Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Goresan.


__ADS_3

"Sebenarnya, kenapa kamu melakukan ini semua Dyl? Kenapa kamu terus mengikuti ku? Apa pekerjaan mu sebenarnya? Kenapa selalu ada waktu untuk ku? Siapa yang memberi mu uang? Apa aku boleh tahu asal-usul mu?" Tanya Jelita berturut.


"Apa kau bersedia menikah dengan ku?" Bukanya menjawab Dylan justru berbalik tanya.


"Dylan, aku serius!" Sambung Jelita.


"Aku juga serius Jelita!" Tegas Dylan "Kalo kau mau ku nikahi, aku akan memberitahu kan semua identitas ku pada mu." Lanjutnya.


Jelita menautkan alisnya "Gimana bisa begitu Dyl? Aku ini istri orang, aku, ...."


"Dan aku akan merebut mu dari suami mu!" Sela Dylan memangkas ucapan wanita itu.


"Hh?" Jelita melepas smirk "Apa kamu gila Dylan?" Tanyanya heran.


"Kamu ini kaya raya, gagah, tampan, tinggi, lalu untuk apa mengejar wanita seperti ku?" Imbuhnya.


"Dan kamu cantik, seksi, menarik, cuma wanita seperti mu yang pantas bersanding dengan ku!" Sela Dylan lagi.


"Gila kamu yah?" Jelita semakin mengerutkan keningnya menatap dalam-dalam wajah tampan yang sering menggoyahkan hatinya.


"Baru tahu hmm?" Dylan terus menyela sahutan demi sahutan wanita itu "Aku sudah lama tergila-gila pada mu Jelita Maharani tetangga ku!" Jelasnya, suara berat Dylan selalu terdengar mesra di telinga Jelita.


"Akan ku sembuh kan luka mu, dan merebut mu dari suami mu!" Timpal Dylan penuh kepastian.


"Bahkan kamu sudah mengakui kelebihan ku bukan? Aku yakin bisa membuat mu jatuh cinta pada ku." Dylan melangkah mendekat dengan kedua tangan yang bersembunyi di balik saku celana bahannya.


Membuat Jelita membulatkan matanya penuh sambil sedikit melangkahkan kakinya ke belakang secara berlahan. Canggung ini sudah sering Jelita rasakan berpuluh-puluh kali saat Dylan mengusung tatapan penuh arti padanya.


"K-kamu m-mau apa Dyl." Jelita tersudut di juntaian gorden hitam itu.


Debar jantung yang tak beraturan mulai mengiringi kedipan mata Jelita saat menatap wajah pria tampan itu mendekati dirinya.


Bahkan sekarang aroma maskulin dari balik t-shirt putih tipis milik Dylan yang sangat ketat itu mulai tercium hingga menusuk hidung minimalis nya.

__ADS_1


Matanya mengikuti gerakan tangan kanan Dylan yang bertumpu di atas kepalanya lalu beralih pandang ke arah wajah Dylan yang sudah sedikit miring dan hampir tak berjarak.


"Akan ku yakin kan perasaan mu dengan ini." Dylan terus mengikis jarak di antara mereka.


Cup!


Sayangnya, kain gorden yang tertiup angin menghalangi kedua bibir yang saling berkonfrontasi itu.


"Dylan!!" Dada bidang pria itu Jelita dorong sekeras mungkin "Ah aw!" Setelah itu justru Jelita yang berkeluh meringis menegangi perut nya.


"Kenapa hum?" Dylan panik seketika itu juga.


"Luka jahitan ku, sakit!" Ringis Jelita.


"Hati-hati makanya." Dylan reflek menilik bagian tubuh yang Jelita keluhkan.


"Mundur kamu! Jangan coba macam-macam pada ku!" Berang Jelita menangkis tangan besar laki-laki itu.


"Aku ini istri orang Dylan! Tapi barusan kamu mencium ku huh? Apa di mata mu aku wanita murahan begitu?" Sungut Jelita.


"Kenapa dari awal kamu tidak menolak nya? Dari tadi kamu diam saja, aku kira kamu setuju." Sela Dylan enteng.


"Auk ah!" Jelita melangkah pergi namun belum sempat menjauh Dylan sudah lebih dulu menarik tangannya secara impulsif hingga keduanya saling berkonfrontasi kembali. Jelita melihat senyum masih tersungging di bibir laki-laki penggoda iman itu.


"Dyl, ..." Lirih nya penuh tekanan seakan membujuk untuk tidak menggodanya terus menerus, atau pertahanan nya bisa runtuh.


"Kamu bukan wanita murahan Jelita, yah aku tahu itu, tapi maaf, di sini aku yang brengsek!" Dylan kembali meraih tengkuk wanita itu dan mendaratkan bibirnya di sana dengan mata yang terpejam.


Jelita hening sebegitu lamanya, bahkan matanya tak berkedip terus mengamati wajah Dylan dari jarak yang sedekat itu.


Dylan hanyut dalam permainan bibirnya sendiri, benda kenyal itu terus menggerilya memberi jejak basah pada setangkup bibir lembut senikmat es krim milik Jelita.


"Oh Tuhan, jadikan dia milikku seutuhnya!" Harap dalam batin Dylan sambil meremas punggung lentik Jelita berusaha menciptakan gelenyar candu wanita itu.

__ADS_1


"Why Jeje? Ayo dorong dia!" Jelita merutuki dirinya sendiri akan tetapi tubuhnya tak mampu beringsut, dirinya terus pasrah menikmati alur yang Dylan ciptakan.


Goresan dari bulu-bulu di sekitaran bibir Dylan begitu menggelitik, tak bisa wanita itu pungkiri Jelita juga sangat menikmati itu, rasa kecupan nya berbeda sekali, ada sensasi lain dari yang selama ini Brandon berikan padanya.


"Emmphh, ...."


Setelah menyadari wanitanya membutuhkan oksigen Dylan baru melepas secara perlahan bibirnya lalu menatap wanita itu sebegitu dalamnya. Ada giris lain yang ia tangkap dari mata Jelita.


"No! Sudah ku bilang, bukan kamu yang murahan Jelita, tapi aku yang brengsek! Aku terlalu terobsesi pada mu! Obsesi ingin membahagiakan mu Jelita!" Ucap Dylan dengan suara berat yang terdengar sangat mesra.


Tak ada sahutan sepatah katapun dari wanita itu, Jelita kemudian membalikkan badannya lalu berlari kecil memasuki kamar miliknya.


BRAK!


Di letakkan nya punggung lentik itu pada permukaan pintu sedang tangannya mengusap lembut bibirnya "Oh Tuhan, kenapa aku melakukan ini? Lalu apa bedanya aku dengan E'den sekarang?" Gumamnya lirih penuh sesal.


"Kenapa aku harus bergantung padanya sekarang? Aku bahkan tak mengenal asal-usul nya sama sekali! Bagaimana kalo ternyata dia benar-benar mafia?" Timpal nya.


"Oh Tuhan! Tolong hamba mu!" Jelita berusaha tak terpaut pada hati lelaki yang belum terlalu ia kenal akan tetapi sisi lainnya mengutarakan bahwa pria yang selama ini dia kenal justru selalu memberikan luka sedang Dylan si pria misterius itu terus berusaha menyembuhkan lara.


"Tapi bibir Dylan, ...." Sembari menyentuh bibirnya Jelita memejamkan mata berusaha mengingat kembali rasa nikmat yang barusan ia rasakan. Bahkan bulu-bulu di sekitaran bibir Dylan masih dapat ia rasakan goresannya.


"Aw, aw." Jelita meringis saat merasakan nyeri pada bagian luka bekas jahitan di perut nya.


"Aku istirahat saja dulu!" Jelita bergumam sambil mengelap keringat dingin pada dahi yang entah sejak kapan mengembun di sana.


Wanita itu lantas memasuki selimut tebal putih miliknya lalu berusaha memejamkan mata memasuki alam mimpi, entah lah apa yang akan terjadi setelah ia terbangun.


Setelah ciuman pertamanya bersama Dylan, Jelita tak yakin akan terus bisa tinggal berdekatan dengan lelaki itu, canggung sudah pasti akan terjadi di antara mereka setelah ini.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


...Eh nyicil yak gais, aku masih dalam tahap revisi, dan pergeseran bab. Jadi harap maklum, ini aku serius kok nulis ini, haha, dan mohon maklum klo ada scene yg sedikit menyimpang, hehe, ya itu alur cerita ku memang begitu ya gais. See you next episode 🤗...

__ADS_1


__ADS_2