Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Galau Garry


__ADS_3

Ranti mengambil kartu dari resepsionis lalu menarik pemuda itu masuk ke kamar 111, ruangan presidential suite.


Sampai di dalam Garry melepas tangan Ranti dengan paksa "Apa maksudnya ini, Neng! Apa kau meremehkan ketulusan ku?" Pemuda itu sudah cukup tahu maksud tujuan Ranti mengajak dirinya memasuki kamar mewah tersebut.


"Aku mau tahu, apa kau bisa menerima kekurangan ku? Setelah tahu bagaimana diriku? Luar dalam nya aku." Tepat di hadapan Garry, Ranti menanggalkan satu persatu pakaian miliknya "Silahkan kamu lihat dan telisik tubuh ku, sebelum kau memutuskan untuk hidup bersama ku!" Ujarnya.


"Neng!" Pekik Garry.


Lelaki itu mengalihkan pandangan ke arah lain setelah pakaian Ranti sudah terlepas tak bersisa hingga kemolekan tubuh wanita itu bisa Garry lihat dengan gamblang.


Garry meraih selimut dan melingkarkan kain tebal itu pada tubuh polos Ranti tanpa mau menatapnya.


Hanya sekilas menatap. Sang junior tiba-tiba saja terbangun dari mimpi panjangnya, sungguh tak mampu Garry mengendalikan itu.


Sebagai dokter, melihat tubuh polos wanita tentu sudah sering kali ia jumpai, tapi lain halnya kala sang hati sudah terpaut cinta.


"Sebenarnya apa lagi yang kau mau dari ku hah?" Sambung Ranti ketus.


"Menikahi mu!" Keduanya saling mengusung tatapan tajam sekarang.


"Apa itu saja?" Sergah Ranti cepat.


"Apa kau tak menginginkan kepuasan batin?" Lanjutnya.


Garry mengernyit "Aku laki-laki normal. Tentu saja ada keinginan itu, tapi aku tidak akan pernah melakukannya sebelum aku menikahi mu!" Berang nya.


"Lalu setelah itu, apa yang kau harapkan dari ku? Apa hanya sekedar teman mengobrol? Jika hanya itu. Kau bisa menjadi teman ku seperti Gaga, tidak perlu menikahi ku, Garry! Di hubungan sebelumnya aku di campakkan karena aku tidak pernah bisa memuaskan batinnya, lalu apa kabarnya jika aku menerima mu? Usia mu masih sangat muda, aku takkan mungkin bisa memuaskan batin mu!" Derai kata Ranti.


"Aku mencintai mu, Neng! Kamu pikir mudah melupakan nya? Kamu pikir aku bisa berpaling dari mu? Gadis yang kau kenal kan dengan ku kemarin itu, tidak mampu membuat ku mengalihkan perasaan ku dari mu!" Sambung Garry.


"Jika kau menolak ku, maka terus lah menolak, jangan pernah berpikir bahwa aku akan memakan mu sebelum aku menikahi mu! Aku tulus pada mu, tidak sedikit pun terpikir untuk mencoba memanfaatkan kesepian mu, kalau kau memang menerima takdir kita berjodoh, ayok segera menikah, jika kau menolak, akan ada saatnya hati ku berpaling dari mu!" Garry melangkah keluar dari kamar, wajahnya mengeras karena hati yang terasa sangat nyeri.


Di tolak, sudah biasa, di sebut perebut bini orang, dia tidak masalah, tapi di ragukan ketulusan hati nya, sangat menyakitkan.

__ADS_1


Apakah salah jika sang cinta memilih wanita yang lebih tua darinya? Apakah salah jika sang hati sudah stuck pada satu hati saja?


Jika pandai dia memilih, mungkin sudah memilih singgah ke hati yang lain, singgah pada hati yang berkemungkinan besar menerimanya.


Membujang, siapa yang ingin? Garry juga bukan laki-laki yang menclok sana-sini, Garry hanya menyukai satu perempuan dan konyolnya adalah Ranti tak pernah membalasnya.


Sampai di luar Garry melambaikan tangan pada taksi kemudian memasuki mobil biru itu "Ke rumah sakit!" Titahnya singkat, wajah damainya berubah dingin dalam sekejap.


Hilang harapan, kini sedikit ada yang berkurang dari kepercayaan dirinya, mungkin cinta Ranti masih hanya untuk Edbert seorang.


Maka berjuang seperti apa pun, Garry takkan pernah bisa memasuki ruang sempit itu, percuma saja, hanya akan menambah duka lara wanita kesayangannya.


"Aku mungkin, hanya akan berakhir seperti ini."


...🖋️................🖋️...


Di kamar hotel nomor 111, Ranti terisak tersedu menangisi kemelut hati yang begitu menyiksa diri. Rasanya sudah mati, lalu apakah Garry akan mampu membuat dirinya melayang kembali? Ranti tak punya kepercayaan diri untuk bisa membina hubungan baru lagi.


Trauma sudah pasti, jika saja laki-laki itu Anson, mungkin tidak akan sedilema ini, Garry masih sangat muda, apakah bisa, apakah mampu, apakah pantas ia menjalani sisa hidup bersama pemuda itu?


Ranti memunguti satu persatu pakaian miliknya kemudian memakai nya kembali, setelah rapi dengan pakaian lengkapnya, wanita itu keluar lalu berjalan perlahan menuju mobil miliknya lagi.


Sesampainya, Ranti masuk, duduk di jok bagian belakang dan menitah kan sang sopir melajukan mobilnya, getar ponsel lumayan terasa.


Kemudian dengan perlahan ia membuka tas clutch miliknya lalu meraih gawai tipis itu untuk kemudian di geser tombol hijaunya.


"Iya sayang!" Sapa nya pada putranya.


"Mami kenapa lama? Dari tadi menantu Mami mengkhawatirkan Mami, cepat datang, bukan kah malam ini akan ada pesta syukuran?"


Ranti mengangguk "Iya Dylan. Mami pulang sekarang. Mami masih di jalan." Jawabnya.


"Dylan tunggu, hati-hati Mam."

__ADS_1


Ranti mematikan panggilan secara sepihak. Ia mendengus, lalu matanya mengarah pada jendela di mana pemandangan siang hari mulai kacau karena hiruk pikuk kemacetan telah nampak.


...🖋️................🖋️...


Di rumah sakit, Garry mengutak-atik kan jemarinya pada laptop miliknya, seberapapun dirinya mencoba fokus tetap saja bayangan sekujur tubuh Ranti masih melintasi ingatannya.


"Aaaaaaaaahhhhhhh!! Messum!!" Umpat nya dan itu ia tujukan pada dirinya sendiri.


Garry usap secara kasar wajahnya dan lagi-lagi tubuh indah itu masih terus terbayang dalam angan-angan.


"Aaahh! Sialan!" Pemuda itu mendongak dan meletakkan kepalanya pada ujung sandaran kursi putarnya.


Mencoba ikhlas untuk tidak lagi mengganggu Ranti, tapi apakah mungkin? Garry dilema.


Suara langkah kaki terdengar dan Galaxy masuk seiring dengan terbukanya pintu "Lu kenapa hah? Neng Ranti lagi?" Tanyanya.


Garry menoleh "Jangan bahas dia lagi!" Katanya ketus lalu mengalihkan pandangan ke arah layar laptop miliknya.


"Jiaah, kenapa lu? Di tolak lagi? Di tampar lagi? Apa di, ..." Belum lagi selesai Galaxy berucap Garry sudah lebih dulu menimpali "Gak lucu! Keluar, gue sibuk!" Titahnya ketus.


Galaxy berkerut kening menatap heran adiknya, tak biasanya Garry seperti itu, di tolak di tampar bukan lah halangan baginya Lalu ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Garry berwajah sendu seperti ini?


"Lu yakin gak papa?" Tanya Galaxy lagi.


"Ck!" Tatapan tajam Garry lumayan membuat Galaxy beringsut dari rasa penasarannya.


"Ok, gue cabut!" Setelah mengangkat kedua tangannya, Galaxy keluar dari ruangan adiknya dalam kondisi bergumam "Kelamaan membujang ni anak, jadi stress lama-lama, kadang nyebut Neng Ranti, kadang ngambek-ngambek ga jelas!"


"Ada apa Ga?" Mario baru saja tiba dan tak sengaja bertemu di depan pintu ruangan dokter spesialis bedah plastik itu "Adik mu kenapa?" Dari ambang pintu Mario menangkap gurat sendu di wajah putranya.


Galaxy mengangkat kedua bahunya


"I don't know!" Jawabnya.

__ADS_1


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2