Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Berondong


__ADS_3

Berpakaian rapi lengkap dengan sepatu kilap. Dylan baru saja keluar dari ruang wardrobe lalu berjalan menuju jendela besar di kamar tersebut, tempat dimana isterinya berdiri menatap burung yang berlalu lalang di sekitar rumah mertuanya.


Suasana asri membuat rumah besar itu menjadi tempat paling di sukai makhluk indah bersayap ciptaan Tuhan.


"Baby, terimakasih." Dylan berbisik di telinga isterinya setelah merasakan kenikmatan hakiki dari tubuh inti yang sangat terawat.


Jelita menoleh lalu melingkarkan dasi pada kerah kemeja putih Dylan, tugas ini sudah sangat Jelita kuasai karena sebelumnya Brandon juga seorang direktur meskipun belum menjadi presiden direktur nya.


"Terimakasih untuk apa?" Tanyanya.


"Sudah merawat tubuh mu, kecantikan mu, kulit mu, wangi mu, semua yang kau miliki untuk ku, dan membuat aku gila pada mu." Ujar Dylan sambil mengusap pipi isterinya "Aku mencintai mu." Ucapnya kemudian.


Jelita tersenyum tanpa bersuara, ia fokus menyimpulkan dasi suaminya dengan rapih "Sudah selesai, sekarang kita ikut sarapan bersama." Ajaknya sambil memakai kan jas hitam pas body milik Dylan.


"Kenapa tidak di kamar saja sarapannya?" Protes Dylan.


"Mungkin bagimu ini menyebalkan Dylan, tapi, ini misi kita bukan? Kuat-kuat menahan semua kebencian mu, sebisa mungkin untuk tidak melakukan celah." Ujarnya membujuk dengan mata rayuannya.


"Istri ku sudah sangat pemberani, aku bangga." Sambung Dylan tersenyum.


"Aku tahu ini terkesan tamak, tapi aku hanya tidak mau membiarkan wanita jahat sejenis dengan Shasha hidup di sekitar Mami. Walaupun aku tahu Mami teramat sabar, tidak seperti ku yang justru melirik tetangga ku." Lanjut Jelita.


Dylan gede rasa mendengar itu.


"Mungkin ada wanita yang tulus mencintai suaminya meskipun dia istri kedua, tapi aku yakin semua istri Daddy tidak tulus. Apa lagi mantan kamu itu!" Jelita menaikan ujung bibirnya sambil memutar bola mata malas "Masih saja suka ngintip kita." Umpatnya.


Dylan terkikik sepertinya Jelita sedikit cemburu "Sudah lah, kita turun." Ajaknya lalu menggandeng isterinya menuju meja makan.


...🖋️................🖋️...


Di meja makan bulat berdiameter besar Edbert menarik satu kursi menawarkan pada istri pertamanya dan itu membuat seluruh istri mudanya menatap tidak suka khususnya Bella dan Mila.


"Duduk lah Mi." Titah Edbert lembut.


Mulai sejak mendengar sindiran Ranti, Edbert menjadi lebih memperhatikan isteri pertamanya meskipun sampai sekarang Ranti masih belum mau ikhlas di sentuh olehnya, ada saja alasan juga halangan tidur bersama Ranti.


Bella tak pernah memberi kesempatan untuk Edbert, bukan karena Edbert takut pada Bella tapi karena Ranti yang selalu pergi menutup diri saat Bella mendekat.


Ada pembelajaran yang Edbert ambil setelah mencampuri urusan rumah tangga Jelita. Ternyata memang sakit di madu, Ranti bahkan sampai hilang rasa padanya, Edbert tak rela kehilangan rasa cinta istri pertamanya.


Selama ini Edbert pikir diam nya Ranti karena cinta Ranti yang teramat besar padanya, rupanya justru karena sudah tak lagi perduli akan kehadirannya.


Akan Edbert kembalikan rasa yang hilang itu dengan perlakuan manisnya mulai sekarang.


"Daddy, itu kursi ku!" Bella menyeletuk sambil berdecak kesal "Kenapa di kasih Ka Ranti?" Protesnya.


"Biasanya Mami tidak ikut sarapan makanya kamu boleh duduk di sini, sekarang ada Mami, jadi kamu yang mengalah." Sela Edbert.


Ranti duduk tanpa mau menggubris percekcokan mereka. Jika saja tidak ada putra dan menantunya, wanita itu tak sudi makan satu meja bersama madunya.


Mila juga ingin duduk di sisi kiri suaminya tapi belum sempat duduk Edbert sudah lebih dulu bersuara.


"Itu kursi putra ku!" Tegas nya.


"Tapi Daddy."


"Kalian duduk di tempat lain!" Titah Edbert seraya duduk di kursi miliknya.

__ADS_1


Bella berkerut kening begitu juga dengan Mila, biasanya Bella sebelah kiri dan Mila sebelah kanan, rupanya sekarang sudah tergeser posisi mereka.


Di sisi tempat, Dylan dan Jelita tersenyum melihat wajah murka selir ayahnya, pemandangan ini lumayan menghibur.


Dylan tarik satu kursi untuk isterinya lalu tersenyum "Kamu di sini Baby." Ucapnya.


"Terimakasih." Jelita duduk lalu Dylan juga ikut duduk di antara ayah dan isterinya.


Sejenak Edbert menoleh ke kanan dan kiri tubuhnya menatap wajah isteri juga putra semata wayangnya yang sudah menikah, lalu mungkin sebentar lagi akan ada cucu yang duduk di pangkuannya.


Alangkah bahagia hidupnya saat ini, bisa berkumpul bersama keluarga yang utuh. Lambat laun kebutuhan seksual menurun seiring dengan bertambahnya usia.


Yang Edbert ingin kan hanyalah keutuhan rumah tangga, berdamai dengan isteri pertama yang menyenangkan menurutnya, mungkin sekarang Edbert hanya membutuhkan lawan ngobrol sambil minum teh. Tidak lagi memerlukan istri pemuas kebutuhan seksual nya.


Meski demikian, Edbert tak bisa begitu saja melepas isteri-isteri nya setelah sekian lama meneguk manisnya. Biarkan saja, Edbert masih memiliki perikemanusiaan.


"Aku suapi." Dylan sudah terbiasa menyuapi isterinya dan di meja itupun pria tampan ini tak merubah kebiasaannya.


"Emm." Angguk Jelita tersenyum.


"Ih, pengen banget gue tampol ni bapak sama anak berdua! Bisa-bisanya ga nganggep gue di rumah ini!" Batin Bella sinis sambil menatap kedua anak dan bapak itu.


Edbert membalikkan piring di depan dada isterinya "Apa Mami mau pergi setelah ini?" Tanyanya. Di lihat dari pakaiannya Ranti sudah rapih juga wangi dan bertambah cantik saja.


"Iya, ada banyak urusan di panti." Jawab Ranti datar.


"Biar Daddy antar sebelum ke kantor." Titah Edbert yang membuat seluruh isteri mudanya lagi-lagi berkerut kening, heran.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri, lagi pula ini sudah siang, kamu bisa telat. Hari ini hari pertama Dylan masuk kantor bukan?" Tolak halus Ranti.


Edbert manggut-manggut "Baik lah lain kali saja." Ucapnya.


...🖋️................🖋️...


Bimbingan khusus Dylan dapatkan selama pelatihan, agar bisa lebih tahu struktur juga sistem operasi nya. Dylan tak sempat sekolah tinggi makanya dia wajib mendapatkan kelas khusus tersebut.


Lukisan mahalnya terpaksa ia tinggal demi sebuah misi yang Jelita usulkan. Tak apa, Dylan rela berkorban demi Jelita, Dylan mengakui dia memang budak cinta isterinya. Apa pun yang Jelita mau akan dia lakukan.


Di tengah kesibukan, suara langkah dari sepatu heels terdengar memasuki ruangan membuat Dylan dan Reno menoleh, di lihatnya wanita cantik dengan busana khas kantor berdiri tepat di depan meja kerja.


"Permisi Pak," Sapa nya tersenyum.


Dylan mengerutkan keningnya "Siapa dia?" Toleh nya pada Reno "Kenapa lancang ada wanita yang masuk ke ruangan ku?" Bentaknya.


Reno dan wanita itu terkesiap "Dia Mustika, sekertaris pribadi Tuan muda." Jawab Reno.


"Pindah kan dia ke tempat lain! Aku hanya mau bekerja dengan laki-laki saja! Tidak ada perempuan yang boleh masuk ke sini selain istri ku!" Ujarnya tegas hingga Reno dan Mustika tersentak kaget.


"B-baik Tuan, segera saya ganti!" Turut Reno.


Reno memberikan kode pada Mustika untuk keluar "Baik, kalo begitu saya permisi pak." Pamitnya.


Dylan tak merespon dengan apa pun.


...🖋️................🖋️...


Di ruangannya Edbert baru saja menerima sebuah pesan teks dari orang-orang suruhannya, sudah satu Minggu Edbert menyuruh orang mengawasi isteri pertamanya.

__ADS_1


Edbert ingin mengembalikan hubungan yang sudah retak ini. Jika tidak dengan perhatian fisik mungkin dengan melindungi secara sembunyi-sembunyi. Edbert tahu sekali Ranti tak suka di ikuti antek-antek nya.


📩 "Nyonya besar tiba-tiba saja lemas lalu di bawa ke rumah sakit. Sekarang Nyonya mendapat perawatan."


Seketika itu juga Edbert beranjak dari kursi kebesarannya "Kita ke rumah sakit sekarang!" Ajaknya pada salah satu orang-orangnya.


...🖋️................🖋️...


Satu jam kemudian, di dalam kamar pasien kelas presidential, Ranti sudah lebih baik setelah mendapatkan infus.


Kebiasaannya memang begitu, Ranti tak bisa terlalu lelah mungkin pengaruh dari ginjal tranplantasi nya. Setiap dua Minggu atau satu bulan sekali Ranti mendapatkan perawatan medis tanpa diketahui suaminya.


Namun. Tidak dengan hari ini, Edbert tahu karena dia mulai menerapkan CCTV yang mengikuti langkah kaki isterinya.


"Permisi Nyonya," Perawat membuat Ranti menoleh padanya "Ini ada kiriman bunga lagi, dari dokter Garry." Ucapnya.


"Buang saja semuanya!" Titah Ranti datar. Di nakas dan sofa ruangannya sudah berjejer buket bunga yang di kirim dari satu orang pria yang sama.


Adalah Garry, dokter spesialis bedah yang mengagumi sosok keibuan Ranti, sudah sekitar tiga tahun ini Garry memberikan perhatian pada si pemilik wajah cantik ini.


Ranti selalu bersikap acuh karena tak mau meladeni pemuda yang usianya lebih pantas menjadi abang dari putranya.


Garry memang masih berusia 33 tahun, perjaka pemilik wajah tampan dengan tinggi 179 cm itu asli keturunan Indonesia cucu dari pemilik rumah sakit swasta yang sedang Ranti singgahi.


Setiap mendengar Ranti di rawat, Garry selalu mengirimkan bunga juga makanan tak jarang juga jam tangan dan sejenisnya.


Ranti muak dengan semua laki-laki dari yang bangkotan hingga yang berondong sekalipun, rasa ketertarikan pada lawan jenisnya sudah mati.


"Tapi Nyonya, dokter Garry mengancam dia akan mengirimkan lebih banyak lagi, kalo sampai pemberian darinya di buang." Suster itu sampai tak tahan menahan tawa saat mengucap. Teringat cucu dari pemilik rumah sakit elit begitu mengagumi sosok Tante ini.


"Biarkan saja kalo begitu!" Pada akhirnya Ranti berucap demikian. Mau bagaimana lagi? Garry selalu saja berbuat sesuka hati.


"Dari siapa memangnya?" Suara berat terdengar di ruangan itu secara tiba-tiba.


Ranti menoleh dan Edbert berdiri tegak di sisi ranjang pasiennya "Edbert, sejak kapan kamu di sini?" Tanyanya terkejut.


"Sudah dari tadi. Kamu yang tidak menyadarinya." Jawab Edbert datar.


"Kenapa bisa tahu aku di sini?" Ranti menatap curiga pada lelaki itu "Apa kau menyuruh antek-antek mu mengawasi ku?" Tanyanya mencecar.


"Kenapa memangnya?" Edbert berjalan perlahan menuju bunga-bunga yang berderet di sofa, ada paper bag juga berisi boneka merah muda di sana.


"Kamu tahu aku tidak suka di awasi!" Sanggah Ranti.


Edbert tak menjawab dia fokus menatap kartu ucapan yang terlampir di bunga-bunga tersebut "Cepat sembuh Manda, kau tahu? Panda khawatir, bisa-bisa salah bedah Panda kalo terus menerus tidak bisa konsentrasi begini, jangan sakit lagi Manda ku." Kalimat Bucin yang Edbert baca dari berondong penyuka isterinya lumayan membuat darah mendidih seketika itu juga.


"Jadi karena ini?" Edberd menunjukkan satu buket bunga mawar pada isterinya "Karena ada laki-laki yang menyukai mu? Jadi kamu tidak mau aku awasi karena ini, Ranti? Sejak kapan kamu seperti ini? Siapa laki-laki ini?" Tudingannya.


"Itu hanya anak-anak iseng, lagi pula siapa yang mau dengan ku Edbert? Suami ku saja membuang ku!" Sanggah Ranti.


"Iseng? Apa ada orang iseng memberikan bunga sebanyak ini? Boneka, ...." Edbert tak mampu melanjutkan kata-katanya atau sebentar lagi meledak emosinya sementara memarahi istri penurut nya bukan lah kebiasaan baginya.


Brugh!


Di lempar nya buket bunga itu ke sembarang arah. Lelaki itu memilih pergi meninggalkan isteri pertamanya dalam keadaan kebingungan.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...

__ADS_1


...Terimakasih, partisipasi Like juga komennya.......


__ADS_2