
Di mansion milik Edbert, aroma dari sambal kacang yang di masak dengan canola oil, sudah mengudara di sekitaran dapur bersih.
Jelita sedang sibuk membuat dimsum untuk suami tercinta, gaun tipis pendek yang rajin naik ke atas karena harus mengambil sesuatu dari kabinet tinggi membuat sepasang mata messum menatap seolah ingin menerkam.
Hendra berdiri di balik ornamen penyekat ruangan sambil mengusap bibirnya menyaksikan tubuh sintal Jelita yang terlihat menggoda dengan gaun mini, tali kecil di pundak, juga paha mulus Jelita sudah berhasil menaikkan sang junior pengangguran.
Sayangnya kegiatan itu harus ia sudahi setelah suami dari wanita cantik nan seksi ini datang merapatkan barisan.
Dylan mendekati isterinya sambil membuka kaos putih miliknya hingga kini pria tampan itu hanya memakai singlet hitam yang ketat saja.
Jelita menoleh "Dylan, kamu mau ngapain?" Wanita itu curiga saat melihat Dylan melepas t-shirt nya. Biasanya jika sudah seperti ini Dylan akan melakukan sesuatu padanya.
"Kenapa di sini?" Dylan bertanya balik sambil memakai kan kaos miliknya pada tubuh sintal isterinya, kaos yang ketat pada tubuh Dylan sudah seperti daster saat di pakai Jelita.
"Pakai ini, ada mata yang sedang menikmati tubuh indah istri ku!" Ucapnya posesif sambil mengusap pipi isterinya yang sedikit terkena adonan.
"Hmm?" Jelita mengernyit "Maksudnya?" Tanyanya bingung.
Dylan tak menjawab, dia meraup tubuh mungil menggemaskan itu dari belakang lalu menenggelamkan hidung bangir nya pada ceruk leher mulus nan wangi isterinya.
"Kenapa di sini?"
"Aku lagi bikin camilan untuk mu, Hubby, sudah lama aku tidak memasak sendiri, aku juga mau berbakti pada mu, menjadi istri yang bisa memanjakan perut suami ku." Sahut Jelita.
"Jangan sering-sering berpakaian seperti ini di luar kamar, aku cemburu, aku terlalu posesif pada tubuh indah isteri ku." Tutur Dylan berbisik di telinga isterinya.
"Aku tidak punya baju yang tertutup, bukanya kamu yang memilih semua pakaian ku?" Protes Jelita merengut.
"Maaf, aku lupa kalo di sini ada orang asing." Dylan menaikan isterinya ke atas meja dapur lalu mendaratkan ciuman pada bibir lembut itu. Kegiatan ini lumayan di saksikan banyak pasang mata iri.
Di tempatnya Hendra menegaskan rahang lalu pergi dari tempat itu "Kenapa Dylan selalu memiliki hal-hal yang ku sukai? Tidak lulus SMA saja mau jadi pemimpin, kau lihat saja Dylan, kau takkan mampu menandingi kepintaran ku! Aku lulusan luar negeri, pengalaman ku lebih baik dari mu!" Gumamnya sinis.
...🖋️................🖋️...
Di rumah minimalis modern milik Hardiansyah
"Gimana Kek? Apa Garry sudah ganteng?" Tanya si berondong bujang akut itu pada Kakeknya.
Baru saja Garry memakai jaket jeans berwarna hijau botol, serasi dengan kaos putih sebagai dalam nya, rambut klimis yang tersisir tidak rapat itu membuat kesan maskulin pada wajah tegasnya, sangat tampan.
Hardiansyah manggut-manggut "Tentu saja, kamu sangat mirip dengan ku, tentu saja kamu sangat tampan." Pujinya.
"Kita segera keluar, siapkan mental, memperjuangkan cinta itu memang sulit, tapi harus semangat!" Tambahnya.
Seiring mengikis nya usia lelaki tua itu sudah pasrah jika sang khalik mengirim malaikat, tapi setidaknya cucu bungsu kesayangannya sudah menikah saat maut menjemputnya.
Perkara panjang jodoh atau tidak, itu urusan Tuhan saja. Toh Ranti juga cantik dan baik, masih pantas di perjuangkan Garry yang penyuka wanita dewasa ini.
Lain halnya dengan Mario yang terus menolak kemauan putranya, meskipun Ranti terdzolimi tetap saja status wanita itu masih istri orang, seharusnya Garry tak boleh merebutnya.
Lalu, jika berhasil merebut cinta Ranti dan menikah, apakah Mario akan mendapatkan cucu dari Ranti? apakah nantinya Ranti akan hidup lama bersama Garry sampai tua? Sedangkan Ranti sudah bertahun-tahun lamanya menjadi pasien rahasia putra sulungnya.
Mario tak mau menyia-nyiakan pernikahan putra bungsunya karena sebuah cinta yang konyol menurutnya, tapi bagi Hardiansyah, tak masalah jika nantinya Garry menduda, untuk sekelas laki-laki tampan dan berpendidikan seperti Garry takkan hilang pamor meski harus berakhir sebagai duda sekalipun.
...🖋️................🖋️...
Kembali ke rumah klasik Edbert Jackson, Tepat di pukul 19:00, Jelita mendekati suaminya yang masih berdiri mengaitkan kancing di pergelangan tangannya.
Dylan sudah sangat rapih juga tampan dengan stelan eksekutif serba hitam kemudian Jelita memakai kan jas pada tubuh tinggi suaminya, lalu memberi aksen sapu tangan merah di saku jasnya.
Kalau sudah begini Dylan lebih mirip dengan ayahnya yang juga sangat tampan dan berwibawa.
"Kita langsung turun Hubby, semua orang sudah menunggu." Ajak Jelita.
Kecupan ringan Dylan labuh kan pada bibir merona milik isterinya "Sebelumnya apa kamu tidak memberi selamat pada ku Baby?" Tanyanya.
"Aku lupa," Jelita tertawa kecil sambil menepuk dahinya pelan "Selamat ya suami ku, semoga Tuhan menjadikan mu pemimpin yang semakin memajukan perusahaan besar ini." Ucapnya.
Dylan tersenyum "Gimana kalo setelah ini kita bulan madu saja? Kita belum bulan madu kemana mana, Paris? atau mungkin ke, ..."
"Selesai kan dulu urusan di rumah ini, baru setelah itu kamu boleh ajak aku kemana pun Hubby." Sergah Jelita memotong ucapan suaminya.
__ADS_1
"Lihat lah, Daddy sudah semakin dekat dengan Mami, apa kamu tidak merasakan perubahan Daddy akhir akhir ini? Daddy terlihat galau kan? Kita masih punya tugas memperbaiki hubungan mereka, ..."
"Atau justru memutuskan hubungan mereka!" Sela Dylan cepat "Aku yakin Mami sudah tidak mencintai Daddy lagi."
"Apa pun itu, kita masih harus membantu mereka keluar dari belenggu permasalahan ini, Bella hamil, kamu tahu kan, ini rencananya untuk tetap mendapatkan tempat di istana ini."
"Emm." Dylan kemudian mengusap wajah cantik isterinya "Kita bahas ini nanti." Usulnya
Keduanya keluar dari kamar kemudian berjalan saling merangkul menuruni anak tangga menuju kerumunan orang elit yang sudah memadati istananya.
Jelita bahagia bisa berkumpul kembali dengan keluarga nya malam ini, Galang dan Tristan juga membawa istri dan anaknya, Marseille dan Mirea terlihat sangat bahagia mendengar menantunya akan di resmikan menjadi presiden direktur.
"Selamat ya sayang, selamat ya Dylan." Mirea mencium pipi putrinya lalu mengelus lembut puncak kepala menantunya.
"Terimakasih, Mah, ...." Dylan dan Jelita bersamaan tersenyum, kemudian satu persatu keluarga yang lainnya juga ikut memberi selamat.
Marseille lebih tertarik mendekati Edbert sambil menyodorkan sebelah tangan pada lelaki itu "Selamat di atur mantu ku setelah ini!" Ucapnya yang lebih terkesan meledek.
"Sialan kamu!" Edbert masih sempat menaikan ujung bibirnya. Meski sudah menjadi besan keduanya masih tak bersahabat.
Mata Edbert sedikit menajam saat tak sengaja melihat sosok tinggi saingannya juga berdiri di antara para tamu undangan, tak ayal, Anson Dwi Pangga lah yang hadir membawa Emma dan juga Brandon.
"Kamu yang mengundang Anson ke sini?" Tanyanya pada Marseille dengan sedikit mendekatkan wajahnya pada wajah besannya.
"Dia sahabat ku, tentu saja aku mengundangnya." Sahut Marseille enteng.
"Kau tahu, aku tidak menyukai Anson!" Sambung Edbert ketus.
"Kamu masih cemburu? Sudah tua kamu, Edbert! Ga pantes cemburu lagi!" Sanggah Marseille, sementara raut wajah mereka berusaha tidak terlihat cekcok.
Edbert hanya menjawab dengan naiknya ujung bibir, sambil menggenggam posesif tangan kanan isteri pertamanya.
Edbert tahu betul sebelum menikahinya, Ranti sudah lebih dulu menyukai Anson Dwi Pangga.
Saat ini cinta Ranti sedang kelabu, melihat Anson hadir ketakutan lelaki ini semakin bertambah besar saja.
"Kamu kenapa sih, Edbert!" Ranti protes sambil menghempas tangan suaminya "Aku masih harus menyapa tamu-tamu ku." Lanjutnya.
Di sisi Dylan, Jelita tersenyum melihat Emma sudah kembali seperti sedia kala meskipun masih dalam tahap pengobatan.
Dylan lantas membisikkan sesuatu pada Jelita sambil menatap ke arah Brandon "Jangan sampai kamu jatuh cinta lagi sama duda mu!" Ancamnya posesif.
Jelita tersenyum "Kamu cemburu Hubby?" Tanyanya sambil melirik ke arah suaminya.
"Mungkin, aku terlalu mencintaimu." Jawab Dylan.
"Aku lebih mencintai mu!" Jelita menggenggam tangan suaminya berusaha meyakinkan pria pencemburu itu "Kamu lebih segalanya dari pada E'den, percayalah, kamu terlalu indah untuk bersaing dengan lelaki manapun. Kaya, tampan, perkasa, setia, perhatian, semua nya kamu miliki. Kamu definisi pria idaman para wanita." Ujarnya.
Dylan tersentuh dengan pengakuan isteri cantiknya "Aku hanya butuh dirimu saja." Ucapnya.
"Selamat Jeje!" Anson lebih dulu sampai dan meraih tubuh mungil putri kecilnya "Semoga selalu bahagia putri ku!" Ucapnya mengelus lembut punggung Jelita.
Jelita melonggarkan tautan tubuh mereka kemudian menatap Anson penuh kerinduan "Terimakasih sudah mau datang Pi." Jawabnya.
Edbert memutar bola mata malas melihat kedekatan keduanya "Kenapa semua wanita luluh padanya? Perasaan ganteng gue dari pada Anson!" Batinnya.
Anson beralih pada Dylan "Terimakasih sudah menjaga putri ku, Papi bahagia melihatnya." Ucapnya.
Dylan tersenyum "Sama-sama Om, terimakasih juga sudah mau repot-repot hadir di sini." Jawabnya.
Anson beralih pada Ranti yang berdiri tepat di sebelah kanan Dylan "Pantas Dylan hebat, rupanya lahir dari rahim wanita terhebat." Pujinya.
"Bisa saja kamu Anson." Sambung Ranti tersenyum manis, selain pada Edbert dan Garry wanita itu memang selalu tersenyum ramah.
"Kau tahu, aku penggemar berat lukisan putra mu! Melihat lukisannya aku sering teringat ayah mu, rupanya benar, DJ cucu ayah mu." Anson berdecak kagum pada putra mantan kekasih tak sampainya.
Baru saja lelaki itu ingin bersalaman dengan Ranti tapi kemudian Edbert menyerobot tangannya "DJ itu putra ku, kau lupa memuji ku juga, Anson?" Ucapnya songong seperti biasanya.
Anson terkekeh saat beralih pandang pada bule terdampar itu "Kau masih mengenal ku, Edbert?" Tanyanya.
Mereka memang tak pernah akur meskipun perusahaan mereka sering bekerja sama karena perusahaan Anson properti dan Edbert bagian kontruksi nya.
__ADS_1
"Hmm." Edbert hanya merespon sedikit saja.
"Ya, ku akui putra mu mirip dengan mu, tapi wataknya mirip ibunya. Adil bukan?" Sambung Anson seraya tergelak bersamaan dengan Marseille sedang Edbert masih kecut saja.
"Terimakasih ya jeng, sudah mau datang ke sini, silahkan menikmati jamuan makan seadanya saja." Ranti memberi cipika cipiki pada Emma.
"Tentu saja, selamat, rupanya dunia sempit, mantan mantu ku menjadi mantu mu." Kata Emma dengan senyum yang entah apa artinya.
Brandon giliran bersalaman dengan mantan isterinya "Selamat sahabat ku, akhirnya aku melihat mu bahagia." Ucapnya tersenyum.
"Terimakasih E'den."
Plak!
Dylan melerai penyatuan tangan Brandon dan isterinya "Jangan lama-lama salamannya!" Ketusnya.
"Maaf, suka nyaman." Kata Brandon yang sengaja memanasi saingannya.
"Gih, cari jodoh lagi." Dylan mengibas-ngibas kan tangannya pada Brandon.
"Dylan!" Jelita mengernyit menatap suaminya "Ga boleh begitu, dia tamu kita loh." Dylan hanya cemberut sambil berpaling muka.
Pada akhirnya keluarga Anson dan Marseille mengambil jamuan makan yang berjejer di sepanjang meja prasmanan, kemudian bersama-sama menikmatinya di meja bulat yang di balut dengan kain putih berhias pita merah.
...🖋️................🖋️...
Di sudut tempat Mario memandu keluarganya menuju Tuan hajat, terlihat kedua putra tampan nya juga ikut serta, adalah Galaxy Van Houten dokter spesialis penyakit dalam, yaitu kakak satu-satunya Garry berusia tiga puluh lima tahun dan sudah menikah. Sejatinya Ranti lebih akrab dengan Galaxy dari pada Mario sendiri.
Talia istri Mario lebih dulu menyapa Ranti "Selamat ya jeng, putra mu sudah memimpin perusahaan suami mu, aku ikut bahagia." Ucapnya.
Ranti mengangguk sambil cipika cipiki pada wajah sahabatnya "Terimakasih jeng Talia."
Garry si bungsu berbisik pada ayahnya "Pah, bilang ke Mamah jangan panggil Neng Ranti jeng donk, kan Neng Ranti mau jadi mantunya!"
Bugh!
"Aakk!" Garry meringis mendapati sikut tangan Mario mendarat di perutnya "Sakit Pah!" Keluhnya.
Ranti tersenyum senyum melihat itu.
Giliran Galaxy yang bersalaman dengan Ranti "Selamat Tante, semoga Tante selalu sehat." Ucapnya tersenyum.
Mendengar itu Garry berbisik kembali pada abangnya "Jangan panggil Tante, sebentar lagi dia jadi adik ipar mu, Bang!"
Bugh!
"Ahh!" Garry meringis kembali saat mendapati injakan kaki besar Galaxy "Sialan lu Bang, sakit!" Keluhnya.
Ranti tak sanggup menahan tawa melihat kesengsaraan Garry hingga menyeletuk dan menutup mulutnya.
Bersamaan dengan itu Edbert melirik ke arah isteri pertamanya mengamati senyum cantik wanita itu. Setelah lama tak bersama, Edbert di buat jatuh cinta pada Ranti untuk yang kesekian kalinya.
"Neng!" Garry baru akan bersalaman dengan Ranti rapi Edbert menyerobot lagi pada tangan nakal penggila isterinya "Aaaah aw!" Garry meringis kembali saat Edbert tersenyum tapi mengeratkan cengkraman seolah ingin meremukkan tulang telapak tangan dokter tampan itu.
"Sialan ni bapak-bapak, kuat juga tenaga nya! Atit Neng, suami mu menyakiti ku, Neng!" Batinnya nelangsa.
"Edbert!" Ranti mendelik pada suaminya "Lepasin dia, kamu bisa mematahkan tangannya!" Tekan nya dalam suara lirih.
Edbert menurut melepas pemuda itu, kemudian merangkul isterinya posesif "Silahkan, nikmati jamuan nya." Ucapnya pada Mario beserta keluarga lainnya.
Sementara Garry masih rajin mengibas-ngibas kan tangannya sambil meringis saking kuatnya Edbert menggenggam tangan penolongnya.
"Gimana nasib para pasien gue, kalo sampai patah!" Gerutunya memelas.
Melihat raut itu Ranti menepuk pundak Garry "Lebih baik. Kamu makan dulu." Titahnya dengan senyum tipis yang berhasil menambah satu tingkat lagi rasa cinta pemuda itu.
...🖋️..... Bersambung.....🖋️...
...Wah gaiss, ga sadar udah mau dua ribu kata.......
...Jadi terpaksa bersambung dulu yaa.... Terimakasih dukungan vote komen dan juga like nya 😘🤗...
__ADS_1