Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Talak!


__ADS_3

Berderai air mata Jelita mengiringi perjalanan suaminya ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.


Seluruh keluarga besar Anson dan Marseille datang, menyandang gurat panik di wajahnya masing-masing.


Tiga hari sudah Brandon koma lalu pagi tadi laki-laki itu membuka matanya juga kewarasannya, beruntung Brandon tidak sampai hilang ingatan.


Sejenak kita mengingat saat tiga hari yang lalu, di mana Brandon mengikuti kekasihnya setelah perdebatan sengit mereka.


"Jadi kamu memilih Jeje dari pada aku Mas? Lalu aku harus pergi setelah kamu hancurkan masa depan ku?" Shasha berteriak histeris saat Brandon memutuskan dirinya.


Brandon sudah ingin tegas memilih satu di antara wanita tercintanya, yaitu Jelita.


"Maaf kan aku Sha, ternyata aku tidak bisa jauh dari Jeje ku! Aku bisa gila tanpanya." Sambung Brandon lirih.


"Kalo begitu, gila saja kamu Mas! Jangan salah kan aku, jika harus mencelakai istri mu!" Shasha berjalan cepat memasuki mobil putih miliknya lalu melajukan kendaraan itu secepat kilat di ikuti mobil hitam milik Brandon.


Shasha sempat menunggu Jelita di depan kediaman utama keluarga Marseille dan Brandon sempat mengetuk kaca mobilnya namun tidak ada pengindahan dari wanita nekad itu.


Lalu selang beberapa saat Shasha mengikuti mobil Jelita yang baru keluar dari rumah menuju salon kecantikan.


Mungkin sekitar tiga jam Shasha bersabar menunggu Jelita keluar dari salon, lagi-lagi Brandon juga sempat mengetuk kaca mobilnya namun lagi-lagi juga Shasha tak mengindahkan kekasihnya. Akan tetapi, setelah tiga jam itu Dylan membawa lari Jelita.


Shasha masih terus mengejar kemana arah mobil Dylan melaju, sampai pada saatnya mobil Dylan menepi dan dia tak sempat menginjak rem hingga mobil putih miliknya melewati mobil Van milik Dylan kala itu.


Hal tersebut menjadi kesempatan bagi Shasha untuk meloloskan niatnya mencelakakan istri kekasihnya, jika dirinya tak mendapatkan Brandon, maka Brandon juga tak boleh bahagia bersama Jelita. Jalan satu-satunya adalah melenyapkan Jelita dari muka bumi untuk selama lamanya.


Namun, Brandon yang saat itu masih setia mengikuti mobilnya membanting setir ke arah kiri menghalangi laju mobil milik Shasha hingga kepala pria itu terpentok dengan sangat keras pada kaca jendela anti peluru, yaitu mobil yang Anson hadiahkan kepada menantu kesayangannya saat berita kehamilan perdana Jelita.


Betapa tidak berlumuran darah Brandon? Peluru saja tak dapat menembus kaca tersebut apa lagi kepala manusia? Alhasil Brandon koma selama tiga hari di rumah sakit.


Syukurlah, laki-laki itu sudah bisa menegakan tubuhnya meskipun masih membutuhkan penopang bantal empuk yang menyangga punggungnya.


"Kamu di sini Jeje?" Berbalut perban di kepalanya Brandon menatap wajah Jelita dengan senyum tipisnya.


Jelita mengangguk "Iya E'den!" Jawabnya singkat.


"Kamu masih istri ku kan Jeje?" Tanya Brandon lirih penuh harap, semoga saja setelah kejadian ini Jelita urung dari niatnya.


"Tentu saja!" Jawab Jelita. Lalu air mata terjatuh begitu saja tanpa perintah dan Brandon tak mau mengartikan tangisan itu.

__ADS_1


"Apa aku boleh mencium mu? Aku sangat merindukan mu!" Tanya Brandon lagi, suaranya terdengar bergetar penuh ketakutan. Takut dengan perpisahan yang akan Jelita tuntut darinya setelah dia sembuh nanti.


Mengulas senyum Jelita mendekat lalu membiarkan wajahnya tak memiliki jarak dengan suaminya "Maaf kan aku!" Ucapnya penuh sesal.


"Kamu boleh melakukan apa pun pada ku E'den, aku berhutang nyawa pada mu, maka di setiap detiknya, akan ku abdikan hidup ku pada mu!"


Jelita merasa sudah di berikan kesempatan hidup kembali dan pada akhirnya dirinya memiliki kesempatan untuk meminta maaf pada Dylan. Itu lah, yang bertengger di pikiran Jelita saat ini.


Mengukir senyum lemah Brandon mengikis jarak yang hanya tinggal satu senti saja, lalu memberikan beberapa kecupan lembut pada wajah cantik isterinya.


Berderai air mata Jelita menerima sentuhan-sentuhan itu hingga tak mampu lagi dirinya menahan sendu tangis.


"Kamu kenapa Jeje?" Brandon bertanya bingung, pasalnya bukanya merasa senang, Jelita justru tersedu menangisi sentuhan darinya.


Jelita menghambur memeluk tubuh laki-laki itu masih sambil terisak "Maaf kan aku yang sudah lancang mencintai laki-laki lain, selain dirimu E'den! Maaf kan aku! Aku bersalah pada mu!" Pada akhirnya kata itu yang terucap dari bibir Jelita Maharani.


Dia mengangguk angguk "Aku berjanji, aku akan mencoba memindahkan rasa cinta ku untuk mu lagi, seperti dulu, E'den!" Lanjutnya tersedu-sedu.


Brandon kelu, mendengar pengakuan wanita cantik itu, jadi rupanya Jelita sudah benar-benar mencintai laki-laki lain? Dylan bukan lah sebatas pelarian semata, tapi Jelita mengakui perasaannya sudah sangat tulus.


Brandon tergugu, bibirnya tak dapat lagi berkata-kata, lelaki itu terdiam seribu bahasa, dari yang sendu hingga yang pilu sudah tak mampu dia ucapkan.


Sekarang ini, matanya menatap lekat wajah cantik Jelita yang tertunduk dengan tangisan pengakuannya. Panas, mendengar hal itu, jadi seperti ini kah rasa yang selama ini Jelita cecap darinya?


Sekitar lima hari Brandon di rawat secara intensif di rumah sakit, Jelita masih rajin berbolak-balik merawat sang suami yang membutuhkan perhatian khusus darinya.


Persidangan tidak jadi di lakukan karena Jelita mencabut gugatannya tepat di hari sidang pertamanya.


Jelita bertekad untuk kembali pada Brandon meskipun harus berusaha melupakan nama Dylan dengan susah payah.


Langkah kaki Jelita sedang terayun memasuki kamar VVIP milik Brandon tapi di dalam seorang wanita berseragam biru tengah membersihkan tempat itu.


"Loh, kok sepi? Suami saya mana buk?" Tanya Jelita sambil mengedarkan pandangannya mencari penghuni kamar tersebut.


"Bukanya dari tadi pagi Tuan Brandon sudah pulang? Dia bilang ingin menjalani rawat jalan saja." Jawab wanita itu.


"Rawat jalan?" Jelita sedikit tersentak kaget mendengar berita itu, kenapa Brandon tidak memberi tahunya?


"Iya Nyonya!" Angguk wanita itu.

__ADS_1


Tanpa bertanya apa pun lagi. Jelita kemudian berjalan keluar dari ruangan lalu kembali mendatangi dan memasuki mobil miliknya, segera berlalu dari bangunan putih itu.


Tiba di rumah, rupanya Brandon tengah duduk di bangku taman halaman depan menatap lekat rumah mewah di seberang sana.


Jelita mendekati laki-laki itu lalu duduk tepat di sebelah kirinya "Kenapa kamu di sini E'den? Kamu belum sembuh total!" Tanyanya.


Brandon menoleh lemah "Aku sengaja pulang, menyiapkan kado ulang tahun untuk mu Jeje!" Jawabnya dengan ulasan senyum tipis.


"Oya?" Jelita mengernyit heran "Kenapa tidak sembuh saja dulu, baru kamu siapin kado untuk ku!" Tanya nya.


"Ini kado spesial Jeje, aku yakin kamu akan merasa sangat bahagia menerima hadiah dari ku!" Sambung Brandon.


"Memang nya apa, E'den?" Tatapan paku Jelita tertuju pada laki-laki itu sekarang.


"Buka lah!" Brandon menyodorkan kotak besar berwarna hitam pada isterinya. Lalu kemudian Jelita menerima.


Perlahan, Jelita membuka kotak itu dan sebuah dokumen berada di dalam sana membuat kerutan di kening Jelita tertampil seketika itu juga.


"Apa ini E'den? Apa surat tanah? Atau BPKB mobil?" Tanya Jelita.


"Buka saja dulu Jeje! Lalu kamu baca!" Titah Brandon masih terdengar sangat lirih. Tak ada senyum sedikitpun di wajahnya seperti layaknya laki-laki yang memberikan kado spesial pada isterinya.


Jelita meraih amplop coklat tersebut lalu mengambil satu lembar kertas dari dalam sana.


"Surat talak?" Sontak pandangan Jelita beringsut kepada laki-laki di sebelahnya. Sungguh tak menyangka rupanya Brandon sendiri yang menceraikan dirinya kali ini.


Brandon tersenyum irit "Aku resmi menceraikan mu Jeje!" Bersamaan dengan itu, bulir-bulir bening meleleh menyusuri pipi jernih laki-laki tampan itu.


Jelita di buat hening dengan penuturan Brandon.


"Aku minta maaf, sudah mengacuhkan semua kejahatan Shasha padamu selama ini, aku juga tidak melaporkan semua tindakan kriminal Shasha pada mu! Sejujurnya selama ini aku tahu semua yang sudah Shasha perbuat pada mu Jeje! Tapi, aku sengaja mengabaikan nya! Aku terlalu mencintai nya, meskipun aku juga sangat menyayangi mu bahkan sangat mencintai mu!" Tambahnya.


"Aku membiarkan Shasha yang sudah hampir menggugurkan kandungan mu, aku juga menyuruh Shasha pergi ke luar negeri setelah dia gagal menabrak mu lima hari yang lalu!" Timpalnya mengaku.


"Seharusnya, aku tidak egois, dengan terus menginginkan kalian berdua berada di sisi ku, karena keserakahan ku, aku bahkan hampir membuat mu lenyap dari dunia ini! Maaf kan aku Jeje!" Laki-laki itu terisak tersedu mengakui segala kesalahan yang tak pernah Jelita ketahui.


Jadi selama ini Brandon berpura-pura tidak tahu dengan aksi Shasha saat menabur minyak zaitun di lantai marmer kamar Jelita hingga membuat janinnya nyaris gugur?


Brandon justru menyuruh Shasha lari ke luar negeri setelah kejadian tabrakan kemarin?

__ADS_1


Tak ada kata yang mampu Jelita ucap, dirinya tergugu mendengar setiap kata yang berderai dari mulut mantan suaminya. Mantan?? Yah! Brandon sendiri yang menceraikan isterinya kali ini.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


__ADS_2