Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Bergeming.


__ADS_3

Jelita sudah mengantongi restu dari keluarga tentang rencana perceraiannya dengan Brandon Dwi Pangga.


Awalnya Mirea dan Marseille tak terlalu setuju, karena dirinya yakin bukan Brandon yang menyuruh tes DNA, tapi, besan perempuannya. Sedikit banyak Mirea mendengar bisik-bisik tetangga saat arisan bersama ibu-ibu rempong.


Lagi pun, selama ini Brandon selalu memperlakukan putrinya dengan kasih sayang. Itu menurut Mirea.


Lain halnya dengan Galang dan Tristan, mereka tetap bersikekeh untuk mendukung perceraian adiknya.


Brandon bukan lah suami yang baik. Terbukti dari bagaimana cara Brandon memperlakukan Jelita selama ini yang tak pernah memfasilitasi adiknya barang-barang mewah.


Jelita justru kerap meminta uang shopping pada kedua kakaknya, baginya tak masalah toh Jelita adik kesayangannya, akan tetapi, bukan kah seharusnya menjadi istri seorang direktur yang notabene nya calon pewaris tahta, Jelita tidak perlu lagi merengek pada keluarganya?


Belum lagi, mobil mewah pemberian Anson tak pernah terlihat Jelita pakai, mungkin di jual karena semenjak pemberian hadiah itu Jelita masih tetap setia dengan mobil lamanya ketika berbolak-balik mengunjungi rumah utama keluarganya.


Jelita memang tak pernah mau memakai barang-barang yang sudah Shasha pakai. Itu alasan sebenarnya.


Siang ini, Jelita baru saja keluar dari salon kecantikan, besok adalah hari untuk sidang pertamanya di gelar setelah dua Minggu yang lalu resmi melayangkan gugatan, maka untuk menempuh awal yang baru juga memerlukan penampilan baru.


Jelita tampak sangat cantik setelah mengeriting rambut lurusnya. Wanita itu memang selalu ke salon seorang diri karena tak punya teman perempuan seperti layaknya wanita lain.


Brandon tak pernah mengizinkan dirinya bergaul, alasannya, pertemanan juga bisa mempengaruhi perilaku buruk seseorang, di rumah sudah ada Shasha, maka seharusnya Jelita tak membutuhkan teman lainnya.


Ah sudah lah, sekarang Jelita sudah bebas, sudah sekitar dua Minggu ini Jelita tinggal bersama orang tuanya tanpa ada laki-laki yang mengganggunya.


Entah itu Brandon ataupun Dylan, kedua laki-laki itu seolah memberikan angin segar bagi wanita yang baru memulai lembaran barunya.


Jelita sangat menikmati kesendiriannya, meskipun ada saat-saat kesepian yang muncul bersamaan dengan hal itu tapi tak apa, wanita itu masih bisa mengatasinya.



Klik Klik!


Jelita menekan tombol pada remote kunci otomatis di mobil miliknya, baru saja dirinya akan membuka pintu kendaraan beroda empat itu, Jelita merasakan tubuhnya melayang ke udara.


Rupanya seseorang telah menggendong paksa dirinya "Hei! Lepas! Lepas!" Jelita memukuli punggung gagah laki-laki itu.


Brugh!


Jelita di hempas secara perlahan pada jok mobil mewah yang sangat luas, lalu kemudian mobil itu bergerak.

__ADS_1


Iris indah milik Jelita melotot saat sudah bisa melihat wajah tampan si penculik "Dylan!" Pekiknya.


"Hmm?" Laki-laki itu mengungkung tubuh mungil Jelita di joknya, matanya menatap lekat wajah cantik Jelita yang terlihat berbeda dengan rambut ikal gemasnya "Seksi!" Celetuknya.


"Gila kamu yah! Kenapa bisa, .."


Cup!


Dylan membungkam suara protes kekasihnya dengan kecupan singkat "Aku merindukan mu!" Ucapnya tersenyum.


Sopir dan satu pengawal yang duduk di jok depan menjadi saksi romansa cinta mereka.


Jelita kerap berkedip saat menatap wajah tampan Dylan yang sudah sangat ia rindukan "Mobil ku gimana?" Tanya nya.


"Ada Reno, biar dia yang mengurus mobil mu!" Jawab Dylan dengan bisikan mesra yang terdengar sangat seksi bagi Jelita.


"Menjauh gih! Aku sesak napas!" Usir Jelita dengan mendorong bahu laki-laki itu menggunakan tenaga mungilnya.


"Aku kasih napas buatan kalo begitu!" Dylan mendekati bibir itu lalu dengan cepat Jelita memalingkan wajahnya ke kanan.


"Dylan!" Pekiknya tanda ia menolak.


Jelita beralih pandang padanya "Kita putus Dylan!" Ucapnya mantap.


"Putus?" Dylan menautkan alisnya bingung dengan kata-kata itu "Kenapa?" Tanyanya.


"Aku mau sendiri Dylan, aku mau menikmati hidup tanpa adanya tekanan dari pasangan." Jelas Jelita.


Dylan sempat hening beberapa saat menyimak setiap kata-kata yang Jelita lontarkan, sepertinya wanita itu sangat serius dengan ucapan nya "Kamu yakin? Kamu bisa bahagia hidup sendiri tanpa pasangan?" Tanyanya lagi.


Jelita mengangguk pasti.


"Lalu bagaimana dengan penderitaan ku? Aku yang menginginkan mu selama ini?" Tuntut Dylan.


"Kamu bisa cari wanita lain, pulang lah ke rumah orang tua mu Dylan, menikah dengan pilihan orang tua mu yang jelas-jelas bukan bekas orang seperti ku." Tutur Jelita.


"Ingat Dylan, sejahat apa pun orang tua kita, mereka tetap lah orang yang tidak pantas kamu musuhi, tiada kamu di dunia ini tanpa adanya mereka! Jadi kembalilah Dylan!" Perintahnya menyusul.


"Berhenti Pak!" Dylan tak perlu waktu lama untuk memberikan titah itu pada sang sopir. Apa ini? Jelita tidak tahu menahu seperti apa masalah yang mendera dirinya dengan sang ayah maka seharusnya Jelita tak pantas berucap demikian. Pikir Dylan seperti itu.

__ADS_1


"Baik Tuan!" Perlahan mobil itu menepi kemudian Dylan membuka pintu, keluar dari sana.


"Turun!" Titahnya pada Jelita, rahangnya sudah mengusung tegas, dadanya berkembang kempis menahan amarah yang tak ingin ia tunjukkan pada wanita kesayangannya namun sekuat apa pun dia tahan Jelita tetap bisa melihat kemurkaannya.


Perlahan, Wanita cantik itu turun dari mobil mewah sang kekasih lalu berdiri menatap nanar wajah tampan milik Dylan "Maaf kan aku Dylan, ..."


"Semoga kamu bahagia, tanpa gangguan dari ku!" Sela Dylan memangkas ucapan Jelita yang belum sempat di rampungkan "Terimakasih saran mu, mulai dari sekarang, aku takkan pernah mengganggu mu lagi!" Tegasnya.


"T-tapi, ..." Entah kenapa rasa tak rela tiba-tiba menyeruak dalam dada wanita ini. Jelita sadar kebahagiaan dan ketenangan yang ia dapatkan saat ini adalah campur tangan dari Dylan Jackson tapi baru saja dirinya mematahkan sayap hati laki-laki itu "Dyl, .... Aku, ...."


Brugh!


Dylan sudah masuk ke dalam mobil dan perlahan kendaraan beroda empat itu melaju meninggalkan Jelita dalam keadaan bergeming.


...🖋️................🖋️...


Jelita menyeberang jalan untuk mendapatkan angkutan umum karena sepertinya akan lama jika harus menunggu taksi.


Setelah mendapat angkot. Dia kemudian kembali ke salon kecantikan, tempat di mana mobil miliknya masih terparkir. Mungkin hanya seperempat jam saja Jelita sudah turun dari angkot berwarna merah itu.


"Terimakasih ya pak!" Dia membayar dengan uang lima puluhan tapi tak mau menerima kembalian.


Angkot itu pergi lalu gegas Jelita menyeberang jalan kembali menuju mobil hitam mengkilap miliknya yang masih setia terparkir di depan salon langganannya.


Setelah beberapa saat menilik ke kanan dan kiri, Jelita yakin tak ada satupun kendaraan yang terlalu dekat dengan tubuhnya maka seharusnya aman jika dirinya menyeberang saat itu juga.


Namun, satu mobil yang awalnya berhenti kini melaju sangat cepat mengarah padanya "Aaaaaaa!" Jelita memejamkan matanya kuat-kuat dengan tubuh yang sukar sekali ia gerakkan, bahkan untuk menghindari mobil itu saja tak mampu ia lakukan.


"Jika aku harus tiada, tolong beri aku kesempatan untuk berdamai dengan Dylan kembali, Tuhan!" Masih sempat terpikir hal itu dalam benaknya yang tanpa sadar dirinya begitu menginginkan kembalinya sang kekasih.


BRAK!


Secara kilat Jelita membuka mata dan satu buah mobil hitam yang sangat dia kenal menghalangi laju mobil putih yang hampir menabrak dirinya "E'den!" Teriaknya.


Dentuman hebat memekik jantungnya kala menyadari sopir yang tak sadarkan diri dengan berlumuran darah di bagian kepalanya itu tidak lain tidak juga bukan adalah suami yang dia gugat cerai.


"E'den!" Lirihnya, air mata begitu saja lolos jatuh ke aspal bersamaan dengan terduduk nya sang tubuh yang lemas bagai tak bertulang.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...

__ADS_1


...Silahkan tulis Up kalo mau di lanjut lagi, jangan lupa dukungan like nya.🤗...


__ADS_2