
Hari ini Ranti berkunjung ke rumah Edbert, dia membuat kan makanan untuk mantan suaminya, mereka bercerai tapi Ranti masih tak mau perduli dengan status itu.
Ranti masih ingin merawat mantan suaminya, mungkin hanya dengan cara seperti ini dia bisa menghapus rasa iba nya.
"Edbert, makan lah. Aku suapi." Seperti ini lah Ranti yang begitu perduli pada sesama manusia, bahkan hilang sudah kemurkaannya setelah Edbert menderita. Ketidak adilan yang ia dapati bertahun-tahun lamanya sudah tak lagi dia ingat.
Edbert menoleh "Kenapa kau masih ke sini? Kita sudah bukan lagi suami istri!" Katanya.
"Aku ingin merawat mu, anggap saja aku saudara perempuan mu, seperti sebelum kau menikahi ku." Sambung Ranti, senyum tipis tersungging begitu impresif.
Edbert menurut untuk di suapi lalu di berikan minum dari bekas bibir Ranti seperti biasanya,
Di hadapan deburan ombak tepi pantai. Edbert dan Ranti duduk berdua, angin laut menyibak rambut keduanya, Edbert mulai menyentuh mantan isterinya dan Ranti menoleh. Ada harapan di mata Edbert yang masih melekat padanya.
"Apa kau masih mencintai ku?" Tanya Edbert.
"Aku selalu mencintaimu." Jawab Ranti.
Mendengar jawaban itu, Edbert menyapu kan raba tangannya dari wajah Ranti ke bibir lalu ke leher dan ke bawah lagi, Edbert ingin tahu bagaimana dengan reaksi wanita itu sekarang? Apakah setelah kejadian ini Ranti akan merasakan sentuhan lembut nya? Edbert ingin mencobanya kembali jika memang masih punya kesempatan.
Tangannya bahkan menyelusup ke dalam gundukan yang masih sangat ranum itu, meskipun sudah berumur Ranti masih begitu ranum, perawatan yang tidak sia-sia.
Rupanya Ranti masih hanya diam saja, tak ada respon seperti biasanya, mendapati itu Edbert melepas smirk "Kau bukan masih mencintai ku, tapi iba padaku, Ranti. Memang begini lah sifat mu. Selalu mementingkan orang lain yang kamu anggap pantas di kasihani." Ujarnya.
"Aku masih meninggalkan trauma pada mu, aku masih meninggalkan bekas kesakitan di hati mu, aku tidak pantas di maafkan." Tambahnya.
"Apa pentingnya itu sekarang? Aku ingin kita hidup seperti ini, menjadi dekat meskipun bukan suami istri, aku dan kamu sempat tinggal bersama menjadi seorang adik Kaka bukan?" Kata Ranti.
Edbert hening, tak ada yang bisa dia ungkapkan lagi, buktinya Ranti masih tak mau menerima sentuhan darinya, trauma yang Ranti derita masih begitu melekat padanya.
Berselingkuh dengan satu wanita saja sudah sangat menyakitkan, lalu apa kabarnya jika sudah berpuluh-puluh wanita? Edbert sadar dia mencampakkan isterinya hanya karena ego sang junior yang ingin terus melanglang buana.
Di khianati berkali-kali, apakah ada hati yang sanggup? Lalu perkara Harta? bukan hanya itu saja, wanita juga harus di kasihi, di sayangi sepenuh hati, karena berbagi hati sangat menyakiti.
...🖋️................🖋️...
Kehidupan masih berlanjut meskipun Edbert sudah bukan suami Ranti lagi.
Namun rupanya lelaki itu justru sering mengikuti kemana langkah mantan isterinya berayun.
Tiada hal yang penting selain mengamati kegiatan Ranti yang monoton, yaitu mengurus beberapa yayasan sosialnya.
Edbert juga sering memergoki saat Garry mengikuti isterinya, acap kali Edbert menangkap gurat kenyamanan ketika Ranti bersama dengan pemuda tampan itu.
Garry masih setia menunggu meskipun penolakan tetap tertuju, entah apa yang membuat pemuda itu keras kepala sekali tapi begitulah sifat anak Mario ini.
Kabar rumah besar Edbert sudah kosong, istri Edbert sudah tak tersisa lagi maka Dylan lebih memilih untuk tinggal di rumah baru, biarlah Dylan akan menjual rumah Edbert, Dylan ingin mencoba move dari sebuah masa lalu yang tak menyedapkan bagi Ranti dan keluarganya. Perselingkuhan tak berujung, menjadi polemik dalam rumah besar itu.
...🖋️................🖋️...
Lima bulan berlalu,
Di sebuah pemakaman mewah daerah Karawang, Edbert sudah di semayamkan, rupanya dengan cepat laki-laki itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Perawatan? Bukan tidak di lakukan dengan baik, tapi sistem kekebalan tubuh Edbert sendiri yang sudah tidak lagi seperti dulu. Kekebalan tubuh Edbert tak seberapa kuat melawan virus dalam dirinya.
__ADS_1
Semua insan pada akhirnya harus meninggalkan dunia ini, begitu juga dengan Edbert, bersyukur, Edbert masih punya kesempatan untuk bertaubat di usia akhirnya.
Bagaimana jika tidak? Bahkan pengampunan isterinya pun mungkin tak akan pernah ia dapatkan.
Di hadapan makam mantan suaminya, Ranti tergagu dari seribu bahasa pilu, hanya air mata yang menjadi saksi bisu betapa kehilangan nya wanita cantik itu.
"Sudah Mi, lebih baik kita pulang, Daddy sudah tenang di surga sana." Dylan berkata demikian akan tetapi nuraninya tak mengiyakan, apakah mungkin pecinta seribu wanita mendapatkan surga? Tapi lihat dulu dosa dan pahalanya, bisa saja Edbert lebih banyak pahala atau mungkin terlalu besar dosanya.
Semua jawaban itu hanya Tuhan lah yang maha tahu. Kita manusia tak mampu membuka rahasia sang pencipta, ialah dzat yang hanya satu.
Ranti menurut untuk mengikuti ajakan putranya, Jelita juga terlihat memapah mertuanya, kaca mata hitam masih tersemat di masing-masing wajah mereka.
"Masuk Mi." Jelita menyuruh ibunda mertua tercinta masuk ke dalam mobil dan wanita itu menurut.
Ranti pada akhirnya pulang ke rumah putranya, rumah yang dekat dengan pantai karena begitu lah permintaan menantunya.
Sepulangnya dari makam Ranti Dylan dan Jelita mendapat tamu penting, yaitu pengacara mendiang Edbert.
Ada apa ini? Bukan kah semua harta sudah berpindah pada Dylan? Lalu kenapa masih ada pesan terakhir dari Edbert untuk isterinya? Mungkin kata-kata almarhum justru hanya akan membuat Ranti semakin bersedih bukan?
Rupanya sebuah keinginan terakhir dari Edbert yang akan pengacara itu bacakan?
"Memang ada apa lagi, Pak?" Dylan bertanya pada pengacara itu, Rian namanya.
Lelaki berusia empat puluh tahun itu pun bergegas membacakan sebuah permintaan terakhir yang harus mantan isterinya lakukan, dan hanya satu bait kalimat yang tertulis dalam satu lembar kertas itu.
Menikah lah lagi, Ranti. Jangan pikirkan aku yang mungkin sudah akan tenang di dalam dunia ku, aku tahu, kau nyaman bersama pemuda itu, dia setia menunggu mu, bahkan setelah tiga tahun lamanya tak engkau hiraukan. Menikah lah kesayangan ku. Aku merestui mu.
^^^Edbert Jackson.^^^
Ranti mematung di tempatnya, menikah lagi? Bukan tujuan dari hidupnya! Menikmati masa tua dengan melajang juga sudah cukup baginya.
Jodoh rezeki mati, semua takdir illahi, mungkin saja, ini alasan Tuhan membuat Garry menjadi bujang akut? Why not? Dylan tak pernah keberatan akan hal itu.
Meskipun berondong Garry bukan lah pria yang ingin mengejar kekayaan Ranti saja, jelas dari asal usulnya sudah meyakinkan.
...🖋️................🖋️...
Satu bulan berlalu kembali, di dalam kamar berdominasi warna hitam, Dylan mengernyit kan wajahnya, matanya pun dia kerjap kan dan senyum manis isterinya tertampil di hadapannya.
"Selamat pagi Hubby." Sapa Jelita, satu kecupan manis mendarat di bibir sensual laki-laki itu.
"Pagi sayang." Dylan meraih tengkuk isterinya lalu mencoba menuntut lebih dari pada ciuman singkat saja "Kiss me please!" Pintanya.
"No, kamu masih bau! Sekarang buka mata lebar-lebar dulu, ada kejutan untuk mu." Kata Jelita.
Dylan duduk dengan lemah, tubuhnya kaku setelah semalaman melakukan pergulatan ranjang bersama isterinya.
"For you, selamat ulang tahun yang ke tiga puluh satu tahun sayang." Ucap Jelita seraya menyodorkan kotak kecil pada suaminya.
Rupanya tak terasa waktu sudah memangkas usia laki-laki itu, dulu saat baru pertama bertemu Dylan masih berusia dua puluh sembilan tahun, sekarang Dylan sudah tiga puluh satu tahun.
Dylan terkikik "Terimakasih Baby." Sekali lagi kecup singkat Dylan berikan pada wanita itu.
"Buka kadonya!" Pinta Jelita.
__ADS_1
"Apa ini? Kenapa kotaknya kecil? Apa perhiasan? Memangnya aku perempuan?" Dylan bergumam sambil membuka tali pita kotak kecil tersebut.
Jelita terkikik mendengar gumaman suaminya yang sangat menggemaskan baginya "Buka saja pelan-pelan ini lebih berharga dari apa pun." Katanya.
"Oya?" Dylan merem lalu membuka kotak itu dan membuka mata setelah kotak tersebut terbuka lebar "Taraaaaaa! Surprise!" Pekik Jelita sumringah.
Dylan terperangah melihat benda mungil berwarna putih bermotif dua garis merah dalam kotak kecil itu "Ini punya siapa Baby? Ini milik mu hmm?" pria itu menatap wajah isterinya dengan senyum girang.
Jelita mengangguk "Emm, aku positif hamil Hubby." Ujarnya antusias.
"Terimakasih Tuhan!" Dylan berucap syukur pada sang khalik lalu meraih tubuh isterinya untuk kemudian di peluknya.
"Terimakasih sudah memberi kesempatan pada isteri ku lagi. Aku akan menjaga titipan terindah ini." Tambahnya.
"Ini kado terindah Baby."
Jelita terharu mendengar setiap kata syukur yang berderai dari bibir suaminya, sepertinya bahagia sekali ketika Dylan mengetahui kehamilannya "Aku bahagia Hubby, semoga Daddy Edbert juga ikut bahagia di surga sana." Katanya.
Dylan mengangguk "Emmh." Entah kenapa, mengingat ayahnya Dylan menitihkan air mata, tak ingin mengulang kembali kisah ayahnya yang berakhir memilukan, sudah cukup Edbert saja dan menjadi pelajaran berharga baginya.
Harap Dylan di ulang tahun ini adalah Jelita lah wanita pertama dan terakhir yang ingin ia jadikan istri dan wanitanya.
...🖋️................🖋️...
Siang harinya,
Berita baik dari putra dan menantunya membuat Ranti semakin memancarkan aura awet mudanya, wanita itu tersenyum bahagia sambil berjalan gontai menuju mobil miliknya.
Rencananya malam ini Ranti ingin membuat acara syukuran atas kabar gembira ini, semua kerabatnya harus di undang untuk mendengar juga kabar kehamilan Jelita Maharani.
"Hai, ..." Suara itu berlanjut sampai suara siulan menggoda dari sang pemuda tampan.
Ranti menoleh lalu mendengus setelah wajah pemuda yang akhir-akhir ini terus mengganggu nya tertampil di sana "Mau apa lagi? Bukannya kemarin sudah ku kenal kan dengan gadis cantik? Kenapa masih ke sini?" Tanyanya.
"Aku merindukan mu, Neng!" Dokter itu nyengir seperti tak punya dosa "Sudah ku bilang aku tidak menyukai siapa pun selain dirimu." Lanjutnya.
Ranti menatap dalam diam wajah tampan pemuda itu "Sebenarnya apa yang membuat dia menyukai ku?" Batinnya.
Garry mungkin bisa saja mencari gadis perawan, tapi jika memang perasaannya mampu beralih dari Neng Ranti nya, buktinya sampai detik ini pemuda itu hanya mencintai Neng Ranti saja.
"Neng!" Garry menjentikkan jarinya pada wajah cantik wanita itu "Jangan melamun? Takut ayam Abang mati." Katanya nyengir.
"Kamu mau ikut dengan ku, Garry?" Setelah terdiam cukup lama Ranti menawarkan sesuatu pada pemuda itu.
Garry mengangguk "Tentu saja! Kemana pun Neng Ranti pergi, aku ikut bersama mu." Ujarnya merayu.
Ranti masuk ke dalam mobil miliknya kemudian menepuk jok di sebelahnya "Naik lah, kita pergi ke suatu tempat!" Ajaknya.
"Y-yang bener Neng?" Garry masih tak percaya Ranti mau mengajaknya satu mobil bersama.
Garry tak sempat ragu untuk menuruti ajakan wanita cantik itu, dia duduk di sebelah kiri Ranti. Selama beberapa bulan ini meskipun sudah lebih dekat, mereka tak pernah pergi bersama, dan ini kali pertama Garry duduk satu mobil dengan Neng Ranti nya.
"Jalan Pak! Kita ke hotel terdekat." Titah Ranti.
Garry berkerut kening bahkan senyum manis nya tak lagi tersungging begitu mendengar Ranti mengajaknya ke hotel.
__ADS_1
"Hotel? Mau apa kita ke sana, Neng?" Tanya Garry dan Ranti tak mau menjawabnya.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...