Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Sindiran


__ADS_3

Menyandang busana tidur berbahan velvet licin mix renda dengan warna hitam di balut kimono yang senada dengan dalam nya.


Rambut terurai ikal mangalun terkulai-kulai sangat indah, yah, begitu lah kebiasaan Ranti sedari dulu sebelum akan menaiki ranjang kesepiannya.


Rupanya malam ini suaminya mengajak minum teh sebelum ritual penjemputan mimpi indah. Tak apa, Ranti pun sadar dia masih punya kewajiban sebagai seorang istri meski tak pernah mendapat nafkah batin dari suami.


Hanya raut datar yang tertampil di wajah cantiknya sekarang, entahlah mungkin sudah terlalu tua untuk merasakan getaran asmara, Ranti sudah tidak lagi merasakan apa-apa meski Edbert mengajaknya berkencan.


Lama sudah Ranti tak mengharapkan ajakan suaminya, baginya Edbert hanya suami yang bisa dia jadikan mesin ATM untuk anak-anak pantinya, setidaknya masih ada buah yang bisa dia petik dari bibit kesabarannya selama ini.


Edbert tersenyum menatap lekat gerak tubuh Ranti yang telah duduk tepat di sisi kirinya sambil memiringkan rambutnya ke bahu sebelah kiri hingga Edbert bisa melihat jelas leher mulus nan jenjang milik Ranti.


Pelayan menyodorkan nampan berisi poci keramik pada Ranti lalu wanita itu meraih gelas kecil yang juga senada dengan warna poci nya.


Edbert masih hanya menatap gerak tubuh lentik isterinya yang menuangkan teh ke dalam gelas miliknya lalu menyuguhkan langsung padanya.


Sebelumnya Ranti juga mencicipi tingkat kemanisan juga panas teh tersebut memastikan rasa tehnya sesuai dengan yang Edbert sukai.


Ingatan Edbert kembali pada masa di mana pertama kali dia bertemu dengan gadis cantik berusia lima belas tahun saat dia tersesat ke negara ini di usianya yang masih 18 tahun.


Orang tua Ranti hanya petani biasa tapi masih memiliki lahan pertanian sendiri, maka cukuplah untuk menghidupi bule tampan tersesat itu.


Karena sebuah aturan Edbert harus segera menikahi wanita Indonesia agar tidak di deportasi dan ayah Ranti setuju menjodohkan keduanya setelah satu tahun membuat Edbert tinggal di rumah nya kala itu. Mungkin sifat penolong Ranti menurun dari almarhum ayahnya.


Edbert yang sudah mewarisi otak berbisnis ayahnya di Amerika sana, dia gigih berusaha dari nol bersama Ranti remaja hingga semakin berkembang saat Dylan lahir.


Awalnya hanya jasa kontruksi kecil lalu menjadi besar setelah Edbert memiliki modal sokongan hasil dari penjualan sawah ayah mertuanya.


Sebuah kepercayaan yang Edbert yakini adalah jika memiliki hoki karena lahirnya sang pewaris, itu tandanya ada rezeki hoki yang tertulis di kaki isterinya.


Maka itu, Edbert tak pernah berniat menceraikan istri pertamanya sampai kapan pun juga. Jelas di kaki isterinya ada garis rezeki yang tidak biasa.


Sayangnya tidak dengan kepuasan batinnya, itu yang selalu menjadi alasan Edbert untuk menikah lagi dan lagi.


"Ini, sudah pas sesuai yang kamu sukai, atau mungkin kamu sudah berubah selera, maaf aku tidak tahu selera mu yang sekarang." Ucap Ranti sambil menyodorkan satu cangkir teh pada suaminya.


"Selera ku masih sama Mi, tidak pernah berubah." Edbert menerima cangkir lalu menyeruput nikmat dari bekas bibir isterinya seperti hal yang dia lakukan dahulu sebelum memiliki berbagai macam pabrik.


Edbert menyerahkan kembali cangkir kepada isterinya lalu kemudian Ranti meletakkannya ke nampan.


Setelah itu Ranti menatap ikan-ikan di kolam yang sesekali menyembul kepermukaan air seakan iri dengan kegiatan sepasang suami istri ini.


Ranti tak menanyakan apa pun sebelum suaminya sendiri yang menyampaikan maksud tujuan mengajaknya berkencan.

__ADS_1


Pandangan Ranti beringsut ke arah tangannya yang kini di genggam suaminya dengan tiba-tiba.


"Apa kamu tidak merindukan ku? Kenapa kamu tidak pernah sekalipun menemui ku selama ini?" Tanya Edbert. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah cantik Ranti yang semakin berbinar-binar setelah lama tidak dia perhatikan.


Ranti memang tak pernah mengemis bahkan mengutarakan atau merengek pada lelaki itu. Tak seperti istri-istri lainnya.


Edbert hanya fokus pada istri termudanya yaitu Bella. Maka sering kali selirnya berusaha berlomba untuk tidur bersamanya dan Ranti tak pernah mengikuti kontes itu.


Ranti kemudian menatap iris biru milik Edbert dengan dalam, anehnya tak ada debar jantung yang lain, mungkin semua sistem saraf cintanya sudah mati seiring dengan perlakuan toxic suaminya.


"Maaf, jika itu membuat mu tak nyaman." Ucapnya.


"Kenapa meminta maaf? Aku bertanya apa kau tidak merindukan ku?" Sela Edbert cepat sepertinya lelaki itu mulai geram.


"Mungkin aku terlalu sibuk untuk merasakan hal itu Edbert, bahkan merindukan putraku saja aku tak mampu." Sambung Ranti lirih.


"Apa kau nyaman dengan hidup mu? Sepertinya kamu menikmati hidup tanpaku! Apa aku sudah tidak penting di mata mu?" Sudut Edbert kecewa, setelah tahu isterinya sering tak pulang Edbert merasa tak di inginkan lagi.


Ranti berganti menggenggam tangan suaminya "Aku hanya sadar diri, aku tidak pantas bersaing dengan istri muda mu Edbert. Aku hanya mencoba melakukan hal yang mungkin bisa membebaskan pikiran buruk ku, jika tidak, aku takut khilaf mencelakakan mereka di rumah ini." Ujarnya.


Ada dentuman keras yang menyentak jantung hati Edbert barusan. Sebuah kalimat yang berhasil menyinggung lelaki Casanova ini.


"Kamu marah padaku? Apa yang kamu rasakan padaku sekarang? Apa kamu membenci ku?" Tanya Edbert setelah itu.


"Apa Dylan tidak penting bagi mu hmm?" Sambung Edbert sedikit lebih menyudutkan dari sebelumnya.


"Tentu saja penting! Bukan kah dia sudah besar, dia bisa mengurus dirinya sendiri!" Dengus Ranti.


"Kamu ibunya, tapi setenang itu membiarkan putramu tidak pulang ke rumah! Aku khawatir akan benar-benar kehilangan dia sampai aku mati!"


"Mungkin itu bedanya aku dan kamu Edbert," Sela Ranti pembicaraan mereka mulai memanas kali ini.


Bahkan tangan yang tadi saling menggenggam sudah terlepas tanpa sadar, hanya ada tatapan yang saling menusuk jantung satu sama lain.


"Kau hanya memiliki satu putra, sedang aku banyak, aku punya ratusan putra putri, bahkan ada yang sudah menjadi sarjana sekarang. Hanya doa yang selalu ku kirimkan untuk Dylan ku, dan ternyata benar kata orang, doa istri teraniaya di ijabah, buktinya Dylan sukses tanpa bantuan dari mu." Tohok Ranti.


"Kamu menuding ku sekarang?" Berang Edbert dengan kening yang mengerut.


"Setidaknya bujuk Dylan supaya dia mau kembali menggantikan posisi ku. Aku lelah terus mengemban banyak pekerjaan sendiri di usia ku yang sudah tidak muda lagi!" Lanjutnya.


"Kamu punya Hendra bukan? Suruh dia yang menggantikan posisi mu, bukan kah Mila mau putranya naik jabatan?" Sindir Ranti.


"Kamu tahu dia bukan putra ku!"

__ADS_1


"Mila istri mu, kenapa kamu tidak menganggap putranya juga putra mu?"


"Apa barusan kamu menyindir ku?" Sela Edbert.


"Lalu sekarang aku yang salah? Bukanya barusan kamu yang menanyakan apa perasaan ku sekarang? Yah Edbert, aku menikmati hidup seperti ini, mungkin awalnya sulit tapi aku terbiasa tanpa kamu dan putra ku. Aku sudah mendapatkan kenyamanan dari putra-putri asuh ku." Nada Ranti berangsur lirih masih ada sesal sudah berani bicara seperti itu pada suaminya.


Tatapan Edbert melembut, rasa bersalah mulai pria itu cecap, jika dirinya mampu melihat kesedihan Jelita sebagai istri terdzolimi maka itu berarti Ranti pun mengalaminya.


Ia raih kembali tangan isterinya penuh sesal "Aku minta maaf, sudah mengacuhkan mu selama ini," Ucapnya terdengar tulus.


Ranti mengalihkan pandangan, entahlah mungkin karena wanita itu sudah bukan gadis belia yang butuh kata-kata puitis lagi.


"Aku sudah tidak apa-apa, sekarang kembali lah ke kamar mu, aku mengantuk Edbert." Ucapnya.


"Kenapa tidak tidur bersama ku? Apa kamu benar-benar tidak menginginkan sentuhan ku?" Tanya Edbert dengan tatapan yang menelisik kepada setiap lekuk bagian depan isterinya.


Area leher ke bawah milik Ranti begitu memanggil ke lelakian Edbert. Apa lagi aroma yang menusuk hidung membuat pria itu begitu penasaran ingin segera merasakannya.


"Aku terbiasa tanpa itu, aku sudah tidak membutuhkan itu." Ucap Ranti datar.


"Lalu bagaimana jika aku yang menginginkan mu?" Sambung Edbert pelan.


"Aku istri mu! Maka lakukan lah seperti mau mu! Tapi maaf jika aku tidak bisa membalas seperti yang istri muda mu lakukan! Aku tidak pandai dalam hal itu!" Ujar Ranti lirih.


Edbert memejamkan matanya, lelaki itu sedang berusaha mengontrol emosi setelah sindiran demi sindiran yang Ranti lontarkan, sudah dari dulu Edbert tak pernah ingin mengeluarkan berang pada istri pertamanya.


Edbert tahu, karena bantuan ayah Ranti lah dia bisa seperti sekarang ini, selama ini Edbert tak pernah sedikitpun berkata kasar pada Ranti.


Selain acuh dan berkhianat Edbert masih memenuhi kewajiban sebagai seorang suami, saldo rekening isteri pertamanya selalu dia isi lebih banyak dari pada istri lainnya, Edbert tahu Ranti lebih memerlukan banyak uang untuk mengurus yayasannya.


"Daddy!" Dari belakang tubuh Edbert suara manja memekik membuat sepasang suami istri ini menoleh padanya. terlihat disana Bella mengatupkan bibirnya seakan cemburu melihat Edbert menggenggam tangan istri tua nya "Daddy di sini hah? Bella cari-cari juga!"


Sontak Ranti beranjak dari duduknya lalu menatap wajah suaminya yang kini beralih padanya "Aku usahakan besok setelah acara perhelatan selesai, aku temui Dylan, akan ku bujuk putra mu kembali dan semoga saja dia masih mau menuruti kemauan ibunya." Ucapnya lalu bergegas pergi meninggalkan Edbert bersama madunya.


Ranti selalu menghindari perdebatan. Bukan karena bodoh, justru dia ingin menunjukkan bahwa derajat sosialnya lebih tinggi dari pada istri-istri lainnya.


Jika di suruh menyerah tentu saja Ranti tidak akan melakukannya, Ranti masih memiliki banyak kepentingan di rumah itu.


Edbert mendengus pelan sambil menatap berlalunya punggung isteri pertamanya.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


...Terimakasih Like nya, Alhamdulillah, bisa Up Lagi.❤️...

__ADS_1


__ADS_2