Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Ironi Garry


__ADS_3

"Hubby, biar aku keluar rumah, aku mau jemput Mami dari rumah sakit, aku kangen belanja bareng Mami."


Sedari tadi wanita itu merengek pada suaminya, dan Dylan masih hanya diam saja dengan kegiatan paginya, lelaki itu tengah merapatkan kancing di bagian pergelangan tangannya sekarang.


Dylan sudah harus ke kantor, Ranti masih di rumah sakit, pasti mansion itu akan lebih terasa sepi.


Jelita jenuh di kekang terus menerus, ingin juga protes, unjuk rasa agar sang suami membebaskan nya dari penjara cinta posesif nya.


Dylan mendekati Jelita yang masih duduk di sofa kamarnya, lelaki itu membungkuk dan mensejajarkan wajahnya pada wajah cantik isterinya.


"Tolong jangan terus merengek sayang, semua ini demi kesehatan mu, kamu tahu jarak SC pertama mu masih terlalu dekat, resiko nya terlalu tinggi, tolong mengertilah, aku berbuat seperti ini karena mengkhawatirkan mu, aku takut kamu dan calon bayi kita kenapa-kenapa, ingat sayaaaang, jangan sampai kejadian seperti Yaki terulang lagi." Dylan mengusap dahi yang masih ada juntaian poni ikal Jelita sambil menatap lekat anak rambut itu.


Pandangannya Dylan turun kan ke bibir lalu menempelkan bibirnya pada bibir merona isterinya sangat lembut dan sedikit panas, meski begitu Jelita masih hanya diam saja, ngambek.


Dylan menarik isterinya untuk berdiri kemudian menempatkan tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya "Kamu masih marah?" Tanyanya.


Jelita menggeleng "Tidak, aku hanya jenuh saja, kamu ke kantor, Mami juga sibuk, sementara kegiatan senam dan gym ku sudah kamu larang, aku jenuh di rumah terus Hubby." Lirihnya.


"Baiklah, pagi ini aku antar kamu ke rumah Mamah, nanti malam, sepulang dari kantor aku jemput, gimana?" Usul Dylan.


"Em em." Jelita mengangguk.


Dylan menggendong isterinya keluar dari kamar dan menuruni anak tangga, langkahnya langsung menuju pintu utama di iringi beberapa asistennya.


Tiba di halaman, Dylan mendudukkan tubuh isterinya pada jok mobil mewahnya dan sang asisten sudah siap menyematkan jas pada lengan kekarnya.


Semenjak isterinya hamil Reno lah yang melayaninya, dari menyiapkan pakaian hingga memakaikan jas.


Dylan masuk ke mobil dan Reno mengambil alih kemudi, mereka bergegas pergi menuju rumah Marseille.


Mirea ibu rumah tangga sudah pasti lebih banyak di rumah, tidak seperti Ranti yang notabene nya wanita sibuk.


Dalam perjalanan Dylan terlihat mengutak-atik gawai tipis miliknya dan Jelita sedikit melirik.


"Siapa?" Tanyanya.


Dylan menoleh dan mengecup singkat ubun-ubun wanita itu "Mami, dia tidak mau aku jemput, mungkin akan langsung ke yayasannya, Mami selalu menolak tawaran ku, Baby. Aku sedikit khawatir." Ucapnya.


"Mungkin Mami sudah nyaman dengan kehidupan yang serba sendiri. Semoga dia mau menerima lamaran dokter Garry. Kalo menurut ku mereka cocok." Sambung Jelita.


"Semoga yang terbaik, selalu menghampiri Mami dan kamu, tanpa bosan-bosannya." Ucap Dylan dalam harap.


...🖋️................🖋️...


Di tempat lain, Ranti baru saja di izinkan beranjak dari ranjang pasiennya dan seperti biasa wanita itu berjalan seorang diri menuju lobby.


Ranti tidak suka di awasi apa lagi di dampingi pengawal, dulu saja Ranti sering protes saat Edbert mengekangnya dengan para bodyguard.


Namun.


Kali ini terasa sepi, karena biasanya ada pria tampan yang mengiringi langkah kaki nya berayun akan tetapi Garry tak lagi mengganggunya.


Tiba di lobby bangunan, sosok tampan itu berdiri dengan beberapa orang berpakaian putih.


"Tolong, di usahakan untuk cepat!" Titah Garry pada beberapa asisten medisnya.


Entah kenapa, wajah Ranti menjadi berbinar saat melihat Garry di sana hingga dengan reflek Ranti menyapa "Garry."


Pria itu menoleh,


...Degub...


...Degub...


...Degub...


...Degub...


Garry terdiam dengan suara detak jantung yang bertampiaran saat menatap wajah ayu Ranti penuh kerinduan "Neng Ranti? Kenapa harus bertemu lagi? Oh Tuhan tubuhnya." Sekuat tenaga pria ini beringsut dari pemandangan itu.


Takut khilaf, itu yang sedang terjadi pada dokter tampan ini sekarang. Bayangan kemolekan tubuh Ranti terus menemani hari-hari nya, bagaimana jika sampai sang junior tak terkendali dan langsung menerkam? Garry lebih memilih menghindar.


Lain halnya dengan Ranti yang kini berkerut kening saat Garry tiba-tiba memalingkan wajahnya seolah acuh tak acuh.

__ADS_1


"Apa dia sudah tidak menyukai ku? Kenapa dia menghindar dari ku semenjak melihat tubuh ku?" Batin Ranti.


"Iya, kenapa?" Tanya Garry dengan pandangan yang mengarah ke arah lain.


"Tidak apa, aku hanya menyapa mu saja." Ranti pada akhirnya melanjutkan langkah pergi, wanita itu sedikit kecewa dengan perlakuan Garry yang terkesan menghindar setelah kejadian di hotel.


Sudah Ranti kira, tidak ada yang bisa menerima dirinya, Ranti semakin merasa sudah tua dan tak lagi menarik.


Garry hening menatap berlalunya punggung wanita itu "Maaf acuh pada mu, Neng! Bang Garry takut khilaf memakan mu." Gumamnya memelas.


...🖋️................🖋️...


Hari pun berganti, begitu juga dengan cuaca alam semesta, sesuai dengan aturan sang maha esa.


Malam ini malam di mana Ranti dan keluarganya bergantian mendatangi rumah besar Hardiansyah.


Dua hari yang lalu Galaxy melayangkan undangan nujuh bulanan anak pertamanya.


Setelah dua tahun menikah akhirnya dokter spesialis penyakit dalam itu di berikan kepercayaan.


Dylan menggiring isteri dan ibunya memasuki bangunan minimalis modern milik Hardiansyah.


Terlihat halaman parkir itu sudah di padati kendaraan mewah, senyum sapa tertuju pada Dylan, Jelita, dan Ranti sekarang, ketiganya menyunggingkan senyum balasan pada semua orang.


Tiba di dalam Talia sudah melambaikan tangan pada Ranti untuk segera mendatangi nya.


Ranti tersenyum dan melangkah menuju sahabat karibnya "Ough!!" Satu minuman berwarna merah menumpahi bagian depan tubuh Ranti.


Dylan menegaskan rahang saat seorang pelayan dengan ceroboh menumpahkan minuman pada ibunya "Bisa kerja tidak kamu!?" Bentaknya.


"Maaf Tuan, maaf Nyonya, saya tidak sengaja." Wanita itu menunduk takut mendapati tatapan tajam pemilik kerajaan Jack group yang terkenal itu.


Jelita reflek mengelus lengan kanan suaminya "Hubby, jangan begitu." Ucapnya menenangkan.


"Ngga papa sayang." Timpal Ranti mengelus lengan kiri putranya. Lalu sedikit mengelap bagian yang terkena minuman.


"Maaf. Maaf kan saya." Tunduk wanita itu.


Talia menatap kecewa pelayannya "Bisa hati-hati ngga kamu?" Sudutnya.


"Maaf Nyonya."


Ranti menepuk pelan pundak bergetar wanita itu "Tidak apa, kamu kembali lah bekerja." Titahnya.


"Baik Nyonya. Permisi" Pelayan itu pergi setelah memberikan tundukan kepala sopan.


Dylan terpaksa diam karena dua wanita kesayangannya sudah berhasil membungkam amarah nya.


Talia mendengus "Maaf kan aku Jeng, gaun mahal mu kotor." Katanya.


"Tidak apa, di mana toilet nya? Aku masih bisa membersihkan nya." Tanya Ranti.


"Di sana Jeng, mari saya antar." Ajak Talia.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri kak!" Tolak halus Ranti sambil tersenyum.


Talia mengangguk "Kalo begitu aku bawa mantu mu saja ke sana yah, nanti segera menyusul yah, Jeng!" Titahnya.


Ranti mengangguk sambil tersenyum membiarkan Talia menggiring Dylan dan Jelita ke sebuah meja makan tamu VVIP.


Ranti lantas melanjutkan langkah menuju toilet di sudut tempat itu, toilet yang sengaja Hardiansyah sediakan untuk para tamu saat ada pesta seperti sekarang ini.


Sepi, mungkin belum waktunya orang-orang memakai toilet karena masih baru akan di mulai acaranya.


Brugh!


Tubuh Ranti terhuyung ke belakang saat dada beton seorang pria mengenai tubuh rapuhnya.


"Ahhh." Keluh nya, Ranti meringis mendapati itu dan rupanya Garry yang memberikan kesakitan di area dadanya.


Reflek saja Garry menarik lengan Ranti hingga kini keduanya saling bertatap muka dari jarak yang sangat dekat "Maaf, Neng!" Ucapnya spontan.


Tatapan mata mereka saling bertemu dan tak beringsut begitu lama, mungkin karena saling merindukan satu sama lain. Garry sendiri tak mengharapkan perjumpaan ini lagi atau dirinya akan semakin sulit melupakan Ranti.

__ADS_1


...Degub...


...Degub...


...Degub...


Jantung dokter itu mulai berbicara kembali, saat tatapan matanya perlahan turun ke bagian leher jenjang Ranti yang masih di basahi minuman berwarna merah dan itu terlihat sangat menggoda baginya.


Ranti mengenakan gaun merah berlengan sabrina hingga tertampil semua area bahunya dan sedikit menyembulkan belahan dada indahnya.


"Seksi!" Celetuk Garry dengan bisikan suara mesra.


"Apanya?" Tanya Ranti.


"Ahh, sialan, kenapa kelepasan? Tinggalkan dia, Garry, tinggalkan. Jangan hiraukan racun dunia mu! Enyah dari sini cepat!" Batin Garry berkecamuk. Menahan gelora yang tiba-tiba membuncah dalam dada.


"Siapa yang seksi?" Tanya Ranti lagi.


"Jangan di jawab, nanti baper lagi lu, pergi, let's go!" Sisi batinnya "Kamu, kamu seksi Neng!" Kenyataannya adalah Garry tak mampu menghindari wanita cantik itu "Ahh, kenapa harus menjawab? Setan lu Garry!" Umpat nya dalam batin.


Dera napas yang memburu sudah terdengar jelas di telinga Ranti sekarang "Kamu kenapa Garry? Kenapa napas mu seperti orang baru lari maraton?" Tanyanya polos.


"Aku, ...."


"Ayok pergi, sebelum khilaf, jangan sampai terjadi di sini, kamu laki-laki baik, tidak mungkin menyentuh Ranti sebelum menikah. Setan pergilah kau!" Racau batinnya berusaha menafikan sikap ingin nya.


"Apa?" Tanya Ranti mencecar.


"Aku menginginkan mu...."


Cup!


Bersatulah bibir lembut mereka, Garry memejamkan matanya sambil menekan punggung wanita cantik itu hingga menyatu pula tubuh keduanya.


Ranti hening dan menerima semua perlakuan berondong manis itu, ada rasa penasaran, apa yang akan terjadi jika Garry yang menyentuh dirinya "Kenapa? Masih tidak ada rasa? Aku yakin aku merindukan nya selama ini, apa itu berarti aku tidak benar-benar menyukainya?" Batinnya.


Lain halnya dengan Garry yang hanyut dalam permainan bibirnya sendiri, ia pagut beberapa kali bibir lembut Ranti bahkan menarik tubuh Ranti masuk ke dalam toilet dan menguncinya dari dalam tampa melepas penyatuan bibir mereka.


Brugh!


Tubuh Ranti, Garry sudut kan pada permukaan pintu lalu menarik lembut rambut pada bagian tengkuk Ranti hingga mendongak.


Kecupan demi kecupan beralih ke bawah, dari dagu lalu ke leher dan pada dada yang terasa manis karena minuman yang belum di bersihkan dari tubuh Ranti.


Garry tak merasakan balasan atau mendengar desah kenikmatan dari wanita dewasa itu meskipun bibirnya sudah melahap habis minuman yang melekat pada kulit Ranti.


Bukankah seharusnya menggeliat minimalnya? Lalu kenapa Ranti hanya diam saja? Garry seorang dokter, maka dengan cepat pria itu menangkap ketidak beresan pada tubuh wanita itu.


Garry menghentikan aksinya, lalu menatap lekat wajah cantik Ranti yang masih hanya diam saja dengan raut datar.


"Maaf aku lancang. Tapi, kenapa Neng Ranti hanya diam saja? Tidak menolak, tapi tidak juga menikmati sentuhan ku?" Tanya Garry lirih, sedikit banyak pemuda itu mulai tahu apa yang sedang terjadi pada wanita itu.


"Ini lah yang ku bilang, aku tidak bisa merasakan sentuhan seseorang, beginilah aku, Garry." Jawab Ranti mengaku.


"Dari sejak kapan?" Tatapan Garry semakin redup kala mengetahui kenyataan miris ini.


"Aku tidak tahu, tapi terakhir kali Edbert menyentuh ku, saat semua yang telah terjadi di antara kami mulai merenggang, mungkin aku mati rasa. Aku bukan wanita yang pantas kamu sukai." Sambung Ranti.


"Bagaimana bisa? Kita masih bisa berusaha bukan? Semua penyakit akan ada obatnya." Sela Garry cepat.


Ranti menggeleng "Aku tidak yakin, aku sudah bukan anak muda lagi, aku pasrah, aku juga tidak ingin mengembalikan perasaan gatal itu. Aku nyaman dengan hidup ku yang seperti ini." Timpalnya.


"Bagaimana jika ternyata aku mampu menyembuhkan mati rasa mu? Apa kau mau menikah dengan ku?" Tanya Garry bernegosiasi.


Ranti hening sejenak dengan sedikit pergulatan batinnya "Apa kamu yakin bisa?" Tanya baliknya setelah itu.


Garry mengangguk "Yakin!" Singkatnya pasti.


"Kamu boleh berusaha." Ucap Ranti, dan tatapan keduanya masih saling terpaut. Ada ironi yang tersemat pada pendar bening yang hampir meleleh kan air dari bendungan hilir di pelupuk mata Garry. Sementara Ranti hanya hening masih dengan raut datarnya.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...


...Jangan lupa dukung Garry dengan Like Vote Hadiah dan juga Komentar yaaaa Mak kece ku........

__ADS_1


__ADS_2