
Sekitar dua hari yang lalu Emma mendatangi rumah putranya lagi, wanita paruh baya itu masih menuntut menantunya untuk melakukan tes DNA.
Akan tetapi Brandon berhasil menghalangi aksi anarki ibunya "E'den yakin Jeje tidak pernah berbuat serong." Ucapnya kala itu berusaha meyakinkan ibunya lalu dengan terpaksa Emma urung dari niatnya.
Sementara Shasha masih saja tak tahu malu bolak-balik membawa mobil Jelita, dan itu tak pernah Brandon larang karena seperti biasanya Jelita memang selalu diam meskipun sebenarnya tak suka barang bendanya di pakai orang.
Berhari-hari Brandon tak masuk kerja, laki-laki itu sengaja mengurus isterinya seorang diri, berusaha memperbaiki hubungan yang sudah mulai afkir dari hati yang mangkir, why not? Brandon tak mau lama-lama berpikir.
Gemercik air yang terdengar dari dalam kamar mandi membuat Brandon iseng mendatanginya, sudah berhari-hari dirinya menahan gerah melihat tubuh hamil istrinya yang terlihat semakin menarik di matanya.
Namun tak mungkin memintanya sedang Jelita masih dalam perawatan dokter, lagi pun Jelita sempat nyaris keguguran jadi sebisa mungkin Brandon menahan gejolak cintanya.
Dua hari ini Jelita sudah berangsur membaik mungkin malam ini dia sudah bisa meminta hak nya, lagi pun setelah hamil besar Jelita sudah tak lagi merasa mual dekat dengan nya, yah ini kesempatan yang bagus untuk dirinya melepas rasa ingin bercintanya bersama wanita cantiknya.
Pintu putih itu Brandon dorong dan tubuh sintal isterinya begitu menggoda ketika hanya di balut dengan handuk yang bahkan tak bisa menutupi pahanya.
"Jeje."
Wanita itu menoleh dengan mata yang terbelalak "Mau apa kamu E'den? Aku belum selesai!" Pekiknya.
Brandon tersenyum "Aku sengaja ke sini, aku merindukan mu." Pria itu terus mendekat meskipun wanitanya berusaha mundur dengan teratur.
"Kamu kenapa sih hmm?" Tanya Brandon masih dengan senyum tipisnya "Kamu udah ga mual lagi kan? Jadi kenapa aku harus menjaga jarak lagi?" Ujarnya.
"Aku mau ganti baju, kamu pergilah!" Ketus Jelita.
"Kenapa memangnya? Bukanya kita sudah sering mandi bareng sebelum kamu hamil hmm? Apa setelah hamil kamu malu?" Brandon meraih tangan lembut nan wangi isterinya "Kamu dengar Jeje, aura mu bahkan lebih terlihat setelah hamil." Rayuan maut Brandon tak pernah terdengar hambar selalu meleleh kan hati beku wanita itu.
Jelita terdiam menatap wajah tampan yang masih sering membuatnya bertahan meski harus hidup dengan kesakitan.
"Makanya jangan menghindar, jadi canggung lagi kan?" Jemari dari tangan kiri Brandon masuk ke sela-sela rambut di bagian tengkuk isterinya yang lalu ia remas secara perlahan hingga menciptakan gelenyar candu asmara wanita itu.
__ADS_1
"E'den, ..." Jelita berusaha menurunkan sentuhan lembut itu dari dirinya.
"Hmm." Akan tetapi Brandon justru menundukkan wajahnya hingga sejajar pada setangkup bibir lembut yang masih di penuhi bulir air sisa mandinya.
Siapa lagi yang bisa melarang? Tentu saja Brandon mendaratkan bibirnya di sana "Kamu milikku Jeje, hanya milikku!" Batin posesif nya.
"Lepas E'den!" Jelita berhasil mendorong bahu tegas laki-laki itu.
"Kenapa? Sudah lama aku menginginkan mu Jeje, dari awal hamil kamu terus menghindari ku , sekarang mumpung kamu sudah ga mual lagi kita mesra-mesraan lagi seperti dulu, mungkin ini bisa memperbaiki hubungan kita."
"Buat apa? Kita cuma sahabatan, buat apa melakukan itu? Dulu aku mau kamu sentuh hanya karena aku mau memberikan Papi Anson penerus. Sekarang aku sudah hamil jadi ga ada lagi alasan untuk kita berbuat seperti ini."
Semenjak tahu alasan mengapa Brandon menghamilinya, Jelita seolah tak mau terjun ke jurang yang sama, dijadikan sahabat lebih terhormat dari pada di jadikan pemuas hasrat seksual suaminya.
"Kamu punya Shasha, lakukan saja sama Shasha." Sindir Jelita kemudian.
"Kamu yang istri ku Jeje, kenapa harus selalu menyebut Shasha, Shasha, Shasha terus. Apa sedikitpun kamu ga punya niat menjadi istriku seperti wanita pada umumnya?" Sela Brandon.
"Tentu saja!" Jawab cepat Brandon.
"Kamu yang bilang best friend forever, jadi selamanya hubungan kita akan tetap seperti itu." Timpal Jelita.
"Bagaimana kalo ternyata aku mencintaimu sebagai seorang laki-laki? Aku ingin hubungan kita naik ke jenjang lebih baik lagi."
"Buat apa? Toh kamu sudah punya Shasha, jadikan dia teman hidup mu seperti cita-cita mu selama ini E'den!"
Baru saja Jelita melangkah Brandon sudah lebih dulu mencegahnya "Apa karena Dylan kamu berubah?" Celetuknya. Tatapan matanya begitu dalam penuh kecemburuan.
"Satu bulan sebelum kamu hamil, kamu masih terlihat menikmati setiap sentuhan lembut ku. Tidak ada raut keterpaksaan di wajah mu saat itu!" Imbuhnya.
"Jujur saja Jeje! Apa kamu menyukai Dylan? Tetangga sebelah yang kamu bilang kaya raya itu?" Tukasnya menyudutkan.
__ADS_1
"Oh Tuhan, kapan E'den berkaca? Kenapa selalu menyalahkan orang lain?"
"Jawab Jeje!"
"Kalo iya kenapa?" Jelita mencuatkan wajahnya.
"Apa alasannya? Apa yang dia miliki lalu aku tidak?" Desak Brandon.
"Lalu apa alasan mu menyukai Shasha? Apa yang dia miliki dan aku tidak? Mungkin itu alasan ku juga." Timpal Jelita membalikkan katanya.
"Kamu tahu Shasha cinta pertama ku! Aku mencintainya sebelum kita menikah" Sahut Brandon cepat, terlihat keningnya mengerut heran.
"Apa Dylan cinta pertama mu, begitu? Kamu sudah bersuami masih menjadikan laki-laki lain sebagai cinta pertama mu Jeje?" Sudutnya.
"Yah, he's super rich, he's also handsome, maybe, itu alasan ku menyukainya." Jawab lugas Jelita.
"Kamu tahu aku lebih tampan dari nya! Kalo soal kekayaan saat ini mungkin aku belum sekaya Papi, tapi nanti semua kekayaan Papi akan aku miliki Jeje, lupakan dia, mungkin saja itu hanya perasaan sementara mu, lagi pula kita sudah menikah, laki-laki bisa poligami tapi wanita ga bisa Jeje, lupakan dia bila perlu kita pindah rumah mungkin dengan begitu kamu bisa move on dari nya."
Jelita melepas senyum cibirnya "Ok, akan aku lupakan Dylan, tapi, kamu juga harus melupakan Shasha, buang jauh-jauh Shasha dari hidup kita, kamu tau aku ga suka berbagi semua yang ku miliki dengannya!"
Brandon kelu, apakah bisa semudah itu melupakan Shasha? Wanita pertama yang mampu menggetarkan hatinya?
"Kenapa? Kamu sendiri ga bisa kan melupakan cinta pertama mu?" Sindir Jelita. Menyandang gurat berang wanita itu keluar dari kamar mandi meninggalkan Brandon yang tampak mengusap wajahnya gusar.
"Kenapa hubungan kita jadi seperti ini Jeje?" Gumamnya lirih.
Jelita membuka salah satu lemari pakaian di ruang wardrobe yang terletak di sudut kamar tersebut lalu memakai dress midi miliknya.
Kakinya kembali menuju ranjang super king size, ranjang yang selama beberapa bulan ini menjadi tempat suaminya berkeringat bersama wanita lain.
"Jangan harap bisa menyentuh ku lagi E'den! Aku bukan wanita pemuas kebutuhan lelaki mu!"
__ADS_1
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...