
"Aku tidak pernah berharap kata itu dari mulut mu, karena kesalahan mu tidak akan pernah bisa di maafkan, Edbert." Cetus Ranti.
Wanita itu tak sempat ragu lagi untuk meninggalkan tempat di mana suaminya masih berdiri menatapnya nanar.
Namun, dengan sigap Edbert menghentakkan kakinya panjang lalu meraih lengan istri pertamanya hingga kini keduanya saling bertatap muka kembali.
"Kenapa sekarang aku yang disalahkan? Bukankah dulu kamu pernah mengatakan bahwa cinta suci tulus murni tidak harus di buktikan dengan kebutuhan fisik saja? Kamu tahu aku sangat menyayangimu, meski tak pernah mendapat layanan batin dari mu aku tak pernah berniat menceraikan mu! Perasaan ku tulus pada mu Ranti!" Ungkap Edbert.
"Kalau begitu lanjut kan saja! Anggap hati mu mencintai ku, lalu tubuh mu mencari kepuasan pada tubuh orang lain! Lagi pula aku sudah terbiasa hidup begini, kenapa juga harus di ungkit lagi? Dan satu lagi, jangan terus mengawasi ku! Kau tahu betul aku tidak akan pernah selingkuh! Aku bukan wanita yang haus kasih sayang! Aku bisa bahagia dengan cara ku sendiri." Tutur Ranti.
"Apa kau yakin?" Sela Edbert dengan tatapan menceku, tidak mungkin ada wanita yang tak menginginkan sentuhan darinya.
Ranti merentangkan kedua tangannya "Yah, sangat yakin!" Cetusnya pasti.
Edbert melangkah maju lalu menarik tengkuk isterinya hingga kini tenggelam sudah bibir lembut nan ranum milik Ranti pada bibirnya.
Tangan Edbert meraih tas yang masih Ranti genggam lalu melemparkannya ke sembarang arah, ia tuntun tangan itu mengalungi leher nya.
Tak ada respon dari wanita itu, Ranti hanya pasrah dengan semua perlakuan suaminya, debar jantung yang aneh, desah kenikmatan, tiada terdengar di telinga Edbert saat ini.
Edbert kemudian menghentikan aksinya, ia lantas menatap dengan dalam iris coklat milik Ranti, anehnya kenapa tidak ada hal yang ingin ia lihat, Ranti benar-benar tak menunjukkan apa pun padanya selain diam dengan wajah datar.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" Tanyanya.
"Maksud mu?"
Edbert berkerut kening, dia benar-benar syok mendengar jawaban dari isterinya, apa iya? Ada wanita di raba di sentuh lalu hanya datar saja yang tertampil di wajah nya?
"Sudah kan? Aku mau mandi!" Ranti membalikkan badan tapi Edbert membuat tubuhnya melayang ke udara. Menggendong.
"Biar aku yang memandikan mu!" Ranti pasrah, tiada penolakan juga tiada respon kegirangan, wajahnya masih hanya datar saja.
Edbert melangkah memasuki kamar mandi lalu kaki besarnya membuka satu persatu pintu dan menurunkan isterinya tepat di dalam bilik transparan.
Ia lucuti satu persatu pakaian isterinya hingga menampakkan sekujur kemolekan yang sudah sangat lama tidak Edbert lihat.
__ADS_1
Debar jantung Edbert mulai tak beraturan ketika melepas sepatu heels Ranti dan menatap kemolekan itu dari bawah.
Kaki Ranti, betis Ranti, paha Ranti, lutut Ranti saat sedikit tertekuk, pinggang ramping Ranti, hingga bulatan merah yang menghiasi puncak dada Ranti begitu memesona.
Setelah sekian lama pada akhirnya Edbert di buat jatuh cinta untuk yang kedua kalinya "Mami cantik!" Celetuknya tersenyum.
Ranti masih tak menjawab sepatah kata pun.
Edbert berdiri lalu menatap wajah cantik isterinya sambil menanggalkan pakaian miliknya sendiri dengan gerakan perlahan, akan ia buktikan bahwa Ranti masih membutuhkan sentuhan darinya malam ini juga.
Meski tak merespon Ranti masih hanya diam saja, sebab biar bagaimanapun juga Edbert masih berhak atas dirinya. Setiap bulan Edbert masih menafkahinya tapi tak sekalipun dirinya melayani suaminya semenjak pernikahan Edbert yang kedua, ketiga dan seterusnya.
Keduanya sudah polos kali ini, Edbert lantas menyudutkan tubuh Ranti pada dinding marmer kamar mandi lalu memutar keran hingga mengalirkan tetesan air yang perlahan membasahi tubuh mereka.
Edbert sambar bibir ranum itu seraya menyisir seluruh lekuk tubuh Ranti dengan raba tangan kekarnya. Memilin, meremas, memutar dengan gerakan perlahan gundukan yang masih sangat padat milik Ranti.
Berusaha sekeras apa pun kenyataannya belum ada respon yang dia inginkan dari isterinya "Balas aku sayang!" Batin Edbert terus berharap meskipun sudah sedikit frustasi.
Busa sabun sudah Edbert taburkan pada setiap lekukan tubuh isterinya lalu kemudian membiarkan busa-busa itu turun oleh guyuran air sehangat kuku.
Edbert angkat sebelah kaki Ranti agar lebih mudah menyesap air yang mengalir bagian ranum itu. Sangat ranum karena telah lama tak ada yang menyinggahi nya. Rapat serapat rapatnya.
Ranti tak bersuara, tak bergerak, tak membalas, tak mencoba menghindari pula, biarlah Edbert menikmati tubuhnya meskipun tiada rasa yang membuat dirinya melayang seperti layaknya wanita yang sedang di jamak.
Tak jua mendapat respon, Edbert mematikan air kemudian meraih handuk kimono untuk dilekatkan pada tubuh istrinya, sementara dirinya memakai handuk yang dilingkarkan di bagian bawah tubuhnya saja.
Edbert lantas menggendong tubuh Ranti kembali keluar dari kamar mandi, Ia duduk kan Ranti di sisi ranjang lalu mengeringkan rambut wanita itu seperti yang pernah dia lakukan dahulu saat keduanya masih sama-sama setia.
Edbert rebahkan kepala Ranti pada bantal rumbai berwarna merah muda dengan sangat hati-hati lalu menindih tubuh itu sambil mendaratkan kecupan-kecupan lembut yang seharusnya mengeluarkan suara desah rintihan.
"Balas aku Ranti!" Edbert masih berharap Ranti mendesah seperti dahulu saat terakhir kali mereka melakukannya.
Dirinya benar-benar di buat candu oleh ke ranuman tubuh isterinya, sayangnya sudah setengah jam ia menyantap kemolekan itu masih tidak ada respon dari Ranti.
Edbert frustasi, sangat frustasi hingga kini dia menghentikan aksinya kembali lalu menatap nanar wajah cantik isterinya.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan padaku? Kenapa tidak merespon ku? Kenapa tidak membalas ku?" Tanyanya dengan nada lirih penuh ironi.
"Memangnya aku harus bagaimana?"
Bagai mendengar gelegar petir di siang bolong melompong, Edbert tercengang dengan jawaban isterinya "Setidaknya berdesah lah! Apa kau benar-benar tidak merasakan apa-apa saat menerima sentuhan ku?" Tanyanya lagi lirih namun ada tekanan di setiap katanya.
"Kalo kau mau tubuh ku maka lakukan saja! Kenapa harus memperdulikan bagaimana rasa ku? Apa itu penting?" Sambung Ranti datar.
"Tentu saja! Berhubungan juga harus saling merasakan kenikmatan! Tidak hanya aku saja! Kau juga harus merasakan nya!"
"Kenapa tidak kamu lakukan saja dengan para wanita mu!"
BRAK!
Edbert melemparkan gelas yang tergeletak di atas nakas ke dinding hingga hancur berkeping keping "Sudah ku bilang mulai dari sekarang aku akan tidur di sini!" Sentak nya.
Edbert sampai kelepasan membentak bahkan menunjukkan berang pada isteri kebanggaan nya.
"Kamu berani membentak ku? Setelah bertahun-tahun menyakiti hati ku, Edbert?" Sungut Ranti.
Edbert menciut sejatinya lelaki itu bukan ingin marah pada isterinya tapi dia sedang marah pada dirinya sendiri, yang tak mampu mengembalikan rasa cinta isterinya.
Deru napas kacau sudah terdengar begitu kerap dari Edbert saat ini "Akan aku buat kamu mencintai ku lagi, Ranti! Aku tidak akan melakukan apa pun, sebelum kau mencintaiku lagi!" Ucapnya.
Edbert meraih handuk miliknya lalu memakai nya kembali kemudian melangkah memasuki ruang wardrobe di sudut kamar tersebut.
Ranti hanya menatap dalam diam berlalunya punggung pria itu. Tiada tangisan, tiada senyuman, tiada kerinduan, tiada ketakutan yang mampu wanita itu presentasi kan, Ranti kini sudah benar-benar beku, tak dapat lagi mencecap apa-apa oleh setiap perlakuan suaminya.
Mati rasa, mungkin itu kenyataan yang sangat menyakitkan bagi Edbert Jackson saat ini.
BRAK!
Di pukul nya kaca lemari milik isterinya hingga mengalir darah segar dari buku-buku tangannya. Kesal sekesal kesalnya.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
__ADS_1
...Dukung author dengan Like komen hadiah nya 😘...