SANG PELINDUNG

SANG PELINDUNG
BAB 21


__ADS_3

Nona Balqis terdiam beberapa saat lalu kemudian menatap lia dengan penuh kasih.


"Saya tahu bahwa Anda menyembunyikan identitas Anda dan sungguh Anda terlihat seperti seorang pria dengan cara Anda bertindak. Tapi, Anda tetaplah seorang perempuan. Anda perlu mempelajari tubuh Anda dan cara kerjanya jika Anda ingin mengendalikannya."Lia tahu Nona Balqis berkata benar.


Ada begitu banyak hal yang dia tidak tahu. Dia diajar untuk berpikir dan bertindak seperti pria dan menghindari fakta bahwa dia adalah seorang


perempuan.


Kemudian Lia mengangguk dan Nona Balqis mulai menjelaskan semua hal yang harus dia tahu dan berhati-hati mengenai beberapa hal.


***


Lia berjalan keluar untuk mencari Master Revan. Dia merasa malu bahkan untuk melihatnya,tetapi dia adalah gurunya dan dia tidak bisa menghindarinya terus-menerus.


Lia berjalan dengan langkah kecil dan dia berharap dia tidak akan menemukannya,dia berharap bahwa hari ini tidak akan ada pertemuan maupun pelatihan bersama dengan Master Revan.


"Disitu kau rupanya." Sebuah suara terdengar dari arah belakang.


'Sial,' gerutu Lia .


"Ya, Master." Lia mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Baik. Kita harus melanjutkan dengan membuat pisau api. Kau tidak membuat apapun kemarin. Mari kita lihat apa yang telah kau pelajari." Mester Revan langsung mengarah pada pembelajaran tanpa menyinggung tentang kejadian malam tadi.


Lalu Lia mengikuti Master Revan untuk mencapai tujuan dari pelatihan mereka.


Duduk tegak," kata Master Revan memerintahkan dan Lia mengikutinya.


"Buka telapak tanganmu dan bayangkan kau sedang memegang pisau." Kemudian Lia melakukannya.


"Sekarang, buat api," kata Master Revandengan nada tegas dan terus membimbing Lia.


"Pikirkan bahwa api yang telah kau buat berubah menjadi bentuk pisau. Kemudian buat Mana Api-mu mengambil bentuk itu." Lia berusaha dengan keras. Apinya bergerak di sekitar telapak tangannya tapi api itu terlihat tidak berbentuk sama sekali.


"Fokus!" Master Revan melihat apa yang ada di tangan Lia dan dia tidak senang dengan hal itu.


Sementara itu, Lia mencoba menggerakkan tangannya, dia mencoba untuk fokus. Api bergerak membesar dan mengecil, tapi tidak ada bentuk yang keluar dari api itu.


Pelatihan itu berlangsung selama dua jam tanpa istirahat. Kemudian Master Revan kembali membuka bibirnya.


"Ugh, aku akan pergi untuk makan siang. Lanjutkan," kata Master Revan dengan nada tidak sabaran lalu meninggal kan Lia sendirian dengan api yang tidak beraturan di tangannya.


Lia tinggal di sana dan tetap mencoba, tapi tampaknya dia tidak bisa menyelesaikannya.

__ADS_1


"Ayo!" Lia berteriak tapi itu tidak akan membantu. Dia terus menerus mencoba selama beberapa waktu dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali perasaan kesal.


"Kau masih mencoba?" Master Revan kembali dan dia mengolok-oloknya.


"Ya Tuhan, sudah lima jam dan kau masih di sana, memegang api yang berbentuk aneh itu? Aku bahkan tidak tahu mengapa aku memilihmu." Lia menjerit dan membanting api di tangannya ke tanah.


"Kenapa kau melakukannya? Jelas sekali dengan sengaja kau mengabaikan satu langkah!" kata Lia berusaha untuk menendang Revan.


"Oh, benarkah? Apakah kau berpikir naga pertama tahu cara melakukannya?"


"Kau tak tahu apa-apa tentang white Dragon!" Lia berteriak tepat di depan wajah Revan.


Lia tidak tahu perasaan itu datang dari mana. Dia marah dan tidak bisa menahan Api yang bergejolak lebih lama lagi. Dia merasa sangat


marah dan ingin melampiaskannya pada Revan yang sejak tadi memerintah dirinya untuk ini dan itu.


"Aku tahu apa permasalahanmu. Membuat pisau api membutuhkan orang yang dapat menggunakan Api dalam jumlah yang tepat. Itu berarti orang itu bisa mengendalikan Apinya dengan baik. "


"Tapi Mana Api-mu berada di seluruh tempat di tubuhmu. Kau punya begitu banyak tapi tidak bisa menggunakannya. Mana Api yang kau miliki mengalami kekacauan secara teknik. Aku mencoba untuk mengajarimu bukan untuk membodohimu."


Lia berdiri di sana sambil mencerna

__ADS_1


Bersambung~~~


__ADS_2