
Lima bulan sudah Ranti menjadi Nyonya Garry, wajah cantiknya semakin berbinar-binar karena kebahagiaan yang Garry berikan khusus untuk dirinya.
Di sebuah kamar pasien VVIP, Jelita sudah menggendong bayi mungil buah cintanya bersama dengan suami tercinta.
Operasi Caesar itu di lakukan sebelum genap sembilan bulan karena kondisi jahitan Caesar sebelumnya masih belum kuat benar.
Dylan bahkan membawa isterinya dari satu Minggu sebelum operasi Caesar itu sendiri, Dylan memang selalu over jika sudah berhubungan dengan isteri tercintanya.
Acara syukuran mungkin di adakan setelah pulang dari rumah sakit, tapi sebelumnya Jelita masih harus mendapatkan perawatan pasca operasi selama beberapa hari ini.
Nathan Erland Jackson, nama yang Dylan pilih untuk putra perdananya, meski masih bayi Nathan sudah terlihat sangat tampan bahkan sangat mirip ayahnya.
Ranti bahagia memandangi menantu dan cucu kesayangannya, tapi juga sendu karena dirinya juga menginginkan kehadiran sang buah hati bersama suami terkasih.
Melihat Jelita kesulitan memegangi bayinya, Ranti mengambil alih baby Nathan dari gendongan Jelita "Biar Mami yang gendong, kamu masih sakit kan jahitannya Jeje?" Usulnya.
Jelita mengangguk "Iya Mi, terimakasih. Sekalian Jeje juga mau balas pesan Mamah," Katanya.
"Mamah Papah masih di jalan macet mereka, padahal sudah dari tadi pagi ke sini loh Mi." Lanjutnya.
"Kasian, sudah di kirim foto Baby Nathan belum?" Tanya Ranti.
Jelita mengangguk "Sudah, katanya kenapa mirip Dylan, kenapa tidak mirip opah nya?" Keduanya tergelak renyah menertawakan Marseille yang kekanak-kanakan.
Damai rasanya Ranti menatap wajah mungil Nathan sambil tersenyum "Gimana jadinya yah? Kalo Mami punya Baby? Pasti lucu kan? Om nya Nathan lebih muda darinya!" Harapannya berandai-andai.
"Mami masih bisa berusaha kan? Mami masih datang bulan kan?" Tanya Jelita.
Ranti mengangguk dengan wajah sendu, sejatinya bukan karena tidak bisa hamil, hanya saja Garry tak memberi kesempatan benih-benih ketampanannya bertumbuh pada rahim isterinya.
Suara langkah besar Dylan terdengar mendekat, membuat kedua perempuan cantik itu menoleh secara bersamaan.
Dylan duduk di sisi ranjang, bersebelahan dengan isterinya "Kalian ngomongin apa?" Tanyanya.
"Ada deh." Jawab Jelita menyengir dan Dylan manyun seakan protes.
Dylan lantas mengambil alih baby Nathan dari gendongan ibunya "Dylan mau gendong Baby Nathan Mi." Ucapnya.
Ranti menurut, memberikan Nathan pada putranya pelan-pelan "Wah wah, gantengnya anak Daddy, ini dia calon penguasa, penerus Daddy nya, ..."
Sontak Jelita menggeleng "No! Jangan sampai menerus kan mu, nanti dapet nya istri orang lagi, no!" Sanggah nya tidak setuju.
Dylan menoleh "Kenapa memangnya? Kalo pun iya dapat istri orang, asal cantik, seksi seperti mu, tidak apa-apa!" Pria itu terkikik geli setelah mengucapkannya, baginya isterinya sangat kekanak-kanakan.
"Dylan, ucapan doa loh, pokoknya aku nggak mau Nathan dapet janda! Cukup kamu sama Papi Garry ajah yang bujangan tapi dapet janda!" Jelita mencebik kan bibirnya.
Perempuan memang posesif terhadap keturunan apa lagi jika keturunannya laki-laki, meskipun masih bayi biasanya seorang ibu sudah mencita-citakan masa depan yang cerah untuk putranya.
Dylan mengecup pipi mulus isterinya kemudian menatap wajah cantik itu "Dengarkan aku sayang, penilaian laki-laki tidak sekolot penilaian perempuan, laki-laki lebih memakai perasaan saat memilih jodohnya, kenyamanan yang mereka incar, bukan status janda atau perawan." Jelasnya.
"Ya tapi Baby kita masih kecil, harusnya doain yang baik-baik Dylan." Sela Jelita protes, Ranti hanya tersenyum melihat keduanya.
"Iya, semoga Nathan selalu mendapatkan kebahagiaan, menjadi anak yang berbakti pada mu, menjadi pemimpin yang mampu memajukan perusahaan kita, menjadi laki-laki yang tidak di remehkan siapa pun juga, perkataan, tingkah laku, semua yang dia lakukan, Daddy berharap bisa menjadi penenang hati semua orang. Berbudi luhur meskipun di lahir kan dari rahim isteri Dylan Jackson." Ucap Dylan.
Ranti dan Jelita tersenyum "Aamiin. Segala yang terbaik untuk Nathan." Kata Ranti.
Kemudian setelah itu, seluruh keluarga bergantian membesuk calon pewaris tahta kerajaan Jack group.
Marseille, Mirea, dan anak-anak lainnya juga menginap untuk beberapa hari di rumah sakit, demi menemani Jelita dan bayi nya.
__ADS_1
Kebahagiaan ini juga di rasakan Anson Dwi Pangga yang masih menganggap Jelita putri kecilnya, beruntung saat membesuk Baby Nathan, Brandon sudah menggandeng calon istri pilihan Anson Dwi Pangga.
Jelita ikut bahagia mendengar berita perjodohan mantan suaminya. Semoga tidak ada lagi Jeje yang tertindas dan di selingkuhi, itu harapan wanita cantik ini.
...🖋️................🖋️...
.
.
.
"Omma, Athan love omma."
Tiga tahun sudah putra pewaris kerajaan Jack group itu mengarungi hidup sebagai baby mungil yang cerdas, cekatan, pandai menghapal, ceriwis, kritis, juga aktif.
Hari ini Nathan kecil bermain-main dengan neneknya, Ranti senang menghabiskan waktu bersama cucunya. Tak jarang Nathan juga tidur bersamanya saat Garry tak bisa pulang karena harus lembur.
"Sayang!" Dari belakang sentuhan lembut melingkar di perutnya. Garry menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher wanita itu.
"Aku mencintaimu!" Ucapnya.
Ranti tak menjawab, wanita itu justru menyingkirkan tangan suaminya kemudian meraih baby Nathan.
"Nathan, kita ke kamar Daddy saja yah, ayok sayang!" Ajaknya tapi sayangnya balita tampan itu menggeleng, sepertinya Nathan betah berada di dalam sana.
Garry menilik wajah jutek sang isteri "Neng masih marah hmm?" Tanyanya, sementara tangannya mengusap-usap pipi mulus Nathan yang seolah menjadi saksi percakapan keduanya.
Sudah beberapa hari ini Ranti selalu uring-uringan karena perlakuan Garry, berapa kali Ranti merengek minta keturunan tapi tidak juga di turuti pria itu.
"Neng! Jangan cuek dong, Abang tersiksa di cuekin begini!" Garry meraih tangan mulus isterinya.
"Terus mau kamu apa?" Tanya Ranti.
"Kok kamu sih? Aku suami mu! Kenapa setiap marah harus selalu memanggil kamu?" Tampik Garry protes.
Dari pada berdebat seperti pagi tadi, Ranti lebih memilih menggendong Nathan lalu keluar dari kamar, dan Garry mengikuti langkahnya.
"Cuma gara-gara pengen Baby Neng semarah ini hmm? Apa suami mu tidak penting? Apa hanya Baby saja yang Neng pikir kan? Apa tidak cukup kehadiran Abang hah?" Sulut Garry.
"Aku malas berdebat!" Kata Ranti kemudian mempercepat langkahnya menuju kamar putranya.
Garry mendengus "Kamu selalu begini kalo marah Neng! Lebih memilih diam! Ini lah yang menjadi cikal bakal retaknya hubungan mu dengan mantan suami mu!" Gumamnya.
Garry kembali ke kamar karena sudah terlalu lelah, setelah seharian ini ripuh dengan pekerjaan.
Baby, Baby, Baby, yang selalu Ranti inginkan namun pria itu tak pernah mau memberikan, perkara takut menyakiti isterinya.
Tidak fisik yang sakit, rupanya hati Ranti yang sakit mendapati penolakan itu.
Dalam kamar mandi Garry membersihkan diri dengan air hangat kemudian mengganti pakaian tidur setelah mengeringkan rambut basahnya.
Di atas ranjang miliknya sudah ada sang isteri yang tenggelam dalam selimut. Garry masih tak jengah untuk membujuk isterinya berbaikan.
Pria itu juga ikut memasuki selimut kemudian memeluk tubuh Ranti dari belakang, alangkah senangnya hati, rupanya Ranti memakai lingerie kesukaan nya.
"Wah, Neng Ranti ngajakin ni!" Batin Garry menyengir.
Ranti tak bersuara karena sudah memejamkan mata, setelah mengantar cucunya, Ranti bergegas mengganti pakaian tipis yang Garry sukai lalu berniat tidur.
__ADS_1
Ranti memang sengaja menggoda tapi tak berniat melayani suaminya malam ini.
"Kenapa bobok, kan sudah seksi begini!" Kata Garry sambil mengelus lembut seluruh liukan tubuh isterinya.
"Aku mengantuk!" Jawab Ranti lirih.
"Lalu kenapa pakai baju transparan? Kan Abang jadi mau, masa tega di tinggal tidur?" Protes Garry cemberut.
"Mulai sekarang tidak usah minta jatah, kalo Abang nggak berniat menghamili Neng!" Ujar Ranti ketus.
Garry mendengus "Neng masih membahas masalah ini?" Tanyanya.
Mendengar itu Ranti beringsut untuk menatap wajah suaminya "Aku mau punya keturunan dari mu, aku mau Garry. Kalo kamu tidak mau, lebih baik tidak perlu melakukannya, jelas kamu cuma mau bersenang-senang saja, tidak mau repot-repot mengurus bayi ku kan? Setelah aku tiada, apa kamu takut tidak di lirik wanita lagi karena punya bayi?" Tukasnya.
"Astaga, Neng! Kenapa selalu mengatakan tiada tiada tiada! Apa tidak bisa kamu berdoa supaya di berikan umur yang panjang dan hidup menua bersama ku?" Geram Garry saat mengucap.
Kenapa sepertinya Ranti pesimis sekali dengan usianya? Ranti masih sehat meskipun wanita itu memang menjalani beberapa treatment perawatan medis karena kondisi fisiknya yang ringkih.
Ranti memutar tubuhnya membelakangi suaminya kembali dan terdengar suara isak setelah itu. Mendengar bentakan Garry membuat wanita ini merasa kesakitan.
"Maaf kan aku!" Garry sadar nada berang yang dirinya keluarkan menyakiti isterinya barusan.
Garry mengecup leher jenjang Ranti kemudian beralih ke punggung dan memulai menyerang wanita itu dari belakang.
Tak perduli dengan isakan isterinya, tangan Garry terus bergentayangan ke sana kemari menyusuri setiap lekuk tubuh wanita itu.
Isak pun kini berubah menjadi desah, meskipun awalnya menolak pada akhirnya Ranti menyerah.
Ranti meremang merasakan setiap sentuhan lembut suaminya "Aku menyerah lagi, karena sentuhan melayang ini." Batinnya.
Garry tak mau berlama-lama melakukan pemanasan karena dia ingin cepat mengakhiri permainan kali ini.
Kali ini pula Garry tak perlu membuka kain penutup isterinya, hanya sedikit saja di geser tali kecil itu sang junior sudah bisa masuk ke dalam liang surga dunia isterinya.
Sesuatu yang selalu menjadi alasan utama mengapa dirinya menyempatkan untuk pulang di sela kepadatan jadwal kerjanya.
Ranti sedikit bingung karena tidak biasanya Garry langsung tancap gas, biasanya melakukan pemanasan saja bisa sampai setengah jam. Ranti bahkan di buat berulang kali mengeluarkan cairan nikmatnya.
Namun kali ini, hanya satu gaya yang Garry berikan, entah kenapa Ranti seperti protes karena permainan kali ini tidak membuatnya puas.
Bahkan belum sempat dirinya mencapai puncak surga dunianya Garry sudah menembak rahimnya dengan sesuatu yang hangat.
"Abang!" Ranti membulatkan matanya ketika Garry semakin menenggelamkan miliknya bahkan saat mencapai puncak.
Ranti memang tidak puas menerima permainan Garry kali ini tapi tergantikan dengan siraman hangat yang membuatnya tersenyum bahagia.
"Hmmh?" Garry terengah-engah saat menjatuhkan tubuhnya di sisi isterinya.
Kecupan lembut pun Garry berikan pada kening wanita itu "I love you," Ucapnya.
"Kamu membuangnya ke dalam kan? Aku tidak salah kan?" Ranti menggebu-gebu menanyakan itu.
Garry mengangguk "Itu untuk mu, istri ku!" Katanya sembari mengusap lembut pipi wanita kesayangannya.
"Terimakasih, mulai sekarang kita berusaha kan? Punya baby hmm?" Sambung Ranti.
"Iyah." Angguk Garry.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
__ADS_1