Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Bonchap Part 1


__ADS_3

Lihatlah rembulan malam yang kini menampakkan dirinya, cahaya nya tamaram, ia tersipu seakan menatap iri sepasang kekasih ini.


Perbedaan telak usia tidak tampak di antara mereka, bahkan sang istri yang notabene nya sudah senja begitu agresif mengikuti alur romansa cinta sang berondong nya.


Di atas ayunan gantung rotan panjang yang lebih mirip dengan spring bed, tepatnya terletak pada balkon kamar, Garry masih asyik memainkan indera perasa nakalnya pada aset kembar milik isterinya.


Mamagut sesekali lalu menyesap ujung berwarna merah muda yang mulai menyembul kembali, sebelah tangannya meremas satu gundukan yang menganggur.


Selimut putih nan tebal menutup separuh tubuh keduanya, Ranti menyandar pada bantal-bantal empuk yang senada dengan warna selimutnya.


Sumilir angin malam menerpa wajah, namun bibir nakal dokter spesialis bedah plastik itu lumayan menghangatkan tubuh nya.


"Sayang." Suara Ranti merintih menikmati permainan bibir suaminya, ia remas rambut pekat suaminya matanya terpejam seraya menggigit bibir bawahnya, desiran aneh terus menekan gejolak cintanya "Emmh, Abang," Desah nya.


Terasa tangan nakal yang semula di atas kini menyelusup masuk ke dalam CD miliknya, hanya dengan mendengar lenguhan Ranti saja, Garry sangat menikmatinya.


Dahulunya Ranti tak mampu berdesah, tak mampu merasakan kenikmatan saat di sentuh olehnya, sekarang, lenguh mahal ini masih menjadi candu asmara baginya.


Ranti tahu, suaminya tipikal orang yang hangat, Ranti sadar, hasrat cinta Garry masih menggebu-gebu. Tiada hari bagi Garry tanpa menyentuh isterinya, walau hanya sesaat Garry menuntut gaung desah merdu wanita itu.


Cumbu bibir, sapuan lidah, belaian tangan, semua kemesraan itu Garry tuntut hanya kepada istri tercintanya.


Dylan dan Jelita saja kalah mesra dengan sepasang suami istri fenomenal ini. Kata romantis bak pujangga sering terceletuk dari bibir manis sang dokter bucin.


"Sudah, nanti Baby nya kontraksi loh, ini." Protes Ranti beralibi, lama-kelamaan tak tahan pula menahan geli ini, sedang dirinya tak ingin merasakan kontraksi.


Laki-laki itu melepaskan bulatan kecil berwarna merah muda milik Ranti dari bibirnya. Ia usap jejak basahnya dengan lembut lalu mengalihkan pandangan ke arah wajah yang masih tersipu memerah.


Garry menatap hangat wajah merona isterinya dengan bibir yang tersenyum "Mumpung belum keluar ASI-nya. Nanti kalo sudah keluar, lama lagi Yank." Katanya.


Usia kandungan Ranti sudah delapan bulan, tapi masih belum ada tanda-tanda merembesnya buliran ASI padahal di lihat dari ukuran sudah lebih besar dari sebelumnya. Sebagai dokter, Garry tahu, beberapa orang memang ada yang lambat keluar ASI.


Tak apa.


Perjalanan kehamilan Ranti yang lumayan sulit bisa sampai ke titik ini saja, sudah cukup membahagiakan, meskipun dirinya harus ekstra hati-hati mengingat usia Ranti yang sudah tidak muda lagi. Garry bahkan acap kali izin tidak masuk kerja demi menjaga istri tercintanya. Apa lagi, sekarang ini usia kandungan Ranti sudah memasuki hari perkiraan lahir.


Niatnya, Ranti akan mengambil jalur operasi.


Menurut Garry, melahirkan caesar yang dijadwalkan dari jauh-jauh hari membuat Ranti merasa lebih nyaman dan tenang dalam menghadapi persalinan nantinya. Persalinan caesar yang direncanakan membuat Ranti lebih bebas stres sehingga ia bisa mengontrol perasaannya. Ranti lebih bisa menikmati saat-saat mendekati persalinan tanpa harus merasakan waswas akan kontraksi yang bisa datang kapan saja.


Selain itu, Ranti juga tidak perlu menunggu lama dan merasakan sakit, seperti jika seorang ibu hamil memilih melahirkan secara normal.


Ranti mengusap lembut pipi berjambang tipis milik suaminya "Maaf, karena Neng yang memaksa memiliki keturunan lagi, Abang harus hiatus dari kegiatan ini." Ucapnya.


Garry terkikik geli "Hiatus?" Ujarnya "Enggak lah, nggak hiatus kok, kan masih bisa pake cara yang lain." Sambungnya menggoda.

__ADS_1


"Abang sabar kan, selalu menunggu sampai Neng bisa lagi kan?" Tanya Ranti dan Garry mengangguk "Sabar, Abang sabar, demi Neng." Katanya.


Suara decitan ayunan mengiringi percakapan mereka. Terang bulan menerangi seluruh wajah keduanya.


"Kira-kira Baby kita, mirip siapa?" Tanya Garry menyengir. Entah sudah berapa kali laki-laki ini menanyakan hal itu. Ranti sampai bosan menjawabnya.


"Wajahnya mirip siapa saja tidak masalah, asal baik hati, tampan, hidung mancung, bibir seksi, dan cerdas seperti mu." Jawab Ranti tersenyum "Aamiin."


Garry merebahkan punggung dan kepalanya pada bantal lalu meletakkan kepala Ranti pada lengannya "Sekarang tidur lah, besok kita ke rumah sakit, semoga saja operasi Neng Ranti lancar, bayi kita dan Neng Ranti sehat juga selamat, berjanjilah, kalian, kamu dan anak kita akan terus melengkapi ketidak sempurna nya Abang." Ucapnya.


"Emmh." Sahut Ranti dan netra nya mulai terpejam menikmati hawa kantuk yang menyergap menggelantung di pelupuk mata.


Tangan Garry mendayung gawai itu agar terus mengayun kedua tubuh mereka "Neng mau Abang nyanyiin gak?" Tanyanya berbisik.


Ranti mengangguk sambil tersenyum, suara merdu sang suami selalu menjadi pengantar tidur yang baik untuknya.


Garry kecup kening Ranti lalu menarik selimut agar tenggelam tubuh wanita itu, menyanyikan lagu romantis teruntuk isterinya hingga tertidur, dalam dekapan hangat suaminya Ranti nyaman, sudah menjadi kebiasaan mereka tertidur di atas ayunan tersebut sampai sang fajar menyingsing dan membangunkan keduanya.


...🖋️................🖋️...


Pagi harinya,


Seperti rencana awal, Garry dan Dylan memboyong para wanita kesayangannya ke rumah sakit elit Hariansyah. Nathan kecil berdecak sumringah mendengar berita akan adanya Om baby yang lahir dan menemani hari-hari nya.


Tiba di tempat, Jelita ditempatkan pada suatu ruangan bersama Baby Nathan, kebetulan, Nathan juga harus mendapatkan imunisasi lanjutan, sekali lalu menunggu lahirnya Garry junior.


Sepanjang perjalanan Garry terus menggenggam tangan isterinya, perasaan bahagia, khawatir, takut, berkumpul menjadi satu. Dia memang terbiasa membedah pasien lain, namun berbeda ketika seseorang yang dia cintai menjadi target sapuan belati steril tajam.


"Calon Daddy kenapa berkeringat? Apa gugup juga berlaku pada seorang dokter?" Ranti mengamati raut gelisah suaminya.


Garry menggeleng "Abang tidak mungkin bercita-cita menyakiti mu, tentu saja ini membuat Abang gugup!" Ujarnya mengaku.


Dylan tersenyum melihat keduanya sambil mengiringi brangkar sang ibunda tercinta, betapa beruntungnya Ranti mendapatkan suami tampan nan penuh kasih sayang seperti Garry. Dylan sangat bersyukur.


Tepat di depan pintu ruang operasi, Dylan menghentikan langkahnya sedang matanya selalu tertuju ke arah ibunda, Ranti pun menoleh pada putranya "Doakan Mammi Dylan." Ucapnya tersenyum.


Entah apa yang tiba-tiba menyeruak dalam hatinya, kenapa rasanya panas mendengar ucapan Ranti kali ini. Padahal, ini hanya operasi melahirkan, istrinya bahkan sudah mengalaminya dua kali.


Dylan melambaikan tangan dengan bibir kelu yang tak mampu berucap sepatah katapun "Mammi pasti bisa, Dylan janji Dylan jaga adik Dylan." Batinnya.


...🖋️................🖋️...


Dalam ruangan operasi,


Operasi Caesar di lakukan dengan pengawasan langsung dari dokter Garry sendiri.

__ADS_1


Garry sangat posesif, lihatlah, beberapa petugas operasi, tim yang terdiri dari dokter operator atau dokter obsgyn, dokter anestesi, perawat anestesi, perawat bedah, dokter spesialis anak, dan perawat perinatologi yang Garry pilih untuk membantunya.


Tak ada satupun yang berjenis kelamin laki-laki, semua dokter pilihan Garry adalah perempuan. Tak akan pernah Garry mengizinkan isterinya di tatap apa lagi di sentuh laki-laki lain.


Semua petugas mempunyai peran yang berbeda dalam proses operasi. Beberapa persiapan seperti anestesi dan alat bedahnya, sudah tersedia, tak lupa pula darah untuk tranfusi jika diperlukan.


Garry mulai memandu tim medis untuk segera melakukan operasi, adanya dirinya di sana adalah hanya sebatas menemani dan memastikan isterinya mendapatkan perlakuan dan perawatan yang terbaik.


Dukungan penuh Garry distribusi kan teruntuk perempuan kesayangannya, sejatinya inilah pertama kalinya dia merasakan hal aneh ketika berada di dalam ruang operasi. Bahkan saat praktek operasi pertamanya pun Garry tak pernah merasa se_nervous ini.


"Cium Neng." Pinta Ranti, mungkin dengan begitu Garry tidak lagi grogi.


Garry mengangguk lalu mengecup lembut bibir sensual wanita itu "Aduh Dok, iri kami Dok!" Perawat jomblo itu protes rupanya.


Garry dan Ranti menoleh "Sayangnya, aku setia Nul." Entah siapa namanya perawat itu Garry asal panggil saja.


Semua orang sempat tergelak renyah bersamaan.


Benar ide cemerlang Ranti, setelah mencium bibirnya, ketegangan Garry mulai mereda, "Ok, berdoa di mulai." Menurut kepercayaan masing-masing seluruh tim berdoa.


Operasi telah di mulai, Garry fokus memberikan asupan dukungan pada isterinya, kalau-kalau ada sesuatu yang Ranti keluhkan "Neng mual kah?" Tanyanya. Kemungkinan itu bisa saja terjadi pada beberapa pasien.


Ranti menggeleng kecil, namun Garry tahu isterinya gemetar karena ini merupakan operasi caesar pertama bagi wanita itu "Tidak apa, ini biasa terjadi, semuanya akan baik-baik saja sayang." Sejatinya Garry sedang meyakinkan dirinya sendiri.


Garry bahkan tak mau melihat proses pengeratan perut isterinya, biasanya dia bermain-main dengan pisau bedah tapi entahlah, lain rasanya saat sang tercinta, sang terkasih yang harus mengalami hal itu.


"Aku tidak apa-apa, Daddy tidak perlu takut. Aku akan hidup selalu bersama mu." Kata Ranti, tanpa sadar panggilan sayangnya telah berubah menjadi Daddy.


Garry mengangguk "Tentu saja, selamanya kita bersama." Ucapnya dengan bibir yang sedikit bergetar.


Sekitar lima puluh menit mereka bercakap-cakap, hingga sampailah pada saatnya suara tangis sang bayi memekakkan telinga. Puji syukur kehadirat Tuhan telah terucap dari semua tim.


Kecupan singkat Garry labuh kan pada kening isterinya "Terimakasih sayang." Ucapnya bersuka cita dan Ranti menitihkan air mata bahagianya ketika sang putra mahkota telah mendaftarkan diri sebagai manusia yang menetap di dunia fana.


Garry kecup beberapa kali bibir terisak bahagia isterinya lalu beralih meraih bayi mungil yang masih menangis tak berhenti, darah segar masih menyelimuti tubuh kecilnya, suara tangisnya terdengar keras.


Dokter tampan itu tergelak saat menggendong bayi mungil semata wayang "Wah wah, sepertinya putra perdana Daddy mau jadi penyanyi terkenal." Selorohnya.


Semua orang tertawa renyah "Bukan dokter seperti anda Dok?" Sahut satu dokter wanita itu.


"Dokter yang merangkap sebagai penyanyi, juga boleh. Putra ku pasti menjadi laki-laki hebat yang terkenal." Sambung Garry terkikik. Sungguh sunggingan senyum manis di bibirnya membuat Ranti sangat bahagia.


Ranti memandang setiap ekspresi senang suaminya, ekspresi yang awalnya gugup kemudian akhirnya menjadi berbinar-binar setelah lahirnya sang putra mahkota "Tuhan. Dulu aku pasrah, jika engkau memanggil ku lebih cepat karena suamiku tidak menginginkan kehadiran ku, tapi kali ini, aku meminta umur yang panjang untuk menemani suami dan putra-putra ku." Batinnya dalam harap.


...🖋️................🖋️...

__ADS_1


...Terimakasih..... Telah membaca chapter tambahan ini..... Berikan keluhan atau komentar yang membangun.... Jangan lupa Like.........


__ADS_2