
Lia terengah-engah karena pertarungan pedang itu sangat intens dan dia menyukainya. Lia menyadari keterampilan yang dimiliki oleh Rangga dan dia benar-benar terkesan.
Lia sekarang membungkuk untuk menarik napas sambil memegangi kedua lututnya.
"Itu hebat! Aku tidak pernah tahu bahwa ada teknik hebat seperti itu!"Lia terlihat bersemangat sekaligus merasa kagum.
Sementara itu, Rangga tersipu mendengar ucapan Lia. Dia tidak pernah menerima begitu banyak pujian sebelumnya.
"Ya, ada begitu banyak hal Lio."
Kemudian Lia menjatuhkan dirinya dan berbaring di atas rumput.
"Kau aneh," kata Rangga sambil menautkan kedua alisnya,memperhatikan tingkah Lio yang semakin lama semakin aneh, tidak seperti seorang pria pada umumnya.
"Terkadang!" Lia tidak menyangkalnya.
"Baiklah," kata Rangga kemudian dia mengikuti Lia dan berbaring di sebelahnya.
"Apa yang sedang kita lihat?" tanya Rangga.
"Hanya langit. Coba perhatikan, mereka memiliki bentuk yang bagus bukan?"Lia menunjuk sekumpulan awan tipis dan tebal yang terukir di langit, mereka bergerak secara perlahan.
"Kau tahu, kadang-kadang kau terdengar seperti seorang g-"
"Gadis?" Farel muncul dengan tiba-tiba.
Lalu mereka segera berdiri dan Lia membungkuk ke arah Farel.
__ADS_1
"Farel." Rangga tampaknya sedikit kesal dengan kehadiran Farel.
"Sepertinya kau sedang bersenang-senang,"kata Farel dengan tatapan dingin.
"Hanya bersantai dari pelatihan," kata Rangga tak kalah dingin.
Farel memasang ekspresi mencemooh. Sepertinya mereka tidak begitu menyukai satu sama lain.
"Lio, ayo," ajak Farel.
"Tunggu, kami masih berlatih!" Rangga merasa jengkel. Farel datang secara tiba-tiba dan mengganggu mereka lalu sekarang dia ingin membawa Lia?
pelatihan mereka bahkan belum selesai.
"Memangnya kenapa? Aku butuh Lio sekarang. Dan dia harus ikut denganku." Farel tidak ingin menyerah.
"Ya, Rangga? Apakah kau akan melawan keinginan putra mahkota?" Sementara itu Farel tetap terlihat tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh Rangga.
Lia melihat perseteruan itu dan ia merasa jika dia tidak segera mengambil keputusan maka suasana diantara mereka akan semakin memanas.
"Baiklah aku ikut denganmu," kata Lia pada Farel.
Kemudian Rangga meraih lengannya.
"Lio."
Tidak apa-apa. Farel membutuhkanku untuk beberapa urusan dan kita bisa berlatih lagi nanti." Lia mencoba menenangkannya.
__ADS_1
Lalu Rangga melepaskan tangan Lia dan membiarkan dia pergi.
Lia mengikuti Farel yang terlihat sangat jelas marah dengan sesuatu.
"Apa aku harus bertanya atau tidak?"Pikir Lia terus bertanya pada dirinya sendiri, berjalan mengikuti Farel dengan suasana seperti ini membuat dia merasa canggung dan tidak enak hati.
Mereka pergi ke istana di ruang pertemuan.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Lia kemudian.
"Ya."
"Oke, sekarang aku bisa tenang,"pikir Lia.
"Bagaimana dengan- "ucapan Lia terputus karena Farel langsung menyelanya.
"Dengar Lio, aku pikir kau akan melakukan sesuatu yang lebih produktif pada waktu luangmu daripada bermain dengan pedang." Farel merasa frustrasi, Lia bisa melihat bahwa Farel marah pada sesuatu, tetapi Lia tidak tahu apa itu, dan fakta bahwa Farel bersikap seperti itu membuat Lia sedikit kesal.
"Apakah kau marah karena aku ingin belajar cara bertarung dengan menggunakan pedang?"tanya Lia.
Dia sedikit menoleh ke arah Farel untuk melihat ekspresinya.
"Kau bersungguh-sungguh? Kau benar-benar ingin belajar cara bertarung dengan menggunakan pedang?" kata Farel dan Lia bisa mendengar nada ironis pada kalimatnya.
"Ya Farel, apa itu masalah?" Lia mulai memperlihatkan bahwa dia merasa kesal dengan sikap Farel.
"Bukan itu, hanya... tidak ada kesatria naga yang berusaha untuk menjadi seorang pendekar pedang, jadi aku berpikir bahwa apa yang kau lakukan ini cukup bodoh."
__ADS_1
Bersambung~~~