
Tak salah jika berbicara tentang rasa cinta, tapi tidak akan di benarkan jika sudah diiringi dengan sikap tamak.
Manusia di ciptakan lengkap dengan pemikiran yang sempurna di banding dengan makhluk hidup lainnya, maka cobalah untuk tidak dengki dengan kebahagiaan milik orang lain apalagi jika sampai ingin merenggut dan memiliki.
Jangan coba-coba mengatasnamakan manusiawi hanya untuk membenarkan atau sekedar menafikan penyakit hati.
Sepasang mata iri mengarah kepada wanita cantik yang baru saja di pinang laki-laki tampan, tak ayal, di sudut sana ada Bella yang berdiri dengan rahang tak bersahabat sambil mengepalkan tangan erat.
Kemudian berjalan mengikuti kemana langkah kaki wanita cantik itu berayun, Jelita sudah cantik dengan busana pagi harinya.
Dress velvet tipis tak berlengan berwarna putih yang panjangnya hanya menutupi gundukan padat di bagian belakangnya saja.
Rambut ikal Jelita basah, wangi dari aroma terapi tercium dari kejauhan, paras rupawan yang sudah alami itu polos tanpa polesan make up.
Langkahnya kemudian keluar dari mansion dan sigap matanya menangkap sosok tampan tengah menunjukkan tubuh seksinya.
Terlihat disana Dylan menaik turunkan dada bidan juga perut six pack miliknya, ia melakukan push up dengan kepalan tangan di lantai marmer, halaman belakang.
Alam indah sekitar, bunga-bunga yang bergoyang tertiup desiran angin pagi hari menjadi saksi seakan iri, seakan menikmati, seakan ingin terus menatap pada tubuh berkucur peluh milik lelaki itu.
"Hubby." Panggil Jelita.
Dylan mendongak menatap mendekatnya tubuh sang istri "Pagi Baby!" Sapa nya tersenyum manis hingga lesung pipi tertampil di sisi bibir.
"Pagi suami ku." Balas Jelita.
Di sudut tempat Bella masih bisa melihat senyum tulus mantan kekasihnya, biarkan saja, Jelita memang sengaja menggiring langkah wanita itu ke tempat di mana ia akan bermain-main dengan suaminya.
Jelita menekuk lutut lalu menundukkan wajahnya, kemudian meraup rahang Dylan juga menebar kecupan pada bibir rona suaminya.
Pelayan-pelayan yang tak sengaja bertugas di sekitaran sana menjadi saksi morning kiss mereka.
Sebelah tangan Dylan meremas tengkuk Jelita lalu menenggelamkan bibirnya masih di posisi yang sama hingga kini dirinya hanya bertumpu pada satu kepalan kekarnya saja.
Untuk beberapa saat indra perasa keduanya saling menyerang begitu binal.
Jelita lepas pautan bibir mereka lalu membiarkan suaminya kembali melakukan aktivitas fisiknya. Ia beranjak dari posisinya lalu berjalan sedikit ke arah punggung suaminya dan menduduki punggung lelaki itu.
Brugh!!
Alih-alih duduk di punggung Jelita justru terperunyuk saat Dylan mengganti posisi menjadi terlentang dengan tiba-tiba.
Tepat sekali! Jelita terjatuh di atas tubuh kekar suaminya "Emmh, Hubby, aku mau main ayunan di punggung mu! Sama seperti bang Tristan dulu, dia suka meminta ku naik ke punggung nya saat dia push up!" Bibirnya ia kerucut kan maju.
"Aku lebih suka posisi ini, bisa menikmati pemandangan indah juga aroma wangi di pagi dan udara yang segar, sangat menggoda jiwa ku." Ucap Dylan, senyum manis selalu tersungging begitu impresif di bibir merahnya.
"I love you." Lalu kedua bibir itu beradu, tak sempat lagi ragu Dylan membalikkan posisinya hingga kini dia yang menindih tubuh kecil nan empuk isterinya.
Entah lah mungkin mereka sedang berniat menunjukkan pada semua bahwa hanya mereka lah yang sangat bahagia saat ini.
Peraba mulai nakal bahkan menarik lutut Jelita hingga tertekuk, ia elus lembut paha mulus itu sedang Jelita hanya mampu meremang saja.
Ceruk leher wanita itu Dylan cecap hingga meninggalkan bekas merah tanda kepemilikan di sana.
"Jangan makan aku di sini Dylan!"
__ADS_1
Dylan terkekeh "Kenapa hmm? Kau yang menggoda ku! Apa sekarang kau yang takut Baby?" Ujung hidung itu terus mendusel dari leher hingga ke tulang selangka.
"Hubby....." Rengek Jelita terdengar memelas.
"Ok, ok! Kita pindah ke kamar." Di rasa memanas Dylan berdiri lalu menarik isterinya, Jelita lantas menghambur melingkarkan kakinya sempurna pada pinggang dan tangannya mengalungi leher pria itu.
"Kenapa memakai pakaian seperti ini? Apa istri ku sedang pamer tubuh indahnya pada semua wanita yang tinggal di sini?" Goda Dylan.
"Aku hanya ingin memanjakan mata suami ku! Apa tidak boleh?" Bibir Dylan mendarat sekilas pada bibirnya setelah itu.
...🖋️................🖋️...
"Dasar jalaang!! Tidak tahu malu! Tidak tahu diri! Sudah janda menikahi bujangan, calon pewaris lagi! Matre!" Umpat Bella yang masih setia menatap ke arah mereka sembari bersembunyi di balik ornamen penyekat.
...🖋️................🖋️...
Dylan merebahkan tubuh isterinya perlahan di atas ranjang berukuran super king bersprei putih polos.
"Apa sudah surut?" Tanya Dylan memastikan.
Jelita mengangguk "Baru saja aku keramas." Jawabnya.
"Jadi istri ku benar-benar menggoda ku hmm?" Dylan mengelus lembut puncak kepala isterinya dengan tatapan penuh damba "Apa se_penasaran itu istri ku?" Goda nya.
"Aku mau kita cepat-cepat punya keturunan Hubby, dengan begitu posisi kita bisa lebih kuat lagi bukan? Aku mau sebelum kamu berangkat ke kantor kita tanam dulu benihnya. Pagi-pagi, mungkin bisa cepat berhasil." Jelita mengangkat alisnya sambil tersenyum.
Kain pembungkus keduanya mulai terlepas serampangan.
Berawal dari tatapan beralih ke sentuhan yang kian memanas, desiran aneh terasa membuncah sanubari keduanya, napas berat terdengar sesekali ketika sang bibir berkelana mencari persinggahan dan berlabuh pada kuncup berwarna pink cemerlang itu.
Goresan demi goresan yang menggelitik bagian sisinya begitu memabukkan wanita cantik satu ini, sesekali matanya terpejam, lalu sesekali menurunkan pandangan ke antara kedua pahanya.
"Dylan, cukup!" Protes Jelita.
"Ini belum seberapa Baby, masih ada waktu bermain-main dulu!" Wajah itu tenggelam lagi di antara pada mulus Jelita.
"Aku mau Dylan!" Rengek Jelita.
"Jadi kamu merengek hmm? Kalo begitu mengemis lah, aku menyukainya Baby!" Dylan terus mempermainkan erotisme isterinya.
Bibir Jelita mencebik "Kamu jahat!" Ucapnya berpaling.
"Baiklah, jangan ngambek, aku milikmu, aku budak cinta mu." Dylan menanggalkan sisa kain yang membungkus tongkat pusaka nan panjang miliknya.
Saliva tiba-tiba saja meluncur ke tenggorokan Jelita "OMG! Dylan!" Tanpa sadar ia memekik.
"Hmm? kenapa? Masih tidak sabar?" Tanya Dylan polos.
"A-apa muat? Sebelumnya, ..." Jelita hampir saja keceplosan membandingkan milik mantan suaminya "Bicara apa aku?"
Dylan tersenyum "Kita coba saja dulu, Tuhan sendiri yang menjodohkan kita, Baby. Tidak mungkin Tuhan salah memilih kan mu untuk ku!"
Jelita memejamkan matanya sekuat tenaga, semakin takut semakin ia merapatkan kuncup pink miliknya.
"Relax!" Dylan elus lembut bagian sisinya agar lebih santai titik intinya.
__ADS_1
Tak pernah menikah atau menyentuh wanita mana pun sebelumnya tapi pembelajaran itu Dylan dapat dari beberapa film yang pernah ia tonton.
Sejurus kemudian, Jelita kembali di buat ingin oleh setiap sentuhan lembut suaminya, dan pada saat itu lah Dylan bergegas menerjang hingga ambles pertahanan sang istri.
"Sempit!" Dalam batin Dylan sampai mengumpat saking kesalnya miliknya di remas sebegitu ketat. Perlahan tapi pasti ia mulai bergerak di kecepatan rata-rata awal lebih dulu.
Erangan kesakitan Jelita yang berubah perlahan menjadi desah kenikmatan mulai menenangkan pikiran sang suami.
Sebab tak mungkin dia hindari atau hentikan di persimpangan jalan. Tanggung, jangan sampai urung.
Peluh mulai berjatuhan, rupanya AC tak berfungsi pada kedua tubuh yang sedang di bakar asmara itu.
Seprei porak-poranda, bantal berceceran di mana-mana, suara kulit yang beradu begitu kerap terdengar seiring dengan hentakan gagah pria itu. Dylan terus menambah laju kecepatan, sesuai permintaan sang ratu penumpang.
"Aku gila, aku gila di buatnya!" Batin Jelita.
Ia, merasakan sensasi lain dari suami di pernikahan keduanya yang baru pertama kalinya menembus pintu surga dunia.
Berbagai macam posisi mereka praktekkan, Jelita lah yang mengambil inovasi di setiap perpindahan gaya, pada kenyataannya waktu pagi habis untuk menanam benih saja.
"Emmh Dylan. Cukup pliiss." Pinta Jelita memelas, awalnya dirinya yang merengek lalu sekarang dirinya pula yang meminta ampun.
"Maaf kan aku, tapi mungkin ini bawaan lahir ku Baby!" Dylan tersenyum miring menyombongkan diri.
"Ini sudah siang, kamu harus sarapan, lalu berangkat ke kantor. Ada yang perlu kamu pelajari sebelum peresmian jabatan mu bukan?" Ujar Jelita di sela senggal-senggal napas berat nya.
"Bukan itu alasan mu, bilang saja menyerah! Aku akan dengan senang hati menghentikannya Baby!" Ledek Dylan.
"Ok! Bendera putih berkibar!" Kata Jelita yang membuat bibir Dylan tersenyum manis.
Sekejap Dylan menembak kan lahar hangat mengarah pada rahim sang istri "I LOVE YOU, Baby!" Erangan terakhir yang mencelos dari bibir lelaki itu sebelum ambruk di sebelah isterinya.
Jelita menyusul berbaring miring mengusap pipi suaminya "I love you too, Hubby." Bahagianya sungguh tiada tara bandingannya.
Pernah ia merasakan sakit, pernah di khianati, pernah ia di buat bodoh, pernah ia di hancurkan hingga menjadi abu tak bersisa. Lalu kemudian Dylan merawatnya kembali hingga utuh bahkan lebih indah bentukannya dari sebelumnya.
Tetesan bening meleleh membasahi sprei, Dylan kecup kening wanita menangis itu lembut penuh cinta "Hanya aku yang boleh memiliki mu, dan aku hanya milik mu." Ucapnya.
...🖋️................🖋️...
Bersamaan dengan itu, di lantai bawah, Mila memasuki kamar Edbert, wanita itu membawa jas hitam suaminya lalu memakaikan nya.
Bibir Edbert selalu tersenyum karena hatinya sedang bahagia, hari ini hari pertama putra semata wayangnya memasuki kantor pusat Jack group sebagai pewaris tahta.
"Daddy, ..." Mila melipat bibir menatap dalam harap suaminya.
"Hmm?"
"Daddy yakin? Mau Dylan memimpin perusahaan? Dia saja tidak lulus SMA, masa Hendra yang lulusan luar negeri jadi bawahan? Gimana kalo perusahaan Daddy bangkrut? Bukanya selama ini Dylan tidak pernah memimpin perusahaan? Dia tunjuk direktur direktur yang dia percayai untuk memimpin perusahaannya sendiri kan? Bukan dia kan? Lalu gimana bisa sekarang mau menjadi pimpinan di perusahaan besar Daddy hm?" Rutuk Mila panjang lebar.
Edbert tersenyum miring "Itu lah bedanya putra ku dengan putra mantan suami mu. Dylan sudah membuktikan bisa sukses tanpa ayah billionaire nya bahkan tanpa pendidikan yang tinggi sekalipun, aku percaya, sepenuhnya! Pada darah yang ku alirkan, apa lagi Dylan lahir dari rahim wanita terhebat di dunia ini." Pujinya pada isteri pertamanya.
Edbert kemudian berjalan keluar dari kamar menuju meja makan meninggalkan isteri keduanya.
Mila mendengus "Lagian, kenapa sih, kalo memang sudah sukses, Kenapa harus kembali ke sini lagi coba?" Decak nya kesal.
__ADS_1
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
...Terimakasih banyak like komen Vote dan hadiah nya🤗 Dukungan kalian berarti bagi semangat menulis ku!♥️...