Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Random


__ADS_3

"Hamil?" Edbert tercengang mendengar informasi dari dokter wanita itu.


Sudah dari pagi tadi Bella mual muntah, lalu malam ini dokter spesialis kandungan pun di undang ke mansion, alangkah terkejutnya pemilik rumah saat sang dokter mengatakan "Nyonya Bella hamil."


Di depan pintu kamar Bella Edbert mencekal tangan ke belakang dengan mengusung semburat berang.


"Bagaimana bisa?" Ucapnya yang setengahnya tidak menerima kenyataan.


"Daddy, selama ini bukanya kita sering melakukannya, kenapa kamu terkejut? Apa Daddy tidak mau mengakui putra mu?" Sulut Bella berkerut kening.


Akhir-akhir ini Edbert tak berkunjung, tak memberi perhatian pula, lalu mendengar kehamilannya justru terkesan menolak, Bella merasa tersisih.


"Selama ini, Daddy selalu memakai pengaman! Daddy tidak pernah berniat memiliki putra selain Dylan saja!" Sambung Edbert enteng.


Jelas Edbert hanya bersenang-senang dengan para wanitanya, tak punya sedikitpun niat untuk memiliki keturunan dari perempuan binal.


"Pengaman, memiliki 98% mencegah kehamilan, berarti masih ada 2% lagi yang bisa di mungkinkan menjadi alasan hamilnya Nyonya Bella, Tuan." Sahut dokter spesialis kandungan itu.


Suara langkah dari sepatu heels milik seorang wanita terdengar, sontak Edbert menoleh dan Ranti berdiri tegak menatapnya tajam.


Hamil? Ranti tergugu, Edbert bilang tidak akan pernah menghamili istri selain dirinya, lalu apa ini? Bella hamil?


Ranti tak sempat ragu lagi untuk meninggalkan tempat itu, kembali ia melanjutkan langkah menuju kamar miliknya dengan gurat kekecewaan yang sudah sering kali ia tampilkan.


Secara cepat alas kaki Edbert terdengar mengikuti dari belakang tubuh wanita itu tapi Ranti juga tak kalah mempercepat langkahnya.


Tibalah mereka di kamar, Edbert meraih lengan isteri pertamanya hingga saling berhadap-hadapan "Kamu marah padaku?" Tanyanya.


"Apa itu penting?" Berang Ranti, meskipun sudah sering kali tapi kekecewaan selalu setia menghampiri.


"Aku benar-benar yakin, aku tidak pernah menghamili istri selain diri mu! Aku bertekad untuk memiliki keturunan hanya dari mu saja." Sambar Edbert berusaha meyakinkan.


"Tekad mu tak sekuat kenyataannya! Sekarang lihat lah, kau akan memiliki keturunan lagi, maka biarlah aku tenang hari ini, malam ini temani istri hamil mu tidur!" Usir Ranti.


"Apa, ..." Lagi-lagi Edbert ingin kelepasan emosi tapi kata-kata dokter terngiang kembali, lelaki itu memejamkan matanya berusaha mengondisikan amarah yang membuncah di dadanya.


"Aku sudah bilang, di sisa hidup ku, aku hanya ingin tidur bersama mu, sayaaaang." Lirih sekali Edbert mengucap namun penuh penekanan di setiap katanya "Aku mau memperbaiki hubungan ini, aku yakin kamu masih sangat mencintai ku."


Ranti tersenyum singkat "Setelah puas bermain-main dengan para wanita mu, sekarang kau ingin bertaubat, Edbert?" Tanyanya mencibir.


"Setelah puas membuat ku tidur seorang diri tanpa belaian kasih, kau baru menyesali perbuatan mu? Lelaki macam apa suami ku ini? Setelah istri muda mu hamil, sekarang kau ingin kembali padaku? Apa sudah menjadi kebiasaan mu mengacuhkan istri hamil mu?" Lanjutnya sarkas.


"Kau yang diam saja selama ini bukan? Kau membiarkan suami mu bermain-main, kau yang tak pernah sekalipun mengutarakan perasaan mu padaku, kau yang tak pernah protes dengan izin ku, lalu apa hanya aku yang patut di salahkan? Sedangkan kau sendiri tak pernah punya niat mempertahankan hak mu, atau sekedar mengatakan kesakitan mu pada ku!" Ujar Edbert.


"Bagi mu aku yang salah kan? Bercerai saja!"


"Ranti!" Bentak Edbert "Apa tidak ada lagi kata-kata yang baik? Kenapa akhir-akhir ini kamu sering menuntut itu? Aku tidak akan pernah menceraikan mu! Kau istri kesayangan ku, perasaan ku tulus padamu, kau tahu benar godaan terberat laki-laki adalah harta wanita dan tahta." Sambung nya.


"Dan kau tidak lulus, Edbert! Manusia di ciptakan lengkap dengan pikirannya, aku tahu selama ini kau melihat kesakitan ku, hanya saja masih mabuk dengan mainan mu hingga tak pernah berpikir untuk menghentikan kegilaan mu! Kau pikir aku tak mendengar saat kau melamar Bella? Kau bilang seharusnya aku tidak membencinya karena ibunya mendonorkan ginjal pada ku! Sakit sekali, Edbert! Tapi kau justru menidurinya bahkan membuat putra ku pergi dari sini! Sekarang setelah tua, kau baru menyesalinya!" Ranti membuang smirk sinis.


"Wanita juga punya godaan, tapi aku mampu melawan meskipun aku tak di perlakukan baik di rumah ini!" Tambahnya, berderai sudah kata-kata yang Ranti simpan bertahun-tahun lamanya.


"Kau tahu kenapa aku tidak menerima Garry? Karena aku masih sadar betul, aku masih istri syah mu! Lihatlah, bagaimana aku melewati ujian itu tanpa mu selama tiga tahun?"


Edbert dibuat hening......


Laki-laki itu sudah tak mampu lagi berucap apa-apa, selain hanya diam menatap nanar berlalunya punggung wanita itu memasuki kamar mandi, apa pun alasannya tidak ada yang membenarkan perselingkuhan, kepuasan batin? Harusnya lihat lah istri mu dulu, rawat istri mu, sayangi istri mu, jika istri mu sedang berada pada fase tidak cantik, jadikan lah istri mu berbinar karena kasih sayang juga perhatian mu, bukan mencari kesenangan kepada wanita lain.


Masih pantas kah kau meminta ampun? Lihat lah Edbert, bahkan cicak di sisi dinding seolah mencibir dan menertawakan dirimu! Edbert bermonolog sendiri dalam batinnya.


...๐Ÿ–‹๏ธ................๐Ÿ–‹๏ธ...


Edbert kembali ke kamar Bella, dia masih ingin membahas tentang kehamilan yang tiba-tiba terjadi begitu saja. Wajahnya mengeras ketika memasuki dan melihat wanita itu duduk di sisi ranjang dengan memegangi perut yang masih rata sambil tersenyum. Sepertinya Bella bahagia.


"Bella!" Panggil nya ketus.

__ADS_1


Bella menoleh "Iya Dadd, ..."


"Apa kau yakin, hamil anakku?" Tukas Edbert.


Sontak Bella menunjukkan kaca-kaca di matanya sesaat setelah mendengar penyudutan itu "Apa Daddy menuduh ku berselingkuh? Tentu saja aku hamil anak mu!" Berang nya.


"Apa setelah aku hamil, Daddy tidak sayang lagi padaku? Bukanya selama ini Daddy rajin tidur bersama ku dari pada istri lainnya? Kenapa di campakkan setelah aku hamil anak mu? Kenapa sekarang Daddy berubah? Daddy lebih memilih tidur bersama ka Ranti!" Derai katanya menyudutkan Edbert.


"Dari awal kamu tahu, hubungan kita hanya sebatas kesenangan saja! Mempunyai anak bersama mu bukan cita-cita ku!" Sambung Edbert.


Bella mengernyit "Lalu mau bagaimana? Ini anak mu Daddy!"


"Gugur kan!" Edbert tak butuh waktu lama untuk memerintahkan hal itu, Edbert benar-benar tidak ingin membuat Ranti semakin menjauh darinya, baru saja dia ingin mencoba memperbaiki hubungan, mengembalikan kepercayaan, supaya Ranti sembuh dari trauma mental nya, setelah lama dia sakiti.


Wanita yang hanya diam menerima perlakuan toxic darinya, rupanya justru mengenai psikis. Edbert hampir frustasi mendapati kenyataan pahit ini, lalu sekarang Bella hamil? Oh tidak, ini tidak boleh terjadi.


"Apa, Dadd! Gugur kan?" Bella memekik sebegitu kerasnya "Tega kamu Daddy!" Wanita itu menangis histeris "Setelah kamu teguk manis ku, sekarang kau ingin kembali pada istri mu? Benar-benar tega!" Teriaknya derai air mata sudah meluncur menyusuri pipi mulusnya.


"Kamu harus tahu posisi mu! Sudah ku bilang, rumah ini beserta kekayaan ku hanya milik istri ku dan akan tetap menjadi hak nya!" Sela Edbert.


"Aku sudah sering mengatakan ini pada mu bukan? Maka jika kau berani hamil kau tanggung resiko mu sendiri!" Tambahnya.


"Gugur kan! Atau, pergi dari sini!" Timpalnya.


Edbert memutar tubuhnya, segera ia keluar dari kamar itu berjalan menuju kamar Ranti kembali. Sementara Bella tertegun, alangkah hina dirinya di rumah ini? Jadi selama ini dia hanya di jadikan pemuas napsu saja? Rupanya, tidak ada masa depan bahagia yang pantas ia raih setelah menjadi perebut suami orang.


"Hiks hiks." Bella terisak menangisi kepergian suaminya.


...๐Ÿ–‹๏ธ................๐Ÿ–‹๏ธ...


Seperti biasa, setibanya di kamar Ranti sudah memasuki selimut tebal, Edbert pun ikut menyusul isterinya dengan tubuh yang dia lekatkan pada tubuh wanita itu.


Wangi Ranti menusuk hidung bangir nya sekarang, sangat menentramkan jiwa, sejenak ia melupakan semua masalah yang sedang di hadapi.


Sekali lagi malam ini Edbert tertidur dalam keadaan menitihkan air mata secuil nya, bukan karena ingin bercinta dengan isteri pertamanya, tapi kehilangan kepercayaan juga cinta tulus Ranti lah yang membuat lelaki itu menyesal.


...๐Ÿ–‹๏ธ................๐Ÿ–‹๏ธ...


Minggu berganti, meski di suruh Bella tak berniat menggugurkan kandungan nya, apa pun yang terjadi wanita itu masih yakin Edbert akan kembali ke dalam pelukannya.


Seperti yang sudah-sudah, Dylan berangkat ke kantor lalu Jelita menunggu di rumah dengan di awasi beberapa pengawal setianya.


Tinggal bersama para lelembut pelakor mungkin akan berbahaya, maka Dylan selalu memperketat penjagaan isterinya.


Besok malam adalah acara peresmian jabatan presiden direktur baru yang akan di sandang oleh putra tunggal kerajaan Jack group.


Maka siang ini juga Jelita mengundang beberapa brand terkenal untuk datang ke rumah besar mertuanya.


Pramuniaga perhiasan dan butik sudah memperkenalkan produk-produk nya di dalam ruang tamu klasik yang lebih seperti istana itu.


Jelita duduk di sofa sambil memilih perhiasan bermata berlian yang berjejer di meja klasik tersebut.


Terlihat di sekitarnya beberapa pelayan juga menyaksikan keindahan produk limited edition itu. Gaun merah kasual melekat indah pada tubuh sintal Jelita kali ini.


"Uh, cantik banget! Aku suka semua, jadi bingung." Jelita mengetuk ketuk dagunya sambil menatap dua kotak berisi kalung berlian dengan model yang berbeda.


"Kenapa tidak semuanya saja Nyonya? Ini di jamin tidak ada yang menyamai, karena kami hanya memproduksi satu saja dan hanya kami yang punya lisensi untuk rancangan ini." Jelas wanita itu promosi.


"Oya?" Bersamaan dengan itu beberapa suara langkah kaki dari sepatu heels terdengar mendekat.


"Kalo begitu. Aku pilih semua saja!" Jelita sengaja pamer pada kedua wanita yang kini berdiri bersedekap menatap iri dengki padanya.


Tak ayal, Milla dan Bella lah yang menaikan ujung bibirnya dengki.


"Gaun nya juga aku mau pilih semua!" Tambah Jelita lagi-lagi pamer "Biar meledak sekalian ni dua nenek lampir!" Sisi batinnya.

__ADS_1


"Eh perempuan matre!" Mila berkecak pinggang pada Nyonya muda di rumah itu dan Jelita terpaksa harus menoleh padanya.


"Kamu ga mikir apa? Kalo belanjaan mu sudah sebanyak apa? Bisa-bisa bangkrut suami mu, kalo uangnya terus menerus di hambur hambur kan begitu!" Sarkas nya.


"Iya, dasar matre! Masih bagus ada bujang yang mau nikahin dia, pake ngelunjak lagi! Berasa jadi Nyonya besar di sini, sampe belanja ajah di bawa ke rumah! Ga pake aturan, di pikir ni rumah punya dia apa?" Timpal Bella yang juga sarkas.


Jelita hanya menjawab dengan tersenyum. Tujuan Jelita memang untuk pamer kepada wanita gila harta ini. Alangkah senangnya setelah berhasil memancing kedengkian Mila dan Bella.


"Mamah mamah mertua, mau?" Tawar Jelita tersenyum meledek.


Mila berpaling muka "Ogah, emang kita sudi pake barang begitu!" Tolaknya yang berlawanan dengan hatinya.


"Ya udah, syukur!" Jelita lalu beralih pada para pelayannya "Kalian mau gaun?" Tawarnya.


Beberapa wanita itu mengangguk sambil tersenyum "Mau Nyonya, kebetulan kami belum punya gaun buat acara pesta besok malam." Jawabnya malu-malu.


Mila dan Bella tersentak "Pelayan di beliin gaun? Dasar wanita laknat, duit suami di hambur-hambur. Kalo perusahaan bangkrut, nanti kita-kita juga yang kena imbasnya!"


Jelita tak merespon ucapan Bella, dia justru mempersilahkan para pelayannya "Ya udah pilih, tenang saja, suami ku duitnya banyak, satu goresan lukisan ajah bisa ratusan juta, apa lagi sekarang sudah mau jadi presiden, pasti duitnya makin banyak, iya kan? Senengnya punya suami ganteng, masih muda, perkasa, presiden lagi. Beruntung kan aku?" Katanya sengaja memancing emosi mantan kekasih suaminya.


"Iya, Nyonya memang sangat beruntung."


"Dasar jallang biadab! awas ajah kamu, akan ku buat kau terusir dari sini!" Batin Mila dan Bella tak berbeda piciknya.


"Ayok pilih, gaunnya sesuka hati kalian." Sekali lagi Jelita menyuruh para pelayan memilih gaun mahal dari butik terkenal sementara Mila dan Bella hanya bisa menatapnya iri.


Edbert sudah jarang memakainya, maka jarang pula Edbert memberikan uang pada mereka, selama ini mereka sudah seperti wanita yang akan menerima bayaran setelah di jamak.


Tidak seperti Ranti yang selalu di beri hak meskipun tak pernah melayani dari segi apa pun. Sekilas mereka berpikir betapa pun mereka menguasai Edbert, tetap Ranti lah pemenang sejati, sebab sudah sedari awal Edbert tak pernah berniat membagi cintanya meskipun tubuhnya di gilir puluhan wanita.


...๐Ÿ–‹๏ธ................๐Ÿ–‹๏ธ...


Di kediaman keluarga Hardiansyah, seorang dokter yang sudah pensiun setelah mendirikan perusahaan farmasi yang produknya sangat laku di pasaran.


Rumah ini sangat berbeda dengan rumah Edbert, rumah ini minimalis modern dengan tiga lantai. Dominasi warna putih dan hitam sangat kekinian.


Kakek tua itu mendekati cucu bungsunya, terlihat di balik selimut tebal berwarna hitam itu, Garry tak mau beringsut barang secuil. Sudah tiga hari ini, Garry galau tak mau keluar rumah.


"Garry cucuku, lebih baik kamu persiapkan diri, dandan yang tampan! Kamu akan senang mendengar berita dari kakek! hari ini" Ucap lelaki itu merayu cucunya.


"Sudah lah kek, Garry ga mau terima pasien, Garry cuti satu bulan! Buat apa duit banyak kalo Neng Ranti masih ga mau hidup bersama ku!"


Hardiansyah terkikik "Kamu mirip dengan ku rupanya!" Ujarnya "Kamu yakin? Tidak akan ikut ke acara peresmian presiden direktur, putra tunggal Neng Ranti mu hmm?" Tawarnya.


"Hah?" Mendengar itu secepat kilat Garry beringsut, ia tak segan untuk keluar dari selimutnya lalu menatap wajah kakeknya dengan binar kegirangan "Yang bener kek? Kita mau datang ke acara putra nya Neng Ranti?" Tanyanya memastikan.


"Yoi." Kata Hardiansyah.


"Pah!" Mario datang tiba-tiba dari belakang tubuh Hardiansyah "Papah kenapa ngajak Garry?" Protesnya. Tatapan tajam tertuju pada Hardiansyah sekarang.


"Memang kenapa?" Jawab Hardiansyah enteng.


"Apa papah mau cucu mu merusak rumah tangga orang? Papah mendukung niat buruk cucumu begitu?" Berang Mario geram. Seenaknya saja ayahnya berbuat tanpa izin darinya.


"Kalo Ranti mau sama Garry, kenapa tidak? Seandainya Ranti mau sama Papah juga, Papah yang maju nikahin Ranti!"


Sontak Garry tergelak renyah mendengar ucapan enteng sang kakek "Hastaga kek, jadi selera kita sama? Kakek juga setuju kalo Neng Ranti pantas di perjuangkan?" Tawa cekakakan cucu dan kakek itu berhasil membuat Mario syok setengah mati.


"Tuhan! Apakah dunia sudah terbalik? Kenapa ada kakek yang mendukung cucunya menjadi perebut bini orang?" Gerutunya sambil menepuk jidat "Kacau!" Umpat nya.


...๐Ÿ–‹๏ธ..... Bersambung.....๐Ÿ–‹๏ธ...


...Spesial bab ke enam puluh, aku panjangin part nya, Garry minta Apresiasi vote nya boleh.... ๐Ÿ™๐Ÿ˜...


__ADS_1


__ADS_2