Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Akhirnya


__ADS_3

"Jadi kau menjebak ku? Kau sengaja membuat ku korupsi begitu?" Pekik Hendra melotot.


Yah, dari balik jeruji besi yang di lapisi kaca berlubang lelaki itu sengaja berteriak pada adik tirinya.


Dylan berdiri tepat di hadapannya dengan kedua tangan yang di sembunyikan ke dalam saku celana "Bukan aku yang menjebak mu, tapi sikap rakus mu yang tak membiarkan uang milliaran tersia-sia di luar data." Ucapnya dengan senyum seringai.


"Bajingan kamu! Adik tidak tahu di untung! Awas saja kau, takkan ku biarkan keluarga mu hidup tenang! Setelah apa yang sudah kau lakukan pada ku dan ibu ku!" Ancam nya.


"Kau tahu, majunya perusahaan mu karena ada aku dan ibu ku! Bukan ibu patung mu!" Umpat Hendra dalam kemurkaan.


Mendengar itu tangan Dylan mengepal erat, ingin sekali rasanya menghancurkan penyekat di antara mereka lalu membunuh lelaki itu dengan tangannya sendiri. Ocehan sarkas tertuju pada Ranti dan dirinya tapi Dylan tetap berusaha tenang.


Ada pembalasan yang lebih menyiksa dari pada kematian, biarkan lah Hendra menerima ganjaran sesuai undang-undang.


Masih mengusung semburat berang, Dylan memutar tubuhnya kemudian melangkah panjang keluar dari ruangan, ia kembali mendekati pengacara handal nya yang masih setia menunggunya "Urus semuanya, setelah ini, aku masih harus mengurus keluarga ku!" Titahnya.


"Baik Tuan." Lelaki itu menunduk segan.


...🖋️................🖋️...


Di balik jeruji besi Hendra meronta namun tak seberapa mampu untuk keluar dari lingkaran nista itu.


Lihat lah Hendra, kau hancur, masa depan mu di balik jeruji besi ini, dengan penyakit yang mungkin akan memakan tubuhnya secara perlahan.


Dia lebih bejat dari pada ayah tirinya, setidaknya Edbert selalu menikahi wanitanya sedang Hendra hanya bersenang-senang dengan wanita-wanita jalaang nya.


"Huaaaaaa!!" Teriaknya.


Hai, siapa yang akan mendengar? Siapa yang akan perduli? Bahkan ibunya pun sudah ikut menjadi tersangka sekarang, kekasih yang sedang hamil anaknya pun sudah tak lagi bisa di jadikan pemuas nya. Hina dina sekali kau Hendra, ada nurani yang mengumpat dirinya di balik kemurkaan itu.


...🖋️................🖋️...


Di sebuah villa mewah, lelaki gagah paru baya itu tengah bergeming dengan pergulatan batin.

__ADS_1


Wajahnya ia arahkan pada kaca jendela besar yang menyuguhkan pemandangan pantai. Edbert sudah keluar dari rumah sakit, tapi tak mau kembali ke rumah besarnya.


Pria itu lebih memilih untuk tinggal di salah satu villanya, di tepi pantai daerah Anyer. Yah, di sanalah Edbert ingin menghabiskan waktu-waktu terakhirnya. Lelaki itu sudah pesimis untuk bisa melanjutkan hidup seperti sedia kala.


Edbert sadar dia sudah bukan pemuda lagi, tubuhnya sudah rapuh seiring berkurangnya usia, maka pertahanan tubuhnya pun tidak sekuat milik Hendra, lihat lah Edbert bahkan lebih cepat terdeteksi HIV karena gejala yang lebih terlihat.


Mendengar berita penghianatan Bella, Mila dan juga Hendra lumayan membuatnya kesakitan. Sakit hatinya begitu kuat hingga tak mampu lagi menitihkan air mata, hanya geming hening senyap sepi yang dirinya presentasi kan di atas kursi goyang miliknya.


Suara langkah kaki terdengar mendekat, Edbert tahu betul suara ketukan indah itu dari kaki-kaki mungil isteri pertamanya, akan tetapi Edbert tak ingin menoleh pada wanita cantik itu.


"Edbert, ..." Panggil Ranti.


"Hmm?"


"Kenapa kamu malah ke sini? Kenapa kamu tidak pulang lagi ke rumah kita? Aku masih harus bolak-balik mengurus panti asuhan ku. Kita pulang yah, aku sudah siap kan mobil." Bujuk Ranti pelan. Entah lah setelah kejadian ini Ranti justru menjadi iba pada pria peselingkuh itu.


"Aku mau di sini. Aku tidak perlu belas kasihan mu, aku akan menghabiskan sisa hidup ku di sini, sendiri." Kata Edbert.


Edbert melepas smirk "Kau sudah terbiasa tanpa ku, Ranti." Ucapnya.


"Menikah lah lagi, aku menceraikan mu, sekarang, kau bukan lagi istri ku!" Timpal Edbert lolos kata-kata itu lolos pula buliran bening yang menggelinding ke pipi berjambang nya tanpa Ranti ketahui.


"Edbert!" Pekik Ranti.


Dia yang semula menuntut perceraian tiba-tiba tak rela melepas pria itu dalam keadaan seperti sekarang ini "Apa kau sadar dengan ucapan mu? Kau yang bilang sendiri, aku istri kesayangan mu, takkan pernah kau menceraikan ku, lalu sekarang kau menalak ku?" Desak nya, wanita itu pun meloloskan buliran sebening embun pagi dari sudut netra nya.


"Ini balasan yang setimpal untuk ku, yang telah menyia-nyiakan mu selama ini, aku tahu kesakitan mu dan tak pernah berniat berhenti dari kegilaan ku, aku laki-laki yang pantas hidup dengan balasan seperti ini." Ujar Edbert tanpa sedikitpun menggerakkan kepalanya.


"Menikah lah lagi, aku sudah bukan suami mu! Sebentar lagi pengacara ku akan mengurus semuanya. Pulang lah ke rumah putra kita." Tambahnya.


Ranti bergeming, menatap punggung lelaki itu, Edbert benar-benar tak mau menoleh barang sebentar padanya.


Baru saja Ranti akan mendekat, Edbert sudah lebih dulu bersuara nyaring "Bawa Nyonya besar kalian keluar dari sini!" Titahnya.

__ADS_1


Dua orang bertubuh besar yang sedari tadi bersiaga di sisi pintu bergegas meringkus Ranti dan memaksa wanita itu keluar dari kamar milik Edbert.


"Edbert! Biar kan aku merawat mu! Edbert!" Racau wanita itu menangis tanpa raungan, sesak yang Ranti rasakan tak sebanding dengan yang Edbert rasakan. Lelaki itu pun lebih kesakitan atas penderitaan ini. Ganjaran, mungkin itu yang sedikit membuat Edbert lebih ikhlas menerima.


Dylan yang baru saja datang, gegas menangkap tubuh lunglai ibundanya "Mami, Mami kenapa hmm?" Tanyanya. Di seka nya air mata ibunya dari pipi mulus itu.


Ranti sudah terjatuh dalam dekapan hangat putranya sekarang "Daddy mu menceraikan ku, Dylan. Bagaimana bisa dia hidup sendiri dalam kondisi seperti ini?" Isak nya penuh ironi.


Dylan mendudukkan tubuh ibunya pada sofa empuk di sisi ruangan "Mami tetap di sini, Dylan harus menemui Daddy." Ucapnya.


Kemudian ia memasuki kamar ayahnya dan Edbert masih dalam posisi yang sama yaitu bergeming dengan tatapan yang melekat pada lautan.


"Daddy." Panggil Dylan pelan. Pria itu berdiri di belakang tubuh ayahnya.


Edbert melepas smirk "Apa kau ke sini, mau mencaci Daddy mu Dylan? Atau mau menertawakan Daddy?" Tanyanya. Suaranya terdengar meremehkan dirinya sendiri.


"Seharusnya Daddy tidak pergi dari rumah, Daddy masih bisa menjalani perawatan di rumah kita. Kenapa harus di sini?" Dylan masih ketus saking geramnya, bahkan sudah dalam keadaan seperti ini saja Edbert masih keras kepala.


"Aku sudah menceraikan Mami mu, Daddy tidak lagi pantas tinggal satu atap dengan nya." Jawab Edbert.


"Ada mantan istri, tapi tidak ada mantan anak, aku menuntut mu untuk menghidupi ku di sini, semua kekayaan yang ku kumpul kan pada akhirnya menjadi atas nama mu. Daddy hanya meminta hak untuk di rawat saja, tidak meminta lebih dari itu. Biar kan Daddy hidup sendiri di sini, kau cukup membayar orang-orang ku untuk merawat ku!" Pinta Edbert.


Dylan hening, menatap pilu punggung ayahnya, sempat terpikirkan untuk menyatukan kedua orang tuanya, tapi rupanya pada akhirnya harus berujung perceraian.


Tak mampu menampik karena jika itu terbaik untuk semua kenapa harus di cegah? Dylan pasrah jika pada akhirnya harus melihat Ranti menjadi janda dan Edbert menjadi duda meski dalam hati yang masih saling terpaut cinta.


Tuhan mungkin sudah mentakdirkan Edbert menjadi pria kesepian setelah sekian lama menjadi pria yang di kelilingi para wanita.


"Pulang lah, bawa ibu mu pergi dari sini, jika nanti ada yang melamarnya, relakan dia menikah lagi, Dylan." Kata Edbert dan bersamaan dengan itu air mata terjun bebas menyelusup pada jambang ketampanannya.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


...Alhamdulillah, bisa Up gais, terimakasih yang masih setia menunggu cerita ini juga yang sudah mendoakan kesembuhan ku, semoga kalian juga sehat selalu 🤗...

__ADS_1


__ADS_2