Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Garansi segel


__ADS_3

Cinta itu terlalu suci untuk di nodai, terlalu tinggi untuk di khianati, terlalu indah untuk di kotori. Karena ia adalah anugerah yang harus di jaga kesuciannya, di agungkan ketinggiannya, dan di kagumi keindahannya.


Cinta layaknya angin, apapun yang di tiupnya akan di gerakannya. Seperti air, yang menghidupkan segalanya. Dan seperti bumi, ia bisa menumbuhkan apapun saja.


Ada seribu hal yang bisa membuat Garry untuk meninggalkan Neng Ranti nya, tetapi ada tiga kata yang membuatnya tetap tinggal di hati yang sempat membeku itu "Aku cinta kamu!"


Ranti terenyuh hingga menetes lah bulir-bulir air dari sudut netra nya "Bagaimana kalo ternyata. Aku lebih mencintai mu?" Kata Ranti.


"Semua orang tahu, aku tetap lebih mencintai mu!" Garry tak mau di kalahkan jika menyangkut soal siapa yang paling besar mencintai pasangannya.


Di dalam bathtub yang bergelimang busa sabun sepasang pengantin baru itu menikmati setiap detik bersama sembari saling memanjakan tubuhnya dengan sentuhan lembut.


Dalam bathtub itu pula Ranti duduk di atas pangkuan Garry sambil meremang merasakan sesuatu yang sudah mengeras dan menusuk miliknya.


Kaki mereka saling bersentuhan dengan sesekali menggesek dan Ranti merem-merem tak keruan karena tangan Garry yang semakin aktif menjajagi seluruh liukan risanya.


Leher Ranti sudah habis oleh kecupan serta bertaburan tanda kepemilikan.


Dari belakang Garry tak memberi celah sedikitpun untuk wanita kesayangannya bernapas lega. Ranti selalu saja di buat ngos-ngosan karena sentuhan yang memabukkan.


"Kamu menyiksa ku Garry!" Protes Ranti, tubuhnya kerap menggelinjang kegelian.


"Kenapa tidak panggil Abang? Aku suami mu Neng!" Bisik Garry protes.


"Emmh, Abang." Kata Ranti.


Garry menyengir "Ciye, yang udah kedut kedut!" Ucapnya. Di bawah sana ada sesuatu yang meremas jemarinya saat ini.


Ranti hanya diam saja, wanita itu masih meremang menikmati setiap sentuhan suaminya. Desah kenikmatan sering menggema di dalam kamar mandi mewah itu.


"Gimana kalo kita pindah ke kamar?" Usul Garry.


Ranti mengangguk "Iya." Keduanya beranjak dari posisinya kemudian membilas tubuh mereka dengan air dari shower.


Handuk kimono Garry lekatkan pada tubuh Ranti dan handuk persegi panjang ia lilitkan pada pinggangnya.


Di depan cermin kamar mandi, Garry mengeringkan rambut wanita itu sebelum kemudian menggendong Ranti menuju ranjang pengantinnya.


Ia meletakkan tubuh Ranti di antara kelopak bunga mawar merah yang bertaburan memenuhi ranjang king size itu.


Di atas nakas ada patung dua angsa cantik yang saling mematuk, memadu kasih, seakan menggambarkan bersatunya pasangan suami istri baru ini.


Garry baru akan menundukkan wajahnya kemudian Ranti menghalangi niatnya "Abang!" Bisiknya.


"Hmm?"


"Matikan saja lampunya, Neng malu." Ranti tersipu seperti gadis polos.

__ADS_1


"Tapi Abang suka memandangi tubuh mu, jangan gelap-gelapan, takut nyasar!" Sela Garry setengahnya protes.


"Kan bisa pake lampu tidur saja, Neng nggak mau kalo terlalu terang!" Sambung Ranti merengut.


Melihat itu Garry mengangguk "Em-em. Apa pun itu asal kan demi Neng, Abang lakukan!" Katanya merayu.


Garry meraih sakelar lampu untuk di matikan kemudian mendekati ranjang kembali, dia duduk bersandar pada kepala ranjang karena isterinya mengintruksikan itu.


"Di sini Abang!" Pinta Ranti.


Tangan wanita itu sudah pengalaman karena pelajaran messum dari film dan novel erotis, kini mulai beraksi.


Wanita itu bermain-main dengan pusaka bangsa milik suaminya, dengan meremas kecil tongkat ajaib yang bisa berubah bentuk dalam waktu singkat itu.


Garry memejamkan mata merasai sentuhan erotis yang Ranti ciptakan "Ga sia-sia ngabisin banyak duit buat hidup di Belanda! Akhirnya Neng Ranti pinter juga." Batinnya.


"Ough!" Garry menghela napas panjang sambil terpejam, bahkan keningnya mengerut ketika tombak tidak lancip itu di pagut bahkan tenggelam dalam lubang bergerigi.


Ranti menikmati nya, dan ini yang pertama kali dirinya melakukan hal itu, dulu Edbert tak pernah mengajarinya seperti ini maka hanya monoton saja yang bisa dia presentasikan.


Garry mengusap lembut puncak kepala isterinya sambil merem melek menikmati setiap cecapan yang Ranti berikan. Napas berderu hingga terdengar serak di telinga Ranti.


Cukup lama karena Ranti menyukainya.


"Sudah, jangan siksa Abang!" Garry menyeletuk ketika Ranti mulai tak terkendali menaik turunkan geriginya.


"Neng, apa boleh gantian, aku juga mau mendengar desah mu!" Protes Garry.


Tak memberikan jawaban, Ranti justru memagut lembut bibir Garry sambil terpejam sebelum kemudian Garry mengambil alih posisi, di gulingkan nya tubuh isterinya hingga berada dalam kungkungan nya.


Setelah beberapa detik menikmati pergulatan bibir, Garry lantas beralih ke pada leher dan menggigitnya secara perlahan.


Desah kenikmatan mulai terdengar merdu di telinga Garry, dan itu semakin membuat pria itu berapi-api untuk melanjutkan aktivitas nya.


Setangkup bulatan merah yang pernah ia cicip sekarang bisa dia lahap habis malam ini. Meskipun sejatinya benda kenyal itu takkan pernah habis.


Tangan Garry tak mau diam, terus menjajagi pintu surga isterinya demi mendapatkan pelumas alami milik Ranti.


"Abang!"


"Hmm?"


"Kenapa nggak langsung saja? Neng mau." Ranti membuka lebar pahanya untuk memudahkan sang junior kesayangannya.


Garry menyeringai "Siap-siap!" Bisiknya di telinga isterinya.


Pelan sekali Garry menerobosnya, saking tidak maunya menyakiti area tubuh yang sudah tidak muda lagi itu.

__ADS_1


"Ough, Neng!" Kesempitan ini berhasil membuat Garry merasakan kenikmatan yang hakiki, bahkan dia bisa menjamin bahwa rasanya seperti menerjang pertahanan seorang gadis "Segel garansi Neng masih rapat!" Batinnya.


"Emmhh." Ranti tak menjerit kesakitan, karena lihai nya permainan sang suami tampan.


Seorang dokter, sudah pasti tahu cara melakukan hal itu tanpa harus mencobanya terlebih dahulu. Dia tahu area sensitif juga area yang baik untuk di sentuh agar Ranti terus merasakan buaian asmaranya.


"Lebih cepat lagi Bang!" Di sela ******* Ranti protes "Lagi! Lagi!" Tuntut nya, entah lah suara itu semakin terdengar memanggil gairah muda sang dokter yang baru saja melepas predikat perjaka tuanya.


Tempo permainan Garry percepat karena itu permintaan langsung dari sang ratu hatinya, dirinya hanya lah budak cinta yang akan menuruti segala perintah baginda ratu.


"Tidak sakit kah?" Tanya Garry.


Ranti menggeleng cepat "Kamu pandai, Bang dokter!" Katanya terengah-engah.


Garry tersenyum puas melihat wajah cantik isterinya yang tamaram karena pendar cahaya remang-remang dari lampu tidur di atas nakas.


Meskipun remang-remang Garry mampu melihat seluruh liukan risa yang begitu menggoda milik isterinya, tak bisa di pungkiri, di usianya yang sudah mendekati lima puluh tahun tubuh Ranti masih mirip gitar Spanyol.


"Berbalik!" Hanya singkat saja yang Garry ucapkan tapi dengan sigap Ranti menurut, memutar tubuhnya dan menyodorkan pinggulnya pada Abang kesayangannya.


"Maaf, langsung!" Garry tak perlu berhati-hati lagi karena sudah sangat licin.


Hentakan demi hentakan Garry berikan hingga Ranti semakin meremas bantal yang tidak salah padanya.


Bukan lagi desah tapi mengerang yang Ranti lakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya benar-benar melayang oleh setiap jamahan suami tampannya.


Sesekali Garry mengecup punggung Ranti sambil terus memainkan pinggulnya hingga menciptakan suara-suara seperti tapak kuda. Pinggang Ranti yang meliuk begitu memudahkan dirinya untuk berpegangan.


Tak pernah lagi merasakan sentuhan ini, semenjak menyusui putranya yang sudah berusia tiga puluh satu tahun "Oh nikmatnya." Dia terus mempresentasikan bagaimana rasa yang Garry berikan.


Sejurus kemudian Garry melepas pusaka nya dan menumpahkan lahar putih kentalnya pada punggung isterinya.


Dia lantas meraih tisu basah yang teronggok di atas nakas dan mengelapnya sebelum kemudian membuangnya ke tempat sampah.


Mendapati itu Ranti protes "Abang!" Pekiknya merengut.


Garry berbaring dan menarik tubuh Ranti agar menindih dirinya "I love you!" Ucapnya, kecupan lembut dia labuh kan pada kening wanita itu kemudian menarik selimut menutupi tubuh polos keduanya.


Ranti masih merengut "Kenapa tidak di masukkan ke dalam? Neng mau!" Protesnya.


"Neng tidak perlu hamil saja, Abang mau, Neng tidak repot-repot hamil anak kita! Neng udah punya banyak anak kan?" Garry mengusap pipi isterinya. Meskipun berbeda usia tapi Ranti masih seperti Baby di mata laki-laki itu.


"Aku mau punya keturunan dari mu, aku mau punya keturunan yang seperti mu." Kata Ranti sendu.


Garry hanya terdiam masih sambil mengusap pipi isterinya. Membuat Ranti hamil bukan lah cita-citanya, usia Ranti sudah sangat rentan untuk hamil lagi, sesungguhnya Garry tidak ingin melihat isterinya repot-repot memberikan keturunan. Bisa hidup bersama Ranti saja sudah sangat cukup baginya.


"Kamu setuju tidak aku hamil?" Tanya Ranti dan Garry menggeleng "Tidak!" Jawabnya.

__ADS_1


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2