
"Dokter Garry!"
Satu dokter wanita memanggil dokter tampan itu, Garry menoleh dan wajah Lusy yang tertampil di hadapannya.
Tengah malam Garry baru ada waktu untuk pulang ke rumah, setelah seharian penuh bekerja "Iya, kenapa?" Tanyanya.
Lusy menyengir "Boleh tidak aku numpang mobil Dokter Garry? Mobil ku di bengkel, malam ini Papah juga tidak menjemput ku, mau naik taksi Lusy takut karena sudah terlalu malam. Sekarang kan banyak modus perampokan berkedok transportasi umum Dok. Boleh kan Lusy numpang mobil Dokter Garry?" Tanyanya setelah panjang lebar berujar modus.
Garry membuka pintu mobil bagian kemudi "Masuk saja, aku antar kamu!" Katanya.
"Yes!" Lusy menyengir lagi sambil bergumam di bibir. Kemudian gadis itu pun ikut masuk dan duduk di jok yang bersebelahan dengan jok kemudi "Ekm ekm!" Lusy meminta perhatian pada Garry untuk di pakaikan sabuk pengaman.
Biasanya, di film atau novel yang dia baca, laki-laki akan peka dengan sabuk pengaman yang belum melingkar di tubuh perempuan.
Lusy sengaja tidak memakai sabuk pengaman supaya Garry sendiri yang memakai kan nya.
Sayangnya Garry tak melirik barang secuil pada gadis itu bahkan membiarkan Lusy tak memakai sabuk pengaman nya.
"Yah, yah! Kok jalan sih? Kan Dokter Garry belum pakai kan seat belt ku?" Dengus Lusy.
"Ekm ekm!" Lusy berdehem sambil sambil melirik ke arah dokter tampan itu "Malam begini apa biasanya Buk Ranti sudah tidur Dok?" Tanyanya.
"Kadang sudah kadang belum." Jawab Garry datar.
"Oh." Lusy merasa kikuk dengan jawaban datar pria itu "Oya. Dokter, belum punya niat punya keturunan kah?" Tanyanya lagi.
"Sudah!" Singkat Garry.
"Sudah tiga tahun, kok, Buk Ranti belum juga hamil? Apa mungkin sudah menopause yah?" Tanya Lusy lagi, lalu tiba-tiba saja menutup mulutnya seolah keceplosan "Ups, maaf Dok, bukan maksud ku begitu, aku tidak berniat menyinggung mu, maksud ku, ..."
"Tidak apa aku tidak tersinggung!" Jawab Garry memotong ucapan Lusy.
"Benarkah? Terimakasih, sudah mau mengerti aku Dok!" Kata Lusy sambil menautkan rambutnya ke telinga, gadis itu mesam-mesem mendengar jawaban Garry yang tidak marah padanya, jelas Garry punya perasaan padanya "Sama wanita tua ajah mau, masa di goda sama gue nggak mau." Begitu pikirnya.
"Kau tahu, Lusy, meskipun sudah tua, istri ku bukan wanita yang membuat ku minder, dia tidak ada kurangnya bagiku, dia cantik, seksi, baik, semua keindahan yang tidak wanita lain miliki, ada pada istri ku. Neng Ranti ku sangat spesial, aku tidak akan pernah tersinggung dan minder meskipun orang lain meremehkan dirinya." Jelas Garry sambil tersenyum seolah bangga menceritakan keunggulan isterinya.
"Wah, dokter sangat mengagumi istri dokter ternyata, buk Ranti sangat beruntung mendapatkan laki-laki baik seperti mu." Sambung Lusy.
Garry melepas smirk "Bukan istri ku yang beruntung tapi aku yang beruntung mendapatkannya, wanita seperti dia sangat langka, hanya aku yang bisa memilikinya." Ujarnya.
Lusy menaikan ujung bibirnya "Apa iya sih, dapet istri udah tua begitu beruntung, dokter ganteng, tajir, berpendidikan, tapi kok rabun matanya." Batinnya sinis.
Cukup lama keduanya terdiam, karena Garry tak mau membuka obrolan, dan Lusy pun malas terus mengajak Garry bicara sedang ucapan Garry isinya hanya kalimat kagum pada sosok isterinya saja.
"Gimana cara gue bisa dapetin ni cowok tajir coba? Masa gue kalah sama nenek-nenek sih?" Batin Lusy.
Tiba di depan rumah Lusy, Garry menepikan mobilnya kemudian mempersilahkan penumpang di sebelahnya turun "Selamat malam." Katanya.
"Iya." Lusy mengangguk tapi seperti tidak rela keluar dari mobil mewah milik Garry.
"Bisa cepat tidak, aku sedang buru-buru." Garry berusaha membuat Lusy sadar akan posisinya yang hanya menumpang.
"Oh, iya, Dok, maaf." Lusy turun kemudian menutup pintu mobil "Bye dokter!" Lambai nya pada Garry.
Dia mendengus "Kapan aku bisa dapet perhatian tuh cowok ganteng!" Gumamnya lirih.
__ADS_1
...🖋️................🖋️...
Sampai di rumah putra tirinya, Garry bergegas masuk ke dalam kamar, kondisi rumah sudah sepi karena sudah tengah malam, sebenarnya Garry bisa saja mengajak Ranti tinggal di rumah miliknya, tapi Garry tidak akan tega melakukan hal itu.
Sebagai dokter, dia sering kerja lembur atau bahkan tidak pulang. Setidaknya di rumah Dylan, Ranti tidak akan kesepian karena ada Jelita dan Nathan.
Cklek!
Garry membuka pintu kamar kemudian masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita "Sayang, kok gelap?" Tanyanya.
Tak biasanya lampu di matikan semua, karena meskipun Ranti sudah tertidur lampu di atas nakas masih bisa memberinya pendar cahaya remang-remang.
"Sayang!" Panggil Garry sambil meraih sakelar lampu di sisi pintu.
"Ssuutt!" Sebuah tangan melingkar di matanya setelah berhasil membuat kamar terang benderang.
"Hmmm, kan, aku bilang apa, pasti ini ulah mu, kamu belum bobok sayang." Garry membalikkan badannya menghadap ke arah isterinya.
Ranti tersenyum "Belum, Neng menunggu mu Bang!" Katanya. Semua barang yang Garry bawa Ranti letakkan pada tempatnya.
Kemudian Garry melingkarkan tangan ke perut wanita cantik itu "Kalo gitu, Abang mandi dulu deh, biar bisa cepetan main kuda-kudaan." Sambungnya menyengir.
Ranti menggeleng "Jangan dulu, mending kita duduk dulu di sana, ada yang mau Neng kasih tahu." Ranti lantas menuntun suaminya duduk di sofa balkon.
Angin malam sepoi-sepoi mendekap erat tubuh keduanya di jam satu malam ini "Dingin sayang, kenapa di sini?" Tanya Garry protes.
"Nggak papa, Neng mau di sini, Neng sudah pesan teh kesukaan mu. Kita ngobrol dulu yah sebentar." Ujar Ranti dan Garry mengangguk.
Keduanya duduk berhadap-hadapan, Ranti melepas satu kancing kemeja paling atas milik suaminya "Gimana kerjaan Abang?" Tanyanya.
Punggung nya ia sandarkan pada sandaran sofa yang mirip garis inclinada, Garry leyeh-leyeh sambil menatap wajah cantik isterinya.
"Ada apa sih? Kenapa tiba-tiba ngajakin ke sini?" Tanyanya sembari mengusap lembut pipi Ranti.
Ranti meraih tangan suaminya kemudian menuntunnya untuk mengusap lembut perut ratanya "Coba kamu rasakan, apa ada kehidupan di sini?" Tanyanya sambil tersenyum.
Garry mengernyit "Maksudnya?"
Sontak Garry menegakkan duduknya lalu semakin mengusap perut rata isterinya "Apa di sini sudah ada baby kita sayang?" Tanyanya memastikan.
Melihat ekspresi girang Ranti, membuat Garry tahu maksud dari wanita itu "Neng positif kah?" Tanyanya lagi mencecar.
"Iya, secepatnya kita akan punya keturunan, aku bahagia Abang, terimakasih, sudah mau menuruti kemauan ku!" Ranti menghambur memeluk laki-laki itu di iringi air mata haru yang tiba-tiba meluncur.
Garry bahagia, tapi juga khawatir dengan kondisi fisik isterinya, tidak hamil saja Ranti sering masuk ke rumah sakit, bagaimana setelah hamil?
"Terimakasih Abang!"
"Emmh," Garry mengangguk "Semoga Neng selalu sehat." Hanya doa itu yang selalu Garry ucapkan teruntuk istri tercinta.
Kesetiaan dan loyalitas mudah untuk diterima, tetapi tidak mudah dipraktikkan. Untuk mengetahui setia tidaknya seseorang, perlu pengujian dan pembuktian langsung.
Perlu pembuktian dengan tindakan dan sikap yang nyata untuk menguji sebuah kesetiaan. Hal tersebut tentunya sebagai penguat ucapan agar tak hanya manis di mulut belaka.
Tiga tahun lamanya Garry menjadi suami Ranti, dan dalam tiga tahun ini Garry mampu membuktikan kesetiaan yang selalu dia proklamirkan pada isterinya.
__ADS_1
"Bahagia, aku mau berbagi kebahagiaan ini dengan Edbert, antar Neng ke makam nya besok yah!" Pinta Ranti.
Garry mengangguk "Tentu saja, apa pun Abang lakukan untuk mu!" Ucapnya.
...🖋️................🖋️...
Pagi harinya,
Seperti yang sudah di rencanakan, Dylan, Jelita, Nathan, Ranti dan Garry, mereka berziarah ke makam Edbert. Kelima nya berjongkok melingkari gundukan tanah yang sudah di hiasi batu marmer dengan pakaian serba hitam dari sepatu hingga kacamatanya.
"Daddy apa kabar? Oya Jeje ke sini bawa salam dari besan dan musuh mu. Papah Marseille juga Papi Anson. Mereka juga merindukan mu." Jelita tersenyum sambil menabur bunga pada makam mertuanya.
Dalam pelukan Dylan Nathan hanya diam saja, karena belum tahu siapa yang berada di bawah sana, Nathan tak pernah melihat sosok Edbert, yang dia tahu opah nya adalah Garry.
Dylan menuntun tangan Nathan untuk menyentuh batu nisan ayahnya "Lihat lah Dadd, cucu mu setampan diri mu, kau tahu, ini salah mu sendiri, kenapa kau harus cepat meninggalkan kami, kau pasti menyesal karena tidak bisa menggendong cucu tampan mu! Iya kan hmm?" Dylan melepas kacamata hitam miliknya karena lelehan bening yang tiba-tiba membasahi benda itu.
"Tapi tenang lah, cucu mu pasti akan menjadi laki-laki yang baik, tangguh, dan cerdas seperti mu, Dylan janji akan mendidik cucu mu dengan baik." Timpal Dylan sambil mengusap sedikit buliran sebening embun pagi yang terjatuh di pipi berjambang nya.
"Jeje selalu berdoa, semua sifat baik Daddy, akan menuruni cucu mu, dan kekurangan mu, biarlah menjadi pelajaran bagi kita semua." Tambah Jelita.
Ranti juga tidak kalah harunya, dia menangis tersedu ketika menabur bunga berwarna warni pada makam mantan suaminya.
"Edbert, aku bahagia di sini, semoga kamu juga bisa bahagia melihat ku bahagia, lihat lah, kesayangan mu bahagia, sebentar lagi aku akan punya Baby lagi. Orang bilang ketika nyawa sudah tiada maka terputus lah doa untuknya sendiri, tapi masih bisa mendoakan seseorang yang masih hidup, aku yakin, kebahagiaan ku, karena doa dari mu." Wanita itu menautkan kepalanya pada ujung batu nisan Edbert.
"Aku mencintaimu Edbert, posisi mu di hati ku, takkan pernah tergeser meskipun sudah ada Garry yang menjadi suami ku." Bulir bening berjatuhan menyirami makam itu. Nathan juga ikut menangis ketika semua orang menangis.
Edbert cinta pertama yang tidak pernah bisa di gantikan, Edbert memiliki tempat tersendiri di hati Ranti.
Melihat Ranti tak berdaya Garry meletakkan kepala wanita itu ke dalam dekapan hangatnya "Kita ke mobil." Ajaknya.
Ranti mengangguk "Iya."
Garry mengusap batu nisan Edbert dengan sebelah tangan "Om Edbert, Garry pamit, tenang lah di sana, masih ada Garry yang menjaga kesayangan mu." Ucapnya.
Begitu lah alam menyeleksi, sejatinya semua makhluk hidup akan bertemu dengan hari akhir di suatu saat nanti. Sebab, dunia ini hanyalah sementara.
Manusia hanya singgah sebentar, semakin hari usia terus berkurang, semakin dekat pula dengan kematian.
Tidak ada yang pernah tahu tentang hidup dan mati. Ajal tidak memandang usia, jenis kelamin, derajat, paras, serta lainnya.
Hilangkan rasa sombong dan ingatlah ajal bisa menghampiri kapan saja. Belajar tentang kehidupan dipadukan dengan agama, bisa jadi ilmu untuk bekal di akhirat nanti.
...🖋️..... TAMAT.....🖋️...
Terimakasih, untuk semua yang sudah baca karya ku yang ini, Terimakasih banyak yang namanya sudah nangkring di deretan top fans karena bunga kopi yang selalu kalian suguhkan untuk ku.🙏
Komentar yang membuat ku semangat, terimakasih banyak yaaaa reader tercinta.👌
Maaf kalo banyak part yang membuat otak kalian traveling, ini novel romantis yang cocok untuk membangkitkan romansa bersama pasangan, emak-emak yang kadang males romantisan sama suami setelah beberapa tahun pernikahan.✌️
Tujuan ku, hanya menghibur juga menuangkan Unek-unek melalui tulisan, tidak menjiplak, ini murni pemikiran ku sendiri.
Boleh request ekstra part kok!! Kalo mau🤭 Di bawah ini cerita baruku..✌️
__ADS_1