
Tetapi tampaknya itu tidak bekerja dengan baik. Kekhawatiran yang ada dalam diri Lia jauh lebih besar dari gurauan kecil yang dibuat oleh Rangga.
"Aku tak tahu.. Aku sangat ketakutan,"kata Lia dengan tatapan bingung.
"Tentu saja. Mereka memberikan tugas yang mustahil dan kau harus melakukannya tapi kau tahu, aku merasa ini adalah sesuatu yang hanya kau yang bisa mewujudkannya."
Lia menatap Rangga. Kata-kata Rangga membuat dia bahagia dan merasa sedikit lebih baik.
"Terima kasih Rangga," kata Lia penuh syukur.
Sebelum Lia pergi, dia menyempatkan diri untuk mengajukan sebuah pertanyaan kepada Rangga.
"Maafkan aku, tapi aku memiliki sebuah pertanyaan, dan kau dapat mengabaikan pertanyaanku jika kau mau. Kau tidak perlu menjawabnya jika itu mengganggu. Tetapi apa yang terjadi diantara kau dan Farel?"
Pertanyaan Lia membuat suasana hening beberapa saat. Kemudian setelah merasa cukup, Rangga memutuskan untuk berbicara.
"A...aku... Tidak-" Rangga tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Maafkan aku. Dengar, kau tak perlu memberitahuku jika kau tidak bisa."
Lia langsung menyela saat ia melihat Rangga seperti tidak bisa mengungkapkannya.
__ADS_1
"Aku ingin memberitahumu,tapi aku benar-benar takut tentang apa yang akan kau pikirkan tentang aku jika kau mengetahui yang sebenarnya," kata Rangga berusaha untuk tidak membuat Lia kecewa.
"Dengar, pendapatku tentangmu tidak bisa berubah,tapi kau tidak perlu untuk memaksakan diri. Kau bisa memberitahuku kapan pun kau siap,oke?" kata Lia sambil mengulurkan tangannya.
Kemudian Rangga tersenyum dan menjabat tangan Lia. "Baiklah."
"Kau mau kemana sekarang?" tanya Rangga.
"Aku harus mengurus sesuatu sebelum aku pergi."
Sekarang Lia berada di suatu tempat yang tertulis di dalam surat Revan. Dia mengenakan jubah hitam dan mengamati semua orang yang datang dan pergi. Kemudian dia melihat seorang pria misterius masuk dan duduk di belakang. Setelah beberapa saat, Revan terlihat masuk ke dalam tempat itu dan duduk di sebelah pria itu. Mereka bicara tapi Lia tak mengerti apa yang mereka katakan.
Lalu Revan memberi pria itu kantong dan Lia mengira pasti ada uang di dalamnya. Mereka berbicara dengan singkat dan Lia sama sekali tidak melihat kemunculan Nona Bella.
Lia merasa bingung tentang semua ini. Seorang pria berjubah dan percakapan yang tak pernah dia dengar.
Dan beberapa saat kemudian Revan telah pergi dan pria itu pergi lima menit setelahnya.
Lalu Lia berlari keluar mengikutinya.
"Siapa di sana?" tanya pria itu saat ia menyadari bahwa ada seseorang yang mengikutinya.
__ADS_1
Lia melompat dari atas dan melemparkan pria itu ke tanah. Dia menciptakan pisau dan meletakkannya ke tenggorokannya.
"Jangan berani untuk berbohong atau aku akan membuat luka yang menganga di tenggorokanmu. Apa yang kau bicarakan dengan Master Revan?"
Pria itu takut dan mau memberinya jawaban yang dimintanya.
"Dia datang untuk membayar saya, itu saja."
"Membayarmu untuk apa?"
" Untuk layanan saya sebagai tabib,lihat?" dan dia menarik keluar lambang tabibnya.
"Apa-apaan ini?"
"Tolong jangan bunuh aku, aku orang baik."
"Tunjukkan kantungnya."Lia meraih kantung itu dan hanya menemukan koin di dalamnya.
Kemudian dia berdiri membiarkan pria itu pergi.
"Tampaknya dia memakan umpannya."Revan bersembunyi di dalam kegelapan sambil memperhatikan Lia.
__ADS_1
Bersambung~~~