Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Random²


__ADS_3

...Dua satu plus!! Mohon maaf......


Ahh... ahh... ahh...


Suara desah yang terus terngiang di telinga Garry setelah keluar dari ruangan 5D itu, Ranti menggandeng tangannya dengan raut acuh.


"Neng, ..."


"Apa kamu tidak merasakan apa-apa hmm? Setelah menonton film ini kenapa ekspresi mu biasa saja?" Tanya Garry setengahnya protes.


Ranti menoleh "Aku menyukai nya kok, kita bisa ke sini lagi besok-besok." Jawabnya tersenyum.


"Iya, tapi Abang yang tersiksa Neng! Kamu mah bisa santai begitu." Batin Garry.


Keduanya berjalan beriringan menuju sepeda onthel miliknya yang masih setia terparkir di halaman luas bangunan tersebut.


...🖋️................🖋️...


Sepulangnya dari bioskop Garry bergegas memasuki kamar mandi, untuk menuntaskan sesuatu yang mendesak sang junior.


Setelah itu keduanya bergantian membersihkan diri, Ranti memakai baju tidur seksi seperti biasanya, bahkan belahan indah terlihat sangat jelas.


Garry tersiksa dengan pemandangan ini, dress hitam pendek yang hanya di balut dengan kimono membuat Ranti terlihat lebih menggoda. Maka kali ini pria itu justru memilih untuk menyungkurkan wajahnya pada sudut sofa.


Seperti malam kemarin, Garry tidur di sofa dan Ranti di atas ranjang, sebenarnya ada satu kamar lagi di unit presidential ini tapi kamar lainnya di pakai dua bodyguard suruhan Dylan.


Maka Garry harus rela tersiksa berada satu kamar dengan kekasih flat and seksinya.


"Garry, ..." Panggil Ranti. Saat ini wanita itu sudah tenggelam dalam selimut sedang Garry masih menelungkup kan wajah di sudut sofa.


"Hmm?"


"Kamu ngapain ngadep ke sana?" Tanya Ranti setengahnya protes.


"Ngga papa, aku takut khilaf saja, jadi biarkan aku begini, tolong jangan ganggu aku dulu!" Kata Garry.


Ranti tersenyum "Dasar, messum!" Tapi satu yang Ranti tangkap dari pria itu, yaitu Garry mampu menahan segala godaan meski terlihat menginginkan.


...🖋️................🖋️...


Satu Minggu berlalu, dan dalam satu Minggu ini Garry sibuk mengajak Ranti berjalan-jalan mengelilingi kota bahkan melakukan hal seru seperti layaknya pasangan muda.


Mencoba ice skating berdua, makan macaroni schotel yang terkenal sambil suap-suapan di restoran outdoor, bahkan menaiki perahu di iringi musik romantis.


Uh, Ranti terlihat berbunga-bunga tapi sayangnya sampai detik ini wanita itu belum juga mengatakan i love you too saat Garry mengucapkan i love you.


Tak apa, masih ada waktu tiga Minggu lagi, Garry masih yakin mampu menjerat hati Neng Ranti nya.


Hari ini Garry meninggalkan Ranti sendiri di hotel, lalu sekarang pria itu ujuk-ujuk muncul dengan beberapa buku novel di tangannya.


Siang hari yang cerah Ranti duduk di sofa balkon lalu menoleh setelah menyadari kedatangan pria itu "Dari mana saja sih?" Tanyanya.


"Beli ini, untuk mu." Garry duduk di sebelah Ranti lalu membuat posisi Ranti berada dalam dekapannya.


"Kita baca novel ini, bersama." Pinta Garry sembari sesekali mengecup telinga Ranti dari belakang.


"Novel apa?" Tanya Ranti berkerut kening, pasalnya gambar cover nya sangat menantang.


"Erotis sayang." Jawab Garry berbisik.


"Kamu masih mau kasih aku asupan messum lagi? Percuma itu tidak berpengaruh Garry."


"Kita coba saja dulu sayang. Yah, hmm?" Bujuk Garry.


Setelah sekian lama terdiam Ranti mengangguk lalu menurut untuk mulai membaca, kata perkata Ranti eja dengan seksama, novel berbahasa Inggris ini lumayan membuat Ranti di penuhi ekspresi, dari yang menangis, tertawa, juga geram.


Tapi saat part dewasa, justru Garry yang tak mampu melanjutkan "Sudah, aku tidak mau dengar bagian itu Yank, kamu baca pelan saja." Tolak nya.


"Kenapa?" Ranti memutar tubuhnya menghadap ke arah Garry.


"Aku laki-laki normal, membaca cerita erotis sedang di hadapan ku ada wanita seksi begini, aku takut khilaf!" Jawab Garry.


"Oh, jadi kamu menganggap ku tidak normal begitu? Terus ngapain kamu nyuruh aku baca cerita ini?" Sambung Ranti ketus.

__ADS_1


"Bukan begitu Neng!"


Belum selesai Garry bicara Ranti sudah lebih dulu beranjak dari duduknya, kemudian menatap tajam kekasihnya "Sudah lah kamu baca saja sendiri novel nya! Aku memang tidak normal kan?" Ujarnya ketus.


Melangkah arogan wanita itu memasuki kamar dan menenggelamkan tubuhnya pada selimut tebal berwarna putih. Setelah bersama Garry entah kenapa Ranti lebih menunjukkan sikap manja.


Di balkon Garry menghela saat melihat ekspresi berang Ranti "Kenapa sangat sulit menaklukkan dirinya?" Gumamnya memelas.


...🖋️........Sore harinya........🖋️...


"Taraaaaaa,"


"Astaga Garry! Kamu mengagetkan ku!" Garry menyodorkan satu buket bunga mawar merah pada sang kekasih.


"Maaf kan aku, telah menyakiti hati mu, aku tidak bermaksud menyakiti mu." Ucap Garry.


Ranti mengangguk "Aku sudah memaafkan mu!" Wanita itu benar-benar mendapatkan semua yang dia harap dari Edbert selama bertahun-tahun ini. Rupanya datangnya dari seorang dokter tampan yang masih sangat muda.


"Aku terbiasa di sakiti, aku tidak benar-benar marah padamu, aku hanya marah pada diriku sendiri, bahkan sampai detik ini, aku belum merasakan getaran apa pun." Kata Ranti.


Pelajaran erotis memang dia dapatkan, tapi untuk merasakan getaran saat membaca dan menonton hal erotis belum mampu terjadi.


"Tidak apa, aku masih belum menyerah, aku pasti bisa menikahi mu." Ucap Garry bersemangat. Ada gurat yang lain dari tatapan mata Ranti.


...🖋️................🖋️...


Tiga Minggu pun telah berlalu begitu saja, gurat sendu tertampil di wajah Garry saat ini, usaha untuk mengembalikan rasa gatal Ranti belum juga berhasil, mengajaknya menonton film justru dirinya yang tak mampu mengondisikan sang junior.


Cerita novel erotis, tak jua mampu membuat Ranti mengakui keberhasilannya, padahal Garry yakin selama satu bulan ini Ranti sudah sangat nyaman bersama dirinya.


Makan bersama, tidur di kamar yang sama meskipun tidak satu ranjang, sering kali berpelukan meskipun tidak intens, tapi Ranti masih belum mengatakan 'aku mau menikah dengan mu.'


Selama hampir tiga belas jam Garry terdiam dalam pesawat, sudah bisa di pastikan perpisahan lah yang akan Ranti berikan setelah ini, selain menerima keadaan, tiada yang bisa Garry lakukan.


Melihat kegundahan Garry, Ranti mendekati pemuda tampan yang kini asyik menelungkup di atas ranjang berukuran king fasilitas pesawat jet pribadi itu. Terlihat Garry memutar-mutar gelas es jeruk miliknya.


"Kamu kenapa diam saja dari tadi?" Tanya Ranti sambil mengusap lembut pipi dokter tampan itu.


"Kenapa memangnya? Kenapa kamu bilang ini hari terakhir kita bersama? Apa kau sudah tidak mau menemui ku? Apa kau memutuskan hubungan kita?" Tanya Ranti.


Garry mengernyit lalu duduk tepat di depan kekasihnya "Tentu saja tidak, aku tidak akan memutuskan mu, tapi bukankah kesepakatan nya hanya satu bulan? Dan ini sudah habis waktunya, tapi kau belum mampu merasakan apa pun, setiap kali menonton film kau masih datar saja. Aku juga frustasi." Ujarnya sendu.


Ranti mengecup singkat pipi kekasihnya setelah itu tersenyum "Aku mau menghabiskan sisa hidup bersama mu, kita belum mencoba lagi selama ini, mungkin film dan novel yang ku baca sudah berpengaruh, cobalah lebih berani menyentuh ku!" Titahnya.


Garry menelan saliva "C-coba? Maksudnya, anu, itu, Emmh..."


Cup!


Ranti memagut beberapa kali bibir Garry tanpa izin dari si pemilik, tangannya meraih gelas es jeruk milik Garry untuk di letakkan ke atas nakas, rupanya alih-alih terkejut Garry justru memejamkan matanya menikmati permainan bibir sang kekasih.


Suara cecapan kerap terdengar. Setelah beberapa saat tenggelam dalam permainan bibir, Garry melepas penyatuan itu, kemudian menatap wajah cantik Ranti dengan dalam. Ada gairah yang berkumpul di sana


"Neng Ranti serius? Menerima lamaran ku?" Tanyanya, matanya berbinar-binar bahagia.


Ranti mengangguk "Serius, nikahi aku, dan hidup bersama ku meski waktu ku mungkin tidak akan lama bersama mu, kau tahu aku banyak kekurangan juga fisik ku sangat ringkih, aku juga sudah berumur. Bisa saja aku lebih dulu meninggalkan mu dan lebih cepat membuat mu menjadi duda." Ujarnya.


"Sssutttt," Garry menutup bibir Ranti dengan satu jari telunjuk "Jangan bicara sembarangan, aku tidak mau kau lebih dulu pergi, mungkin aku tidak akan bisa melanjutkan hidup." Katanya.


Ranti menggeleng "Jangan begitu, berjanjilah, jika setelah kita menikah dan aku pergi, kau harus segera menikah lagi. Berjanjilah baru setelah itu aku menerima lamaran mu." Ucapnya bernegosiasi.


"Neng!" Garry menggeleng.


"Berjanjilah untuk ku!" Sela Ranti penuh harap. Mungkin dengan menerima cintanya Garry akan memiliki masa depan baru.


Garry mengangguk secara perlahan "Iya, aku berjanji." Katanya lirih.


Ranti meraih tengkuk Garry dan kali ini ciuman liar yang dia berikan, sungguh itu berhasil membangunkan sang junior.


Garry mencoba menghindari tapi Ranti terus menyerang bahkan mengelus bagian yang tegang milik kekasihnya.


Rupanya, pelajaran yang selama ini Garry berikan sudah mendarah daging pada wanita cantik ini, usia Tante biasanya lebih beringas dan sepertinya Ranti sudah berhasil memiliki gairah seksual nya.


Hanya saja selama ini Garry tak pernah berani menyentuh dirinya secara langsung, Garry hanya menelaah secara kasat mata saja, dan tidak ada perubahan yang signifikan dari ekspresi muka Ranti, wajah cantik itu selalu saja datar.

__ADS_1


Tapi kini terbukti dari bagaimana cara dia menyerang berondong nya, Ranti bahkan meraih resleting celana jeans Garry kali ini.


"Jangan Neng!" Setelah melepas bibirnya, Garry menggeleng meskipun tubuhnya sudah teramat panas menginginkan hal itu.


"Sentuh aku Garry. Kau bisa buktikan sendiri bahwa aku sudah berhasil kau buat melayang." Pinta Ranti mendesak, bahkan duduknya bergeser lebih dekat dengan sang junior.


"Maaf, aku." Meskipun menolak kurang ajar, pada akhirnya Garry memberanikan diri memagut lembut bibir sensual kekasihnya, gerilya benda tak bertulang mulai memanas, kecupan berpindah ke leher turun ke dada yang berfluktuasi seirama dengan bergemuruh napas milik Ranti.


Lamat-lamat terdengar suara desah yang Ranti keluar kan, sangat merdu hingga tak mampu Garry menghentikan aksinya.


Garry candu dengan desah kenikmatan itu, desah mahal yang dia dapat setelah satu bulan menanti.


Perlahan tubuh Ranti terjatuh dan berbaring masih dengan deru napas kacaunya, Garry memberanikan diri meremas gundukan padat yang selama ini acap kali menggoda imannya.


"Ahhh," Garry membelalakkan matanya sambil menghentikan aksinya sejenak merasakan remasan tangan Ranti di kepala bagian tengkuknya saat melepas desah kenikmatan.


Rupanya Ranti sudah menggelenyar dalam buaian asmaranya kali ini "Neng. Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya. Garry justru ketakutan sendiri setelah seperti ini.


Ranti mengangguk "Emmh, aku baik-baik saja, lakukan lagi." Telah lama dirinya tak merasakan hal indah ini, Maka ketika mampu merasai sentuhan yang membuatnya melayang Ranti sudah seperti Tante girang yang haus belaian.


Garry menelan saliva "A-aku bantu Neng Ranti saja, aku tidak akan melakukannya sebelum menikah." Pemuda itu beranjak dari dada kekasihnya lalu memandang wajah protes wanita itu.


"Kalo begitu, cepat nikahi aku!" Tuntut Ranti.


Garry mengangguk "Tentu saja, aku sangat menyayangi mu, bahkan mencintai mu setulus hatiku." Katanya.


Ranti meremas rambut di bagian tengkuk Garry dan berhasil membuat pria itu on kembali, Garry menggeliat dan mengibas-ngibas kan kepalanya berusaha tak tergoda wanita cantik ini.


"Ternyata kamu sudah selihai ini, Neng?" Ucap Garry.


Ranti tersenyum "Bukannya kamu yang memberi asupan messum padaku? Sekarang kenapa terkejut? Ayok lakukan!" Pintanya.


"Huh! Jiwa Tante Tante nya liar juga, calon istri ku!" Batin Garry sambil menelan saliva saat Ranti menurunkan kerah bajunya hingga bulatan merah terlihat sangat menggoda jiwa.


"Aku bantu saja, lumayan nyicip!" Garry meraih es batu yang masih sedikit besar dari dalam gelas es jeruknya kemudian meletakkan benda cepat cair itu pada sisi bulatan ujung dada kekasihnya.


Garry putar es batu mengelilingi ujung dada calon istrinya "Emmh,..." Ranti memejamkan matanya sambil menghela napas panjang.


Wajahnya sudah seperti kepiting rebus, merah padam merona, dan itu sangat terlihat kekanak-kanakan di mata Garry.


Tangan Ranti yang terlanjur menggelenyar kembali mengelus pusaka yang masih terbungkus milik Garry.


"Jangan nakal, jangan siksa aku Yank!" Protes Garry, dirinya sudah bertekad untuk tidak melakukan kegiatan intim sebelum menikahi wanita itu.


"Kalo begitu, sentuh saja aku!" Pinta Ranti.


Mendengar itu Garry memagut lembut bulir-bulir air yang berasal dari es batu, hingga mulutnya tak sadar mengunyah ujung berwarna merah muda milik Ranti bagai permen karet.


Desah kenikmatan Ranti terdengar begitu impresif hingga Garry tak rela untuk menyudahi permainan ini.


Kenyal dan wangi tubuh Ranti menusuk indera penciumannya "Apa yang kau lakukan Garry, jangan, jangan lanjutkan!" Pekiknya pada diri sendiri, namun apakah semudah itu melepaskan? Garry tetap membantu Ranti mendapatkan puncak surga dunia tanpa menanamkan miliknya.


Turbulensi udara mulai menggoyangkan pesawat dan keduanya terkikik geli setelah menyadari tingkah konyol masing-masing.


"Kenapa selama ini Neng Ranti tidak mengatakan perubahan ini? Aku hampir frustasi." Tanya Garry lirih. Posisi Garry berbaring miring menatap wajah cantik calon istri nya yang masih terengah-engah.


"Bukan terapi cabul mu yang menyembuhkan ku, tapi kasih sayang mu yang melelehkan hati ku. Aku terenyuh dengan kegigihan mu, selama satu bulan ini kau membuat ku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, berhubungan dengan mu, aku seperti kembali ke masa muda yang lewat tanpa ku nikmati, terimakasih." Ucap Ranti tersenyum, sedang tangannya mengusap lembut pipi pria itu.


Garry menutup bagian dada Ranti dengan selimut lalu memeluk erat tubuh itu dari belakang, kecupan-kecupan lembut Garry berikan di bagian leher calon istri nya.


"Kamu serius, tidak memalsukan or.gas.me?" Tanya Garry, pria itu tahu betul bagaimana biasanya perempuan memilih memalsukan or.gas.me demi membuat pasangan senang dan Garry tidak ingin menjadi laki-laki egois yang hanya memuaskan batinnya sendiri.


Ranti mengangguk "Aku benar-benar melayang karena mu! Cepat nikahi aku, sebelum aku berubah pikiran!" Pintanya.


Garry tersenyum "Tentu saja." Lalu menilik ke arah jam yang melingkar di tangannya.


"Berarti sekitar lima jam lagi kita sampai, Neng tidur saja dulu, lalu setelah itu baru Neng mandi. Abang harus menuntaskan sesuatu." Ujar Garry.


Ranti mengangguk "Mau ku bantu?" Tawarnya, wanita itu tahu sesuatu yang akan Garry tuntaskan, sudah pasti berhubungan dengan sang junior.


Garry dengan cepat menggeleng "No, aku takut kebobolan!" Tolaknya.


...🖋️......... Bersambung..........🖋️...

__ADS_1


__ADS_2