Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Dekrit!


__ADS_3

Brandon mengusap lembut puncak kepala isterinya, ada sesal yang bersemayam dalam hatinya, sepertinya kali ini dia sudah menyakiti wanita kesayangannya.


Tak ada niat sedikit pun darinya untuk menyakiti wanita itu, tentu saja desakan ibunya lumayan menggoyahkan pandangannya barusan, apa lagi saat mengetahui bahwa selama ini Jelita sering bolak-balik ke rumah sebelah, itu lumayan membuat aliran darahnya mendidih.


"Maaf kan aku sempat meragukan mu, aku hanya cemburu. Kamu tahu, aku tidak pernah suka melihat mu dekat dengan siapa pun selain aku!" Gumamnya pelan, di balik selimut tebal Jelita masih bisa mendengarnya.


Air mata sudah melicakan bantal ibu hamil itu, tak kuat lagi menahan sesak di dadanya "Hiks, hiks."


"Ssuutts." Brandon mengecup daun telinga yang tertutup rambut lurus isterinya "Istirahat lah." Bisiknya lembut.


Brandon tahu kali ini Jelita benar-benar marah padanya, ya sudahlah Brandon pun mengerti akan kesalahannya barusan. Ia lantas pergi keluar dari kamar membiarkan isterinya beristirahat.


Di lantai bawah sudah tidak ada siapapun selain Mina "Mami sama Shasha kemana bik?" Tanyanya.


"Nyonya besar di antar pulang sama Nona Shasha Tuan muda." Jawab Mina.


"Oh, ..." Brandon lantas meraba saku celananya kemudian mengambil gawai persegi miliknya bermaksud menghubungi para medis untuk kemudian merawat isterinya. Dia juga meminta izin pada ayahnya untuk tidak berangkat ke kantor selama beberapa hari ini.


...🖋️................🖋️...


Sementara itu di dalam mobil Bugatti milik Jelita, dua orang perempuan masih dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Anson Dwi Pangga, Shasha sengaja mengantar calon mertuanya dengan menggunakan mobil mahal Jelita.


Seharian ini Shasha terus mengompori calon mertuanya tentang dugaan-dugaan perselingkuhan yang Jelita Maharani lakukan.


"Aku ga sangka loh Tante, Jeje ga mau tes DNA, padahal kalo benar itu anaknya, kenapa harus menolak? Iya kan Te?" Ucap Shasha mengompori.


"Tante sudah curiga, Jeje itu perempuan yang diam-diam tidak baik, dulu Tante kurang setuju E'den menikah dengan nya, bukanya dulu E'den itu sukanya sama kamu? Terus kenapa kalian cuma sahabatan?"


Emma memang sempat mendengar curhatan putranya sebelum menikah akan tetapi semua keputusan ada pada tangan Anson Dwi Pangga maka Brandon tetap harus menikah dengan Jelita kala itu, lagi pun Brandon juga diam-diam tak mau kehilangan sosok cantik sahabatnya.


"Kita memang saling suka Tante, tapi, Om Anson kan sudah menjodohkan Mas Brandon sama Jeje, jadi terpaksa Mas Brandon memutuskan hubungan dengan ku, lalu kita memutuskan untuk berteman saja sejak saat itu." Cakap bualan Shasha.


"Pokoknya Tante mau besok pagi juga Jeje harus setuju tes DNA, enak saja mau enak-enakan lepas dari tuntutan, kurang apa coba keluarga kami padanya, mobil, blackcard, member VIP, semua Papi nya E'den kasih buat Jelita, tapi ini balasan nya!" Rutuk Emma curhat.


"Sabar Tante, lambat laun akan terbongkar juga kebusukan mereka." Sambung Shasha yang mungkin tak sadar merutuki dirinya sendiri.


"Wah wah, pucuk di cinta ulam pun tiba, ini kesempatan ku mengambil hati Mami Mas Brandon, sebelum aku menghancurkan pernikahan Jeje sama Mas Brandon, kemarin-kemarin aku ga punya alasan kuat untuk menuntut Mas Brandon pisah dari Jeje, sekarang Mas Brandon sendiri yang akan meminta cerai setelah aku menunjukkan bukti perselingkuhan Jeje sama tetangga sebelah nya!" Seringai licik mekar di sudut bibir Wanita itu.


...🖋️................🖋️...


Malam pun tiba, udara mencekik penuh ironi tengah menggelumat pemilik wajah cantik ini, Jelita menatap pendar rembulan malam yang hanya menampakkan separuh figurnya.


Entah kenapa dalam keadaan gamang, sedih, sendu, bisa seketika merasa damai setiap kali dirinya memandang sinar itu.

__ADS_1


Suara langkah kaki terdengar mendekat ia pun menoleh ke arah kanan dan Mina yang nampak dalam pandangannya "Nyonya muda makan yah, dari tadi siang Nyonya muda belum makan loh." Ucap wanita itu perduli.


"Apa hari ini Shasha membawa mobil ku lagi Mbok?" Jelita justru balik bertanya.


"Iya Nyonya. Itu tadi, barusan saja pulang." Jelas Mina.


"Oh." Jelita manggut-manggut.


"Nyonya tidak perlu memikirkan apa pun, ingat sekarang Nyonya lagi hamil, sekarang lebih baik Nyonya makan yah, kasihan bayi Nyonya, dia pasti lapar." Bujuk Mina.


"Iya Mbok, taru saja di situ."


Mina mengangguk lalu meletakkan nampan berisi makanan dan minuman di atas meja yang terletak di sebelah kanan kursi Jelita.


"Mbok boleh pergi." Usir halus Jelita. Lalu wanita paruh baya itu menurut.


...🖋️................🖋️...


Sejenak kita beralih ke lantai bawah, Shasha baru saja tiba di kamar kekasihnya, ia letakkan kunci mobil ke atas nakas lalu menghambur memeluk laki-laki yang kini duduk di sofa empuk sembari sibuk dengan gawai nya.


"Sayang, ..." Bisiknya bergelayut pada punggung gagah kekasihnya.


"Kamu dari mana saja?" Brandon bertanya tanpa menoleh.


"Oya?" Sahut Brandon dan Shasha mengangguk.


"Mas, ..."


"Hmm?"


"Aku mau kasih tau kamu sesuatu!"


"Apa?"


"Tapi kamu jangan marah yah, kamu gak mungkin ceraikan Jeje kan kalo sampai aku ngomong." Sambung Shasha berbasa-basi padahal tujuan yang sebenarnya adalah ingin membuat Brandon menceraikan istrinya.


"Tentu saja, tidak ada alasan apa pun yang bisa membuat ku menceraikan istri ku." Tegas Brandon.


"Kamu yakin?" Batin Shasha.


"Apa ngomong ajah!" Tuntut Brandon.


"Tadi pagi, aku menemukan surat-surat di laci tempat tidur Jelita tau, kayaknya itu surat dari tetangga sebelah deh."

__ADS_1


"Surat?" Brandon menoleh penasaran ke arah wanita itu "Surat apa?" Tanyanya.


"Kamu lihat saja sendiri di laci tempat tidur Jeje, kalo mau tahu." Sambung Shasha.


Tanpa bertanya apa pun lagi. Brandon beranjak dari duduknya kemudian menurut untuk mendatangi kamar istrinya. Yah, sekarang tempat tidur Jelita memang di kamar tamu lantai atas, dan semenjak hamil Jelita tak mau tidur bersama suaminya.


Brandon masuk kemudian matanya menyisir seluruh sudut tempat itu mencari sosok cantik penghuni kamar tersebut "Jeje." Panggil nya.


Tak Mendengar jawaban Brandon lantas langsung berjalan menuju ke tempat tidur yang Sasha bicarakan, kemudian membuka laci di bawah ranjang tersebut.


Jeng-jeng.


Berpuluh-puluh anak panah berjejer di laci itu lengkap dengan kertas-kertas pesan pemberian Dylan.


"Don't cry! Ada aku disini."


"Selamat malam tetangga cantik ku."


"Mimpi indah tetangga galak ku."


"Jangan lupa tersenyum sebelum tidur, berdoa supaya hari esok tiada lagi air mata yang turun dari mata indah mu."


Brandon mengepalkan tangannya lengkap dengan rahang yang tegas kala membaca satu persatu pesan teks dari Dylan "Jeje!" Senggak nya keras.


Kebetulan tak sengaja Jelita datang dari balkon kamarnya "Ada apa?" Tanyanya polos.


"Apa ini?!" Brandon menghambur seluruh kertas-kertas kecil pesan teks dari Dylan pada tubuh isterinya.


Mata Jelita mengitari kertas-kertas yang bertampiaran di lantai marmer kamarnya "Itu, ...." Belum selesai ucapan Jelita Brandon sudah lebih dulu menimpali.


"Jadi benar, kamu akrab sama tetangga sebelah Jeje?!" Sungut Brandon dengan tatapan yang sulit sekali diartikan.


"Oh, jadi ini alasan kamu ga mau tidur bersama ku lagi? Kamu lebih memilih tidur di kamar ini, supaya dengan bebas kalian saling menatap, senyum-senyum, kirim pesan, begitu? Pantas saja Mami curiga padamu!"


Brandon tersenyum sinis menatap wajah Jelita yang tak menyangkal nya "Aku juga baca kamu sering di kirim makanan, apa suami mu tidak memberi mu makan Jeje? Sampe-sampe harus menerima makanan dari orang lain hmm?" Geramnya penuh penekanan.


"Apa kalo aku menyangkal kamu akan percaya? Lalu apa mau mu sekarang E'den? Aku lelah." Lirih Jelita.


"Putus kan hubungan mu dengan nya! Jangan pernah berharap bisa memiliki hubungan dengan siapapun lagi selain suami mu!" Dekrit Brandon.


"Sekarang ikut aku!" Pria itu menyeret isterinya menuruni anak tangga tak memperdulikan Jelita kesulitan melangkah akibat dari hamil besarnya "Kita tidur di kamar bawah!" Titahnya.


Jelita meronta namun tak seberapa besar karena takut tergelincir dari tangga "Lepas E'den! Aku mau pulang!"

__ADS_1


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2