
Suara bel berbunyi, dan Ranti yang membukanya "Mila." Celetuknya.
Wanita yang kini berdiri di ambang pintu adalah istri ke dua mantan suaminya, hari ini Mila datang untuk berkunjung setelah satu bulan yang lalu Ranti mencabut tuntutan dan memberikan rumah untuk Hendra Bella dan dirinya.
Bahkan Ranti memfasilitasi tim medis juga kiriman katering makanan sehat untuk nutrisi Bella dan Hendra setiap harinya.
Penderita HIV bisa hidup layaknya manusia normal selama kebutuhan nutrisi masih tercukupi, dan Ranti bukan manusia yang pendendam seperti Dylan Jackson putranya.
Mila terenyuh, sejujurnya sudah dari satu Minggu yang lalu, dirinya ingin mengunjungi Ranti dan mengucapkan terimakasih secara langsung, tapi baru hari ini mendapatkan keberanian itu.
Tepatnya pukul enam pagi tadi, Mila melakukan perjalanan dari rumahnya ke rumah wanita yang selama bertahun-tahun dia rebut suaminya.
"Selamat pagi Kak Ranti." Ucap Mila, ada gurat wirang tertampil di kelicak matanya.
Ranti tersenyum lalu menuntun wanita itu untuk duduk di kursi taman halaman depan, di mana mereka bisa merasakan embusan angin dari laut karena rumah itu membelakangi pesisir pantai.
"Duduk lah, Mila." Kata Ranti menunjuk satu kursi pada wanita itu.
Mila menurut "Terimakasih." Ucapnya.
Ranti duduk kemudian memesan minuman pada satu pelayan yang berjaga di sekitar tempat sebelum kemudian menatap ke arah Mila kembali.
"Apa kabar? Kamu, Bella juga Hendra?" Tanyanya.
"Baik, berkat bantuan dan pengampunan mu, Kak." Kata Mila sedikit menurunkan pandangan.
"Aku ke sini mau meminta maaf, atas semua yang sudah ku lakukan padamu." Lanjutnya.
Ranti menggeleng "Aku sudah memaafkan mu, semua orang punya kesalahan, aku juga punya banyak salah padamu, aku juga meminta maaf padamu. Kamu dan Hendra sudah banyak berjasa bagi perusahaan Edbert, aku tidak akan pernah menafikan itu. Kamu berhak mendapatkan bagian mu." Jelas Ranti sambil menyentuh tangan wanita itu. Sudah tak ada rasa cemburu lagi, karena semuanya sudah berlalu.
"Terimakasih." Ucap Mila setelah itu "Aku dengar Kak Ranti mau menikah lagi?" Tanyanya.
__ADS_1
Ranti mengangguk "Iya, kamu boleh datang ke pesta pernikahan kedua ku." Ucapnya.
"Semoga kebahagiaan selalu mengiringi langkah mu Kak. Semoga semua yang tidak Kaka dapat dari Daddy, bisa Kaka dapatkan dari suami barumu Kak." Kata Mila tulus.
"Begitu juga sebaliknya, semoga kalian juga di berikan kesehatan, kebahagiaan, serta kebaikan menuju persinggahan terakhir kita nanti." Sambung Ranti.
Air mata lolos begitu saja dari balik pelupuk mata Mila, hina dina sekali dirinya selama ini, dan alangkah baiknya Ranti yang tidak mendendam padanya.
Lihat lah, saat pengampunan yang di tabur, maka sang musuh akan melunak bahkan tidak lagi mempunyai keberanian untuk menyakitinya kembali. Damai tanpa harus merusak kedamaian orang lain, itulah moto hidup Ranti.
Perempuan itu justru memberi beberapa istri siri Edbert kiriman uang untuk modal usaha. Semoga dengan begitu mereka bisa melanjutkan hidup meskipun Edbert sudah tidak lagi ada di belakangnya.
...🖋️................🖋️...
Hari pun berganti, begitu juga dengan perasaan Ranti yang semakin lama semakin pula bertambah besar cintanya pada Garry.
Rindu sudah menggebu-gebu tapi Garry justru tak mau bertemu, alasannya takut kebobolan sebelum menikah. Akhir-akhir ini Ranti selalu saja menggoda imannya.
Sampai tiba lah hari ini, hari yang mereka tunggu-tunggu yaitu hari pernikahan. Penyatuan cinta yang di syah kan secara negara dan agama sudah keduanya lakukan.
Ucap syukur mereka lakukan, setelah resmi menjadi pasangan suami istri, senyum tawa bahagia orang terdekat menjadi saksi penyatuan halal ini.
Ranti tak mau meramaikan acara pernikahan karena dia sudah bukan gadis atau janda yang masih muda lagi. Rasanya malu jika sampai acaranya di perbesar, maka hanya keluarga terdekat saja yang hadir dalam acara sakral tersebut. Pernikahan mereka di lakukan di villa yang terletak di puncak kota hujan.
Dylan mendekati ibundanya "Selamat Mi." Ucapnya tersenyum.
"Semoga selalu sehat juga bahagia, Mami bersama Papi." Jelita juga ikut tersenyum menatap mertuanya.
"Sudah, Mami malu kalian menatap Mami begitu." Kata Ranti tersipu.
Di sudut lainnya Hardiansyah menatap haru cucunya "Selamat cucu ku. Semoga Ranti bisa secepatnya hamil dan memberikan ku cicit baru." Katanya, ada harapan besar yang terlukis di iris coklatnya.
__ADS_1
Sebentar lagi istri Galaxy melahirkan semoga saja Ranti cepat memberi kabar kehamilan padanya setidaknya sebelum dia meninggal dunia, itu harapan Hardiansyah.
Garry mengangguk meskipun tidak berniat sedikitpun untuk membuat Ranti hamil di usia tuanya. Ranti sudah cukup memiliki banyak putra-putri.
Apa lagi usia Ranti rentan dengan kehamilan, Garry tidak mau, jika sampai terjadi sesuatu pada wanita kesayangannya.
"Iya Kek, terimakasih sudah merestui hubungan ku dengan Neng Ranti." Ucap Garry.
"Sudah, lebih baik kita tinggalkan pengantin baru sendiri di sini, biar mereka bisa bekerjasama membuat cicit untuk ku!" Hardiansyah mengusulkan itu pada keluarganya dan semua orang tertawa.
"Baiklah, semoga cepat berhasil yah Ranti, mantu ku." Ucap Talia menepuk punggung Ranti.
Ranti tersipu, betapa malunya dirinya, rupanya wanita yang selama ini dia panggil kakak menjadi mertua. Mario dan Galaxy juga tampak bahagia meskipun Garry harus menikahi wanita dewasa.
"Baiklah, Dylan kita segera pergi dari sini, tinggal kan Mami mu bersama putra ku!" Usul Mario.
Lagi-lagi Ranti tersipu malu, Dylan pun mengangguk setuju "Ok, kita pulang." Ajaknya sembari merangkul isterinya.
Jelita dan yang lainnya bergantian bersalaman juga cipika cipiki dengan Ranti sebelum kemudian mereka semua benar-benar meninggalkan sepasang suami istri itu menikmati malam pertamanya.
"Bye, hati-hati!" Ranti melambaikan tangan pada mobil-mobil yang berlalu dari halaman villanya termasuk mobil yang dia berikan untuk fasilitas Mila.
Garry melirik wajah cantik isterinya, lalu menggendong wanita itu tanpa izin, meskipun terkejut Ranti tetap mengalungkan tangannya pada leher suaminya, Garry melangkah masuk ke dalam villa, dan dua orang penjaga menutup pintu utama.
"Wah, beruntung sekali Nyonya, di usianya Nyonya dapet pria perkasa, pasti menjerit semalaman." Kata satu pria itu.
"Ssuutt, jangan di bayangin nanti kita sendiri yang ngga bisa fokus berjaga!" Sahut pria lainnya mendesis.
"Nasib emang jadi bujangan, cuma bisa main sama sabun." Kedua pria itu tertawa renyah meskipun hatinya gundah.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
__ADS_1
...Terimakasih atas kunjungannya, terimakasih yang masih setia memfavoritkan Karya ku, semoga kebaikan selalu menyertai hidup kalian......