
"Kamu yakin?" Celetuk Dylan dan Jelita membulatkan matanya saat suara langkah kaki besar Dylan berderap merayap ke arahnya.
"Oh Tuhan! Salah masuk!"
Dylan baru akan menyentuh pundak wanita itu tapi dengan cepat Jelita berlari menuruni anak tangga tanpa berkata sepatah katapun lagi, dia bahkan lupa dengan pesan suaminya untuk tidak bergerak sembarangan, Jelita takut setakut-takutnya.
"Jelita, jangan lari, hati-hati!" Teriak Dylan mengingatkan dari lantai atas.
"Oh Tuhan, kenapa aku ceroboh sekali!" Jelita bergumam sambil melemparkan kotak makan milik Dylan ke sembarang arah, bayangan dada bidang yang di tumbuhi bulu halus itu mengacaukan pikirannya "Seksi, ah, kacau kamu Jeje!" Umpat nya.
Di tempatnya Dylan juga menuruni anak tangga masih dengan handuk saja, ia mengambil kotak kosong miliknya yang Jelita lempar begitu saja.
"Jadi kamu ke sini mau balikin ini? Kapan kamu ke sini untuk ku Jelita? Aku masih menunggu mu!" Gumamnya pelan dengan senyum tipisnya.
...🖋️................🖋️...
Lari Jelita berlanjut sampai keluar dari rumah besar Dylan "Huuuhh, capek! Aku istirahat dulu di sini." Jelita membungkuk kan tubuhnya, mengatur napas setelah berhasil keluar dari pintu gerbang rumah tersebut.
"Jeje!" Suara dari belakang tubuhnya berhasil membuatnya tersentak kaget seketika itu juga.
Di lihatnya ibu mertua menatapnya bingung dari dalam mobil mewah berwarna putih "Mami." Pekiknya melotot dengan senggal-senggal napas nya.
"Kamu dari mana? Kenapa lari-lari begitu? Kamu lupa kamu lagi hamil?" Pekik balik wanita itu bersuara cempreng.
"Emmh, Jeje joging Mi." Kilah Jelita.
__ADS_1
"Jangan joging dulu dong Jeje, hati-hati kandungan mu!" Emma turun dari mobil menghampiri Jelita "Ya sudah, sekarang masuk mobil Mami, kita jalan-jalan, Mami mau ajak kamu ke salon. Belanja juga." Ajak wanita itu lalu menuntun menantunya masuk ke dalam mobil.
"Tapi Mi, Jeje belum bawa HP, sama dompet." Protes Jelita.
"Kan ada Mami, nanti Mami yang kasih suami mu kabar, masalah uang ga masalah, ada Mami."
Jelita mengangguk "Iya Mi." Nurutnya.
Untuk hari ini Jelita mengikuti ajakan mertuanya ke sana kemari, Emma memamerkan menantu cantik yang sedang hamil itu pada semua teman arisan nya.
Jelita sempat merutuki mertuanya meskipun di luar menurut "Jadi ini alasan Mami bawa aku jalan-jalan, cuma buat pamer ke orang-orang kalo sebentar lagi Mami punya cucu?" Dia menghela napas lalu dengan singkat di buang.
...🖋️................🖋️...
Hari-hari berlalu begitu saja, setiap hari Jelita masih sering menerima kiriman makanan dari tetangga sebelah tanpa Brandon ketahui, lagi pun wanita itu benar-benar tak bisa memakan sembarangan hidangan.
"Sayang, ..." Dia berteriak sambil berlari antusias memasuki rumah kekasihnya "Sayang."
"Shasha," Ternyata Brandon tengah asyik duduk menangkup laptop miliknya di sofa ruang tengah.
"Sayang." Shasha duduk di sebelah kiri laki-laki itu masih dengan wajah girangnya "Itu di depan mobil baru kamu ya?" Tanyanya.
Brandon tersenyum sekilas "Bukan, itu punya Jeje." Jawabnya lalu kembali menatap laptop miliknya.
"Apa?" Shasha terkejut hingga menunjukkan kerutan di keningnya "Kamu yang beliin? Aku mana?" Sudutnya.
__ADS_1
"Itu Papi yang beliin, mobil itu hadiah untuk menyambut kehamilan Jeje, aku mana mampu beli mobil begitu Sha, kamu kan tau aku cuma direktur di perusahaan Papi. Gaji ku masih belum cukup beli mobil begituan." Sambung Brandon tanpa menghentikan aktivitas jemarinya di atas keyboard qwerty.
"Ya kamu kan pewaris tunggal, masa beli mobil begitu aja ga bisa? Papi kamu aja bisa!" Sela Shasha cemberut.
"Ya jelas lah Papi bisa sayang." Brandon menoleh lalu mencubit gemas pipi wanitanya "Papi kan raja nya, dia punya beberapa member VIP, juga beberapa kartu kredit eksklusif. Sedang aku? Punya satu black card saja kamu yang pake, kamu lupa hmm?" Lanjutnya.
"Tapi aku juga mau, lagian kamu masih batesin pemakaian kredit ku. Aku jadi ga berani beli sesuatu yang aku mau." Keluh wanita itu sendu.
"Kamu kan tau kartu itu fasilitas dari Papi buat Jelita yang aku kasih ke kamu, kalo pengeluaran terlalu besar aku takut Papi curiga, sementara yang Jeje pake cuma gaun-gaun dari departemen store biasa." Tutur Brandon yang masuk akal.
Shasha mendadak manyun Mendengar hal itu "Memang dapat hadiah apa saja Jeje kemarin?" Tanyanya kemudian.
"Banyak, kenapa? Kamu mau hmm?" Brandon meletakkan laptopnya lalu menggenggam tangan lembut wanita itu penuh cinta, memang secinta itu lah laki-laki itu pada Shasha.
"Nanti, kalo kamu sudah siap hamil anak ku, pasti hadiahnya akan lebih besar." Brandon berusaha menenangkan Shasha agar tidak ada kecemburuan sosial di antara kedua wanitanya "Percaya deh," Brandon mengelus lembut puncak kepala Shasha.
Seperti biasa, Jelita hanya bisa menatap kemesraan keduanya dari balik partisi penyekat ruangan "Jadi Papi kasih aku fasilitas kartu kredit eksklusif? Lalu kamu kasih ke Shasha, E'den?" Gumamnya pelan dan pendar bening sudah bergumul dari balik pelupuk matanya, bukan masalah kartunya akan tetapi kasih sayang Brandon yang begitu besar pada Shasha lumayan menggores luka dalam di hati Jelita.
Tangannya memukuli bagian atas dadanya berusaha mengurangi sakit, menghela napas sepanjang mungkin berusaha mengurangi sesak.
"Anak ini milik mu E'den, akan aku lahir kan untuk mu, tapi aku ga yakin masih bisa bertahan hidup bersama mu dalam keadaan seperti ini setelah itu." Tambahnya.
"Nyonya muda yang sabar." Mina menepuk pundak wanita itu, menenangkan.
Kata-kata itu justru terdengar menyedihkan baginya "Aku ga kuat Mbok. Terus berbagi cinta seperti ini." Ungkapnya yang untuk pertama kalinya mengutarakan isi hatinya.
__ADS_1
...🖋️................🖋️...