
"Neng!"
Tepat di sisi mobil milik Ranti, Garry meraih tangan mulus wanita itu hingga keduanya berkonfrontasi kembali.
Ranti hempas tangan Garry kasar "Kamu ini kenapa sih?" Berang nya.
"Kenapa harus bertanya terus? Aku menyukai mu, aku senang berada sedekat ini dengan mu." Ucap Garry, ujuk-ujuk wajahnya menunjukkan gurat serius hingga Ranti mampu merasakan tatapan yang begitu masuk ke dalam jiwanya.
"Kamu tahu aku punya suami bukan?" Tanya Ranti dan lelaki itu mengangguk.
"Lalu kenapa kamu bersikap seperti ini padaku? Apa aku terlihat seperti Tante girang yang suka menggoda para pria muda?" Sungut Ranti.
"Aku menyukai mu bukan sebagai Tante, tapi sebagai wanita, aku tidak pernah menganggap mu lebih tua dari ku. Perasaan ku datang begitu saja, bukan aku tak mencoba mangkir, tapi sekuat apa pun aku masih terus menyukai mu." Jelas Garry dengan wajah serius.
Ranti melepas smirk "Kamu masih muda, cari lah perempuan yang usianya di bawah umur mu, paling tidak dengan wanita dua puluh tiga tahun, aku ini istri orang Garry." Tekan nya.
"Bahkan di usia ku yang masih muda saja aku di campakkan setelah menyusui bayi ku. Akan ada fase di mana istri mu terlihat tidak menarik lagi. Kita tidak sepantaran, sebentar lagi mungkin aku menopause, sementara bersamaan dengan itu kamu masih menjadi laki-laki yang haus cinta. Aku lebih pengalaman dari mu! Pergilah, cari gadis cantik yang bisa membuat mu bahagia bahkan setelah hamil dan menyusui, aku bukan orang yang tepat untuk mu." Ranti sudah akan membuka pintu mobil miliknya, Namun.
"Ranti,." Garry meraih kembali lengan wanita itu "Aku dokter, tentu saja aku tahu tentang hal itu, aku siap menemani mu sampai ajal memisahkan, melihat wajah mu saja aku damai, jangan samakan aku dengan suami mu. Aku berbeda." Cetus nya.
"Siapa yang bisa menjamin? Dulu suami ku juga berkata manis seperti mu, sebelum aku berubah kusut. Lalu setelahnya dia terus meminta izin menikah lagi."
Garry terdiam, sudah tak mampu meyakinkan lagi dengan kata-kata bahwa perasaannya benar-benar tulus adanya.
"Tolong hentikan kegilaan mu, cari pasangan yang baik dan setara untuk mu." Ranti membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk di jok bagian belakang.
Belum sempat pintu tertutup Garry menundukkan wajahnya menatap dari ambang sana "Aku masih akan menunggu mu." Pria itu meletakkan boneka merah muda pada pangkuan Ranti "Setidaknya terima ini." Garry tersenyum kemudian menutup pintu mobil milik Ranti.
"Jalan Pak!" Ranti memberi titah kepada sopirnya kemudian matanya melirik ke arah spion luar mengamati wajah sendu Garry yang masih menatap berlalunya mobil itu.
Tak sedikitpun punya niat untuk menikah lagi, masih bertahan dengan hubungan yang lama saja karena alasan tertentu. Bahkan tiada rasa cinta lagi yang bisa dia presentasikan untuk siapa pun selain dari pada kehidupannya yang sekarang.
Ranti ingin menikmati hidup sebagai wanita yang mencintai dirinya sendiri, sudah lama dia hidup demi orang lain, demi putranya demi suaminya, demi orang tuanya, bosan, dia sendiri saja bosan apa lagi orang lain. Ranti memilih hidup seperti sekarang ini, bebas tanpa aturan dari siapa pun.
...🖋️................🖋️...
Tiba di rumah besarnya, kemesraan putra bersama menantunya menyambut, terlihat Dylan sudah bercanda gurau dengan isterinya di bangku taman halaman depan.
__ADS_1
"Ekm ekm. Pengantin baru romantis nya."
Dylan mendongak menatap ibunya "Kenapa baru pulang Mi?" Tanyanya.
Dylan memang tidak tahu menahu tentang Ranti yang sering bolak-balik ke rumah sakit. Setahunya Ranti bolak-balik ke beberapa yayasannya.
"Ada banyak urusan." Jawab Ranti singkat "Sudah, kalian lanjut lagi saja mesranya. Mami mau langsung mandi." Pamitnya.
Jelita dan Dylan mengangguk sambil tersenyum.
...🖋️................🖋️...
Tiba di kamar Ranti meraih sakelar yang tersemat di sisi pintu, bersamaan dengan terangnya kamar matanya menangkap sosok tinggi suaminya berdiri tepat di depan tubuhnya dengan tangan yang di cekal ke belakang.
"Edbert. Kau di sini?" Ranti bingung karena sebelumnya Ranti tak memberi tahukan sandi pintunya pada Edbert, lalu tiba-tiba saja Edbert berdiri di kamarnya.
"Hmm."
"Kamu tahu sandi ku?" Berkerut kening Ranti menatap tajam suaminya.
"Aku suami mu!"
"Tentu saja menemui istri ku! Mulai dari malam ini juga aku tidur di sini dan untuk selamanya!" Putus Edbert.
Ranti berkerut kening masih heran dengan perlakuan tiba-tiba Edbert padanya tapi masih tak mau protes "Terserah, aku mau mandi." Jawabnya kemudian melengos pergi
"Sejak kapan putra Mario mengejar mu?" Tiba-tiba saja Edbert menyeletuk dan berhasil menghentikan langkah Ranti.
Wanita itu menoleh "Jadi kamu serius mengawasi ku, Edbert?" Tanyanya menyudutkan.
"Bisa tidak jawab dulu pertanyaan ku, baru boleh kamu bertanya balik!" Sela Edbert ketus "Sejak kapan putra Mario mengejar mu?"
"Sekitar tiga tahun mungkin." Jawab Ranti jujur. Berbohong pun untuk apa, toh Edbert sudah pasti akan menelisik dengan cara lain.
"Apa kau menyukainya?"
"Sayangnya tidak, jika saja bisa aku menyukainya, mungkin sudah sejak lama aku menerima nya."
__ADS_1
Panas hati Edbert mendengar jawaban datar isterinya. Apakah seingin itu Ranti melupakannya? Hingga terucap kalimat pengandaian itu?
"Apa karena kamu masih mencintai ku?" Tanya Edbert mengorek.
Ranti mengangkat bahunya "Mungkin!"
"Lalu kenapa tidak pernah sekalipun kamu menemui ku? Kenapa sepasrah itu kamu selama ini?" Sudut Edbert lagi dan lagi.
"Maksud mu?"
"Bukan kah kau masih istri ku? Tapi selama ini kau melimpahkan semua tanggung jawab mu sebagai seorang istri pada Mila dan yang lainnya." Nada Edbert sudah naik satu tingkat.
"Kenapa memangnya? Kenapa jadi aku yang salah? Bukanya kau menikmati nya?"
"Kamu tahu aku tidak sempat mendatangi mu, pagi harus ke kantor banyak pekerjaan sampai larut malam, setidaknya kau menemui ku sekedar untuk melepas rasa lelah ku, tapi kau justru menikmati hidup tanpa ku!" Bentak Edbert.
"Lalu apa mau mu? Bercerai?" Tantang Ranti dengan mencuatkan wajahnya.
"RANTI!" Edbert mengeraskan rahang saat menggema kan suaranya di dalam kamar itu. Perceraian? Bukan lah cita-citanya, meski sering bermain dengan perempuan lain, Edbert sangat menyayangi isteri pertamanya.
"Aku tidak berguna bukan?" Sindir Ranti.
"Jangan memancing emosi ku!" Sentak Edbert kemudian.
Ranti tersenyum sinis "Kamu yang mengabaikan ku, kamu yang berselingkuh dengan sekertaris janda mu. Kamu tak pernah ada waktu mengunjungi ku, setiap hari kamu bersama Mila yang menjadi sekertaris mu, rupanya semakin sukses semakin kamu menikmati perselingkuhan mu bukan? Aku tidak terlihat bagi mu saat itu, lalu sekarang kau menyalahkan ku? Kau bilang aku tidak melakukan tugas sebagai seorang istri? Oh Tuhan Edbert, sempurna sekali hidup mu?" Cerca nya.
"Setidaknya kau melarang ku menikah lagi, seperti istri-istri lainnya yang tulus mencintai suaminya!" Sambung Edbert keras.
"Apa kamu bisa menuruti ku?" Serampang Ranti cepat "Sebelum kau meminta izin menikahi sekertaris mu! Kau sudah bermain-main di belakang ku bukan?"
Edbert tersudut, rupanya berderai sudah kata-kata yang selama ini Ranti simpan. Pada kenyataannya memang begitu. Mila sudah merayunya saat dia menjadi sekertaris, lalu Edbert meminta izin menikah lagi dan keterusan sampai berkali-kali.
Dari semenjak saat itu Ranti tak lagi mau menemui suaminya, dia terus berharap suaminya yang akan berkunjung sendiri ke kamarnya tapi sayangnya Mila tak pernah membiarkan itu terjadi.
"Aku minta maaf." Edbert meredup kan tatapannya. Sangat menyesal. Rupanya dirinya tak mampu kehilangan rasa cinta isteri pertamanya, dia bahkan sangat sakit saat melihat seorang pemuda merengek cinta isterinya.
"Aku tidak pernah berharap kata itu dari mulut mu, karena kesalahan mu tidak akan pernah bisa di maafkan, Edbert." Cetus Ranti.
__ADS_1
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
...Doa kan aku sehat yah gais, biar bisa up lagi sore ini.☺️...