
Hari ini Brandon sudah bisa menghirup udara segar, karena dua hari yang lalu Jelita resmi mencabut tuntutannya, biarlah Brandon belajar selama beberapa bulan ini di balik jeruji besi.
Pria itu menatap rindu mantan isterinya yang kini berdiri tepat di depan tubuhnya dengan balutan busana kasual.
Hanya perpaduan dari t-shirt putih dan celana jeans saja selaras dengan pakaian Dylan hari ini.
"Terimakasih, Jeje." Ucap Brandon tersenyum lalu membelai lembut puncak kepala wanita itu.
Ada rasa nyaman yang masih Jelita rindukan dari pria itu, tapi semua rasa cintanya sudah hilang tak berbekas setelah kejadian demi kejadian yang mereka berdua alami bersama selama tiga tahun terakhir ini.
"Menikah lah lagi E'den, kamu masih muda, berikan Papi Anson penerus, tapi, aku mohon cari lah pendamping lain, jangan wanita yang punya sifat kriminal. Kamu laki-laki baik, jika tidak mendua. Belajar lah setia seperti Papi Anson mu, kamu pasti bisa." Tutur Jelita.
Brandon mengangguk "Emm, akan aku lakukan semua pesan mu." Jawabnya tersenyum tipis.
"Sekarang aku harus pulang, aku masih banyak urusan, jangan lupa kamu juga harus datang ke acara pernikahan ku! Ok, my best friend forever!" Jelita mengacungkan jari kelingking nya sambil tersenyum dan Brandon menerima.
"Yah, best friend forever, selamanya kita hanya akan, menjadi teman saja, seperti semula." Air mata meluncur dari bendungan yang hancur di sudut netra pria itu.
"Maaf kan aku Jeje!" Brandon peluk wanita mungil itu dengan mata yang terpejam, masih terasa nyaman saat menghirup aroma damai dari tubuh Jelita.
Tak mudah saling membenci sedang mereka masih sama-sama terpaut dalam hubungan persahabatan yang sudah sangat lama mereka jalin.
Tawa riang gembira juga tangis saat Jelita merengek pada Brandon masih terngiang di ingatan lelaki itu.
Seharusnya persahabatan ini tidak hancur hanya karena sebuah pernikahan yang gagal "Aku masih menyayangi mu! Sekarang bahagia lah bersamanya!" Ucap Brandon sambil mengelus lembut rambut ikal Jelita.
Jelita mengangguk lalu melonggarkan pelukannya "Kamu ga boleh peluk aku lagi! Sekarang ada yang cemburu!" Protesnya.
"Emm, baik lah!" Brandon mengangguk beberapa kali masih dengan cebikan bibir menahan tangis.
"Terimakasih sayang." Anson mengusap puncak kepala putri kecil kesayangannya.
"Sama-sama Papi."
Setelah berbincang dengan Anson dan juga Brandon, Jelita kembali berjalan menuju sebuah mobil, di mana Dylan masih setia menunggunya. Dylan memang sengaja tak mau ikut ke dalam, alasannya masih tidak respek pada pria peselingkuh.
Ayahnya sendiri saja dia benci apa lagi orang lain yang notabene nya adalah mantan suami calon istrinya.
"Sudah, hmm?" Jelita duduk di jok sambil menutup pintu mobil lalu Dylan meraih tubuh mungil Jelita sambil mendaratkan ciuman di pipi wanita itu.
"Sudah!"
__ADS_1
"Lalu, mau kemana lagi kita?" Tanya Dylan.
"Ke butik, kita coba gaun ku, kata owner-nya sudah jadi, tinggal angkut saja." Jawab antusias Jelita.
"Ok!"
Dylan memberi titah kepada sopirnya untuk menuruti semua yang Jelita sebutkan. Butik, lalu setelah itu ke pantai untuk foto prewedding sebelum kemudian menutup harinya dengan video call di dalam kamarnya masing-masing.
...🖋️................🖋️...
Sementara mereka sibuk dengan persiapan resepsi pernikahan di dalam istananya, Edbert Jackson justru terdiam menatap riak air yang di buat oleh ikan-ikan mahal dalam kolam besar miliknya.
Kolam yang ia buat sesuai permintaan putra kecilnya dua puluh tahun lalu.
"Dylan mau kolam ikan yang gede Daddy, ..." Suara itu terngiang di telinganya saat ini.
Rindu, Edbert sudah sangat merindukan putranya, Edbert kira dengan bantuan yang dia berikan pada Jelita, Dylan akan segera pulang ke istananya dan menikah lalu memberinya cucu.
Kenyataannya tidak! Dylan masih tetap pada pendiriannya yaitu menikahi Jelita tanpa ayahnya.
Sejatinya Edbert sengaja tak menghamili istri selain Ranti karena tidak ingin membuat persaingan perebutan warisan dan kekuasaan di istana miliknya.
Edbert hanya ingin Dylan saja yang mewarisi kekayaannya, bahkan rengekan istri lainnya yang menginginkan keturunan darinya tak menggoyahkan kemantapan lelaki pecinta seribu wanita ini.
Edbert bersikekeh untuk tidak memiliki keturunan selain dari Ranti saja. Sudah jelas tidak ada yang bisa memberinya bibit unggul selain Ranti saja, gadis ayu yang dia nikahi lalu dia abaikan setelah menyusui putranya.
"Reno!" Lama terdiam tiba-tiba saja Edbert bersuara, Reno pun dengan sigap menyahuti "Iya Tuan."
"Panggil Nyonya besar mu, suruh dia ke sini! Menemani kerinduan ku!" Titah Edbert.
"Tapi, maaf Tuan, bukan kah Nyonya besar sudah dua Minggu tak pulang ke rumah ini, Nyonya selalu tidur di panti asuhan nya." Tutur Reno tanpa mengurangi rasa hormat.
Edbert menoleh dengan kening yang mengerut heran "Dua Minggu? Kenapa lama sekali?" Tanyanya. Padahal hal itu sudah menjadi kebiasaan isteri pertamanya yang lebih memilih menyibukkan diri di panti asuhan.
Dulu Edbert sempat bertanya apa yang Ranti inginkan jika dia memperbolehkannya menikah lagi dan Ranti meminta beberapa yayasan untuk kegiatan sosialnya.
Panti asuhan anak yatim, panti jompo, juga rumah singgah untuk anak jalanan. Ranti bahagia dengan kehidupannya yang seperti itu.
"Tapi, bukan kah ini sudah biasa Nyonya besar lakukan selama ini Tuan? Beliau hanya pulang sebentar lalu bergantian menyinggahi yayasannya." Jelas Reno.
"Begitu kah?" Edbert baru mengetahui kebiasaan isteri pertamanya setelah sekian tahun mengabaikan.
__ADS_1
"Benar Tuan." Reno mengangguk mengiyakan.
Edbert kemudian berjalan memasuki rumah besarnya lalu Reno mengikuti langkahnya "Siap kan sopir, kita ke yayasan menjemput Nyonya besar mu!" Titahnya.
"Ada apa Edbert?" Suara Ranti terdengar dari kiri membuat lelaki tampan berusia 50 tahun ini menoleh padanya.
"Mi, ... Kamu di sini? Reno bilang dua Minggu kamu tidak pulang?" Tanya Edbert yang lumayan menyentil kening Ranti hingga berkerut keheranan.
Ada angin apa? Hingga Edbert menyadari keberadaannya?
"Aku sibuk akhir akhir ini, maaf." Jawab Ranti datar. Hubungan yang sudah lama renggang membuat hati wanita itu perlahan membeku.
Edbert melangkah mendekat lalu memposisikan dirinya berhadapan dengan wanita ayu pertama yang ia nikahi di negara ini.
Tak pernah ia menyentuh bahkan memperhatikan wanita itu lagi setelah Ranti melahirkan dan menyusui.
Dulu Ranti yang dia lihat hanyalah wanita monoton yang sudah terkikis kecantikannya seiring dengan berjalannya waktu sedang gairah mudanya masih menggebu-gebu.
Edbert terus melanglang buana mencari gadis yang lebih muda dari isterinya demi mendapatkan gairah yang dia inginkan.
Sekarang di usia Ranti yang ke 47 tahun Ranti justru masih sangat cantik bahkan lebih cantik dari saat wanita itu masih berusia dua puluh lima tahunan.
Jelas, perawatan Ranti sudah sekelas artis papan atas, bahkan sekarang kecantikannya sudah melewati kecantikan dan awet mudanya ayu Ashari, Dona Harun beserta jajaran artis kawakan lainnya.
"Ada apa mencari ku?" Ranti tahu jika suaminya berhadapan langsung berarti ada yang ingin di sampaikan. Mungkin Edbert mau menikah lagi, Ranti sudah sangat hapal dengan kelakuan suaminya.
Biar bagaimanapun juga Edbert masih tampan setara dengan artis kawakan sekelas Ariwibowo.
"Aku mau mengajak mu minum teh di kolam ikan sana! Ada yang mau aku bicarakan tentang putra kita!" Ajak Edbert.
Ranti mengangguk "Baiklah, tapi aku harus mengganti pakaian ku dulu." Ucapnya.
Edbert tersenyum mengangguk mengizinkan lalu menatap berlalunya punggung wanita itu lekat-lekat dari tempatnya "Apa menurut mu Nyonya besar mu tidak senang dengan ajakan ku, Reno?" Tanyanya tampa melepaskan pandangannya dari punggung isteri pertamanya.
"Tentu saja senang, Tuan." Jawab Reno.
Akan tetapi Edbert masih yakin Ranti tak senang dengan ajakannya. Raut Ranti tak sama seperti saat dia mengajak istri-istri lainnya yang selalu girang dan merengek meminta sesuatu setelah itu.
Ranti justru memperlihatkan senyum getir di sela-sela percakapan nya barusan.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
__ADS_1