Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Melamar


__ADS_3

"Kamu perlu melamar Jelita dulu, menikah, lalu baru setelah itu boleh kamu sentuh isteri mu! Kamu sudah berjanji tidak akan mengikuti jejak Daddy mu!" Ranti tengah menyidang putra nakalnya di hadapan calon menantunya.


Terdakwa hanya diam dengan tangan yang rajin menggaruk tengkuk, kikuk "Iya Mi." Ucapnya.


"Sekarang, antar Jelita pulang, bicara baik-baik dengan keluarganya, Mami merestui hubungan kalian. Kalo memang kalian sudah saling suka, jangan di tunda-tunda, setan selalu menggoda manusia!" Tutur Ranti lagi.


Dylan mengangguk "Iya Mi."


Jelita mesam-mesem mendengar kata "Iya Mi." Yang sedari tadi Dylan ucapkan. Ternyata di balik sifat arogansi kekuasaan nya ada pemuda pecinta ibunda di dalam diri pria itu.


...🖋️................🖋️...


Setelah memberikan ritual perpisahan pada sang ibu, Dylan menggandeng Jelita keluar dari kamar lalu menuruni lantai dengan menggunakan lift.


Tiba di lantai bawah istana tersebut, beberapa pria berbadan besar menghalangi jalannya "Maaf Tuan muda, Anda tidak di perkenankan keluar dari sini!" Katanya mirip dengan satuan pengaman.


Rahang Dylan mengeras "Beraninya kau!" Kaki Dylan sudah ingin melangkah tapi Jelita menarik tangannya "Dylan!"


"Bisa tidak kita izin dulu baik-baik sama Om Edbert, pasti di izinin." Usulnya.


Menatap Jelita pria itu mengerutkan kening, tak ada sedikitpun niat untuk merengek pada ayahnya.


"Biar kan putra ku keluar!" Satu titah yang terdengar dari lantai atas membuat seluruh orang beringsut membelah barisan memberikan jalan keluar untuk sang Tuan muda.


Ada sedikit cabikan yang merobek harga diri Dylan, kenapa ayahnya harus mengizinkan pengawalnya? Seolah-olah Dylan tak mampu keluar dengan sendirinya.


Tanpa berkata apa pun lagi Dylan segera menarik tangan Jelita membawa keluar kekasihnya dari istana itu. Di atas Edbert tersenyum pada Jelita yang memberikan tundukan kepala padanya.


Meskipun di culik, Ranti berhasil meluluhkan hati wanita cantik ini, apa lagi saat tahu bahwa alasan Edbert menculiknya hanya untuk umpan putranya saja.


Sejatinya, Jelita sangat menginginkan Dylan bisa bersatu kembali dengan keluarganya secara utuh maka dia setuju menjadi bagian dari cara ekstrim ini.


Ada binar kesepian yang sudah sangat lama dia tangkap di balik sikap angkuh kekasihnya.


Toh Jelita jadi tahu bagaimana sebenarnya perasaan Dylan padanya yang ternyata masih sama seperti sebelumnya.


...🖋️................🖋️...


Tiba di halaman parkir, Dylan membuka pintu mobil lalu mempersilahkan Jelita masuk sebelum kemudian ia juga duduk tepat di sebelah kanan wanita itu.


Tak ada percakapan yang penting untuk di bahas selain dari pada pembicaraan rindu yang mereka rasakan selama tujuh bulan tak bersua.


Hingga satu jam berlalu, mobil mewah berjenis MPV itu sudah memasuki halaman rumah klasik milik Marseille. Keduanya pun turun dari kendaraan beroda empat itu.


"Kamu serius kan mau melamar ku Dylan?" Jelita menatap Dylan untuk memastikan.


"Tentu saja! Aku mau kita cepat menikah!" Setelah itu dengan gagahnya Dylan menggandeng Jelita menuju teras.

__ADS_1


Sebelumnya Jelita sudah menelepon keluarganya untuk memberitahukan bahwa dirinya baik-baik saja bersama seseorang dan tak perlu di khawatir kan.


Namun, rupanya Marseille, Galang dan Tristan tetap tak bisa tenang, mereka berdiri tepat di depan pintu masuk utama, ancang-ancang menyambut kedatangan Jelita.


Tatapan matanya tajam pada Dylan seolah berkata "Beraninya membawa lari putri kesayangan rumah ini sampai larut malam!"


Bagaimana dengan gunjingan tetangga sebelah yang mungkin akan berbisik-bisik ria setelah melihat janda baru cerai sudah membawa pria tampan lainnya.


Dylan kikuk, saat melihat ekspresi tak bersahabat dari ketiga pria itu. Di tengah malam begini keringat mengembun menghiasi dahi.


"Kamu kenapa Dylan?" Di sela-sela langkah Jelita memiringkan kepalanya memastikan wajah gugup sang kekasih.


"Ga papa!" Dylan mengembangkan senyum terpaksa yang terkesan getir bagi Jelita.


"Kamu gugup?"


"Impossible!"


Senyum remeh Jelita kembangkan saat mendengar jawaban itu. Sepertinya, yang di utarakan Dylan tak selaras kenyataannya. Terlihat wajah arogan Dylan sudah berubah kaku.


"Pah, Bang, ..." Tiba di teras rumah Jelita menghambur ciuman pada punggung tangan Marseille, Galang dan Tristan.


"Kenalin, ini Dylan. Dylan kenalkan ini Papah, Bang Galang sama Bang Tristan." Ujar Jelita memperkenalkan kekasihnya pada ketiga pria posesif nya.


"Dari mana saja kalian? Kenapa tengah malam begini baru sampai? Ini bahkan sudah lebih dari jam dua belas!"


Lain ketika menghadapi orang tua wanita kesayangannya, gugup, canggung, kelu dan lain sebagainya Dylan rasakan, lagi pun ini kali pertama Dylan melamar seorang wanita.


"Dylan ajak Jeje ke orang tuanya Pah, kan udah di jelasin di telepon Jeje ga di culik, itu cuma prank ajah, kami dari rumah orang tua Dylan barusan."


"Papah tanya ke bocah ini!" Marseille menunjuk wajah kikuk Dylan sambil melototi putrinya.


"Oh Tuhan, apa bener Jelita anak bapak ini? Kenapa putrinya selembut sutra bapaknya sangar begini?" Batin Dylan.


"Emm, tadi, barusan, saya, ..."


"Yang jelas kamu kalo ngomong!" Galang yang geram tiba-tiba menyambar ucapan Dylan kemudian beralih pandang pada adiknya.


"Jadi begini cowok yang kamu pilih jadi pacar mu? Ak em ak em ga jelas ngomong nya!" Cibirnya sambil menunjuk wajah Dylan mencemooh.


"Oh My God! Kenapa susah bener cuma mau ngomong doang!" Dylan merutuki nasibnya sembari menggaruk alisnya, kikuk.


"Ya kan, dengerin dulu penjelasan Dylan, kalian main serobot ajah begitu!" Ketus Jelita terlihat kesal, tak tega juga melihat ekspresi gugup Dylan.


"Udah kamu masuk!" Titah Tristan pada Jelita lalu beralih pada Dylan "Dan kamu pulang!" Sentak nya mengusir.


Jelita menghentakkan kakinya seperti batita tantrum "Bang, kok di suruh pulang sih? Dylan kan mau, ..."

__ADS_1


"Mau apa lagi tengah malam begini?" Sambar Marseille memangkas ucapan putrinya yang belum Lagi selesai.


"Saya ke sini mau melamar Jelita Om!" Kata celetukan yang keluar dari bibir pria itu tegas.


Marseille membelalakkan matanya "Melamar katamu?" Tanyanya dengan tatapan remeh yang mengarah pada wajah tampan Dylan.


"Benar Om, saya serius." Tegas Dylan lagi.


Marseille, Galang dan Tristan sempat saling menatap satu sama lain sebelum kemudian Marseille menatap ke arah Dylan kembali.


"Kamu pikir Putri ku wanita sembarangan? Seenaknya saja melamar Jelita tengah malam begini tanpa orang tua tanpa membawa apa-apa? Asal usul juga belum jelas, sudah mau melamar!" Tusuk Marseille merutuki pria itu.


"Saya, ..." Belum lagi selesai Marseille menyerobot kembali "Kamu punya orang tua kan?" Tanyanya ketus.


Dylan mengangguk "Punya Om." Jawabnya sopan.


"Kalau begitu bawa kedua orang tua kamu ke sini, ..."


"Jadi lamaran saya diterima Om?" Sela Dylan percaya diri.


Marseille berkerut kening "Enak saja kamu! Belum apa-apa Udah ke-GR-an! Saya cuma mau tahu asal-usul keluarga kamu, dan bibit bebet bobot yang akan menentukan diterimanya lamaran mu! Paham?" Ketusnya.


Dylan sedikit hening mencerna titah calon mertuanya, lalu bagaimana cara dia membawa kedua orang tuanya? Sementara Dylan sendiri tak pernah punya niatan untuk kembali lagi ke rumah utama Edbert Jackson.


"Kenapa diam? Nyalimu menciut?" Tambah Marseille menghardik sambil melipat tangan kedepan dada.


"Emm, t-tidak juga Om, saya masih sangat mantap mau melamar putri Anda!" Sanggah Dylan.


"Bagus!" Marseille manggut-manggut "Kalau begitu, besok saya tunggu!" Ucapnya.


Marseille menurunkan lipatan tangannya lalu berjalan memasuki pintu utama. Hal itu lumayan membuat Dylan sedikit lebih lega.


"Syukurlah, ..." Batinnya sambil mengusap dahi berkeringat miliknya.


Namun, rupanya dua calon abang iparnya masih ingin menjajal seberapa seriusnya laki-laki itu pada adik kesayangan mereka.


"Sekarang kamu masuk! Ada sesuatu yang perlu kamu kerjakan, sebelum membawa orang tua mu ke sini!" Titah Tristan pada Dylan sedang Galang menarik adiknya perempuannya, posesif.


"OMG, apa lagi ini? Kenapa berat begini rintangannya?" Di balik anggukan kepalanya Dylan merutuk dalam batin.


Tristan merangkul adik perempuannya berjalan memasuki pintu utama diikuti Dylan dan Galang.


"Bang Tristan, ga lagi mau ngerjain pacar Jeje kan?" Tanya Jelita berbisik curiga di telinga abangnya.


"Kita liat saja nanti!"


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...

__ADS_1


__ADS_2