
Setelah Mereka keluar dari kota daun, Lin Xi dan Xiao Mei melanjutkan perjalanan mereka menuju kota angin.
Lin Xi berniat untuk menyelidiki kelompok pembunuh bayaran malam berdarah. Sebenarnya Yan Liyan tidak setuju dengan Lin Xi, tapi Lin Xi berusaha meyakinkan Yan Liyan dan akhirnya gurunya itu mengizinkannya untuk menyelidiki pembunuh bayaran malam berdarah.
Yan Liyan juga bertujuan untuk memberikan mereka pengalaman bertarung dengan musuh yang sebenarnya. Musuh yang memiliki akal dan tidak akan segan-segan untuk membunuh.
Hal itu dikarenakan Yan Liyan merasa tidak puas pada hasil pertarungan seimbang antara Lin Xi dan Xiao Mei melawan 8 tetua keluarga Nan tadi.
Yan Liyan juga sadar jika tidak selamanya dia akan bisa melindungi Lin Xi dan Xiao Mei, apa lagi perjalanan mereka masih sangat panjang. Jadi memberikan mereka pengalaman bertarung merupakan keputusan yang tepat.
Tentu saja Yan Liyan akan membantu, jika saja mereka berhadapan dengan seseorang yang sama sekali tidak bisa mereka lawan.
Bagaimanapun Yan Liyan tidak ingin mengambil resiko besar yang akan membahayakan Lin Xi dan dirinya sendiri.
"Saat kalian bertarung gunakan seluruh kekuatan yang kalian miliki. Perhatian dan incar kelemahan musuh. Dalam pertarungan yang sesungguhnya tidak peduli dengan cara apa yang kau lakukan bahkan cara licik sekalipun maka jangan ragu untuk melakukanya. Ingat itu baik-baik!
Terutama kau Lin Xi!!Jangan membuatku malu sebagai gurumu!"
Lin Xi terdiam sesaat. Dia mengepalkan tanganya sampai mengeluarkan darah. Lin Xi benar-benar kecewa dengan kemampuanya saat ini, meskipun dia berada di ranah pertapa suci yang merupakan puncak kultivasi alam tingkat rendah, tapi dia sama sekali tidak bisa mengalahkan 8 kultivator ranah raja Bumi dengan waktu cepat.
Memang sungguh sangat memalukan, tapi bagaimana lagi, dia masih sangat muda dan pengalamanya tidak sebanyak 8 tetua keluarga Nan yang dia lawan tadi.
"Baik Guru. Aku akan berusaha dan tidak akan mengecawakanmu lagi." ucapnya penuh tekad.
Sedangkan Xiao Mei merasa kesal ketika melihat Lin Xi bersedih. Menurutnya apa yang di katakan oleh Yan Liyan terlalu berlebihan untuk remaja seumuran mereka.
"Memalukan? Kau itu yang memalukan. Kau menipu mereka dengan Lencana yang bukan milikmu."
"Xiao Mei..
"Tidak Lin Xi! Dia memang sangat memalukan,
Kau keluar dari dalam tubuhnya dan lawan aku!"
Xiao Mei menantang Yan Liyan. Dia tidak Terima jika sahabatnya dikatakan memalukan seperti tadi.
Meskipun Xiao Mei tahu jika kekuatan Yan Liyan berada di atasnya. Namun dia sama sekali tidak merasa takut padanya.
"Memangnya kau ini siapa? Apa kau mengetahui semua hal tentang Lin Xi? Apa kau mengetahui impian dan masa lalunya?"
__ADS_1
Diam..
Xiao Mei terdiam mendengar pertanyaan Yan Liyan. Dia memang tidak mengetahui apa-apa tentang Lin Xi. Selama ini dia hanya beranggapan jika Lin Xi adalah sahabatnya karena dia selalu berbuat baik padanya.
"Jangan berlaga sok tahu tentang Lin Xi padahal sebenarnya kau tidak tahu apa-apa."
Lanjut Yan Liyan lagi. Kali ini suasana di tempat itu menjadi sunyi.
Yan Liyan yang berada di dalam jiwa Lin Xi tersenyum puas melihat Xiao Mei tidak membalas perkataan.
Sebenarnya Yan Liyan bertujuan agar Xiao Mei memahami apa yang dialami oleh Lin Xi sehingga persahabatan mereka bisa terjalin erat.
Terkadang persahabatan bisa merenggang atau bahkan berubah menjadi saling bermusuhan jika antara dua sahabat itu tidak saling memahami satu sama lain.
-
-
-
3 hari berlalu...
Keluarga Nan memperingatkan para warga untuk tidak menyebarkan informasi yang mereka dengar tiga hari yang lalu kepada orang lain.
Hal itu bertujuan untuk mencegah tersebarnya rumor atau berita yang bisa saja sampai ke telinga Mu Bei.
Para warga tentu saja setuju dengan hal itu. Dan mereka juga setuju untuk meningkatkan produksi hasil pertanian dan sufenir mereka dan menjualnya kepada keluarga Nan agar dana yang dialirkan kepada Mu Bei tetap stabil.
Hal itu juga bertujuan agar kota mereka aman untuk sementara waktu.
Dan mengenai Nan Gong. Dia melupakan masalahnya dengan dua gadis yang dia temui tiga hari yang lalu setelah mengetahui identitas mereka dari ayahnya.
Bagaimanapun dia tahu betul jika merupakan hal yang sangat bodoh jika berani berurusan dengan sekte Es.
"........... "
Kembali pada Lin Xi dan Xiao Mei...
Mereka saat ini telah sampai di kota angin dan menunggu masuk kedalamannya. Setelah mengantri dan membayar 1 koin emas pertama orangnya, Akhirnya mereka memasuki kota angin.
__ADS_1
Tidak seperti kota daun, kota angin dipenuhi aura yang aneh.
Bahkan tempat itu terlihat sangat suram.
Terlihat penduduk di kota angin itu seperti dihantui oleh rasa takut yang mendalam terhadap suatu hal.
Lin Xi menyadari hal itu. Tampaknya kota angin ini telah mengalami suatu kejadian yang membuat penduduknya mengalami trauma ketakutan.
Ketika mereka berdua sedang memperhatikan banyak hal, dari ara berlawanan terlihat seorang kakek tua yang berlari mendekat ke arah mereka berdua.
Brak!
Kakek tua itu tiba-tiba saja terjatuh tepat di hadapan Lin Xi dan Xiao Mei.
"Kakek apa kau baik- baik saja?" Xiao Mei menanyai kakek itu. Dia juga kebingungan dengan apa yang membuat kakek di depannya sangat terburu-buru seperti dikejar sesuatu.
Kakek itu berdiri, Lalu secara tiba-tiba kakek tua itu berteriak keras dengan ekspresi ketakutan.
"Lari! Aku melihat mereka di balik gunung kabut!
Aku melihat mereka. Lari dan selamatkan dirimu!" dengan ekspresi ketakutan kakek itu berteriak memperingati Lin Xi dan Xiao Mei akan suatu bahaya.
Xiao Mei tidak mengerti dengan maksud perkataan kakek tua di depannya.
"Mereka? Mereka siapa kakek. Katakan dengan jelas."
"Mereka iblis! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Cepat Selamatkan dirimu!!" setelah mengatakan itu, Kakek tua itu kemudian berlari lagi.
Xiao Mei masih kebingungan. Apakah kakek tua tadi adalah orang gila?
"Apa pendapatmu Lin Xi?"
"Kita selidiki gunung berkabut yang dikatakan oleh kakek tua tadi, mungkin saja ada hubungannya dengan kelompok malam berdarah."
Ketika Lin Xi mengucapkan kata kelompok malam berdarah. Seketika tatapan semua orang yang berada di sekitar tempat itu tertuju kepadanya.
Tatapan itu menunjukkan rasa ketakutan, kemarahan, dan sekaligus rasa haus darah yang dipenuhi oleh niat membunuh.
Karena merasa tidak nyaman dengan tatapan yang mengarah kepada mereka. Lin Xi dan Xiao Mei bergegas pergi dari tempat itu menuju gunung berkabut.
__ADS_1
Melihat reaksi dari para warga ketika mendengar nama kelompok pembunuh bayaran malam berdarah, Xiao Mei dan Lin Xi mengira jika kelompok itu masih berada di dalam kota angin dan masih beroperasi sehingga ini akan sangat muda menemukan keberadaan mereka.