Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Salah masuk


__ADS_3

Huuhh, Jelita membuang kesah setelah membuka masker dari wajahnya, kepercayaan diri yang pernah melambung tinggi bahwa dirinya bisa mempertahankan hubungan bersama suaminya sudah remuk menjadi debu yang kemudian beterbangan hampir tak bersisa.


BRAK!


Suara keras yang sama dengan satu hari lalu terdengar kembali, Jelita menoleh ke arah pintu kaca balkon kamarnya, di lihatnya satu batang panah kembali menancap di luar sana.


"Apa lagi sih ni orang! Ga ada udah-udah nya ganggu tetangga!" Gerutunya kemudian membuka pintu tersebut.


Ulasan senyum tipis menyambutnya di seberang sana "Gila lu Om!" Sarkas nya sambil mengambil batang panah milik Dylan lalu menutup pintu kembali dengan arogan.


Gorden di kamarnya juga ia tutup lagi, padahal dulunya siang malam gorden kamar itu selalu di biarkan terbuka. Jelita duduk di sisi ranjang kemudian membuka secarik kertas yang melingkar pada batang panah dari Dylan, wanita itu seolah sudah hapal dengan kebiasaan tetangga sebelah nya.


"Aku menitipkan makanan untuk mu! Makan lah, atau baby mu kelaparan!"


Bibir Jelita naik sebelah "Ih, ngapain juga ni orang peduli! Siapa kamu hah! Suamiku ajah gak segitunya!" Jelita berusaha menafikan adanya rasa nyaman yang datang dari laki-laki lain, pikiran waras nya tak membiarkan kesalahan itu terjadi, biar bagaimanapun juga Jelita sadar dia tak pantas menerima perlakuan manis dari pria selain suaminya.


Tapi rasa lapar yang menyiksanya lumayan meruntuhkan pertahanannya "Ok, untuk malam ini saja aku makan, besok, ga kan lagi-lagi aku terima makanan dari Om mafia si mata kelinci itu!" Gumamnya.


Jelita lantas keluar dari kamar kemudian menuruni anak tangga langkahnya langsung menuju kepada dapur bersih rumah tersebut.


Di buka nya kabinet tempat biasanya dia menyimpan makanan dalam keadaan hangat.


"Nyonya, ..." Suara mengagetkan Mina tiba-tiba menyeletuk.


Sontak Jelita menoleh "Eh mbok!"


"Nyonya mau makan yah? Itu tadi di kirim, ..."


"Ssuutt," Desis Jelita menutup mulutnya dengan satu jari telunjuk "Aku tahu ini dari Dylan kan?" Bisik Jelita lalu Mina mengangguk tanpa berani bersuara.


"Inget yah mbok, jangan sampe E'den tau, dia pasti marah." Titah Jelita.

__ADS_1


"Tapi kenapa Nyonya? Bukanya ini berarti Nyonya menyuruh saya berbohong?" Tampik Mina protes, wanita itu terlalu taat.


"Ga papa mbok, berbohong demi kebaikan mah, aku cuma ga mau ada masalah antar tetangga nantinya." Jawab Jelita.


"Dari SD kan kita semua di ajari sama guru kalo kita harus hidup saling rukun tetangga iya kan mbok? Jeje ga salah kan? Tujuan Jeje baik loh!" Tepis Jelita yang entah itu berkilah, ngeles, atau mencari pembenaran atas hatinya yang sudah mulai goyah, yang pasti Jelita masih ingin menutupi kehadiran Dylan selama beberapa hari ini dari suaminya.


"Mbok, kok diem? Jelita bener kan? Sama tetangga kita harus rukun, iya kan?" Susul nya mendesak.


"I-iya, Nya bener, ...." Mina terpaksa menjawab begitu, toh Jelita juga tak kan pernah mau mendengarkan saran darinya "Apa sekarang Nyonya muda yang selingkuh?" Sisi batinnya "Tapi semoga saja, tidak akan terjadi sesuatu yang membuat Nyonya menangis lagi." Lanjutnya masih dalam hati.


"Ya udah, sekarang Mbok angetin lagi sup nya, aku mau langsung makan sama nasi. Aku dah lapar Mbok. Cepet!" Jelita duduk di meja makan menunggu Mina menghangatkan sup daging kacang merah buatan koki handal Dylan.


"Sepertinya Tuan Dylan tahu sekali menu yang bagus untuk ibu hamil, Nya?" Mina berbicara pelan tapi masih bisa Jelita dengar.


"Tentu saja, ini pasti saran dari kokinya, dia mah mana tau, biar kata udah tua begitu juga jomblo dia Mbok, ga laku dia." Sambung Jelita mencibir.


"Pacar atau istri belum punya, Nya?"


"Padahal ganteng loh Nya, kok belum punya pasangan yah?"


"Mungkin belum mau berkomitmen. Lagian siapa juga yang mau sama Om-Om mafia Mbok? Iiigghh," Jelita bergidik ngeri "Nanti makan ati, Om-Om mafia kan suka one night stand sama cewek perawan." Lanjutnya.


"Kalo begitu Nyonya perlu hati-hati, Nya." Mina mengingatkan.


Jelita hanya tersenyum tipis saja, yah, sepertinya Dylan tak kan berani kurang ajar padanya, kalaupun punya niat pasti sudah lama Dylan lakukan, Jelita bahkan sudah dua kali masuk ke dalam rumahnya tapi Dylan tak pernah mencoba menyentuhnya selain dari pada iseng menggodanya, mungkin itu hanya basa-basi omongan laki-laki saja, pikir Jelita seperti itu.


...🖋️................🖋️...


Pagi harinya tak ada yang berbeda, Jelita menemani suaminya sarapan, lalu setelah itu mengantarnya ke mobil.


"Kamu hati-hati di rumah, jangan diet, jangan terlalu banyak bergerak yang ga penting, aku berangkat dulu, kamu kalo mau apa-apa telepon ajah, hmm!" Brandon mengusap lembut pipi isterinya kemudian Jelita mengangguk.

__ADS_1


Lambaian tangan Jelita ayunkan saat mobil suaminya bergerak perlahan barlalu dari pandangannya.


Jelita lantas kembali memasuki rumahnya berjalan menuju dapur bersih miliknya dan seperti biasa di sana sudah ada Mina tengah mengerjakan sesuatu yang entah apa itu.


"Mbok, tempat makan punya Dylan mana yang semalam, Aku Mau balikin." Tanya Jelita.


"Oh, iya, ini non sudah saya siapkan." Mina menyodorkan kotak transparan itu.


"Makasih ya Mbok."


Jelita mengambil kotak tersebut kemudian berputar haluan meninggalkan tempat itu keluar dari kediamannya menuju rumah Dylan. Entah apa alasannya kali ini tapi Jelita ingin sekali bertemu dengan tetangga yang sering membuatnya nyerocos tak jelas.


Padahal sering juga wanita itu menyadari bahwa yang dia lakukan itu salah, tapi kakinya terasa gatal ingin menyambangi rumah tetangga sebelah.


Setelah bersapa ria dengan para penjaga mansion tersebut akhirnya kaki Jelita sudah menaiki anak tangga. Saat baru datang, pegawai nya bilang Dylan tak mengangkat telepon darinya, jadi Jelita memaksa masuk saja tanpa izin dari si pemilik rumah.


"Ga papa deh pak, saya sudah akrab ini kok sama si Om!" Ucapnya beberapa saat yang lalu pada penjaga depan, lalu laki-laki gagah itu mengizinkannya masuk.


Pandangan Jelita berkeliling menyisir seluruh sudut tempat itu dan sepertinya tidak ada satupun manusia di dalam sana.


"Pada kemana nih? Kok sepi? Biasanya penjaga di mana-mana!" Gumamnya sembari memasuki satu ruangan yang dulu pernah ia masuki saat ingin mengambil cincin.


Kemudian matanya membesar saat melihat sesosok laki-laki tampan yang hanya memakai handuk di setengah badannya sahaja, tubuh atletis, kaki dan tangan jenjang nan kekar, dada bidang yang masih di penuhi bulir-bulir air serta rambut basah yang tersingkap kebelakang begitu memesona netra sebening embun pagi ini.


"Jelita!"


"Hah? Emmh, m-maaf Dylan, a-aku ga sengaja, a-aku, ...." Jelita membalikkan badannya seketika itu juga "A-aku ga tau kalo kamu baru selesai mandi. Sumpah!" Gugup nya.


"Kamu yakin?" Celetuk Dylan dan Jelita membulatkan matanya saat suara langkah kaki besar Dylan berderap merayap ke arahnya.


"Oh Tuhan! Salah masuk!"

__ADS_1


...🖋️................🖋️...


__ADS_2