Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Amsterdam


__ADS_3

Tepat di depan kolam renang panjang miliknya Hardiansyah tengah asyik menggerakkan tangan dan pinggangnya, berolahraga, hawa segar masih mengiringi helaan nafasnya.


"Pagi, Kek." Sapa Garry. Hari Minggu ini Garry mendekati kakek kesayangannya.


Hardiansyah menoleh "Pagi cucu ku, ada apa pagi-pagi sekali menemui kakek mu?" Tanyanya. Sudah pasti ada sesuatu permintaan dari Garry karena biasanya pun begitu.


"Hehe," Garry menyengir "Sini Kek, kita duduk di sini." Ajaknya, sembari menuntun Hardiansyah duduk di kursi lipat.


"Hmm? Apa?" Tanya Hardiansyah setelah keduanya duduk berhadap-hadapan.


Garry menggaruk tengkuk "Kakek, masih mendukung hubungan Garry sama Neng Ranti kan hmm?" Tanyanya.


"Tentu saja, kenapa memangnya?" Tanya balik Hardiansyah.


"Fasilitasi Garry jet pribadi dong, Garry mau ajak Neng Ranti jalan-jalan ke luar negeri, selama satu bulan. Garry cuti dulu, Garry juga butuh memperjuangkan cinta kan Kek?" Pinta Garry membujuk.


Hardiansyah berkerut kening "Kenapa harus selama itu? Memangnya Dylan membolehkan, Mami nya pergi bersama mu? Izin dulu, jangan asal bawa anak orang, eh Mami orang maksudnya." Hardiansyah sampai salah bicara.


"Ck!" Decak Garry "Kakek tenang saja, yang penting, sekarang Kakek bersedia ngga, memfasilitasi Garry jet pribadi hmm? Boleh kan? Garry gengsi, Neng Ranti kan mantan istri sultan, cara deketin nya juga perlu modal, iya kan hmm?" Rengek Garry sambil menggoyangkan lengan kakeknya.


"Yah, boleh. Atur saja." Kata Hardiansyah manggut-manggut.


"Bener Kek! Aaaah ay lope yu! Emmuacchh!" Garry memberi kecupan sayang pada pipi kirut Hardiansyah.


Tak masalah kalau hanya pesawat jet saja, toh cucu Hardiansyah hanya tinggal Garry seorang yang belum menikah.


Apa lagi, Garry satu-satunya cucu kesayangan kakek tua itu, Garry yang humoris sering membuatnya tertawa tak seperti Galaxy yang serius mengejar karirnya hingga sedikit saja senyum yang tertampil di wajah tampannya.


...🖋️................🖋️...


Tiga jam kemudian, di mansion milik Dylan, lelaki penguasa itu tengah mengangkat barbel seberat dua kilo gram di masing-masing tangannya.


Terlihat kaos singlet hitam di bagian dadanya basah kuyup oleh keringat. Dylan sangat seksi juga masih terlampau tampan untuk di abaikan.


Hari ini hari Minggu, maka Dylan juga perlu waktu liburan, meskipun tak bisa kemana-mana karena istrinya harus beristirahat di rumah.


Ranti mendekati putranya setelah rapi dengan pakaian kasual yang justru membuat penampilannya terlihat lebih muda.


"Dylan, Mami, mau, ..." Belum lagi selesai Ranti meminta izin Dylan sudah lebih dulu menimpali "Pergi sama dokter Garry kan?" Tanyanya.


Ranti mengernyit "Kamu tahu?"


"Dokter Garry sudah izin pada ku, dan aku mengizinkan nya, tapi dengan syarat, dua bodyguard kepercayaan ku, akan ikut bersama kalian." Jelas Dylan sambil masih mengayunkan barbel di tangannya.


"Kenapa harus di kawal? Kami cuma mau jalan-jalan sebentar kok." Sanggah Ranti.


"Ekm ekm." Dari belakang tubuh Ranti suara seorang pria terdengar, wanita itu menoleh dan senyum manis Garry menyambutnya.


"Garry, kamu sudah di sini?" Tanya Ranti.


"Emm, sudah dari tadi. Kita pergi bukan untuk sebentar, tapi satu bulan." Kata Garry.


Ranti berkerut kening "Satu bulan? Ngapain? Kemana?" Kejut nya.


"Ke Amsterdam!"


"Amsterdam? Satu bulan? Gila kamu hah?" Berang Ranti.


Garry meraih tangan mulus Ranti "Kamu sudah janji? Kamu membolehkan ku berusaha, maka tepati lah, janji mu." Tuntut nya.


Ranti mendengus lalu berpaling, Garry kemudian menggandeng tangan wanita itu lembut lalu menuntunnya memasuki mobil miliknya.


Setelah meletakkan barbel, Dylan mengekor di belakang ibu dan calon ayah tirinya, punggung Garry pun ia tepuk "Jaga Mami baik-baik. Ingat, jangan macam-macam!" Ancamnya.


Garry menyengir "Ngga janji kalo itu calon anak ganteng ku!" Batinnya.


"Doakan kami selamat sampai tujuan! Aku bawa Mami mu, dia aman bersama ku." Jawab Garry.


Dylan mengangguk lalu membiarkan Garry masuk ke pintu lainnya kemudian Dylan membungkuk menatap wajah ibunya dari samping, sepertinya Ranti masih terpaksa menerima ajakan Garry.


"Mami hati-hati, semoga liburan kali ini, bisa membuat Mami lebih tenang." Ucap Dylan.


Dylan tahu akhir-akhir ini ayahnya masih terus muncul dalam mimpi ibunya, tak jarang Dylan mendengar igauan Ranti menyebut nama Edbert saat tak sengaja menilik ke kamar ibunya.


Sesungguhnya, jiwa Ranti masih terguncang karena kejadian demi kejadian yang di alami selama bertahun-tahun ini. Di selingkuhi berkali-kali rupanya meninggalkan begitu banyak bekas.


Mungkin Garry akan mampu membuat ibunya beranjak dari mimpi buruknya, juga dari hati bekunya.


"Bye! Selamat sampai tujuan." Dylan mengecup lembut kening ibunya sebelum kemudian mengeluarkan kepalanya dari mobil dan menutup pintu.

__ADS_1


Mobil Garry perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah Dylan, sementara pria bule tampan ini masih hanya menatap berlalunya mobil itu, dua bodyguard kepercayaannya sudah mengikuti mobil Garry.


"Semoga, kesakitan yang Daddy berikan, bisa secepatnya dokter Garry sembuhkan, supaya Daddy, bisa tenang di surga sana." Gumamnya dalam harap.


...🖋️................🖋️...


Tiba di bandara, Garry turun dari mobil kemudian meraih tangan mulus Ranti dan menariknya hingga keluar. Beberapa awak pesawat sudah berjejer menyambut kedatangan mereka.


Angin berhembus kencang di area landasan pacu bandara tersebut sementara Ranti masih terlihat ragu-ragu "Kamu yakin mengajak ku ke Amsterdam Garry?" Tanyanya.


Garry mengangguk sambil menautkan rambut Ranti yang beterbangan ke telinga "Kita sudah sampai sini, semuanya sudah aku siapkan. Ikut lah bersama ku." Bujuknya.


Ranti mendengus selalu tapi tetap menuruti perintah pria itu, langkahnya arogan menaiki tangga pesawat dan Garry melepas kacamata hitam miliknya lalu menyusul Ranti menaiki pesawat pula.


Paspor, KTP, pokoknya segala keperluan yang di butuhkan untuk seorang imigran sudah di urus dengan bantuan Dylan.


Sebenarnya hal yang paling menyenangkan dalam menyewa jet pribadi adalah bisa menentukan langsung kapan waktu terbang.


Ranti di persilahkan duduk di salah satu jok, lalu kemudian Garry ikut menyusul duduk di sebelah kanan wanita kesayangannya.


Sabuk pengaman mulai di sematkan, pesawat mulai terbang pada suatu transisi dari berjalan di landasan taksi untuk terbang ke udara di atas suatu landasan pacu. Lepas landas.


Di joknya Garry menggenggam tangan Ranti "Terimakasih sudah mau ikut bersama ku." Bisiknya di telinga wanita itu.


Ranti masih hanya diam saja. Suasana hati nya tak terkendali, terkadang senang terkadang sendu, entah lah yang pasti senyum Garry masih menjadi alasan menyerahnya wanita itu.


Tak ada yang spesial selama perjalanan mereka, Garry belum memulai aksinya karena di rasa belum tepat waktunya.


Hampir 18 jam Ranti dan Garry berada dalam pesawat itu, dan sepertinya suasana hati Ranti mulai mencair, terlihat setelah turun dari transportasi udara ini senyum tersungging di bibirnya.


Keduanya langsung menuju hotel dan Garry hanya mengambil satu kamar presidential suite, hotel yang terletak dekat Museum Van Gogh. Yang tentunya sudah di booking dari sebelum keberangkatannya.


Tepat nya malam jam sepuluh karena meskipun perjalanan hampir delapan belas jam tapi Jakarta lebih cepat enam jam dari Amsterdam.


"Kenapa hanya pesan satu kamar? Kamu mau macam-macam pada ku?" Di depan resepsionis Ranti merutuki kekasihnya.


Garry melebarkan bibir "Aku sudah sering mengatakan, aku tidak akan macam-macam sebelum kita menikah, ini hanya kebutuhan terapi saja." Jelasnya.


"Terapi cabul??" Gerutu Ranti sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.


Garry hanya tersenyum.


...🖋️................🖋️...


Di balkon kamar, Ranti berdiri menatap hiruk pikuk perkotaan yang tersuguh di hadapannya. Embusan angin lumayan mengembalikan ketenangan dirinya meski sedikit membuatnya merengkuh tubuhnya sendiri. Kebetulan udaranya sangat mencekik karena sebentar lagi sudah mulai memasuki musim dingin.


Garry datang dari belakang lalu menyelimuti tubuh wanita itu "Kamu suka?" Pria itu memang tak pernah menganggap Ranti lebih tua maka panggilannya selalu kamu.


"Kamu apaan sih?" Ranti protes mendapati dekapan hangat pria tampan itu.


"Menghangat kan mu!" Jawab Garry dan Ranti terdiam tanpa melawan menerima dekapan hangat sang kekasih.


Siangnya, Garry mengajak Ranti ke sebuah taman rekreasi, di mana banyak wahana yang bisa mereka coba bersama.


Ini awal yang baik untuk Garry memulai usahanya. Mungkin dengan begini Ranti bisa meregangkan otot dan pikirannya untuk lebih santai lagi. Sejenak biarkanlah Ranti menikmati kesenangan hidup di dunia yang fana ini.


Awalnya Ranti selalu menolak menaiki wahana seram tapi pada akhirnya mau juga karena paksaan dari sang kekasih.


Garry bahagia melihat senyum dan tawa dari kekasih datarnya tiba-tiba tersebar murah meriah begitu impresif, meskipun baru beberapa hari, sepertinya Ranti mulai menikmati kebersamaan ini.


Di dampingi dua bodyguard keduanya berjalan-jalan, bersenang-senang dengan semua wahana yang berani mereka jajal.


Berbagai macam pose foto, mereka coba untuk pengabadian di sosial media, tiada yang menyaingi kebahagiaan Garry saat ini, ketika dirinya bisa satu atap, satu rasa, satu udara yang sama dengan Neng Ranti nya, apa lagi tak jarang mereka juga satu gelas dan satu piring saat berbagi makan dan minum.


Setelah lelah dengan semua wahana keduanya beristirahat sambil meneguk air mineral. Mata Ranti tak sengaja melihat kedai permainan tembak yang berhadiah unik. Terlihat beberapa boneka berbeda ukuran juga aneka benda vintage yang di pamerkan di sana.


"Garry, aku mau boneka itu, apa kamu bisa mendapatkan nya untuk ku?" Ranti menantang kekasih berondong nya untuk mengambil hadiah dari sana.


"Bisa! Pasti bisa!" Sahut Garry yakin.


Keduanya mendekati lokasi setelah membuang botol ke tempat sampah "Permisi, boleh saya coba? Calon istri ku menginginkan boneka itu. Bagaimana caranya?" Dalam bahasa Inggris Garry mengatakan itu.


Ranti tersenyum ketika Garry dengan percaya diri menyebutnya calon istri.


"Tentu saja, Anda harus berhasil menjatuhkan boneka itu, dengan senapan ini." Jelas instruksi dari pemilik kedai sambil menyodorkan satu senapan berpeluru kecil.


"Apa peluru sekecil ini bisa menumbangkan boneka sebesar itu?" Garry menggerutu seperti ragu-ragu.


Ranti mengelus lengan Garry "Kamu bilang bisa, ayok buktikan!" Sindirnya sambil tersenyum remeh.

__ADS_1


"Baik lah." Garry fokus bahkan menutup satu mata untuk membidik sasaran imutnya.


Rupanya satu kali tembakan hanya mampu menggoyangkan sedikit saja bonekanya.


"Ahh, sudah ku bilang, pelurunya terlalu kecil!" Protesnya menggerutu sambil membidikkan kembali senapan pada sasarannya.


Saat Garry memfokuskan bidikan Ranti mendekati telinganya "Aku kasih kiss kalo kamu bisa!" Kata penyemangat untuk pemuda itu dari bibir Neng Ranti.


Garry menoleh "Beneran Yank?" Tanyanya sambil tersenyum antusias dan Ranti mengangguk.


"Ok, aku pasti bisa!"


Garry mencoba lagi dan lagi. Sayangnya mencoba sampai menghabiskan berpuluh puluh koin tetap saja boneka besar berwarna merah muda itu tidak bisa Garry tumbangkan.


Wajahnya mulai muram, saking sudah terlalu frustasi dengan situasi ini, di tangannya tinggal satu koin lagi dan ini kesempatan terakhir.


Garry masih ingin memanfaatkan kesempatan ini ___PLAK!!___ tapi keberuntungan masih tak berpihak padanya.


"Hassial!!" Umpat Garry geram, kecewa, dogol bersatu dalam dadanya.


"Yaah, padahal aku mau boneka itu Garry, katanya kamu mau memberikan apa pun untuk ku, mana buktinya?" Sejujurnya Ranti bukan ingin boneka itu, dia hanya ingin mengerjai kekasihnya saja. Ranti tersenyum menatap wajah frustasi kekasihnya.


"Aku beli saja kalo gitu deh!" Garry menyeletuk keras pada pemilik kedai "Kenapa susah sekali, Pak! Anda curang, masa boneka sebesar itu, pelurunya sekecil ini? Aku beli saja bonekanya! Berapa hah?" Berang nya.


"Tapi ini memang tantangannya, dan maaf, bonekanya tidak di jual." Kata bule itu.


"Aaahh, kenapa ga di jual! Sama saja kan? Duit duit juga ujung nya! Kasih tahu saja berapa harganya? Aku beli berapa pun harganya! Pacar ku menginginkan itu!" Sambung Garry ketus.


"Tidak, sudah di katakan sebelumnya, boneka itu tidak di jual!" Pemilik kedai sampai emosi bahkan tatapan tajam mulai ia usung pada Garry.


"Bapak, nyari ribut hah?" Garry semakin murka mendapati tatapan tak bersahabat laki-laki itu bahkan langkahnya maju ingin berduel dengan pemilik kedai.


"Astaga Garry..!" Ranti syok.


"Sudah Garry, kita pergi saja dari sini!" Ranti lalu beralih pada pria bule itu "Maaf kan kekasih ku." Katanya. Lalu menarik paksa Garry dari sana.


"Aku bisa mendapatkan nya, kenapa kamu menghalangi ku hmm?" Sanggah Garry geram.


"Aku hanya main-main saja, aku tidak serius menginginkan itu. Kalo memang aku mau kita beli saja di tempat yang memang menjualnya. Ini kan cuma permainan, kamu kenapa jadi sewot begini?" Sambung Ranti.


Garry berpaling muka, ngambek.


Melihat itu Ranti mendengus "Begini rupanya punya pacar berondong, ada ngambek nya segala!" Gerutunya.


Garry menoleh dan giliran wajah Ranti yang berpaling "Aku baru sadar, kalo kamu menganggap ku kekasih." Ucapnya tersenyum, amarah yang di dapat dari bule menyebalkan sudah hilang terbawa angin.


"Sudah lah, kita pulang! Sudah sore!" Ajak Ranti mengalihkan pembicaraan.


Garry mengangguk "Ok sayang."


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke hotel, masih ada hari esok untuk mencoba hal seru lainnya.


Garry mengambil sepeda miliknya lalu membonceng Ranti pulang, yah, seharian ini keduanya memang bepergian dengan sepeda seperti kebiasaan warga setempat.


Di belakang mereka bodyguard utusan Dylan masih setia mendampingi langkahnya, kali ini kedua pria itu juga memakai sepeda.


Dalam perjalanan ke hotel Garry acap kali menoleh ke belakang sambil sesekali menarik tangan Ranti untuk memeluknya "Sayang, nanti malam kita ke bioskop yah. Aku sudah pesan tiketnya." Ajaknya.


"Bioskop? Mau nonton apa? Kita bisa nonton sepuasnya di Netflix kan? Ngapain jauh-jauh ke bioskop?" Sanggah Ranti polos.


"Ini bukan bioskop biasa, tapi bioskop ehm 5D Neng, ini bagus untuk terapi mu." Jelas Garry dengan cengiran nakalnya.


Ranti berkerut kening curiga "Bioskop 5D,"


PLAK! Ia memukul keras punggung Garry saat menyadari ajakan nakal pemuda itu. Bioskop itu memang sangat terkenal di kalangan para wisatawan.


"Kamu mengajak ku menonton film por_no hah?" Berang Ranti.


Garry menyengir "Sudah ku bilang, ini bagus untuk terapi mu, kita coba saja, pasti seru, lagian kamu janji akan membolehkan ku berusaha bukan?" Lagi-lagi pemuda itu menagih janji kekasihnya.


"Dasar messum!!"


Ranti mendengus pasalnya sang kekasih mengajaknya menonton bioskop 5D, khusus untuk menonton film por_no.


Atraksi-atraksi unik yang ditampilkan termasuk di antaranya kursi yang bisa bergerak, udara, angin dan semburan air untuk merangsang lima indera, menawarkan pengalaman baru bagi penontonnya.


Terlepas dari film por_no yang ditayangkan, bioskop ini adalah tempat yang cocok untuk menghabiskan malam dengan orang terkasih dan menggambarkan tempat ini mirip dengan taman ria.


"Mau yah, sayaaaang." Garry sedikit menoleh ke belakang dan Ranti hanya diam saja dengan wajah cemberut.

__ADS_1


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


...Semangati author dengan Like vote komen dan hadiah nya... Jangan lupa tekan ❤️ juga yaah.... See you next episode 🤗...


__ADS_2