Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Emosi sesal.


__ADS_3

"Ini sudah malam, aku antar kamu pulang."


Sudah dua jam Dylan membujuk kekasihnya untuk pulang, tapi Jelita tetap tak mau bergerak sedikitpun, ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di balik selimut tebal milik Dylan.


Sedari tadi sore ponsel Jelita terus berbunyi, Marseille galang dan Tristan terus meneleponnya.


Namun, Jelita sedikit aman karena bersamaan dengan itu keluarganya sibuk dengan tuntutan yang kadung di layangkan kepada Brandon Dwi Pangga.


Justru Dylan sendiri yang membujuk Jelita untuk pulang ke rumah "Belum saatnya kita tidur satu kamar begini sayang, aku mungkin saja bisa khilaf padamu!" Dylan mengusap pucuk kepala Jelita.


"Sudah ku bilang. Aku tidak mau pulang Dylan! Biarkan aku di sini, kamu pergilah ke kamar tamu!" Titah wanita itu.


Dylan terkikik "Apa kau sudah merasa menjadi Nyonya besar di sini Nona? Sampai-sampai mengusir pemilik rumah ini hmm?" Tanyanya.


Jelita sedikit menurunkan selimut hitam itu dari wajahnya lalu memperlihatkan raut memelas.


"Aku mau kawin lari bersama mu Dylan, kita menikah tanpa orang tua ku saja, lalu kita pergi dari sini, uang kamu banyak kan? Kita beli rumah baru lagi, tempat di mana tidak akan ada yang menemukan kita. Tempat di mana tidak akan ada yang mengganggu dan memisahkan kita!" Pintanya.


Dylan tersenyum lalu mendekati wajah wanita mungil itu "Semua butuh proses, percaya lah, aku pasti bisa meyakinkan orang tua mu! Justru dengan ulah kekanakan mu seperti ini yang semakin membuat keluarga mu membenci ku!" Tutur nya lembut, sesekali ujung hidungnya ia gesekan pada ujung hidung Jelita.


"Tapi, ..."


Jelita tak mampu lagi berucap, Dylan sudah membuat tubuhnya melayang di depan dada bidang pria itu "Aku akan melamar mu sekali lagi, malam ini!" Tegas nya.


Dylan berjalan keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga masih tetap dengan langkah tegak meski menggendong tubuh seorang wanita.


Berat Jelita 45 kg dengan tinggi yang hanya 155 saja. Jelas 2kg larinya mungkin ke bagian depan tubuhnya yang sering membuat sang junior tiba-tiba meronta tak terkendali.


Maka itu, Dylan mantap untuk berniat mengembalikan Jelita ke rumah orang tuanya saja. Dylan tak ingin melakukan kegiatan intim sebelum resmi menikahi wanitanya. Itu, salah satu bentuk penghormatan kepada Jelita yang sudah sangat dia cintai sejak lama.


"Dylan."


"Hmm?" Dylan melirik sekilas ke arah Jelita di sela langkah nya.


"..........." Jelita hening dengan tatapan yang melekat pada wajah tampan kekasihnya.


Jakunnya, brewok tipisnya, bibir merona nya, hidung bangir nya, alis tegasnya, Jelita sangat menyukai semua yang ada pada Dylan.


Dylan melirik sekilas lagi ke arah Jelita dan tatapan mata itu membuat dirinya semakin percaya diri "Apa yang Nyonya besar bayangkan? Itu belum saatnya!" Sindirnya.


"........" Jelita masih hening namun kali ini kalungan tangannya semakin dia pererat.


Tiba di halaman depan satu mobil sudah terbuka dan siap membawa keduanya kepada kediaman utama Marseille.


...🖋️................🖋️...


Setelah menikmati jalanan macet kendaraan khas ibukota Jakarta, tibalah mobil mewah berwarna putih itu di halaman rumah klasik milik Marseille. Dylan kemudian menuntun calon isterinya menuju teras.


"Kamu yakin mau melamar ku lagi Dylan?" Tanya Jelita. Lelaki itu dengan percaya diri mengangguk.


Jelita membuka pintu dengan kunci miliknya lalu menggandeng tangan Dylan masuk ke dalam rumah milik sang ayah "Mah, Pah, Bang!" Seru Jelita.


Namun, hanya Mirea yang datang menemui sepasang kekasih ini dan sepertinya wanita 49 tahun itu sudah tak berang lagi pada si pemilik wajah tampan ini.

__ADS_1


"Jeje! Kamu kenapa baru pulang? Papah sama abang-abang kamu kemana?" Tanyanya.


Jelas, berarti Marseille Galang dan Tristan masih mengurus kasus Brandon di kantor polisi.


"Selamat malam Tante!" Ucap Dylan tersenyum sambil memberi tundukkan khidmat pada calon mertuanya.


Mirea membalas senyuman pria tampan itu, ada gurat penyesalan juga ucapan terimakasih yang tersirat di wajah damainya.


"Malam Nak," Mirea mendekat "Tante mau bilang terimakasih, selama ini kamu sudah menemani dan menyembuhkan duka lara Jeje!"


"Maaf kan Tante, sudah menuduh mu yang bukan-bukan, Tante benar-benar sudah buta oleh perlakuan manis mantu ku," Ucapnya tulus.


"Ga papa Tante, saya tahu, semua ibu akan melakukan hal itu jika berada di posisi Tante!"


Mirea tersentuh mendengar setiap kata yang berderai dari bibir Dylan, sungguh sangat bijaksana dan rendah hati sekali, jelas pria ini berbeda dengan tingkah Edbert yang selalu berucap sombong.


Sedikit banyak Mirea juga mengenal sosok Ranti saat ikut kegiatan bakti sosial, mungkin saja Dylan memang menuruni sifat baik ibunya.


"Mah, Jeje masih boleh kan berhubungan dengan Dylan?" Jelita bergelayut pada lengan ibunya merengek.


"Mamah, terserah Papah kamu saja."


"Ekm ekm!" Dari belakang tubuh Jelita Marseille baru saja tiba di kediamannya.


"Om!" Sapa Dylan saat menangkap sosok tinggi calon mertuanya begitu pun dengan Jelita yang juga ikut beralih pada ayahnya "Pah!"


"Papah melarang nya!" Tegas Marseille.


Tak pikir lama lagi. Sontak Jelita meraih tangan Dylan lalu menariknya "Kalo begitu kita pergi dari sini Dylan! Kita kawin lari saja!" Ajaknya.


"Sayang!" Dylan menggeleng "No bukan begini caranya." Lirihnya dengan tatapan yang penuh bujukan.


Meskipun sudah menikah, tetap saja usia Jelita tak membohongi, apa lagi wanita itu putri bungsu, maka sudah pasti pemikiran nya tak pernah bisa di sejajarkan dengan pemikiran Dylan yang mandiri juga bijaksana.


"Papah melarang hubungan kita, Dylan! Apa kamu, ..."


"Ok ok! Boleh!" Pada akhirnya Marseille mengalah saat melihat sikap berontak putrinya, sepertinya Jelita sudah terkena virus Bucin akut "Asal dengan syarat!" Pinta Marseille tegas.


Dylan tersenyum setelah mendapat secercah harapan dari calon mertuanya "Apa Om? Sebut saja!" Tegasnya tanpa ragu.


"Kamu harus berjanji tidak akan pernah menduakan putri ku, apa lagi poligami seperti ayah mu!" Tuntut Marseille.


Dylan dengan cepat mengangguk "Tentu saja Om! Tidak perlu Om memintanya! Aku akan selalu berusaha untuk tidak menyakiti hatinya." Ucapnya berjanji.


"Terimakasih Papah! Jeje sayang Papah!" Jelita menghambur ke pelukan ayahnya. Bahagia.


...🖋️................🖋️...


Hari berganti, suara kicauan burung telah menemani padatnya hari, sesekali makhluk lucu itu mematuk lawan jenisnya bercumbu mesra dengan pasangannya di atas atap sana.


Dua bulan setelah penangkapan Brandon, Anson terpuruk dan jatuh sakit, rupanya lelaki tampan nan penyayang itu tak sanggup menerima kenyataan bahwa ternyata putra semata wayangnya membiarkan perbuatan keji yang di lakukan oleh Shasha bahkan hampir saja mencelakakan Jelita kesayangannya.


Seharusnya dia sudah bisa menimang cucu di usianya yang sudah 45 tahun ini namun sayangnya Yaki pun tiada lalu putranya mendekam di penjara.

__ADS_1


Seperti yang sudah sudah, hari ini Jelita membesuk mantan mertua yang sudah seperti ayah kandungnya ke rumah sakit, dan kali ini Dylan juga ikut menemani sang kekasih.


Sekalian Jelita ingin memperkenalkan calon suami yang mungkin akan dia nikahi dalam waktu dekat ini.


"Papi, ..." Jelita mendekati ranjang pasien milik Anson di sana juga ada Emma yang tampak memperlihatkan mata merah seperti baru saja menangis.


"Mi, ..." Jelita meletakkan bunga yang aromanya sangat Anson sukai di atas meja nakas.


"Jeje, kamu sama siapa Nak?" Tanya Anson sambil melirik ke arah Dylan.


Dylan tersenyum "Pagi Om!" Sapa nya.


"Pagi," Anson lalu beralih pada Jelita "Siapa dia Je." Tanyanya lagi.


Sesungguhnya Emma sudah beberapa kali melihat wajah tampan Dylan, tapi tak sekalipun memberi tahu kepada Anson tentang nya.


Jelita merangkul satu lengan kekar Dylan "Ini Dylan, calon suami Jeje Pi!" Ucapnya.


Seketika Emma beranjak dari duduknya sambil melotot dan berkecak pinggang "Jadi setelah menjebloskan putra ku ke penjara kamu mau enak-enakan menikah lagi Jeje? Licik sekali kamu!" Pekiknya tiba-tiba.


"Emma! Jaga bicaramu!" Sambar Anson melotot.


"Jeje ku berhak bahagia bersama lelaki yang tulus mencintainya, E'den di penjara bukan salah Jeje! Justru putra mu yang sudah menghianati juga mencoba menutupi kejahatan jallang nya!" Lanjutnya geram.


Kenapa sepertinya istrinya tak pernah sekalipun mendapat pelajaran dari yang di lalui, selalu saja berang tanpa mempertimbangkan siapa yang salah.


"Tapi Pi, kasihan E'den! Kalo Jeje mau menikah lagi, setidaknya cabut dulu tuntutannya! Biar E'den bisa keluar dari penjara! Lalu mencari jodoh lagi! Supaya bisa segera memberikan kita cucu!" Sela Emma dengan suara serak tangisnya, sudah berhari-hari wanita itu menangisi keadaan.


"Kamu yang sudah membunuh cucu mu! Mungkin ini karma yang Tuhan berikan pada mu! Atau sumpah serapah dari Yaki yang murka pada nenek pembunuh nya!" Sarkas Anson.


"Hiks hiks!" Seketika Emma terisak mengingat kembali kebodohannya saat mempercayai hasutan Shasha. Jika saja, seandainya, bila mana, semua kata yang menggambarkan kalimat pengandaian acap kali ia batin kan.


Ingin rasanya kembali ke masa lalu untuk mengembalikan cucunya "Hiks hiks, Jadi ini semua salah ku?" Emma menatap kosong wajah Jelita.


Setelah terisak tiba-tiba saja wanita itu terkikik geli "Hihihi, jadi aku yang membunuh nya? Aku yang membunuh cucu ku sendiri Jeje?" Tanyanya keras.


Jelita berkerut kening sedikit ketakutan melihat perubahan emosi Emma yang sebegitu cepatnya "Mami. Jangan terus menyalahkan diri sendiri begini, ini semua sudah menjadi takdir, ...." Belum selesai ucapan Jelita.


"Hahaha!" Emma terbahak-bahak lalu seketika itu juga ia melirihkan suaranya "Hiks hiks!" isak nya.


"Emma!" Anson merangkup kedua pipi isterinya, tak ada apa pun yang tersirat di dalam tatapan mata wanita itu. Hampa dan kosong.


"Huhuhu, .... Maafkan aku Papi, aku yang membunuhnya!" Emma meledak histeris "Aku yang sudah membunuh cucuku sendiri Pi! Aku jahat! Hahaha!"


Menyadari mental isterinya tersentil oleh kejadian naas beberapa waktu terakhir, Anson segera membenamkan wajah isterinya ke belahan dadanya "Ssuutt, bukan, bukan kamu! Jeje benar, ini semua sudah takdir!" Ucapnya berusaha menenangkan.


Sesal kemudian menguasai Anson Dwi Pangga, kenapa dirinya harus mengatakan hal itu pada isterinya, sekarang mungkin Emma membutuhkan perawatan psikologi.


"Kamu benar Pi, aku yang salah! Hiks hiks!" Emosi Emma masih tak stabil kadang menangis kadang tertawa.


"Mami! Maafkan Jeje Mi!" Jelita juga terlihat menyesal dengan apa yang terjadi pada mantan mertuanya.


Dylan menarik Jelita lalu menempatkan tubuh mungil itu kedalam pelukannya "Sudah lah, ini bukan salah mu sayang." Bisiknya lalu mengecup kening wanita itu.

__ADS_1


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2