Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Misi___Menikah


__ADS_3

Sesuai rencana siang setelah acara perhelatan di panti asuhan miliknya, Ranti mendatangi rumah putranya di dampingi Reno dan beberapa pengawal lainnya.


Dylan tak menyangka, ibunya berani menginjakkan kaki di rumah miliknya, sebab selama ini dia tahu Edbert tak pernah mengizinkan wanita itu mengunjungi rumah putranya.


Edbert ingin Dylan sendiri yang datang ke istananya namun sepertinya akhir-akhir ini pertahanan Edbert sedikit goyang setelah Dylan benar-benar tak mau lagi kembali bahkan setelah Edbert ikut membantu hubungannya bersama Jelita.


Di lihat dari tatapan matanya, Dylan benar-benar sudah sangat membenci ayahnya. Mungkin wajar sebab siapa pun orangnya pasti sakit jika melihat seseorang yang sangat ia cintai di sakiti.


Ranti belum sempat makan siang, maka Dylan sekalian mengajak ibu dan calon isterinya makan siang bersama di rumah besarnya.


Denting yang tak sengaja di buat oleh sentuhan pisau steak dan garpu terdengar sesekali di dalam sana.


"Mami kenapa baru datang ke sini? Apa sekarang Mami mau tinggal bersama ku? Mami pasti tidak akan kesepian di sini. Sebentar lagi Dylan menikahi Jelita." Dylan beralih pada calon isterinya "Iya kan sayang?" Tanyanya tersenyum.


"Emm." Angguk Jelita "Tentu saja." Senyumnya.


"Mami ke sini, justru mau merengek pada mu, Dylan. Mami mau kamu pulang ke rumah sekalian bawa istri mu juga. Daddy kamu sudah tidak muda lagi. Dia membutuhkan penerus. Sementara hanya kamu saja yang dia miliki, kasihan dia Dylan." Ujar Ranti. Tangan kanannya menggenggam tangan kiri Dylan sekarang.


Cukup lama Dylan terdiam dengan pergulatan batin yang tak keruan dan tangan kiri Jelita menimpali tangan kanan Dylan kemudian.


"Dylan, kenapa tidak di jawab? Mami menunggu jawaban mu." Ucapnya lembut.


"Gimana kalo kita selesaikan dulu makannya?" Dylan bergantian menatap ke dua perempuan cantik itu.


Ranti dan Jelita setuju lalu setelah menyelesaikan makan siang bersama, Dylan mengajak ibu dan calon isterinya duduk di sofa ruang tengah.


Jelita berada tepat di sisi kanan Dylan sementara Ranti di sofa lain yang berhadapan dengan tempat duduk putranya.


Ranti juga mengadukan semua yang sudah terjadi di dalam rumah besar suaminya pada putra semata wayangnya.


Dylan mengeraskan rahangnya ketika mendengar keluhan juga aduan ibunya. Rupanya ada hal yang Ranti ketahui tapi membiarkan hal itu terjadi begitu saja tanpa di adili.


"Jadi. Apa Mami masih boleh merengek pada mu Dylan?" Ujar Ranti dengan tatapan penuh harap.


"Dylan, ..." Belum selesai ucapan Dylan Ranti sudah lebih dulu menimpali.


"Mami masih memerlukan banyak uang untuk adik-adik mu di panti, Mami tidak mungkin membiarkan Hendra menggantikan posisi Daddy mu bukan? Sudah pasti dia menyalah gunakan kekuasaan nya jika itu terjadi, Mami masih belum rela kehilangan perusahaan Daddy mu."


"Tapi, ..." Dylan baru akan menyela ucapan ibunya. Namun. Tiba-tiba saja Jelita meraih pipi Dylan dan membisikkan sesuatu di telinga pria itu.


Ranti hanya tersenyum menatap keduanya gemas.


"Hmm?" Setelah mendapat bisikan Dylan berkerut kening menatap ke arah Jelita dari jarak yang sangat dekat "Misi?" Tanyanya.


Jelita mengangguk sambil tersenyum "Iya misi. Kita terima saja tawaran Mami dengan misi ini!" Usulnya sambil tersenyum antusias.


Mendengar bisik-bisik keduanya Ranti terlihat penasaran tapi tidak berani menanyakan apa pun pada putra-putri nya.


Jelita membisikkan sesuatu kembali dan kali ini Dylan terkikik geli menerima bisikan dari kekasihnya.


"Kamu kenapa ketawa?" Jelita protes dengan bibir yang merengut sambil menepuk keras lengan Dylan.


"Kalian ini kenapa sih? Apa Mami di sini hanya untuk menyaksikan kemesraan kalian?" Ranti giliran protes.


Jelita menyenggol siku Dylan sambil menatap penuh desakan pada pria itu "Dylan!" Titahnya.


Dylan mendengus tapi semua yang Jelita bisikan padanya lumayan membuat pria tampan ini meluluh.


"Ok," Angguk Dylan pada akhirnya "Dylan mau kembali ke rumah Daddy. Tapi setelah kami menikah, Mami bisa sabar kan menunggu?" Tanyanya pada Ranti.


"Janji sayang?" Ucap Ranti tersenyum bahagia, setelah sekian tahun akhirnya dia akan segera tinggal satu atap bersama putranya kembali.

__ADS_1


Dylan dan Jelita mengangguk mengiyakan.


Dylan memang menerima misi yang Jelita usulkan akan tetapi dia juga harus memastikan hubungannya bersama Jelita sudah syah menjadi suami istri sebelum melakukan misi tersebut.


Semua bisa saja terjadi di luar rencana, tapi jika mereka sudah dalam kondisi satu ranjang setidaknya akan bertambah 25 persen lagi tingkat keberhasilannya.


Anggap saja Dylan akan melakukan sebuah misi bersama sang istri di rumah besar yang terselimuti duka lara ibunya. Rumah yang terlalu banyak penghianat di dalamnya.


...🖋️................🖋️...


Hari berganti, suara hiruk pikuk begitu bising di sekitaran villa mewah yang di dominasi warna putih. Juntaian kain organdi beterbangan tertiup angin pantai malam ini.


Tak ayal, Dylan & Jelita lah yang tengah mengadakan resepsi pernikahan di villa tepi pantai.


Tepat di pukul 18:00 tanggal 06 bulan Juni, Dylan resmi menandatangani buku nikah bersama wanita cantiknya.


Acara sederhana, menurut Marseille karena dulu saat menikah kan Jelita dan Brandon ribuan tamu yang di undang.


Tapi pernikahan kedua Jelita hanya mengundang tidak lebih dari seribu tamu saja, diantaranya hanya kerabat dekat dan rekan bisnis penting saja.


Tak masalah bagi Dylan, asal bisa menikahi Jelita Maharani semua dia setuju. Tak tanggung-tanggung seserahan yang dia bawa adalah beberapa sertifikat tanah yang luasnya bisa untuk membangun lapangan golf.


Marseille masih sempat terperangah meski sudah terbiasa besanan dengan Anson yang juga kaya raya.


Semua anggota keluarga Jelita bahagia apa lagi setelah mengenal lebih dekat lagi calon menantunya selama beberapa bulan ini.


Dylan penyayang, lemah lembut, tak pernah berkata tidak untuk semua yang Jelita ucapkan, meskipun dingin tapi tak pernah menunjukkan hawa dingin saat bersama Jelita.


...🖋️................🖋️...


Malam kini semakin larut bersamaan dengan itu para tamu di villa pernikahan Dylan & Jelita juga menyurut.


Mirea kemudian mendekati mempelai wanita yang kini berbalut gaun putih yang sangat cantik sayangnya raut Jelita justru terlihat tersiksa dengan gaun indahnya.


"Sayang, kamu langsung istirahat saja yuk. Kayaknya kamu sudah terlalu capek." Titahnya sambil mengusap lembut pipi putrinya.


Jelita mengangguk karena memang sudah sangat lelah "Iya Mah."


Mirea menuntun putrinya sedang beberapa pelayan mengangkat juntaian ekor gaun milik pengantin baru itu. Mereka masuk dan menaiki anak tangga menuju kamar pengantin yang terletak di lantai atas.


"Jelita cantiknya." Beberapa tamu yang masih ada selalu berucap kagum pada wanita cantik ini "Terimakasih." Sahut Jelita dengan sunggingan senyum manisnya.


"Kamu pegal sayang? Keliatannya pucat begini." Tanya Mirea terlihat cemas.


"Tidak juga kok Mah." Jawab Jelita menenangkan.


"Emmh, tapi tetap saja kamu harus banyak istirahat setelah ini."


Mirea tahu putrinya sudah lama ke sana kemari mempersiapkan pernikahan dengan antusias, bahkan tak jarang Jelita juga tak tidur saking antusiasnya. Entahlah, meski bukan pernikahan pertama tapi Jelita begitu excited.


Perawatan kulit, mengikuti senam kegel, juga semua kegiatan yang bisa membuatnya lebih percaya diri untuk di sentuh suaminya sudah Jelita lakukan.


Biarpun janda setidaknya rasanya tidak janda, semoga Dylan tidak kecewa meskipun miliknya sudah bukan perawan.


Lalu bagaimana ini? Malam pertama justru terlihat lemah karena terlalu lelah dengan semua persiapannya, apa lagi ternyata hari ini hari ke lima nya mendapat tamu bulanan. Jelita kira akan selesai sebelum malam pertama tapi rupanya sampai detik ini belum surut juga.


Setelah mengantar putrinya masuk ke dalam kamar pengantin, Mirea kembali ke lantai di mana acara masih digelar, masih ada tamu-tamu yang perlu di temui yaitu beberapa saudara jauh yang tidak pulang dan sekalian menginap di salah satu kamar villa tersebut.


...🖋️................🖋️...


Di sisi ranjang Jelita berdiri dengan wajah pucat tak bersemangat karena lelah berjam-jam berdiri bersalaman dengan para tamu undangan.

__ADS_1


Di sekitaran tubuhnya beberapa pelayan tengah membantu pengantin itu melepaskan gaunnya.


Kemudian terdengar suara langkah kaki yang mendekat, Jelita tak sempat ragu untuk menoleh. Di lihatnya wajah tampan suaminya yang semakin terpancar setelah mengenakan tuxedo hitam.


Selama ini Dylan selalu memakai pakaian kasual, t-shirt putih lalu celana jeans. Begitu-begitu saja gaya nya. Kali ini Dylan terlihat sangat berbeda dari biasanya.


"Hubby, ..." Jelita tersenyum menyambut kedatangan suaminya.


"I love you sayang." Dylan menurun kan wajahnya menuju bibir merona milik isterinya tak memperdulikan beberapa pelayan masih ada di sekitarnya.


Kini para wanita itu menurunkan pandangan ke lantai, ikut merasa canggung melihat aksi romansa cinta pengantin baru itu.


"Dylan." Jelita bisa menghindari bibir itu tapi tak mampu untuk beringsut karena gaun yang merepotkan.


"Stop Dylan." Tangan Jelita menahan dada bidang suaminya. Namun. Dylan terus menujum kan bibirnya ke arah leher mulus milik isterinya membuat Jelita sedikit terhuyung ke belakang karena tak mampu lagi menangkis serangan tiba-tiba suaminya.


"Aahh." Jelita kelepasan berdesah saat leher mulusnya tergores bulu-bulu tipis milik suaminya dan itu membuat para pelayan segera keluar dari ruangan tersebut. Mereka tahu kali ini sang Tuan sudah tak bisa menahan kegiatan asmaranya.


Pintu sudah di tutup dari luar oleh para pelayan sementara Jelita sudah terduduk di sisi ranjang bahkan sedikit kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi dari bibir suaminya.


"Dylan, kamu tahu kan aku belum bisa hari ini! Kamu tahu kan aku masih, ...."


"Hmm, aku tahu. Main di atas dulu kan boleh." Suara itu terdengar menggelitik di telinga Jelita karena saat ini bibir Dylan sedang bermain-main di bagian sana hingga memberi jejak basah pada area-area tertentu.


"Tapi, ... aahh." Satu lagi cemelos dari bibir Jelita yang terlepas tanpa mampu ia kompromi.


Belahan indah Jelita kini sudah terlukis tanda kepemilikan dan itu stempel pertama yang mendarat di bagian tersebut.


Jelita masih membiarkan ulah suaminya sambil sesekali meremas rambut di bagian tengkuk Dylan saat tak tahan lagi melampiaskan gelenyar candu nya.


"Dylan, pelan-pelan." Jelita mengunjal napas sebanyak mungkin untuk bekal ciuman panas yang baru saja di mulai.


Tanpa melerai penyatuan bibir mereka. Tangan Dylan meraba resleting di bagian belakang tubuh isterinya namun sayangnya berusaha seperti apa pun, lelaki itu tetap tak mampu membukanya.


"Ck! Kenapa susah sekali?" Pada akhirnya Dylan menilik ke belakang tubuh isterinya.


Alih-alih berhasil. Rupanya, bukan resleting tapi beberapa tali juga pengait yang sukar di lucut.


Dylan mendengus "Sayang!" Panggilnya pelan namun penuh intonasi.


"Hmm?"


"Kenapa tidak bisa buka? Gimana caranya?"


"Ck!" Jelita mendorong tubuh Dylan hingga terbaring di sebelahnya dan menindih gaun pengantin miliknya.


"Harusnya biarkan mbak-mbak yang tadi membantu ku melucuti nya! Kamu sih ga sabaran! Sekarang panggil mereka lagi!" Berang Jelita merengut.


"Kamu marah?"


"Aku capek pake gaun berat begini." Sahut Jelita menggerutu.


"Iya iya. Aku panggil mereka lagi." Dylan beranjak dari posisinya lalu berjalan keluar, untungnya para pelayan masih berada di sekitaran pintu.


"Masuk lah! Bantu istri ku melepas gaunnya!" Titahnya sambil meremas kecil rambut di kepalanya.


"Baik Tuan." Para pelayan masuk lalu Jelita berusaha berdiri kembali meskipun terlihat kesulitan karena gaun kembangnya.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


...Terimakasih banyak partisipasi Like nya 😍 Alhamdulillah akhirnya aku bisa Up....

__ADS_1


__ADS_2