Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Tahan!


__ADS_3

"Dia milikku!"


"Kalo begitu, kenapa tidak kau nikahi saja janda cantik itu? Atau Daddy yang lebih dulu menikahinya!"


Kepalan tangan di kerah Edbert semakin terik, ingin rasanya memberi pelajaran pada laki-laki pecinta seribu wanita ini.


Namun, sekelebat bayangan masa kecilnya saat bermain main bersama laki-laki paruh baya ini melintasi pikiran.


Dylan hempas kecil tubuh tinggi besar sang Casanova lalu keluar dari ruangan itu dengan usungan rahang yang keras.


Edbert tersenyum miring menatap berlalunya punggung gagah putra semata wayangnya. Pada akhirnya dirinya mampu membuat sang pewaris menginjakkan kaki di rumah besarnya kembali.


"Dylan, putra ku, menikah lah, tapi ingat, setelah masuk ke dalam rumah ini, jangan harap bisa keluar lagi." Gumamnya.


...🖋️................🖋️...


Tiba di luar pandangan Dylan mengedar namun kemudian ia memutuskan untuk berjalan kearah kanan, di mana pintu-pintu tinggi berderet selaras.


Bangunan megah nan luas itu masih sama seperti belasan tahun yang lalu hanya saja sekarang Dylan tak tahu siapa saja penghuni pintu-pintu itu.


Yang pasti ada Jelita di balik salah satu pintunya, masih menjadi tawanan sang Casanova.


BRAK!


Dylan menyidak satu persatu seluruh ruangan di lantai tersebut, mencari sosok cantik pujaan hatinya.


Meskipun tak pernah muncul di hadapan Jelita, Dylan masih aktif mengawasi wanitanya.


Tak ada yang boleh menyakiti, menyentuh, atau pun memiliki Jelita selain dirinya saja.


Di sepanjang perjalanan melewati lorong megah itu pelayan dan pengawal berjajar sigap namun tak berani menegakkan kepalanya walau hanya sesaat.


Dylan memang mewarisi sifat arogan ayahnya, beruntung dia tak menuruni gelar Casanova nya.


Terbukti, sudah bertahun-tahun lamanya Dylan hanya mampu mencintai Jelita saja.


Sampai di sebuah kamar yang terlihat kosong namun gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi dan sedikit membuat Dylan penasaran ingin menyidak ruang kecil mewah itu juga. Langkanya ia percepat kemudian mengayunkan kakinya ke depan.


BRAK!


Kening mengerut saat melihat sosok cantik hanya berbalut handuk kecil di tubuhnya, adalah Bella mutiara wanita yang sangat ia kenal dan sudah tak bersua belasan tahun lamanya kini berdiri menatap kaget ke arahnya.


"Dylan!" Wanita sepantaran dirinya itu menampilkan binar bahagia ketika melihat lelaki tampan ini.


Tanpa menjawab sapaan Bella, Dylan melangkah pergi dari tempat itu namun, rupanya wanita itu tak membiarkan dirinya berlalu begitu saja.


"Dylan!" Sosok cantik itu menghalangi jalan Dylan lalu tersenyum tepat di hadapannya sekarang.

__ADS_1


Ada gurat kerinduan di wajah Bella, dia bahkan tak malu-malu memamerkan belahan dada indahnya pada pria bule ini "Kamu pulang? Sejak kapan? ..... Aku merindukan mu Dylan!" Katanya lalu meletakkan telapak tangannya pada dada bidang pria itu.


Dylan menaikan satu alisnya sembari melirik tangan mulus itu "Singkirkan tangan mu dari ku!" Ucapnya ketus.


Inilah alasan laki-laki tampan ini tak mau kembali ke rumah utama milik Edbert Jackson.


Bagaimana tidak? Empat belas tahun yang lalu Dylan mendapati wanita itu bergumul dalam satu selimut dengan ayahnya sedang Bella masih menjadi kekasihnya kala itu.


Tak ayal, Bella memang cinta pertama yang Dylan bicarakan pada Jelita dulu, Bella lah gadis pertama yang mampu menyinggahi hati kosong nya lima belas tahun yang lalu namun naasnya sang ayah justru menjadikan Bella ibu tirinya.


"M-maaf, aku, hanya, ...." Belum lagi rampung ucapan wanita itu Dylan sudah melanjutkan langkah kembali.


"Ah, Dylan." Tiada angin tiada hujan tiba-tiba saja wanita itu terduduk, tepat di depan kaki gagah Dylan.


"Kakiku terkilir Dylan, hiks hiks." Keluh nya memelas sambil sedikit menyibak handuk di bagian pahanya keatas.


"Apa kau tidak malu? Kau istri Daddy ku, lalu bersikap seperti ini pada putra suami mu!" Bengis Dylan dengan bibir mencibir penuh cemoohan.


"Minggir!" Dylan sedikit menyengkat kakinya seolah jijik lalu melangkah keluar dari kamar tersebut meninggalkan Bella dalam keadaan bergeming. Bagi lelaki ini tiada yang lebih penting dari pada Jelita Maharani saja.


...🖋️................🖋️...


Tinggal satu lagi kamar yang belum Dylan sidak, tanpa pikir panjang lelaki itu pun segera berjalan ke arah pintu tersebut.


Namun, sayangnya terkunci. Dalam sekedipan mata pintu dibanting terbuka.


BRAK!


"Dylan!"


Rasa khawatir yang diiringi rasa takut membuat keduanya saling mendekat dan menghambur pelukan satu sama lain.


"Syukurlah kau datang Dylan!" Ucap Jelita.


Dalam sekejap t-shirt putih milik laki-laki itu di basahi air mata wanitanya bukan tangis ketakutan tapi tangis rindu.


"Kenapa lama sekali? Kenapa baru sekarang kamu menemui ku! Apa kau tidak merindukan ku?" Dalam dekapan hangat Dylan Jelita memukuli dada bidang lelaki itu.


"Cengeng!" Umpat Dylan sambil melepas senyum ejekan "Kau yang menyuruh ku pergi, kau yang memutuskan hubungan kita, kau yang memilih untuk hidup sendiri tanpa tekanan dari pasangan!" Lanjutnya menyindir.


"Bodoh! Aku kira kamu mau berusaha memperjuangkan ku, ternyata justru benar-benar pergi meninggalkan ku, ucapan cinta mu cuma omong kosong sama seperti E'den!" Jelita melengkungkan bibirnya ke bawah sambil terisak dalam dekapan kekasihnya.


"Jangan samakan aku dengan laki-laki peselingkuh itu! Aku hanya mencintai mu saja Jelita!" Dylan menekan rengkuhan tangannya pada tubuh mungil nan seksi itu.


"Aku melamar mu! Sekarang juga kita menikah, sebelum Daddy merebut mu dari ku!" Tegas Dylan.


"Hah?" Jelita mencoba merenggangkan pelukan laki-laki itu lalu mendongak menatap polos ke arahnya "Daddy mu, merebut ku? Maksudnya?" Tanyanya.

__ADS_1


"Dia biasa menikahi gadis cantik, aku takut dia juga menikahi mu!" Ketus Dylan.


Tanpa menggerakkan sedikitpun kepalanya pupil mata Jelita mengedar seperti memikirkan sesuatu "Emm, Om Edbert baik sih, jadi, dia juga menyukai ku Dylan?" Tanyanya menatap penasaran kekasihnya.


Dylan berkerut kening "Kenapa memangnya?"


"Boleh juga kalo aku jadi isterinya! Om Edbert kaya raya, ganteng, hot Daddy banget orangnya, kamu ganteng begini juga sisaan dia!"


"Jelita!" Dylan mempertajam tatapannya.


"Hehe, ..." Wanita itu memperlihatkan deretan gigi yang sedikit bergingsul.


"Aku merindukan mu!"


Dylan cubit belahan dagu milik Jelita lalu mendaratkan pagutan basah pada setangkup bibir lembut wanita itu. Rindu yang merayap mulai menuntut sesuatu.


Jelita hening meskipun debaran jantungnya sedikit tak beraturan lantaran tangan nakal itu mulai menjajah setiap liukan risa miliknya.


Tak mampu melawan, lagi pun apakah harus di lawan? Kenyataannya Jelita sudah sangat menginginkan itu, selama ini Jelita hanya bisa berfantasi saja melalui film-film yang dia tonton untuk memenuhi kebutuhan hasratnya secara mandiri.


Tanpa melepas penyatuan bibir mereka, perlahan kaki Jelita berjalan mundur oleh dorongan tubuh atletis laki-laki ini, hingga tiba di sisi ranjang Dylan membalikkan posisi menjadi dirinyalah yang membelakangi tempat empuk itu.


Lagi-lagi tanpa melepas pagutan basahnya, Dylan duduk lalu menarik janda cantik itu untuk merangkum tubuhnya dalam pangkuan, meski sudah tak kuat menahan sesak dalam celana jeans hitamnya, Dylan tak perduli biar khilaf ini dia yang menanggung dosanya, menunggu menikah pun masih lama.


Harus melewati ritual melamar, prewedding, juga mempersiapkan segala sesuatunya berbulan-bulan. Ah, rasanya itu terlalu lama, jika Jelita mau malam ini juga akan dia tembus dinding pertahanan janda muda nan seksi ini.


Sebelah lutut Jelita sudah mendarat pada paha laki-laki itu sambil meremang merasakan tangan besar Dylan yang perlahan merayap pada gundukan padat di bagian belakang tubuhnya.


Napas Jelita mulai bergemuruh, ada denyutan yang tiba-tiba meronta di lubuk inti tubuhnya menuntut sesuatu yang lebih "Tahan Jeje, tahan sedikit, dia belum menikahi mu!" Dalam batinnya Jelita merutuki dirinya sendiri kenapa harus mengikuti alur romansa yang Dylan ciptakan.


Brugh!


Tubuh kecil itu sudah beralih posisi menjadi di bawah tubuh pria tampan ini dengan bibir yang masih terus membelit satu sama lain.


Bahkan sekarang tangan mungil Jelita sudah berani meremas dada bidang milik Dylan.


"Ekm ekm." Suara itu berhasil mengembalikan kewarasan Jelita seketika itu juga.


Jelita dan Dylan berjingkrak sambil menoleh secara bersamaan ke arah suara.


Di lihatnya sosok wanita paruh baya berwajah damai berdiri menatap kegiatan romansa keduanya sambil melipat tangan kedepan dada.


"Mami, ..." Sontak Dylan membulatkan matanya.


"T-tante." Pipi Jelita kian memerah, alangkah malunya ia terpergok oleh calon mertuanya.


"Jadi putra ku datang bukan untuk wanita tua ini?" Ucap Ranti menyindir.

__ADS_1


Sementara di balik dinding kamar itu Bella menekan kepalan tangannya. Rupanya Jelita alasan Dylan mau menginjak rumah besar ayahnya kembali.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2