Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Rindu?


__ADS_3

"Garry, kita mau ke tempat Ranti, kamu bener ngga mau ikut?"


Talia bertanya kepada putra bungsunya yang kini tengah duduk dengan wajah sendu di sofa balkon.


Terlihat sesekali jemari Garry memetik satu persatu senar gitar akustik miliknya, meskipun seorang dokter, Garry memang memiliki hobi menyanyi.


Suaranya terdengar merdu, apa lagi jika sudah di padukan dengan musik yang syahdu, ahh jika sampai mendengar suara dokter tampan itu Neng Ranti sudah pasti akan di buat candu.


Garry masih setia dalam lamunannya, selalu ada bayangan wajah cantik juga sekujur tubuh molek Ranti dalam ingatannya.


Dulu, Garry hanya mengagumi kecantikan juga kedamaian wajah Ranti, rupanya mulai dari siang tadi sudah ada alasan lain mengapa dirinya semakin bertambah ingin memiliki wanita dewasa itu.


"Seksi, dia sangat seksi!" Gumam Garry lalu dengan cepat mengusap wajahnya kasar setelah menyadari pikiran kotor menodai ketulusan hatinya "Ahh, sialan, kenapa juga Neng Ranti buka baju depan gue coba?" Rutuk nya.


Garry mendengus "Pengen kan gue!" Wajahnya memelas.


"Garry!" Pria itu tersentak ketika tangan sang ibunda menepuk keras punggungnya.


"Eh!" Toleh nya pada Talia, Garry mendengus lagi lalu kembali meluruskan pandangan ke arah depan.


"Siapa yang seksi? Kamu pengen apa? Kawin?" Tanya Talia dan putranya hanya diam saja sambil merengut.


Talia tersenyum "Yuk, siap-siap, kita di undang ke acara syukuran Mami Dylan, yuk sayang, ngga enak kalo kita ngga dateng kan?" Ajak nya.


"Garry di rumah ajah, temen Mamah ngga mungkin mengharapkan kedatangan ku, pergi saja kalian, Garry tidak ikut." Tolak Garry. Meskipun sudah kepala tiga, tetap saja manja di hadapan ibundanya.


"Kamu yakin hmm?" Tanya Talia lagi. Sejatinya ibu rumah tangga ini sudah pasrah jika sampai putranya menikahi temannya, meski usianya hampir lima puluh tahun, toh Ranti masih sangat cantik. Dari pada Garry tidak menikah sama sekali, itu lebih menakutkan bagi Talia.


"Ya sudah, Mamah pergi, kamu baik-baik. Di rumah jangan lupa makan malam, jangan terus melamun."


Garry masih hanya diam saja, tak menghiraukan ibunya yang kini melangkah pergi meninggalkan dirinya sendiri.


Garry tak mau menunjukkan batang hidungnya pada Ranti, mungkin pemuda itu takut dengan keadaan karena cinta itu masih terlampau kuat dan merelakan adalah siksaan diri terbesar?


Ketika kehilangannya, dia hanya berpikir untuk belajar merelakan. Sampai akhirnya dirinya sadar bahwa ucapan tak semudah kenyataan. Garry masih harus mencoba lebih keras lagi untuk bisa terlepas dari belenggu cinta sebelah tangan.


...🖋️................🖋️...


Di mansion milik pasangan suami istri yang tengah berbahagia ini, siapa lagi jika bukan Dylan dan Jelita?


Keduanya sudah rapih dengan pakaian ala pesta malam.


Mengetahui isterinya hamil, Dylan menjadi lebih protektif, bahkan untuk ke kamar mandi saja pria itu tak membiarkan Jelita sendiri. Sesekali Jelita protes karena terlalu risih.


Jelita sudah duduk tenang di meja makan panjangnya, itu pun Dylan yang menggendong dari kamar atas hingga ke luar taman.


Cuacanya terang bulan, maka out door tema makan malam kali ini, terlihat beberapa meja panjang dengan desain romantis berjajar di taman luas milik Dylan.


Dylan melepas jas hitamnya lalu membuat Jelita memakainya.


"Hubby, gaun cantik ku tidak terlihat kalo di balut jas begini kan?" Kata Jelita protes.


"Aku takut dua Baby ku kedinginan, jadi menurut lah. Lagi pula di sini ada mantan suami mu, lihat lah dia terus menatap mu, sekarang tubuh mu hanya milik ku." Dylan posesif.


Jelita menyengir "Kamu dulu bebas melihat tubuh ku sebelum aku bercerai dari E'den, kenapa sekarang kamu posesif begini?" Goda nya.


Cup!


Hanya kecup yang Dylan ajukan untuk membalas kalimat godaan isterinya, benar adanya jika egois posesif itu milik Dylan, untungnya adalah semua itu demi kebahagiaan orang tersayang.


"Mari silahkan!" Ranti sudah menebar senyum kepada para tamu undangan. Ranti hanya mengundang beberapa kerabat dekat saja.


Keluarga Mario sangat dekat dengannya karena keluarga dokter itu selalu menjadi pendukung kesehatan putra putri asuhnya, lalu Marseille tentu saja harus di undang karena dia besannya dan sudah barang tentu Marseille mengundang Anson sekeluarga.

__ADS_1


Marseille dan Anson sudah seperti karakter Upin Ipin yang sukar di pisah meskipun sempat mengalami renggang akibat kegagalan rumah tangga putra-putri nya.


Juga ada beberapa pengurus panti asuhan dan kolega Dylan yang hadir dalam acara syukuran tersebut.


Semua orang duduk rapi di masing-masing tempat. Oh tidak, Ranti justru merotasi kan matanya mengelilingi seluruh wajah tamu undangan.


"Apa Garry tidak ikut datang? Apa dia masih sakit hati pada ku?" Batinnya. Ada gurat rasa bersalah yang menampak di wajahnya.


Mirea duduk tepat di sebelah putrinya.


"Selamat sayang, akhirnya setiap kali Mamah mengunjungi rumah mantu Mamah, berita bahagia yang menyambut kedatangan Mamah. Semoga bayinya sehat selalu sayang." Ucapnya tersenyum sambil mengusap perut rata putrinya.


"Iya mah, terimakasih."


Mirea beralih pada Dylan "Kamu yang sabar, menghadapi istri hamil biasanya gampang-gampang susah, Mamah titip Jeje pada mu, Dylan." Ucapnya.


"Tentu saja Mah." Angguk nya.


Ucapan selamat dan doa Jelita terima satu persatu dari seluruh tamu termasuk dari mantan suami dan ayah angkatnya, yaitu Brandon dan Anson Dwi Pangga sebelum kemudian mereka melakukan ritual makan malam bersama.


Hidangan lezat yang di buat oleh koki handal secara langsung dan dalam keadaan baru masak.


Semua orang menikmati dan tak terasa hidangan sudah beralih ke hidangan penutup, lalu selesai sudah acara santap malam nya.


Terlihat setelah itu, para orang tua masih mengobrol sambil sesekali tertawa di meja makan.


"Jeng!" Talia menepuk pelan paha Ranti.


Ranti menoleh menghiraukan sahabat karibnya "Iya, kenapa jeng?" Tanyanya.


"Apa kamu yakin, tidak mau menerima lamaran putra ganteng ku? Dia galau, aku takut dia tidak mau menikah, apa tidak sebaiknya kamu move on dari almarhum mantan suami mu, lalu memulai hubungan baru bersama putera ku." Bujuk Talia.


Ranti terkikik "Kamu kenapa terlalu serius, aku yakin Garry tidak benar-benar menyukai ku, kak Talia." Sanggah nya. Selain sapaan jeng, Ranti juga sering menyebut Talia kakak, karena usia mereka berbeda enam tahun.


Ranti menggeleng "Aku hanya belum terpikir untuk memulai hubungan baru, itu saja." Sanggah nya.


Sejujurnya, siang tadi Garry berhasil meyakinkan dirinya bahwa perasaan Garry tulus, buktinya Garry menolak untuk menyentuhnya, bahkan terlihat kecewa saat ketulusan hatinya di ragukan.


...🖋️................🖋️...


Di sisi tempat lainnya, Jelita sudah berpindah duduk pada kursi taman.


Sekarang giliran Brandon yang mengambil kesempatan untuk mendekati Tuan rumah mumpung Dylan masih ada kesibukan menemui koleganya.


"Ekm ekm." Brandon tersenyum setelah Jelita menoleh "Boleh aku duduk di sini, Jeje?" Tanyanya.


Jelita mengangguk "Boleh, duduk saja." Katanya.


Brandon duduk di sisi mantan isterinya dan kikuk sempat terlihat dari pria itu "Ekm ekm." Dahaman nya.


"Kamu kenapa? Gak enak badan? Kamu batuk terus dari tadi?" Tanya Jelita.


"Eh?" Brandon menggaruk tengkuk "Tidak juga." Jawabnya.


"Kamu sudah punya pacar?" Tanya Jelita lagi. Entah lah Jelita sudah tiada rasa canggung lagi pada pria itu, mungkin karena perasaanya sudah seluruhnya berpindah pada Dylan.


Brandon menggeleng "Belum, karena belum ada yang seperti mu." Katanya memelas.


"Semoga tidak akan pernah ada lagi wanita lemah seperti Jeje mu." Batin Jelita.


"Apa kamu bahagia tanpa ku Je?" Brandon pada akhirnya bertanya demikian karena dirinya sendiri begitu sulit berada jauh dari Jelita.


"Tentu saja. Aku sangat bahagia, semoga kamu juga selalu bahagia."

__ADS_1


Senyum getir tiba-tiba tersungging dari sudut bibir Brandon "Aku baru menyadari jika ternyata kebahagiaan ku selama ini, karena bersama mu. Buktinya aku mampu melupakan Shasha, tapi sulit sekali melupakan mu." Ucapnya.


Jelita hening, lalu mengalihkan pandangan ke arah depan, wanita itu tak lagi mau membahas masa lalu. Sudah tak pantas Brandon mengucapkan hal itu.


"Maaf, membuat mood mu tidak baik, bukan maksud ku seperti itu. Aku hanya ingin membagi kesah ku pada mu, yang masih ku anggap sahabat ku." Ucap Brandon.


Jelita menoleh "Tidak apa, aku mengerti." Jawabnya.


Di sudut tempat, Dylan sudah sangat geram melihat kedekatan isterinya bersama laki-laki mantan saingan.


Jika tamu yang di temui bukan tamu penting mungkin Dylan sudah menarik isterinya dari tempat itu kemudian dia sembunyikan di kamar saja.


...🖋️................🖋️...


Hari pun berganti, acap kali kecemburuan Dylan tak mampu di hindari, setelah melihat Brandon yang terkesan masih menginginkan Jelita, sekarang Dylan menyadap ponsel isterinya.


Tentunya setelah izin pada yang punya ponsel, yah meskipun awalnya menolak, pada akhirnya Jelita setuju, semua ini demi keutuhan rumah tangga. Dulu dia di abaikan sekarang terlalu di kekang.


Untungnya Jelita mampu menghadapi kecemburuan Dylan yang masih berada di bawah naungan cintanya. Jelita tahu, tiada yang sempurna di dunia ini.


Termasuk juga suaminya yang punya banyak kekurangan, setidaknya kali ini suaminya tidak berkhianat padanya seperti sang mantan.


Sejenak kita beralih pada wanita cantik yang satu ini, dialah Ranti yang kini duduk di ranjang besi pasien.


Setelah beberapa aktivitas memadati hari-harinya, seperti biasanya Ranti harus rela di rawat di rumah sakit elit milik Hardiansyah.


Hari ini sangat berbeda dari sebelum sebelumnya, biasanya setiap kali Ranti menginap di kamar tersebut, bunga-bunga indah mengelilingi tubuhnya.


Hadiah datang beberapa menit sekali, rupanya hari ini pengagum berat nya telah menghentikan kegilaannya seperti yang dia perintahkan.


"Hentikan kegilaan mu!"


Titah yang selalu Ranti tujukan pada Garry, dan entah kenapa, melihat kamar yang sangat kosong Ranti hampa.


Dulu meskipun suaminya tak meliriknya, diam-diam Ranti masih bisa merasakan kepedulian seseorang padanya, lain halnya ketika Garry yang menghilang begitu saja dari kehidupannya.


Kosong, hampa, sepi, begitu merayapi hati, apakah dia sedang merasa kehilangan? Entah juga, karena Ranti sendiri masih belum tahu.


Bosan dengan pemandangan itu-itu saja, Ranti memanggil perawat khusus nya "Kita ke taman, aku mau mencari udara segar." Pintanya.


"Baik Nyonya."


Perawat itu membantu Ranti untuk menaiki kursi roda, mereka berjalan-jalan ke sebuah taman dengan infus yang masih di bawa kemana-mana.


"Aku mau di sini Sus, terimakasih." Kata Ranti setelah berada di tengah-tengah taman bunga.


"Iya, Nyonya."


Ranti sedikit lebih tenang setelah menghirup aroma serbuk sari dari bunga-bunga di taman ini "Damai nya." Gumamnya pelan.


Suara dentuman dari sepatu besar menggema sebegitu cepatnya membuat Ranti reflek untuk menoleh dan dokter tampan yang biasanya mengganggu dirinya tengah berlari di iringi beberapa tim medis.


"Garry." Celetuknya.


"Ada apa dengan mereka?" Tanya Ranti pada perawat wanita di sebelahnya.


"Mungkin, ada pasien gawat darurat yang perlu penanganan cepat, Nyonya." Jawab wanita itu.


"Ooh."


Ranti bergeming menatap berlalunya pemuda tampan itu memasuki bagian dari bangunan tersebut, rindu, apakah dia sedang merindukan tingkah konyol dokter spesialis bedah itu?


Mengapa seperti ada yang hilang setelah Garry tak lagi mau muncul di hadapannya. Ranti senyap dengan pergulatan batin yang akhir-akhir ini menderanya.

__ADS_1


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2