
Malam yang bahagia bagi Edbert, karena sudah bisa meresmikan putranya untuk menggantikan posisinya.
Media sudah mengangkat nama Dylan Jackson sebagai nama putra semata wayangnya. Namun, beriringan dengan itu lelaki ini juga dogol perkara Garry yang mendapat perhatian isterinya.
Belum lagi acap kali Anson juga melirik Ranti meskipun sudah menenteng Emma di sebelahnya. Pesona Ranti memang tak terbantahkan, masih sangat ayu dan awet muda.
Rahang tegas Edbert usung kan saat memasuki kamar, ia duduk di sisi ranjang mengatur napas kecemburuannya.
Tak sengaja matanya menangkap perlengkapan skin care milik Ranti dan entah kenapa, benda-benda mungil itu lumayan membuat aliran darahnya mendidih.
"Semua ini gara-gara kamu! Sekarang semua orang melirik istri ku! Harus ku hentikan ulah mu! Jangan sampai istri ku semakin cantik! Aku tidak rela dia berpaling dari ku!" Edbert meraih kantong plastik dari salah satu lemari nakas kemudian memasukkan seluruh makeup juga perawatan milik Ranti ke dalam wadah besar itu.
Edbert bawa kantong plastik tersebut ke luar lalu memberikan pada satu pelayan yang bersiaga di sisi pintu "Buang ini semua!" Titahnya.
Pelayan mengangguk meskipun sedikit keheranan dengan apa yang Edbert perintahkan.
Edbert masuk kembali ke kamar kemudian memasuki bilik mandi untuk bergegas membersihkan diri, lalu mengganti pakaian juga menarik selimut tebal miliknya.
Tak lama kemudian Ranti memasuki ruangan, wanita itu tak sempat menyapa suaminya, Ranti langsung menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri sebelum kemudian mengganti pakaian tidur seperti biasanya.
Kebiasaan Ranti selalu memakai serum juga krim malam setelah mencuci muka sebelum lanjut memasuki alam mimpi.
Namun, malam ini matanya berkeliling, celingukan saat tak menemukan seluruh produk perawatan miliknya.
"Kemana?" Gumamnya.
Ranti masih tak mau menyapa suaminya, dia justru keluar dari kamar kemudian bertanya pada salah seorang yang bersiaga di luar pintu.
"Apa kalian tahu? Siapa yang membereskan kamar ku? Kenapa produk perawatan kulit ku hilang?" Ranti berpikir mungkin pelayan tidak sengaja membuangnya.
Pelayan menunduk "Maaf Nyonya. Bukannya Tuan Edbert sendiri yang menyuruh kami membuangnya? Baru saja kami buang ke belakang." Jawabnya.
"Apa?" Sentak Ranti.
Gegas Ranti masuk kembali ke dalam kamar, rupanya Edbert sudah memejamkan mata "Edbert!" Ketusnya.
"Hmm?"
"Kamu yang buang, semua produk perawatan kulit ku hah?" Ranti sedikit menarik selimut suaminya.
"Hmm. Mulai sekarang kamu di larang memakai itu, aku tidak suka kamu di taksir banyak pria! Apa lagi berondong manja putra Mario itu!" Nada Edbert lirih tapi membuat Ranti semakin geram.
"Dasar suami egois!"
Ranti tak menyahut, dia justru bergegas memasuki selimut kemudian memejamkan matanya, Edbert sangat kekanakan menurutnya.
"Apa semua lelaki seperti ini? Yang ingin terlihat tampan oleh wanita lain, tapi tak mau istri terlihat cantik oleh pria lain? Egois!" Umpat Ranti dalam batin.
Edbert mengendus lemah, rupanya apa pun perbuatannya tetap tak bisa membuat isterinya tertarik untuk berlama-lama mengobrol dengannya, Ranti terus mengindari percakapan seperti biasanya. Edbert mulai frustasi dengan usaha memperbaiki hubungan ini.
Suara batuk tiba-tiba terdengar sulit sekali dari Edbert, tapi Ranti tak mau perduli, wanita itu memilih untuk memasuki alam mimpi.
...🖋️................🖋️...
Satu bulan berlalu, hari-hari Jelita lalui bersama suami dan keluarga suaminya, meskipun tidak program KB, buktinya sampai sekarang wanita itu belum juga hamil.
Untungnya Dylan tahu dan mau mengerti akan hal itu. Mungkin belum di beri kepercayaan, pikirnya. Lagi pun, jahitan SC belum terlalu kuat untuk hamil lagi meskipun dokter sudah memperbolehkan asal dengan perawatan yang sangat ketat.
__ADS_1
Dylan sudah sibuk memimpin perusahaan maka sekarang Jelita sudah jarang sekali bertemu suaminya, untungnya Dylan justru membawa Jelita kemana-mana saat ada kunjungan ke pabrik cabang di luar kota.
Dylan belajar dari semua yang terjadi pada ayahnya, dia selalu membutuhkan isteri di sisinya.
Jika punya satu istri cantik seksi yang menurut lalu untuk apa berselingkuh? Ujungnya ketika tua nanti istri pertama lah yang membuat dirinya kembali. Cukup Edbert saja yang mengalami dilema dengan kelakuan toxic nya.
Sore ini, Jelita berjalan menuju kamar ibu mertuanya, hari ini dia ingin mengajak Ranti berjalan-jalan keliling mall untuk berbelanja kebutuhan dapur. Hal seru yang sudah sering kali mereka lakukan selama beberapa bulan ini.
"Eh, jallang!" Suara pekikan itu membuat Jelita menoleh reflek.
Bella terlihat geram setelah pagi tadi Jelita membuat Dylan membekukan rekeningnya.
"Dylan, kalo cuma makan, dapur kita ga kekurangan kok, bekukan saja kartu kredit Mama mertua, dari pada boros." Kata Jelita yang terngiang selalu di telinga Bella.
Beraninya Jelita berkata seperti itu padahal kartu kredit yang Bella punya hanyalah kartu kredit yang di batasi pemakaiannya, tapi dengan tega Dylan membekukan nya hanya karena permintaan isterinya.
"Jallang biadab kamu!" Umpat Bella.
"Kau memanggilku? Atau mengumpat dirimu sendiri?" Jelita membalikkan kata yang terasa menusuk hati wanita itu dan lumayan membuat aliran darahnya mendidih.
"Berani kamu hah?!" Bella melayangkan tangannya ke atas hendak mendaratkan pada pipi mulus istri mantan kekasihnya.
"Bella!" Sentak seseorang dari arah kiri Jelita menghentikan aksi wanita itu. Keduanya pun menoleh.
Edbert berjalan cepat menuju istri termuda dan menantunya "Jangan sembarangan menyakiti mantu ku!" Pekiknya melotot.
"Daddy!" Rengek Bella yang sudah tak mempan lagi pada lelaki Casanova itu.
"Hiks, Dadd, Mama mertua memang begitu, suka mau nampar Jeje tiba-tiba, padahal Jeje ga salah Dadd." Jelita mendadak menghiba pada mertuanya.
"Berhenti bersikap seperti ini! Jaga sikap mu di sini!" Tampik Edbert geram lalu beralih pandang pada Jelita.
"Sekarang masuk lah ke kamar, Daddy mau kembali ke kamar Mami mu." Titahnya.
Jelita mengangguk "Iya Daddy."
Mendengar itu Edbert kembali melepas tangan Bella kemudian membalikkan tubuhnya, ia berjalan tergesa-gesa menuju kamar isteri kesayangannya, entah kenapa Edbert terburu-buru seperti itu.
"Daddy, .... Dulu Daddy bilang mau melindungi ku dari siapa pun yang jahat di rumah ini." Bella berkata lirih sambil menatap berlalunya punggung suaminya memelas.
Jelita menyeringai "Itu sebelum kamu menjadi tua dan jelek seperti sekarang ini, lihat lah, kau sudah seperti monster!" Umpat nya pada wanita hamil itu.
"Dasar jallang!" Bella sudah akan menampar namun kali ini tangan Jelita sendiri yang menampik sambil mengusung tatapan tajam penuh kebencian "Jangan harap bisa menyakiti ku di istana suami ku, Bella! Ingat lah posisi mu di sini hanya selir Daddy mertua ku! Jika aku memintanya, pasti Daddy mau menuruti kemauan ku, untuk membuang mu dari sini! Kau tahu? Aku mantu kesayangannya." Ujarnya dengan seringai di ujung bibirnya.
Jelita lantas menghempas tangan Bella kemudian melengos pergi meninggalkan wanita itu dalam keadaan bergeming.
Setelah mendapat asupan keberanian dari Dylan rupanya Jelita menjadi wanita yang tidak lagi mau di tindas.
Jelita kembali ke kamar miliknya, wanita itu tidak jadi ke kamar ibu mertuanya karena sepertinya kali ini Edbert yang ingin berduaan dengan Ranti.
...🖋️................🖋️...
Tiba di kamar, Edbert justru terduduk lunglai dengan tatapan kosong. Sudah dari pagi tadi Edbert mencari isterinya ingin berkeluh kesah pada wanita itu.
"Uueegh!" Tiba-tiba saja Edbert meluah.
Ranti yang baru saja datang dari kamar mandi berkerut kening menatap wajah pucat suaminya yang lebih terkesan gemetar "Kamu kenapa, Edbert?" Tanyanya sambil mengelus punggung pria itu.
__ADS_1
Edbert menggeleng "Aku tidak apa-apa." Jawabnya tapi raut wajahnya tidak sesuai perkataan. Terlihat jelas Edbert semakin lunglai setelah beberapa saat terdiam dalam hening.
"Edbert! Kamu kenapa?" Ranti menggoyangkan tubuh suaminya dan Edbert sempat menggeleng sekilas, seperti baru tersadar dari alam bawah sadar.
"Sepertinya vertigo ku kumat Mi." Jawab Edbert lirih sambil memegangi kepalanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang, sekalian aku juga harus menjenguk putri asuhku, ada yang keracunan makanan kemarin." Usul Ranti.
Edbert mengangguk kemudian berjalan beriringan dengan isteri pertamanya menuju sebuah mobil yang sudah lengkap dengan sopirnya.
"Silahkan Nyonya, Tuan." Lelaki itu mempersilahkan Edbert dan Ranti memasuki mobil.
Edbert duduk lalu Ranti menyusul, keduanya di bawa sang sopir menuju rumah sakit.
Mendengar berita Edbert ke rumah sakit, Mila dan Bella segera ikut menyusul, perkara takut di katakan tidak perduli pada suaminya. Mereka masih membutuhkan kasih sayang Edbert di rumah itu.
Tiba di rumah sakit Edbert di periksa dan kebetulan Galaxy yang menangani pria mantan Casanova itu.
Alangkah terkejutnya Ranti saat Galaxy mengatakan "Tuan Edbert, terinfeksi virus HIV. Biasanya jika sudah begini, pasien sudah terpapar dari dua bulan yang lalu." Terangnya.
"Apa Dok?" Mila dan Bella tersentak bersamaan "HIV? Bagaimana bisa?" Katanya melotot.
Galaxy tak perlu mengatakan apa penyebabnya karena sepertinya Ranti sudah sangat syok mendapati hal itu.
Ranti terduduk lemah di sofa ruang tunggu sambil memegangi letak jantung hatinya berada "Edbert!" Gumamnya lirih penuh ironi.
Meskipun sampai detik ini dirinya tak mampu memaafkan perlakuan suaminya, sejatinya Ranti masih sangat mencintai suaminya.
Meskipun rasa percaya pada Edbert sudah tiada, namun rasa sayangnya masih bergumul dalam sanubarinya.
Pekikan yang cukup menyentak jantung hatinya, Ranti menyesal telah diam saja membiarkan suaminya di gilir puluhan wanita.
"Maafkan aku Edbert!" Tangis tak mampu lagi terbendung, ia lolos dari sudut netra nya.
Sementara Mila dan Bella pergi meninggalkan tempat itu secara bersamaan. Sudah tidak ada lagi harapan untuk bertahan di rumah besar Edbert, saat pria yang mereka tongkrongi justru memiliki penyakit yang mungkin bisa saja menular.
Meskipun penyakit ini tidak menular hanya dengan pegangan tangan atau pelukan, saliva dan air mata juga bukan media virus ini untuk berpindah kecuali air mata dan saliva itu sendiri tercampur dengan darah penderita.
Siapa yang menularkan? Edbert terlalu bingung untuk menentukan siapa penular nya!
Melihat Ranti bergeming dalam tangis, Galaxy berjongkok tepat di depan tubuh wanita itu "Tante, Tante yang sabar, semua ini masih bisa di lalui, Om Edbert pasti bisa hidup seperti biasanya lagi." Ujarnya menenangkan.
Ranti tergagu dari seribu bahasa pilu, hanya air mata yang bisa dia presentasikan saat ini. Sungguh Kelu.
"Ini salah ku!"
Jemari tangan Galaxy mulai menggenggam tangan Ranti berusaha untuk menguatkan "Gaga sendiri yang akan memantau perkembangan kondisi Om Edbert. Tante percaya lah, Tante bisa melewati ujian ini." Ucapnya.
"Tante tenang lah." Tambahnya.
Di sudut tempat, Garry masih bisa melihat tangis tanda cinta milik Ranti untuk suaminya, betapa setianya wanita itu, betapa berharganya pemilik wajah damai itu, betapa Ranti lain dari wanita yang selama ini dia temui. Ranti masih memiliki rasa cinta bahkan setelah di khianati berkali-kali.
Wajah humoris pemuda itu kini terpendam oleh gurat sendu saat melihat tangisan sang pujaan hati "Seandainya ada kehidupan setelah mati, aku ingin hidup menjadi pasangan mu." Gumamnya lirih.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
...Yang punya group, mohon untuk Share novel ini ke sana, untuk di promosikan, lumayan nambah pembaca ☺️...
__ADS_1