
Angin malam berembus kencang, menerpa raga rapuh wanita senja nan cantik jelita. Tak peduli dengan berapa usianya, wajah cantik itu tetap menempel, tak mau lekang.
Di sela pikun Ranti, rupanya ada asa yang masih dia lambung tinggi. Berharap semua itu akan terkendali sesuai imajinasi.
Di tempat makan berjenis outdoor yang di pesan khusus, Ranti duduk pada salah satu kursi restoran mewah ternama.
Lampion gantung, lilin aromaterapi, semua gawai yang biasa di temukan dalam tempat romantis menyertai tempat itu. Gaun berwarna hitam yang Ranti pakai, menambah kesan elegan dan mewah.
"Sayang." Bisikan lembut terdengar merdu di telinga, Ranti menoleh dan tersenyum manis pada lelaki itu.
Garry masih sangat tampan dengan kemeja putihnya, bahkan semakin tampan setelah bahagia bersama wanita pujaannya.
"Ada apa ini? Istriku mengajak ku berkencan?" Tanyanya.
Ranti meraih lengan Garry. "Duduk di sini Daddy." Titahnya. Dia arahkan Garry duduk di kursi sebelahnya.
Garry tersenyum menurut. "Kamu tumben banget ngajak kencan begini loh. Ada apa ini? Neng Ranti puber lagi?" Ledek nya.
"Bukan Neng yang puber, tapi kamu harus puber lagi." Sambung Ranti.
Garry mengerut kening. "Maksud mu?"
Ranti melambaikan tangan pada satu gadis cantik yang masih berusia dua puluh dua tahun. Mahasiswi itu adalah salah satu anak panti asuhan Ranti.
Garry menoleh curiga pada gadis yang kini duduk di depannya. "Kamu mengajakku berkencan tapi membawa anak asuh mu hmm?" Dokter itu menoleh sekali lagi pada istrinya, protes.
Ranti mengangguk. "Sayang." Dia raih jemari tangan suaminya, dan Garry mulai mencurigai sesuatu.
"Menikah lah lagi. Setelah aku pergi, dia yang akan menggantikan ku. Namanya Rere, gadis pintar kesayangan ku ini jodoh amanah dariku untukmu."
"Ranti!" Garry mendelik. Dia lepas genggaman tangan istrinya spontan. "Bagaimana bisa kamu seenaknya begitu?"
Gadis bernama Rere menundukkan wajahnya, penolakan Garry membuatnya takut. Menikahi lelaki yang tidak mencintainya bukan kemauannya, tapi Rere telah berjanji akan menuruti perintah Ranti. Sampai sebesar itu, Ranti lah yang berjasa banyak dalam hidupnya. Rere mau apa lagi? Selain menerima.
"Kita pulang." Ajak Garry. Tatapan tajam menghunus begitu lurus pada sorot mata Ranti.
Ranti menggeleng. "Daddy."
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, aku tidak suka lelucon mu ini!" Sambar Garry.
"Ini bukan lelucon, kamu sendiri yang berjanji kan, akan menikahi wanita lain setelah aku pergi." Kata Ranti.
"Tapi kau akan hidup lebih lama dariku!" Sela Garry ketus.
"Aku sudah lelah hidup, sepertinya aku sudah harus istirahat dengan tenang." Kekeuh Ranti.
"Cukup!" Garry mengakhiri perdebatan ini dengan pekikan keras. Suara napas bergemuruh, tentu saja ini menyakitkan.
__ADS_1
Ranti meraih lengan suaminya. "Garry. Aku sudah tidak bisa melayani mu kan? Rere bisa menjadi istri yang ideal untuk mu."
"Seumur hidup ku. Aku hanya akan menikahi mu, paham?" Sanggah Garry yakin.
Ranti menggeleng. "Kamu melanggar janji mu padaku."
"Tagih semua janji yang pernah aku ucapkan padamu Yank, akan aku lakukan sebelum ajal menjemput ku, tapi, aku tidak mau menikah lagi." Cetus Garry.
"Apa susahnya menikah lagi?"
Gerald hadir di tengah-tengah mereka, berdiri tepat di belakang tubuh orang tuanya, Ranti juga memanggil putra keduanya, untuk di perkenalkan dengan calon ibu sambungnya.
Sekilas Garry melirik Gerald. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan, aku tunggu kamu di rumah. Gerald akan membawa mu pulang." Ujarnya seraya bangkit dari duduk dan pergi.
Ranti menggeleng menatap punggung gagah suaminya. "Daddy, Garry, sayang." Panggil nya.
Namun, dokter tampan itu masih tak mau menghiraukan panggilan darinya.
Gerald duduk pada kursi yang barusan Garry tinggalkan. Dia genggam tangan ibunya penuh kelembutan. Tatapan dalam dia usung kan.
"Mammi membuat Daddy marah lagi." Ucap Gerald.
"Apa susahnya menikah lagi? Rere gadis yang baik. Dia yang akan menjadi ibu sambung mu Dylan." Sanggah Ranti.
"Gerald, ini Gerald." Pemuda itu tak pernah di ingat namanya.
"Yah, Gerald." Ranti meralat panggilannya. "Kamu lihat, Mammi sudah pikun, Mammi tidak pernah bisa lagi mampu memberikan kebahagiaan untuk Daddy mu." Ujarnya.
"Kenapa kalian sama saja!" Berang Ranti.
"Mammi." Gerald genggam tangan ibunya, mendekati wajah wanita itu.
"Dylan,"
"Gerald Mamm." Lagi-lagi Ranti tak mengingat nama putra keduanya, ini juga menyakitkan bagi Gerald.
Ranti mengangguk. "Gerald, janji sama Mammi, suatu saat nanti, kamu akan mempersatukan Rere dengan Daddy mu."
"Mamm."
"Janji Sayang. Mammi mohon, atau Mammi akan terus merasa bersalah sudah menghancurkan masa depannya." Sambung Ranti lagi. "Menikahi wanita senja, ini kesalahan terbesar Daddy mu, Mammi mau meninggalkan Daddy dengan tenang. Berjanjilah." Desak nya.
Gerald mematung. "Siapa yang mau mengkhianati wanita baik seperti mu, Mammi. Daddy orang yang paling mencintaimu." Batinnya.
......................
Esok harinya. Embun pagi telah menyiarkan kesejukan, Garry telah rapi dengan pakaian dokter nya. Dingin sikap Garry yang Ranti rasakan setelah pertemuannya semalam di restoran bersama Rere.
__ADS_1
"Sarapan dulu Daddy." Ranti menyambut dirinya di meja makan.
"Emmh." Garry duduk pada kursi utama meja panjang itu. Gerald pun menyusul dengan pakaian putih abu-abu nya, duduk di salah satu kursi setelah meletakkan tas sekolahnya.
Nasi goreng yang akan mereka santap untuk mengganjal perut di pagi ini. Sarapan sedikit berat menjadi kebiasaan keluarga bahagia itu.
Ranti mengambil nasi dan memberikannya pada piring milik Garry. "Oya. Gerald butuh mobil baru, yang kemarin nabrak dan penyok." Ucapnya.
Garry mengangguk. "Dia akan mendapatkan nya, siang ini." Katanya.
Gerald menyengir. "Makasih Daddy."
Keduanya memulai ritual sarapan pagi bersama. Ranti hanya diam menatap lekat wajah suaminya.
"Daddy masih marah?" Dia mengusap paha lelaki itu.
Garry menoleh. "Aku tidak pernah bisa marah padamu." Ucapnya.
Ranti tersenyum. "Terimakasih banyak kalo sudah tidak marah lagi. Tolong jangan dingin begini. Bisa saja besok pagi aku sudah tidak bersama mu lagi."
"Mamm!" Gerald membanting kasar sendok garpu di tangannya menimbulkan suara gaduh di sana. Pemuda itu menatap protes ibunya. "Bisa tidak jangan terus bicara begitu hah?"
Garry mengusap lembut punggung putranya, berusaha meredam amarahnya. "Sudah, jangan hiraukan ibumu, makan saja." Tutur nya.
"Gerald sudah tidak napsu makan!" Pemuda tampan itu meraih tas dari atas meja dan pergi begitu saja dengan wajah murka.
Mendengar ucapan Ranti yang itu-itu saja, membuat mood Gerald tidak baik. Selalu saja kematian yang Ranti ujarkan. Apa tidak ada doa terbaik? Kenapa menua nya Ranti menyebalkan baginya.
Garry beralih pada Ranti. "Puas kamu mengacaukan sarapan pagi kita? Terus saja pesimis dengan kondisi mu. Aku saja sangat membenci kata-kata pesimis mu, apa lagi putra mu."
Garry meraih tas kerjanya, mengecup kening, pipi, juga bibir istrinya. "Aku berangkat, kamu baik-baik." Katanya.
Baru saja Garry bangkit dan melengos Ranti sudah lebih dulu meraih tangannya, dia berdiri menghadap suaminya. "Berikan aku ciuman hangat mu." Pintanya lirih.
Tak pernah bisa menolaknya, Garry adalah orang yang tidak pernah mampu marah pada istri tercintanya.
Ranti meraih pipi berjambang tipis lelaki itu melabuhkan kecup mesra pada bibir merona Garry-nya. Elusan menggoda Ranti arahkan pada bagian sensitif Garry.
Garry memejamkan mata menikmati setiap sentuhan lembut yang Ranti berikan, lama dia tak melakukan hal itu, Ranti terus berkata sakit saat berhubungan. Garry tak tega memintanya. Terkadang mereka hanya bermain dari luar saja. Asal sampai Garry cukup puas.
"Neng." Garry melerai pertikaian bibir mereka saat sudah merasa terangsang. "Kamu sakit nanti." Tuturnya.
Ranti menatap dalam wajah tampan itu, semakin hari ketampanan Garry semakin menggaris. "Aku minta maaf." Celetuknya.
"Untuk apa?"
"Aku selalu membuat kalian marah, aku tidak pandai membuat kalian betah berlama-lama mengobrol dengan ku." Ranti menunduk.
__ADS_1
"Aku tidak pernah bisa marah padamu Neng. Kamu kesayangan ku." Garry peluk wanita itu. "Jangan pesimis dengan umur mu, kau akan hidup lebih lama dariku."
...Terimakasih telah membaca part tambahan ini. Silahkan beri komentar untuk mendompleng semangat author....