kenapa?" Brandon terpaksa mundur dengan kerutan di keningnya.


"Aku mual, uueegh!" Jelita berlari menunduk ke arah wastafel cuci piring di dapur minimalis nya lalu meluah kan semua isi perut hingga kekuningan.


"Jeje, kamu masuk angin?" Brandon terus mengikuti isterinya tapi tetap menjaga jarak sebab setiap dia mendekat Jelita selalu meluah tak jelas.


"Mungkin Nyonya muda hamil Tuan muda." Celetukan dari Mina membuat keduanya menoleh ke arah nya.


"Hamil?" Brandon memastikan "Apa tanda orang hamil seperti itu bik?" Tanyanya.


"Iya Tuan, biasanya mengalami mual di pagi hari, lalu aneh aneh kelakuannya, jadi jangan heran kalau Nyonya muda tidak mau di dekati, itu biasanya bawaan bayinya." Mina terkekeh geli saat mengucap itu.


"Apa? Benarkah? Kamu hamil Jeje?" Brandon tersenyum tiada henti meskipun belum membuktikannya sendiri tapi ia sudah sangat yakin.


"Kenapa tidak kita tes saja Je, bukanya kemarin kamu sempat membeli testpack?" Brandon menatap penuh harap isterinya dari jarak dua meter.


Di sela lemas nya Jelita masih sempat tersenyum "Iyah, aku coba tes dulu." Ucapnya.


"Mari saya bantu Nyonya." Jelita di tuntun Mina memasuki kamar sedang Brandon duduk kembali di meja makan minimalis nya.


Jelita lantas mengambil testpack yang beberapa waktu lalu ia beli saat berbelanja kebutuhan dapur bersama suaminya.


Ia pun segera memasuki kamar mandi lalu melakukan hal yang suaminya perintah kan padanya yaitu mengetes kehamilan. Mungkin saja memang secepat itu Tuhan memberinya keturunan.


"Semoga saja positif, Papi pasti senang mendengarnya." Gumamnya.


Lima belas menit berselang, Jelita keluar dengan binar senang di matanya lalu segera menemui suami yang masih duduk di meja makan minimalis rumah itu di ekori Mina.


"E'den!" Seru Jelita bersemangat. Namun senyum nya meredup saat melihat seorang wanita duduk bergelayut pada lengan suaminya.


"Gimana Je apakah positif?" Shasha yang bertanya dengan raut antusias.


Dengan menepis cemburunya Jelita kembali melanjutkan langkah mendekati suami yang masih duduk berdampingan dengan Shasha.

__ADS_1


"Gimana Jeje sayang? Positif?" Tanya Brandon yang juga antusias.


"Ini E'den. Aku benar-benar positif!" Jelita menyodorkan testpack miliknya pada Brandon dengan senyum gembira.


Brandon menerima benda mungil itu lalu melihat tanda positif di sana "Syukurlah, jadi aku akan menjadi seorang ayah Je?" Brandon terlihat sangat bahagia.


Jelita mengangguk sambil tersenyum "Iya E'den, akan ada tangisan bayi di rumah ini." Ucapnya dengan binar haru di matanya.


Bukanya memeluk sang isteri Brandon justru memeluk kekasihnya "Akhirnya, kamu gak perlu melahirkan sayang." Ucapnya.


Duarr!


Jelita tercengang mendengar ucapan suaminya, sepertinya proyektil di dasar hatinya meledak seketika itu juga "Iya Mas, Jeje yang akan mengandung anak mu, aku tidak perlu kehilangan tubuh ramping ku!" Sahutan Shasha yang membombardir hati Jelita hingga di penuhi luka kembali, satu bulan ini Jelita yakin suaminya sudah mulai menyukainya, dengan mengandung anak Brandon mungkin bisa membuatnya naik level dari sahabat menjadi isteri kesayangan.


Tapi rupanya ini jawabannya? Jelita harus hamil karena Shasha tidak mau mengandung anak Brandon, perkara tak mau kehilangan tubuh rampingnya, alasan yang abnormal sekali!


Brandon beralih pada Jelita yang masih bergeming di tempatnya "Jeje, kamu mau apa Yank? Aku turuti, berlian? Chanel? Tas LV? Apapun? Semuanya aku turutin!" Brandon mendekat lalu dengan reflek kaki Jelita mundur "Stop E'den!" Pekiknya memberikan tanda mundur pada suaminya.


"Aku muak dengan semua ini, aku tidak menyangka, ternyata aku hanya di jadikan penampung bayi bagi mu!" Sayangnya Jelita hanya berani mengucap itu dalam hati saja.


"Aku, yah, aku masih mual, kalian lanjut lagi saja sarapan nya, aku mau keluar E'den, mungkin udara segar bisa mengembalikan mood ku!" Pamit Jelita.


"Iya, hati-hati ya Jeje sayang. Sekarang kamu lagi hamil anakku, aku titip dia yah." Brandon berucap penuh harap dengan senyum yang tiada henti menghiasi wajahnya.


Jelita mengangguk lalu segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi "Tuhan, kenapa aku sebodoh itu? Kenapa aku harus merelakan tubuhku untuk laki-laki yang tidak pernah menyukai ku?" Batinnya berkata pilu.


Dengan mengemban rasa yang begitu menyakitkan Jelita berjalan gontai keluar dari rumah besar itu, lalu duduk di kursi taman yang terletak di depan rumahnya "Hiks hiks." Tak kuasa wanita itu menahan isak tangisnya sambil memejamkan mata dengan bibir yang gemetar. Tangannya mengepel menahan goncangan yang ia rasakan.


"Kenapa setega itu E'den, apa kurang ku? Kenapa Shasha seolah sangat berarti bagi mu?"


Sepuluh menit Jelita duduk termenung di kursi taman itu sampai pada akhirnya seseorang menggoyangkan bangku putih tersebut.


"Ekm ekm!" Seketika Jelita menoleh saat mendengar suara itu, di lihat nya wajah tampan tetangga bule nya tersenyum manis padanya.

__ADS_1


Entah dari mana datangnya pria itu, kenapa berani sekali nyelonong masuk ke halaman rumahnya, padahal rumahnya sendiri di jaga seketat mungkin.


"Kamu menangis?" Tanya pria tampan itu, pria yang tak lain adalah Dylan Jackson tersenyum seakan mencibir dirinya.


"Kamu!" Jelita menyeka air mata di pipinya secara kasar "Apa urusan mu!" Ketusnya.


"Bukanya selama satu bulan ini, kamu nyengir terus? Aku liat kamu sudah tidak lagi melamun di balkon kamar mu! Lalu kenapa lagi sekarang? Boleh aku tahu?" Tanya Dylan lagi.


"Apa dia mengamati ku?" Batin Jelita.


"Kenapa kamu suka sekali mencampuri urusan orang lain? Pergi kamu!" Usir wanita itu ketus.


"Ohhaaaay cantik, aku ini tamu, pamali mengusir tamu setampan diriku!" Sela Dylan dengan senyum percaya diri "Lagian aku kesini mau memberi sesuatu padamu! Aku yakin kamu tidak akan menolaknya!" Lanjutnya.


Dylan lantas membuka kotak makan berisi sushi matang yang benar-benar terlihat menggiurkan "Makan lah! Kamu belum makan bukan?"


Jelita berkerut kening dia benar-benar heran kenapa laki-laki ini selalu tahu semua tentang nya? Apa dia seorang peramal? Pikirnya.


"Kenapa diam? Makan lah!" Jelita ingin sekali mengusir dan menolak pemberian laki-laki tampan itu, tapi sepertinya perut dan tenggorokan Jelita berkata lain, lidahnya bahkan membasahi bibirnya lalu menelan saliva "Ya ampun kenapa aku sangat menginginkan itu? Kayaknya enak banget." Batinnya.


"Coba dulu saja, mungkin kamu cocok dengan masakan koki handal di rumah ku!" Dylan menyodorkan kotak makan berwarna pink itu pada Jelita.


"Atau aku buang saja?" Lanjut Dylan mengangkat kotak tersebut ke atas seperti ingin melempar nya tapi dengan cepat Jelita mencegah.


"Jangan Dylan, a-aku mau." Ucapnya ragu karena malu-malu "Tapi jangan GR! Ini mungkin bawaan calon bayiku yang menginginkan makanan mu, bukan aku!" Jelita berusaha menampik perasaannya, sebisa mungkin tak terlihat memberi perdamaian pada laki-laki itu.


"Ok, anggap saja begitu!" Dylan tersenyum irit lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, memberikan kesempatan untuk Jelita mencicipi makanan darinya.


"Tapi tunggu, kenapa dia tidak terkejut dengan kabar kehamilan ku? Apa dia benar-benar bisa membaca pikiran orang?"


Sebisa mungkin Jelita tidak mengucapkan satu patah kata pun dihadapan laki-laki yang serba tahu itu.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...

__ADS_1


__ADS_2