
"Maaf, Tuan Dylan, sudah mengganggu waktu istirahat Anda. Kami ke sini hanya menjalankan tugas." Ucap tegas pria berseragam itu setelah memastikan Brandon aman di tangan petugas lainnya.
"Tapi, siapa yang melapor pak? Saya sendiri tidak pernah merasa melaporkan mantan suami saya ke kantor polisi." Sanggah Jelita keheranan.
"Tuan Edbert Jackson, yang sudah memberikan informasi tentang percobaan pembunuhan yang Nona Shasha lakukan terhadap anda, setelah itu segera tim kami menemukan persembunyian Nona Shasha di Amerika."
"Jadi Shasha juga sudah di tangkap pak?" Entah kenapa Jelita merasa lebih lega wanita penjahat itu sudah tertangkap.
Bukan karena dendam, akan tetapi kekhawatiran yang juga menyelimuti dirinya. Bukan tak mungkin Shasha masih bertekad untuk mengincar dirinya lagi suatu saat nanti.
"Terimakasih pak!" Ucap Dylan.
"Sama-sama Tuan!" Angguk polisi itu.
Setelah beberapa percakapan pria berseragam tersebut pergi, tentunya setelah melayangkan undangan kepada korban dan saksi, Dylan dan Jelita juga masih harus di mintai keterangan terkait percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh Shasha.
Tinggallah Jelita dan Dylan berdua dalam ruangan itu. Dylan kemudian menekan earphone di telinganya dan segera tersambung dengan salah satu pekerja nya "Bawa masuk semua lukisan Nona kalian ke lantai atas!" Titahnya.
Jelita mesam-mesem mendengar ucapan calon suaminya "Kok di ambil lagi? Bukanya sudah kamu suruh bakar?" Tanyanya yang lebih terkesan meledek.
"Aku cemburu!"
"Aku suka cemburu mu Dylan!" Jelita mengusap lembut pipi pria tinggi itu sambil berjinjit.
...🖋️................🖋️...
Beberapa pelayan meletakkan kembali lukisan-lukisan wajah Jelita ke dalam kamar milik Dylan.
Kemudian Jelita masuk ke ruangan yang berdominasi warna hitam tersebut, di edarkan nya pandangan lalu berjalan mendekati lukisan dirinya yang masih berseragam SMA.
"Cantik nya, apa saat SMA aku secantik ini?" Tanyanya sedikit menoleh pada Dylan yang saat ini duduk di sisi ranjang dengan kaki yang di tumpukan pada pahanya.
"Sangat cantik, tapi, ...."
"Tapi apa?" Jelita mendekati Dylan kemudian ikut duduk di sisi kiri pria itu hingga kini keduanya saling menatap penuh arti.
"Aku mencintaimu yang sekarang, because, sekarang kamu juga membalas cinta ku, dulu, kamu masih terlalu gila mencintai pemuda peselingkuh itu." Sambung Dylan.
"Aku bodoh, iya kan? Aku bahkan rela di suruh berhenti kuliah, dengan alasan yang tidak masuk akal!" Jelita berkata lirih sangat menyesalinya.
"Kamu sendiri? Kenapa kamu tidak mau kembali ke rumah Om Edbert lagi? Bukan kah dia sangat menyayangi mu? Pagi tadi dia datang ke rumah untuk melamar ku untuk mu Dylan, itu bukti sayang nya pada mu!"
"Ingat Dylan, sesukses apa pun kamu sekarang, kamu tetap harus berbakti kepada kedua orang tua mu." Lanjut Jelita sekali lagi berusaha mengingatkan pemuda itu.
Dylan menatap nanar wajah cantik kekasihnya "Apa Jelita harus tahu? Bahwa alasan ku tak mau kembali karena Bella?" Batinnya.
"Sebenarnya apa yang membuat kamu seperti ini? Semua pasti ada alasan nya kan?" Tanya Jelita lagi.
"Aku hanya tidak kuat melihat ketidak adilan yang terjadi di depan mata ku." Ujar Dylan.
"Hmm? Maksudnya?" Jelita terlalu kuper dan juga polos untuk mengerti dengan sendirinya bagaimana yang Dylan alami.
Tak mudah, untuk tidak membenci sang ayah. Bertahun-tahun lamanya Dylan menyaksikan ibunda tercinta sudah seperti boneka, yang harus diam meskipun merasakan pukulan bertubi-tubi sepanjang hidupnya.
Bodohnya lagi, Ranti tak pernah berusaha mempertahankan hak atau pun sekedar menyampaikan pendapat di dalam rumah besar milik suaminya.
__ADS_1
Dylan sudah terlalu gerah dengan situasi toxic itu, belum lagi saudara tiri yang bukan darah daging ayahnya juga tinggal di rumah besar Edbert.
Edbert juga menikahi janda beranak satu laki-laki. Dan toxic nya lagi adalah janda tersebut lebih di berikan kekuasaan dari pada Ranti istri pertamanya.
Tak apa, Ranti juga bukan wanita yang membutuhkan kekuatan, bagi Ranti memiliki putra yang sangat menyayangi dirinya sudah lebih dari cukup.
Acuh saja, di sentuh tidak di sentuh oleh Edbert bukan masalah, Ranti bisa berbagi rezeki yang di dapat dari suami super kayanya kepada sesama manusia saja sudah menjadi hal yang menyenangkan baginya.
...🖋️................🖋️...
Hingga tibalah saat itu, ketika Edbert membawa seorang gadis cantik bernama Bella mutiara, siswi kelas dua SMA empat belas tahun yang lalu. Kala itu Edbert masih sangat tampan karena usianya masih tiga puluh enam tahun.
"Apa benar ini rumah Om Edbert?" Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan bibir yang terperangah menatap bangunan klasik yang sudah seperti istana.
"Hmm, kamu suka Baby?" Tanya Edbert dengan ciri khas kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.
Bella mengangguk cepat "Suka! Sangat suka!" Ucapnya bersemangat. Edbert melangkah mendekati gadis itu.
"Tapi, apa, kamu bersedia Om nikahi? Kamu lihat saja nanti. Apa pun akan kamu dapatkan di sini, bersama Om!" Pria itu membelai lembut pipi Bella dengan tatapan yang menyentuh hati sang gadis.
Sudah sekitar lima bulan Edbert berhubungan dengan gadis cantik ini, awalnya mereka tak sengaja bertemu saat Edbert mencari donor ginjal untuk istri pertamanya yaitu Ranti.
Tak di sangka rupanya putri dari pendonor ginjal tersebut sangatlah cantik dan Edbert menyukai Bella pada pandangan pertama.
"Tapi, aku masih SMA Om, gimana kalo aku hamil?" Tanya Bella polos. Sejatinya Bella sangat menyukai tipe lelaki seperti Edbert tapi apakah dia harus rela kehilangan keperawanan di usia muda?
"Om juga tidak akan membuat mu hamil, Om sudah cukup memiliki satu putra saja. Kita menikah tanpa memberi tahu siapa-siapa, lagi pula, ibu mu sudah menyerahkan mu pada ku, dia juga pasti bisa menutupi pernikahan kita." Lanjut Edbert penuh harap.
"Lalu bagaimana dengan istri Om? Bukan kah Om bilang Om memiliki dua istri syah?" Bella terlalu polos untuk bersaing dengan wanita yang lebih dewasa darinya.
"Ck, semua istri Om sangat penurut, mereka pasti mengizinkannya, tenang saja!" Sela Edbert.
"Ada istri pertama Om, yang akan membuat mu betah di rumah ini, dia menyenangkan, keibuan, kamu pasti bisa berteman dengan istri pertama Om. Lagi pula ibu mu yang sudah mendonor kan ginjal padanya, maka tidak seharusnya dia membenci mu." Ujar Edbert.
Bella menatap lekat iris biru milik Edbert dengan keheningannya "Apa aku terima saja lamarannya? Dengan begini, aku bisa membeli semua barang mewah yang ku mau, aku juga bisa semakin cantik dengan perawatan mahal ku. Pernikahan sembunyi-sembunyi? Why not, aku tidak keberatan, justru dengan begitu aku masih bisa melanjutkan hubungan ku dengan Dylan." Batinnya.
Gadis itu mengangguk "Bella setuju Om, tapi Om janji ya, semua yang Bella mau harus Om turuti! Bella mau mobil mewah buat Bella sekolah!" Bella mulai bernegosiasi.
"Setuju!" Celetuk Edbert cepat "Jangan kan mobil, apa pun Om berikan untuk mu!" Ucap pria tampan itu tanpa ragu.
Di sudut tempat itu, Ranti menatap nanar keduanya dengan hati yang teriris. Meski sudah sering kali, tetap saja rasa sakit kecemburuan selalu berdentum menghangatkan hatinya.
"Seharusnya aku tidak membenci nya, karena bagi mu aku tidak memiliki hati, yah Edbert, kau benar, aku tidak akan membenci siapa pun selain dirimu saja!" Gumamnya pelan.
Ranti kembali ke dalam kamar miliknya, kamar yang jarang sekali Edbert kunjungi.
Edbert memang sayang juga bangga memiliki seorang istri yang berjiwa sosial tinggi seperti Ranti, tapi tidak untuk kepuasan batinnya.
Bagi Edbert Ranti hanya wanita yang terlalu monoton tak pernah berniat menginovasi diri agar sang suami lebih tertarik lagi.
Bagi Ranti itu hanyalah alasan, di luar sana masih banyak pria yang setia meski kaya raya, contoh nya Anson Dwi Pangga yang tak pernah melirik wanita lain meskipun pernikahan itu hasil perjodohan.
Ranti sendiri sudah sangat mengagumi sosok Anson dari masih gadis, naasnya Edbert lah bule yang memperistri dirinya.
Orang bilang jodoh cerminan diri, tapi Ranti justru terlihat melengkapi yang tidak Edbert miliki yaitu kesetiaan.
__ADS_1
...🖋️................🖋️...
Satu jam setengah kemudian pintu milik Ranti terbuka, di susul dengan suara langkah kaki dari sepatu sneaker milik putra semata wayangnya.
"Mi, ..." Dylan masih sangat manis dengan seragam basketnya. Pemuda itu lantas mendekati Ranti yang kini tenggelam di balik selimut tebal.
"Mami kenapa? Mami sakit?" Dylan memeriksa dahi ibunya yang tak terasa panas.
Ranti menggeleng "Ga papa sayang, Mami cuma kecapean." Kilahnya.
"Mami tahu kan, Mami masih harus banyak istirahat, hentikan dulu kegiatan melelahkan di luar rumah, Mami kan bisa undang anak-anak panti Mami ke sini, supaya tidak perlu lagi keluar rumah." Rutuk Dylan.
Padahal justru jika terus menerus di dalam rumah Ranti semakin sulit bernapas melihat secara langsung kelakuan toxic suaminya.
"Mami menangis lagi hmm?" Dylan tak sengaja menyentuh bantal basah yang menjadi alas tidur ibunya.
Ranti beranjak dari posisinya lalu kemudian menggeleng "Tidak, Mami cuma, ..."
"Kenapa Mami cuma bisa menangis begini hah? Kenapa tidak pergi saja dari sini? Apa Mami takut hidup sengsara tanpa uang dari Daddy?" Tuding Dylan geram hingga menyela ucapan ibunya.
"Tentu saja tidak, Mami cuma, ..."
"Siapa lagi yang sudah Daddy bawa ke rumah ini? Apa wanita baru? Atau dia mau menikah lagi?" Dylan sudah sangat hapal dengan kebiasaan saat ibunya menangis, alasannya tak pernah jauh dari hubungan baru ayahnya dengan wanita lain.
"Bukan, ...." Ranti masih berkilah namun si pemilik wajah tampan ini tak bisa tinggal diam.
Kali ini emosi lumayan berkumpul di dalam dadanya, sudah berjam jam lamanya Dylan menunggu kabar dari kekasihnya yang tak jua membalas pesan darinya di tambah lagi setibanya di rumah sang ibu menangisi ayahnya.
Dylan melangkahkan kakinya panjang keluar dari kamar ibunya lalu berjalan cepat menuju kamar sang ayah, ruangan di mana biasanya Edbert membawa para wanitanya.
BRAK!
Dalam sekejap pintu di banting hingga terbuka "Dylan!" Seketika Edbert memekik kala melihat sang putra mahkota dengan tidak sopan mengganggu pergulatan mesranya di atas ranjang super king size miliknya.
Dylan lebih terperanjat hingga melotot lah sang netra memperlihatkan iris hijau miliknya "Bella!" Lirihnya kala melihat gadis tambatan hatinya bergumul dalam satu selimut dengan sang ayah.
Ada yang meledak di relung hatinya hingga tak mampu lagi berkata-kata, jadi inikah alasan Bella tak membalas pesan darinya? Baginya tak masalah di selingkuhi, tapi tidak harus dengan ayahnya, hina dina sekali gadis itu!
"Dylan, ...." Bella menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya.
Gadis itu terkesiap terpergok kekasihnya saat bercinta dengan pria lain, dia sendiri tak pernah tahu siapa orang tua Dylan, selama ini Dylan tak pernah mengatakan jati dirinya pada Bella.
"Sudah nak, tidak sopan berbuat seperti ini!" Ranti menarik putranya pergi dari tempat itu.
...🖋️................🖋️...
Baiklah. Dylan berusaha ikhlas jika memang Bella bukan jodohnya tapi tepat di malam pernikahan Edbert dan Bella, pemuda enam belas tahun itu pergi meninggalkan rumah besar ayahnya.
Apakah dia harus bercengkrama dengan mantan kekasih yang sudah menjadi ibu tiri? Rendah, itu sangat rendah!
Sempat Dylan tinggal bersama kakek nenek dari pihak ibunya, tapi tak lama, sebab Dylan lebih memilih merantau ke Bali seorang diri dengan bekal seadanya dari sang kakek.
Ranti sempat akan melarikan diri menyusul putranya, namun sayangnya, Edbert justru menyanderanya, Edbert yakin Dylan akan kembali saat sudah merindukan ibunya di masa depan nanti.
Tak menyangka, Jelita lah alasan pemuda itu mampu tanpa ragu menginjakkan kakinya di istana penuh lara dan duka ibundanya.
__ADS_1
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
...Jangan lupa dukungan Like nya, tapi terimakasih, semua nya, biarpun kadang ada yang komen nyelekit😅 karena emosi sama tokoh bodoh Jeje 🤭 See you next episode. Komentar nya dooonk, kritik saran di tunggu....