Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan

Saat Istri Terabaikan Berpindah Haluan
Melamar²


__ADS_3

Sesuai rencana pagi ini Edbert sudah tiba di rumah milik orang tua calon menantunya. Satu orang penguasa yang di dampingi beberapa antek-antek nya.


Saat turun dan berjalan mendekati teras rumah klasik itu. Edbert mencekal tongkat besi di balik tubuhnya, bukan untuk mencari ribut, hanya sudah menjadi kebiasaan saja baginya.


Ting tong!


Satu pria di sebelah Edbert menekan bel pintu rumah bercat putih gold itu, lumayan lama di buka karena masih sangat pagi, mungkin seluruh penghuni rumah tersebut sedang sibuk dengan prepare paginya.


Sambil menunggu, Edbert mengedarkan pandangannya mengamati setiap inci bangunan yang desain nya hampir mirip dengan rumah miliknya, bedanya rumah ini lebih kecil dari rumahnya, mungkin empat banding satu jika di hitung luasnya.


Klik


Pintu tinggi itu terbuka dan seorang wanita berusia dua puluh lima tahunan dengan pakaian sederhana menyambut kedatangan sang penguasa.


"Selamat pagi Tuan. Anda mencari siapa, dan Anda sendiri siapa?" Aturan di rumah itu memang harus di tanya dahulu siapa yang akan di datangi dan siapa yang datang tentunya.


"Bilang pada Tuan besar mu, Edbert Jackson yang ganteng ini mau bertemu dengan nya! Segera!" Titah Edbert, di balik sikap arogansi kekuasaan nya Edbert juga songong, dia selalu memproklamirkan bahwa dirinya laki-laki tertampan setelah putranya.


Wanita itu mengangguk kikuk mendapati sebuah kedipan manja dari sang Casanova "Emm i-iya Tuan." Kemudian berlari menuju kamar milik Tuan besar di rumah tersebut.


Tak lama kemudian, tidak tanggung-tanggung rupanya seluruh penghuni rumah tersebut menampakkan batang hidungnya terkecuali Jelita sendiri yang masih ngambek dengan keluarganya.


"Edbert!" Begitu mendengar kedatangan nama Edbert Jackson yang kondang ini Marseille sedikit tersentak kaget lalu mengajak semua keluarganya terkecuali Jelita keluar.


Ada urusan apa hingga membuat laki-laki kaya raya ini menyatroni rumah kediaman miliknya? Sebelumnya Marseille hanya tak sengaja bertemu di acara pesta peresmian pembukaan perusahaan baru atau ulang tahun rekan bisnis sesama pengusaha, itu pun tak pernah ada obrolan intens.


"Marseille, yah, aku yang datang!" Ucap pria Casanova itu.


"Duduk, silahkan duduk!" Marseille menunjukkan dengan sopan sofa empuk yang juga klasik pada tuan tamunya.


Meski kedatangan Edbert terkesan tidak wajar tapi dia tetap menerima, mungkin saja akan ada kerja sama menguntungkan yang Edbert tawarkan walaupun perusahaan mereka tidak nyambung.


Selain perusahaan konstruksi, Edbert juga pemilik pabrik cat pabrik baja dan lain sebagainya yang menyediakan alat-alat dan kebutuhan bangunan sedang Marseille hanya perusahaan makanan yang tidak terlalu besar.


"Terimakasih, ...." Edbert duduk lalu bertumpu pada tongkat besi miliknya yang sengaja ia dirikan.


Mirea, Galang dan Tristan juga ikut menyusul Marseille duduk.


"Ada perlu apa kamu mencari ku?" Marseille berusaha berbicara santai tanpa Anda dan saya layaknya laki-laki pengusaha.

__ADS_1


"Langsung saja! Aku mau melamar putri mu!" Ucap tegas Edbert yang sempat membuat seluruh orang mengernyit heran.


Semua orang tahu Edbert laki-laki penguasa bergelar Casanova, jadi kali ini dia mau menjadikan Jelita selirnya?


"Apa kamu gila Edbert?" Serampang Marseille cepat.


Edbert melepas smirk iblis seperti biasanya "Apa ada orang gila melamar janda cantik seperti putri mu?" Sambung nya menyindir.


"Tentu saja kamu kurang waras! Apa kamu tidak sadar diri? Meskipun sudah janda, putri ku masih dua puluh satu tahun, sedang kamu sudah bangkotan!" Cibir Marseille dengan tatapan remeh.


"Aku memang menyukai putri mu, tapi kali ini aku mau melamar putri mu untuk putra ku. Biarkan mereka bersatu bekerja sama memberikan kita cucu!" Jawab enteng Edbert sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya nyengir.


"Putra mu? Siapa putra mu?" Marseille lebih berkerut kening mendengar penuturan tersebut.


Di semua majalah tidak ada yang menyebutkan siapa keturunan dari pria penguasa itu lalu tiba-tiba Edbert mengatakan melamar untuk putranya?


Edbert menunjuk satu buah lukisan abstrak yang terpajang di sisi kanan ruangan itu, lukisan pemberian Anson Dwi Pangga beberapa tahun yang lalu.


"DJ, itu karya putra semata wayang ku, Dylan Jackson, pelukis terkenal yang satu karyanya mencapai miliaran. Menikahi putraku, putri mu tidak akan kelaparan apa lagi kekurangan." Jelas Edbert yang selalu berkata lugas dan sombong.


"Hah?" Mirea, Galang dan Tristan sedikit tercengang namun tak berani menyela pembicaraan kedua pria itu.


"Jangan ngada-ngada kamu! Aku tahu kamu punya banyak akal bulus! Bisa saja kamu ngaku-ngaku, lalu setelah itu kamu yang menikahi putri ku! No! Aku menolak mu!" Tegas Marseille penuh keyakinan.


Meskipun sudah merasa terhina, Edbert masih berusaha untuk sabar, semua ini demi Dylan, putra mahkota calon pewaris tahta tunggal.


Edbert menjentikkan jarinya pada pria yang berdiri di sebelahnya "Tunjukkan foto putra ganteng ku!" Titahnya. Mungkin dengan begitu Marseille akan percaya padanya.


"Baik Tuan," Reno meletakkan beberapa lembar foto milik Dylan pada meja yang terletak tepat di depan Marseille.


Galang dan Tristan menyambar foto-foto itu tak terkecuali Mirea dan Marseille yang sudah sangat penasaran.


"Ini, pemuda ini bukanya tetangga sebelah E'den?" Mirea menyeletuk dengan kening yang mengerut lalu menatap tajam ke arah Edbert.


"Apa maksudnya ini? Jadi kamu bapak dari laki-laki perebut istri orang itu?" Tuding Mirea.


"Pantas saja, anaknya perebut istri orang, bapaknya saja begini, tukang gonta ganti pasangan!" Sarkas Mirea.


"Ni emak-emak kece sembarangan kalo ngomong, gue nikahin keenakan lu!" Batin Edbert.

__ADS_1


Marseille berdiri tegak mengusung tatapan tajam "Keluar dari sini, aku menolak lamaran putra mu!" Tegasnya.


Mirea, Galang dan Tristan juga ikut berdiri mengusir laki-laki penguasa itu.


"Apa alasannya?" Tanya Edbert masih saja setia pada sofa empuknya meski si pemilik sudah mengusir dirinya.


"Apa kami harus memberi tahu mu? Bahwa laki-laki pecinta seribu wanita seperti mu tak pantas mendapatkan mantu seperti putri ku!" Berang Mirea.


"Ck, ck, ck!" Decak Edbert menggeleng perlahan.


"Kalian berani menolak lamaran putra ku yang kaya raya mandiri dan juga setia, tapi menjodohkan putri kalian dengan laki-laki pecundang peselingkuh yang takut kehilangan harta warisan! Miris, sangat miris!" Cibir Edbert.


"Cukup!" Pekik Mirea.


"Jangan menjelekkan mantan mantu kesayangan ku! Bagaimana pun dia masih menjadi putra kami! Hubungan Jelita hancur juga gara-gara pengaruh buruk putra mu!" Lanjutnya.


Kali ini Marseille lebih memilih mempersilahkan isterinya yang mengusir laki-laki itu.


"Reno!" Edbert memaju mundur kan satu jari telunjuknya pada pria di sebelahnya.


"Iya Tuan!" Angguk Reno.


"Tunjukkan, bukti-bukti perselingkuhan yang mantan suami Jelita lakukan!" Titah Edbert kembali.


Reno meletakkan satu buah laptop lalu mengoperasikannya sedikit lebih cepat karena sudah di sediakan lebih awal.


Semua orang duduk kembali menyaksikan secara langsung bagaimana Brandon memperlakukan Jelita selama dua tahun lebih itu.


Cumbu mesra Brandon bersama Shasha, tangisan Jelita yang terlihat menyiksa, semua bisa mereka simak dalam video berdurasi panjang itu.


Bahkan suara saat Brandon mengucap "Akhirnya, kamu tidak perlu melahirkan sayang!" Kepada Shasha juga terekam di sana.


Mata mereka saling membulat saat gambar beralih pada adegan di mana Shasha berusaha mencelakakan Jelita dengan minyak lalu kemudian Dylan yang menolongnya.


Jadi, Jelita sempat masuk rumah sakit sebelum keguguran, dan seluruh keluarga besar Marseille tak pernah tahu menahu kabar itu.


"Bajingan, bangsat, biadab!" Semua kata sarkas itu mereka tujukan pada mantan suami Jelita.


...🖋️..... Bersambung.....🖋️...

__ADS_1


__ADS_2