Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Canggung.


__ADS_3

Ini sudah hari ke tujuh Brandon ke sana kemari mencari keberadaan sang istri sampai lupa makan lupa mandi. Sesal terus saja mengiringi langkah sang kaki.


Beberapa antek-antek Anson juga ikut bersamanya guna mempercepat pencarian. Brandon juga meminjam jasa hacker dari orang-orang ayahnya. Seluruh CCTV di kotanya Brandon sidak dengan cara meretas.


Terakhir kali wajah Jelita nampak yaitu dalam rekaman CCTV di sebuah minimarket. Lalu setelah itu hilang tak lagi muncul di seluruh CCTV lainya.


Kenapa bisa seperti itu? Tentu saja, sebab kala itu Dylan hadir di waktu yang tepat akan tetapi sengaja meringkus wanita itu di lokasi yang tak ber CCTV.


Dylan sudah lebih tahu bagaimana sistem-sistem yang beroperasi bagaikan hantu merajai era globalisasi, dia yakin setiap perusahaan besar pasti memiliki hacker terbaik, termasuk juga GG group nya Dwi Pangga. Namun rupanya, hacker milik Anson belum cukup mampu menembus selimut yang Dylan pakai untuk menyembunyikan keberadaan Jelita.


...🖋️................🖋️...


Siang ini juga Brandon kembali ke rumah pribadinya, sudah berhari-hari lelaki itu tak pulang karena harus mencari isterinya, dia terus menginap di hotel atau sesekali di rumah ayahnya.


Langkanya berayun menuju pintu masuk utama kediamannya dan seorang wanita segera menyambutnya dengan raut cemas "Mas, gimana Jeje mas?" Tanya wanita itu.


Mengusung rahang yang keras Brandon melewati tubuh Shasha, acuh "Mas, aku nanya, gimana Jeje? Terus kenapa kamu ga pulang selama ini?" Shasha mengiringi langkah kekasihnya.


Tiba di ruang tamu Brandon memberhentikan langkahnya lalu menoleh pada Shasha, tatapan murka pun lelaki itu sungging kan begitu mencekam.


"Bukanya ini yang kamu mau? Putra ku meninggal lalu Jeje ku juga pergi! Bukan begitu Sha!" Sungut nya.


"Tentu saja tidak!" Elak Shasha.


"Bulsyiittt!" Kata Brandon keras. Di sudut tempat itu Mina tersentak kaget mendapati pertengkaran mereka.


"Lalu kenapa kamu mengadukan hubungan pertemanan Jeje sama Dylan ke Mami hah? Kenapa kamu menunjukkan bukti-bukti pesan-pesan dari Dylan? Apa tujuan mu selain dari pada ingin Jeje dan bayi ku pergi hah!" Sentak Brandon melotot.

__ADS_1


Jika saja Shasha tidak mengompori Emma pasti tidak akan ada yang memaksa Jelita tes DNA, lalu Jelita takkan pernah kecewa meninggalkan dirinya, pikir Brandon seperti itu.


"Mas, aku...."


"Selamat Sha! Papi sudah tau semuanya sekarang!" Potong Brandon.


"Dan Papi menyuruh ku memilih, antara mengejar mu, atau mencari Jeje ku lagi." Lanjutnya.


Kerutan kening tertampil di wajah Shasha sekarang "Tentunya kamu akan memilih ku kan Mas?" Tuntut nya.


"Yah, tentu saja!" Sela Brandon dengan kedua tangan yang merentang.


"Tapi, apakah kau bersedia bersama ku, sementara aku sudah bukan lagi pewaris tahta ayah ku? Semua fasilitas yang Papi berikan akan dia cabut saat aku memilih mu Shasha! Apa kau masih bersedia bersama ku hmm?" Tambahnya.


"Apa Mas?" Shasha melotot seakan tak terima dengan keadaan itu "Sebenarnya yang anak Om Anson Jeje apa kamu sih Mas? Kenapa bisa begitu?" Berang nya.


"Sudah sering ku katakan, Jelita putri kesayangan Papi, tidak ada yang bisa membuat Papi percaya selain Jeje ku saja." Nada Brandon berangsur lirih kala mengingat sang istri meninggalkan dirinya pergi.


"Sudah tak ada waktu untuk mendebatkan hal itu Sha! Sekarang, aku harus mencari Jeje ku, baru setelah itu aku akan pikir kan kemana arah hubungan kita!" Putus Brandon.


...🖋️................🖋️...


Di Surabaya.


Suara langkah dari sepatu derby milik Dylan tengah terdengar di telinga wanita cantik ini. Luka jahitan Jelita sudah berangsur membaik, perawatan terbaik sudah Dylan berikan padanya. Bahkan asi nya pun sudah sedikit surut karena pengaruh obat yang dokter resep kan.


Satu Minggu ini, siang malam Dylan terus berbolak-balik ke apartemen yang Jelita tinggali demi memantau perkembangan kondisi wanita cantik itu.

__ADS_1


"Dylan, ..." Panggil Jelita menoleh pada laki-laki itu.


"Hmm?" Dylan berdiri di sisi Jelita, menatap berlalunya mobil-mobil di bawah sana dari balik jendela kaca besar.


"Aku, ..." Jelita sedikit ragu mengungkapkan maksudnya, lalu hening setelah itu.


Menyadari itu Dylan menoleh lalu menatap Jelita penuh tanya "Hmm? Apa?"


"Aku, butuh skincare Dyl, kulitku sudah butuh asupan nutrisi, kamu bisa kan pinjamkan dulu uang mu, nanti setelah aku pulang, aku ganti, saat ini aku belum berani memakai ATM ku, aku takut Brandon tau keberadaan ku." Ungkapnya.


Dylan tersenyum miring "Jadi, kamu menghina ku?" Tanyanya.


"Menghina?" Ceplos Jelita heran.


"Aku sudah terlalu kaya Jelita, semua yang ku berikan padamu tak perlu lagi kamu ganti." Sambung Dylan "Apa pun yang kau butuhkan pesan saja!"


"Tapi selama ini, aku sudah banyak merepotkan mu Dyl." Nada Jelita berangsur lirih sambil menunduk sendu "Aku tahu aku ini wanita yang tak memiliki bakat apa pun selain dari pada berdandan dan merawat tubuh ku saja." Lanjutnya.


"Aku hanya wanita lemah yang selalu bernaung dibawah ketiak seseorang, aku bahkan tak malu meminta perlindungan dari tetangga ku, aku memang payah." Timpalnya merutuki dirinya sendiri.


"Aku menyukainya Jelita." Dylan tersenyum manis, gurat ketulusan terulas di wajah tampannya.


"Hmm?" Jelita mendongak menatapnya dalam geming.


"Yah, terus lah lemah seperti sekarang ini, supaya aku punya alasan untuk melindungi mu." Ucap Dylan.


Jelita terenyuh mendengar setiap kata yang terurai dari mulut laki-laki itu. Baru pertama kali ini Jelita memiliki hubungan dengan pria selain Brandon.

__ADS_1


Selama ini Brandon selalu mengekangnya bahkan untuk berteman dengan sesama wanita saja Jelita tak di izinkan. Mungkin itu salah satu alasan Jelita terus bertahan hidup di sisi Brandon meski harus mencecap rasa yang menyakitkan.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2