SANG PELINDUNG

SANG PELINDUNG
Apa Kau Mencariku?


__ADS_3

Di kediaman keluarga Nan...


Seorang pria paruh baya yang merupakan pemimpin dari keluarga Nan sedang duduk di atas singgasana mewahnya. Nama pria tersebut adalah Nan Su


Nan Su merupakan orang yang sangat dihormati dan ditakuti oleh banyak kalangan di kota daun karena kekuatan yang dia miliki. Belum lagi tersebar rumor jika kekuatan yang berada di belakang keluarga Nan melebihi kekuatan yang dimiliki oleh kekuatan pemimpin keluarga Nan itu sendiri.


Hal itulah yang menyebabkan orang-orang tunduk kepada ototitas keluarga Nan.


Selain itu keluarga Nan juga mempunyai 8 tetua yang kekuatanya masing-masing berada di ranah Raja Bumi. Sungguh kekuatan yang menggemparkan di Kekaisaran Han ini.


"Berapa keuntungan yang kita peroleh bulan ini?"


"Yang Mulia.. keuntungan kita meningkat dua kali lipat daripada bulan kemarin. Hal itu karena semakin banyak orang yang ada di kota daun yang mengikuti peraturan keluarga Nan dan bagi mereka yang melawan akan kehilangan nyawa mereka dengan cara yang mengerikan."


Ya, keluarga Nan juga mengancam penduduk kota daun untuk menjual barang jualan mereka seperti hasil perkebunan dan sufenir kepada keluarga Nan dengan harga yang menurut para warga tidak adil.


Hal itu karena para warga hanya mendapatkan sedikit keuntungan jika menjualnya kepada keluarga Nan beda halnya jika mereka menjualnya secara langsung ke ibu kota Kekaisaran Han.


Nan Su tersenyum mendengar perkataan dari salah satu tetuanya, karena jika hal itu terus berlanjut, maka dia akan mendapatkan keuntungan besar tiap bulanya, tanpa khawatir adanya ancaman dari pihak Kekaisaran.


"Terus lanjutkan kerja kalian dan jika perlu paksa para warga untuk memproduksi barang lebih banyak lagi, agar kita mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi." jika para warga memproduksi lebih banyak barang, maka otomatis keluarga Nan dapat menjual lebih banyak barang dan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi.


"Segera laksanakan Yang Mulia." tetua itu mengangguk dan melesat pergi untuk melakukan perintah dari tuanya.


Setelah salah satu tetua pergi. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan keras dan seorang pemuda yang sangat mereka kenali berlari dengan tergesa-gesa.


"Ayah.. Ayah!"


Brak!


Pemuda itu tiba-tiba terjatuh kelantai dengan sangat keras.


Orang-orang di tempat itu kebingungan dengan tingka laku tuan muda mereka yang tiba-tiba masuk dan terjatuh.


Nan Su mengerutkan kening pada awalnya. Dia sangat mengenal anaknya itu. Walaupun anaknya tidak bisa diandalkan, tapi dia tidak akan ceroboh dan menerobos masuk kedalam aula tanpa sopan santun.


Nan Gong segera terbangun dan terlihat sekarang ini dia hanya memiliki satu tangan.


Nan Su dan para tetua keluarga Nan terkejut ketika menyadari jika Nan Gong hanya memiliki satu tangan saja.


Nan Su berdiri dari singgasananya lalu terbang menuju Nan Gong.


"Katakan! Siapa yang berani melakukan hal ini padamu?" terlihat kemarahan dari Nan Su. Bagaimana pun Nan Gong adalah anaknya dan siapa yang berani melukai anaknya, maka orang itu akan berurusan dengannya.

__ADS_1


Nan Gong kemudian menceritakan kejadian yang dia alami kepada Ayahnya dan menambah sedikit kebohongan agar Ayahnya dapat membalas perlakuan gadis yang dia temui tadi sore dengan sangat kejam.


Nan Su yang mendengar seluruh cerita dari anaknya seketika terbawah amarah. Bagaimana mungkin anaknya yang berasal dari keluarga yang ditakuti bisa dipermalukan seperti itu di tengah banyak orang.


Perlahan aura dari kultivator ranah langit keluar dari dalam tubuhnya. Hal itu membuat para tetua dan Nan Gong sendiri menjadi tertekan.


"Tenang Yang Mulia! Anda tidak boleh terbawah emosi! Bisa saja orang itu merupakan orang penting dari keluarga lain yang berada di luar kota daun dan mengetahui tindakan kita selama ini.


Yang Mulia! bisa jadi mereka berencana untuk menguasai kota daun ini dan menggeserkan pengaruh keluarga Nan, jadi anda harus menghadapinya dengan Kepala dingin."


seorang tetua yang merupakan penasehat dari Nan Su meredahkan amarah tuanya.


Nan Su yang mendengar itu, langsung menarik kembali auranya. Namun ekspresinya sama sekali tidak berubah. Dia dipenuhi oleh amarah.


Memang masuk akal jika penasehatnya bisa beranggapan seperti itu. Karena dari ciri-ciri penampilan dan sifat yang dikatakan oleh Nan Gong tadi, sepertinya orang yang berurusan dengan Nan Gong itu berasal dari keluarga bangsawan.


Dan keluarga bangsawan di kota daun ini hanya keluarga Nan saja. Jadi besar kemungkinan jika orang dimaksud oleh Nan Gong bukan berasal dari kota daun, karena mereka dengan berani melukai tuan muda keluarga Nan tanpa memikirkan konsekuensinya.


"Aku tidak peduli jika mereka dari keluarga Bangsawan atau tidak! Aku ingin ayah membalaskan dendamku! "


"Tentu saja kita akan membalaskan dendamu Nak. Tenang saja, orang itu pasti akan menyesal karena berurusan denganmu."


Nan Su lalu memerintahkan kepada para tetua untuk menyelidiki terlebih dahulu tentang orang yang dimaksud oleh anaknya.


Ya, walaupun Nan Su yakin akan kekuatan yang dimilikinya, tapi dia harus mengetahui asal usul targetnya. Jangan sampai dia menyinggung orang yang seharusnya mereka tidak singgung yang dapat berakibat fatal bagi keluarga Nan.


"Tenang saja nak. Aku akan menyuruh seluruh Alchemist keluarga Nan untuk membuat pil yang dapat memulihkan kembali tanganmu." Nan Su meyakinkan anaknya untuk tidak khawatir akan tangannya yang tidak dapat beregenarasi.


Nan Gong tersenyum ketika mendengar perkataan ayahnya. Dia juga tidak sabar untuk membalas dendam kepada gadis yang mempermalukanya.


Nan Gong bahkan telah berencana untuk siksaan macam apa yang akan dia lakukan kepada gadis itu.


".............. "


Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah penginapan yang bernama penginapan sutra.


Terlihat seorang pemuda yang sangat tampan. Ketampananya akan membuat para laki-laki dan wanita iri ketika melihat kulitnya seputih susu dan mata ungunya yang sangat menawan.


Pemuda itu adalah Yan Liyan. Sekarang ini dia duduk di atap penginapan sambil menatap bulan yang menjadi kebiasaanya dari dulu.


Sesekali Yan Liyan menyanyikan lagu merdu yang mengandung pertanyaan di dalamnya.


¶ Cahaya bulan yang indah memberikan ketenangan di tengah malam yang sunyi. Mengingatkan akan hidup yang hampa.

__ADS_1


Seorang bijak yang berdiri di tengah samudera berkata jika hidup bagaikan air yang mengalir.


Tapi keputus asaan selalu membayangi hidup manusia.


Adakah jalan? Adakah harapan? kemanakah aku harus membawa pertanyaan ini?¶


"Guru..


Suara lembut memanggil dari belakang Yan Liyan. Yan Liyan menoleh dan melihat Lin Xi sedang berjalan kearahnya.


"Kau belum tidur?"


Lin Xi menggeleng. Setelah itu dia duduk di samping Yan Liyan.


"Guru! apa perjalanan untuk mencari pohon permohonan masih jauh?"


"Ya, Masih sangat jauh. kita bahkan belum bisa dikatakan melangkah menuju kearah pohon itu."


Pohon harapan berada di alam yang bahkan Yan Liyan tidak mengetahui keberadaan alam itu. Sedangkan mereka saat ini berada di alam tingkat rendah.


"Tenang saja guru. Aku akan secepatnya menjadi kultivator kuat dan mencari keberadaan pohon itu bersamamu guru."


Yan Liyan tersenyum mendengar perkataan muridnya. Yan Liyan berpikir jika dia sangat beruntung mendapatkan murid berbakti seperti Lin Xi.


"Ya, Aku sangat menantikanya. Tapi jangan lupakan impianmu hanya karena gurumu ini."


Setelah mengatakan itu tiba-tiba senyuman Yan Liyan berubah. Tatapan tajam dari seorang pembunub ahli menatap kearah bangunan yang berada di dekat mereka.


Lin Xi juga sepertinya merasakan keberadaan dari seseorang dengan niat jahat.


"Sepertinya lebih cepat dari yang aku perkirakan."


"Bukankah itu lebih bagus. Ini dapat mengehemat waktu sehingga kita dapat melanjutkan perjalanan kita."


Yan Liyan lalu melesat dengan cepat menuju seseorang yang mengawasi mereka.


Sedangkan di bangunan yang berada di dekat penginapan sutra. Terdapat seorang tetua yang mengawasi pergerakan Lin Xi dan Yan Liyan.


Melihat Yan Liyan yang tiba-tiba menghilang tentu saja mengejutkan tetua itu.


"Dimana laki-laki yang tadi ada bersamanya?"


"Apa kau mencariku?" Yan Liyan tiba-tiba muncul di belakang tetua itu.

__ADS_1


Tetua itu menjauh ketika melihat Yan Liyan berada dibelakangnya, kemudian tetua itu mengeluarkan pedang dari dalam cincin penyimpanan. Tetua itu juga terkejut, karena sama sekali tidak merasakan keberadaan seseorang dibelakangnya sebelum dia mendengar suara.


"Siapa kau!!"


__ADS_2