Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Menyesal.


__ADS_3

"Aaaagghhh!!" Laki-laki bermata hijau itu menyingkirkan seluruh isi meja kerjanya.


Saat melihat layar besar yang menampilkan adegan sepasang suami istri tengah berseteru.


"Kenapa terus menerus bertahan di situ Jelita? Apa aku harus merebut mu secara paksa dari suami peselingkuh mu hmm?" Geramnya dengan tangan yang mengepal. Sekarang Matanya melolong tajam kearah bangunan mewah di seberang sana.


Dylan gerah. Bagaimana bisa seorang suami tak mengetahui adanya percobaan pembunuhan terhadap isterinya yang di lakukan oleh kekasihnya, bahkan Brandon seolah acuh saat Dylan melaporkan perbuatan Shasha siang tadi.


Bukti kejahatan Shasha memang sudah Dylan kantongi akan tetapi jika itu sampai di lihat oleh Brandon, dirinya juga akan ikut terkena masalah, atas tuduhan pelanggaran UU ITE.


Memasang CCTV di tempat pribadi milik orang lain juga sudah termasuk pelanggaran ITE, maka tak semudah itu Dylan memberikan bukti-bukti CCTV pada Brandon.


"Bodoh! Tolol!" Umpat serapah Dylan merutuki tetangganya.


...🖋️................🖋️...


Sementara di seberang sana Jelita sudah menuruni anak tangga masih dengan di seret suaminya "Lepas E'den! Aku mau pulang!"


Tiba di lantai bawah Brandon menghentikan langkahnya menatap tajam wajah isterinya "Apa kamu bilang? Pulang?" Tanyanya heran dengan kening yang mengerut.


"Pulang kemana? Ini rumah mu!" Tambah Brandon.


"Pulang ke rumah Mamah Papah, aku masih punya mereka, aku bukan anak yatim E'den! Buat apa aku tinggal di sini?" Berang Jelita.


"Aku suami mu! Tentu saja kamu harus tinggal di sini!" Sela Brandon.


"Suami?" Lanjut Jelita dengan senyum sinis nya.


"Apa aku harus tinggal dengan suami yang membentak kasar isterinya? Suami yang menuding isterinya berselingkuh? Kamu tahu kamu juga ingat, kamu yang mengambil keperawanan ku tujuh bulan yang lalu, tapi tiba-tiba kamu sendiri yang meragukan ku!" Bengis Jelita dan brandon hanya diam saja, menelaah ucapan isterinya yang memang benar adanya.

__ADS_1


"Apa aku harus bertahan di rumah ini? Sementara aku punya orang tua yang tak pernah sekalipun membentak ku, E'den!" Timpal Jelita keras sesekali memegangi perutnya yang terasa keram karena terlalu sering berteriak.


"Aku mau pulang!" Jelita melangkahkan kakinya menuju jalan keluar.


"Je, ..." Brandon kalang kabut, laki-laki itu segera membegal jalan isterinya "Jangan pergi, ini rumah mu, ..." Bujuknya mulai melembutkan tatapannya, menyesal.


"Kamu tahu aku ga suka di bentak E'den, sekarang aku mau pulang!" Tepis Jelita. Selama ini meskipun mendua Brandon tak pernah berkata kasar ataupun sekedar berlaku buruk padanya, tapi kali ini Brandon sudah keterlaluan, batin tersakiti setidaknya jangan sampai fisiknya juga ikut di sakiti.


"Please!" Brandon melangkah maju memeluk lembut wanita mungil itu dengan mata yang terpejam penuh sesal.


"Ku mohon, jangan pergi, aku minta maaf, ... Maaf Jeje." Ucapnya lirih.


Di sudut sana ada Shasha yang meremas ujung gaunnya menahan kekesalan, menyaksikan kekasihnya merengek pada isteri syah nya.


"Lepas E'den!" Jelita berusaha keluar dari dekapan laki-laki itu namun Brandon tak memberinya sedikitpun akses.


"Aku sangat menyayangi mu kamu tahu itu, dari dulu aku posesif padamu kamu tahu itu, aku selalu marah saat kamu dekat dengan laki-laki lain kamu juga tahu itu, maaf kan aku, aku hanya cemburu." Tambah Brandon yang terkesan egois, dia terus menerus memproklamirkan kata cemburu akan tetapi tak bisa peka pada hati Jelita yang terus dia sakiti dengan hadirnya wanita lain.


"Maaf sudah membentak mu, bukan maksud ku begitu Je." Brandon merenggangkan tautan tubuh mereka. Menatap lembut wajah berang isterinya yang kini berpaling. Terlihat dada wanita itu berfluktuasi seperti menahan berangsang nya.


"Kita tidur di bawah, aku, kamu, seperti dulu lagi, kita perbaiki hubungan ini, kasih aku kesempatan, please jangan pergi." Bujuk laki-laki itu memelas.


"Bukan memperbaiki, lebih tepatnya adalah mempertahankan posisi mu sebagai putra mahkota, E'den!" Batin Jelita.


"Sekarang kamu duduk, ini sudah malam, besok kalo kamu kangen sama Mamah Papah, aku yang akan antar kamu ke sana." Rayu Brandon.


Jelita menghela napas panjang kemudian menurut duduk sebab kaki mungilnya sudah terasa sangat keram juga pegal karena terlalu lama berdiri, lagipun sebelumnya dia menuruni anak tangga, wajar, ibu hamil memang lebih mudah lelah.


Melihat Jelita menurut, Brandon kemudian beralih pada Mina yang berdiri di sisi ruangan itu bersama dengan Shasha "Bik, tolong ganti sprei di kamar ku dengan yang baru, bersihkan kamar mandi jangan sampai ada sedikitpun sampah juga barang-barang bekas Shasha, semua pakaian Shasha keluarkan dari kamar ku, semprotkan pengharum ruangan sesuai dengan yang Jelita sukai. Segera." Titahnya.

__ADS_1


"Baik Tuan."


Sedari tadi tatapan protes tertuju pada laki-laki itu "Mas, kamu serius mau mengeluarkan semua barang-barang ku?" Tanyanya.


"Iya, kamu pindah ke kamar atas, atau kamar sebelah, terserah kamu, di sini masih banyak kamar yang bisa kamu tempati. Mulai sekarang Jeje yang akan tidur bersama ku!" Tegas Brandon.


"Tapi Mas."


"Dari pada protes lebih baik kamu bantu Bik Mina biar lebih cepet!" Sentak Brandon yang pada akhirnya mulai naik pitam kembali hingga tanpa sadar matanya melototi wanita itu.


Shasha mendengus kemudian memasuki kamar utama, dia mengambil semua barang-barang miliknya yang lalu ia pindah ke kamar sebelahnya "Aku kira dengan tahu bukti perselingkuhan Jeje, Mas Brandon akan menceraikannya, tapi kenapa malah aku yang di suruh keluar dari kamar ini!" Rutuk nya.


Jelita masih hanya diam saja di sofa ruang tengah tanpa menggerakkan sedikitpun tubuhnya, ia bergeming dengan pikiran yang terus berkeliling.


Bicara soal cinta, tentu saja Jelita masih memiliki rasa itu teruntuk suaminya namun tudingan demi tudingan yang akhir-akhir ini terlontar dari mulut Brandon begitu menyakitkan.


Jelita sudah cukup mengantongi alasan untuk segera melepaskan suaminya bersama wanita lain, mungkin dengan begitu dirinya bisa melanjutkan hidup tanpa ada rasa sakit lagi.


"Silahkan Tuan muda, kamarnya sudah siap." Mina menghampiri sang Tuan setelah menyelesaikan tugasnya yang lalu di jawab dengan anggukan kecil laki-laki itu.


Brandon duduk kembali di sisi isterinya meraih tangan mulus ibu hamil itu "Sekarang kita masuk yah, kamu perlu banyak istirahat, kamu masih dalam perawatan dokter kan hmm?" Selembut mungkin pria itu membujuk.


Brandon benar-benar takut jika sampai Jelita minta di pulangkan kembali "Je, ..."


Jelita menepis tangan Brandon kemudian beranjak dari duduknya berjalan mendahului suaminya menuju kamar utama.


"Pelan-pelan Je." Seru Brandon mengiringi langkah isterinya.


"Setelah menyeret ku dari lantai atas, sekarang menyuruh ku pelan-pelan!" Rutukan dari batin Jelita "Pagi tadi aku yakin lantai di kamar ku sengaja di buat licin, bukanya mencari tahu alasan mengapa isterinya terjatuh kamu justru menuduh ku selingkuh dengan laki-laki yang sudah menolong ku. Lalu sekarang kamu berlagak perduli E'den?" Masih dalam batinnya.

__ADS_1


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2